Kembar Yang Tidak Dianggap

Kembar Yang Tidak Dianggap
chapter 30


__ADS_3

"Gimana rasanya tindih tindihan sama pak devano. " Ucap retha memulai percakapan


"Ah kamu, masih aja dibahas. Kamu sendiri kenapa bisa dianterin pak Daren coba, " Ucap bulan membalikkan perkataan retha


"Kan kemarin udah dijelasin pak Daren, kalo hari hujan terus gue nggak bisa balik, " Jawab retha seadanya


"Biasanya juga kamu terobos aja tuh, bilang aja itu cuma modus kamu kan, biar dianterin, " Ucap bulan


"Hehe lo tau aja, dah ah gue berangkat dulu bye" Ucap retha


"Okee, bye hati hati! Kerja yang semangat siapa tau pak Daren ngelirik hihihi, " Jawab bulan bercanda sedangkan retha hanya menanggapi nya dengan senyuman termanis miliknya


"Aku juga berangkat deh, " Ucap bulan setelah selesai berberes meja makan


Ting!


Tong!


"Loh siapa? Yang dateng pagi pagi begini, kalo retha nggak mungkin mencet bell kan? " Ucap bulan berpikir


"Buka ajalah, siapa tau memang tetha."


Ceklek


"Loh devano, kok kamu kesini? " Tanya bulan pada devano


"Jemput kamu lah, ngapain lagi" Jawabnya


"Kenapa harus mencet bell? Kan kamu bisa langsung masuk aja, inikan juga apart milikmu." Ucap bulan


"Walaupun, tetap aja nggak sopan. Kan apart ini kamu yang tinggalin jadi aku harus izin dulu sama yang huni apart ini" Jawab devano


"Hehe iya juga sih, yaudahh kalo gitu! Tunggu disini aku ambil tas dulu, " Ucap bulan. Devano hanya mengangguk sebagai jawaban


"Udah nih, skuy berangkat, " Ucap Bulan


"Pakai ini, " Ucap devano memberikan switer miliknya untuk menutupi paha bulan


"Makasih, " Jawab bulan tersentuh dengan perhatian dari devano


"Makasih doang? " Ucap devano


"Iya. Terus aku harus gimana? " Tanya bulan


"Bayar" Jawabnya


"Bayar? Aku harus bayar berapa van?" Ucap bulan mengeluarkan dompet miliknya


"Ck! Nggak pengertian banget sih, bukan bayar pakai uang" Ucap devano cemberut


"Lalu kalo tidak menggunakan uang aku bayar pake apa? " Ucap bulan tak paham


Devano menghembus nafas lelah kemudian menunjuk sebelah pipinya


"Apa? " Tanya bulan masih tak paham dengan kode devano


"Cium" Ucap devano singkat


"Apa! Ci-cium" Ucap bulan kaget


"Iya cium. Kamu harus bayar pake cium, dan itu harus setiap pagi dan pulang sekolah, nggak ada penolakan pokoknya" Ucap devano memaksa

__ADS_1


"Ta-tap! "


"Nggak ada tapi tapian" Potong devano


"Huft! Iya iya" Ucap bulan pasrah. Ia pun mendekat dengan perlahan dan sedikit berjinjit agar ia bisa menciun Devano.


Devano sendiri tersenyum puas, ia sengaja tidak ingin menunduk agar bulan sulit menggapai pipi nya. Saat bulan semakin dekat devano pun dengan gerakan cepat sedikit membukuk dan menoleh pada bulan


Cup!


Satu kecupan mendarat dibibirnya, bulan terkejut dan dengan segera menjauh dan menatap devano


"Devanoo! Kenapa kamu gitu, kan seharusnya pipi kenapa jadi. " Ucap bulan tak melanjutkan kalimat nya


"Siapa bilang pipi! Emang aku ada bilang harus cium dipipi? " Tanyanya sambil tersenyum penuh kemenangan


Bulan terdiam. Memang benar devano ada mengakatan nya hanya dia sendiri lah yang ingin menciun dibagian pipi, namun siapa sangka devano justru Mengerjainya


"Y-ya ya sama saja, udah buru berangkat ntar kita bisa telat" Ucap bulan mengalihkan pembicaraan


"Biarkan aja, kan aku anak pemilik sekolah" Ucap devano songong


"Justru karna kamu anak dari pemilik sekolah, kamu harus bisa ngasih contoh ke yang lainnya, harus bisa jadi murid yang teladan" Ucap bulan


"Yadeh iya" Jawabnya kemudian mereka pun menaiki motor dan dengan segera berangkat, beberapa menit diperjalanan mereka pun tiba tepat saat pak djarot hendak menutup pagar. Devano langsung saja melajukannya motornya. Pak djarot yang paham oun terpaksa harus menghentikan kegiatan nya


"Huft! Untuk anak dari pemilik sekolah" Ucap pak djarot geleng geleng


****


Kring!


Kring!


Kring!


"Jadi kan hari ini? "Tanya reza pada yang lainnya


" Jadi. "Jawab singkat alex


Mereka saat ini sedang berada diparkiran, menunggu bulan yang lagi ke toilet.


"Ntar kita mampir dulu ke sekolah sebelah, " Ucap Rifki


"Ngapain? " Tanya galang


"Jemput cewe kita kita lah, emangnya lo sama adik lo jomblo" Sahut reza dan yang lain menertawakan


"Sialan! Awas aja kalian semua" Ucap galang


"Iya, liat aja kita berdua pasti bakal dapet cewek kok" Sambung Gilang


"Dari kapan taon kalian juga ngomong gitu, tapi mana? Mana buktinya, " Ucap Rifki


"Kalian mah gede omong doang, tapi nggak ada hasil, " Sahut reza


"Mungkin sekarang belum. Tapi gue yakin suatu saat nanti bakal ada kok. " Ucap Gilang


"Bener! Kalo kita udah dapet kita perlu pacaran, tu cewe langsung nikahin. Stay halal brader, " Ucap galang menepuk


"Cih! Sok si paling halal" Cibir Rifki dan reza

__ADS_1


"Yuk berangkat" Ucap bulan yang tiba


Mereka semua pun menoleh dan melihat bulan yang tengah berdiri tegap


"Udah selesai? " Tanya devano


"Iya, udah. Ayuk berangkat" Ajaknya


"Skuy, " Ucap reza semangat


Brum!


Brum!


Brum!


Mereka semua pun memasang hlem dan segera menancapkan gas dengan kecepatan sedang.  Tak lupa mereka juga kesekolah sebelah untuk menjemput Gita dan yang lainnya.  Beberapa menit diperjalanan mereka semua oun tiba dipanti yang biasa mereka datangi


Satu persatu dari mereka turun dari motor dan membuka hlem nya. Para anak pantun yang mendengar suara seru motor dan melihat siapa yang datang lekas berlari berhamburan menuju luar


"Kakak cantik dan kakak ganteng!" Teriak seluruh anak panti asuhan tersebut. Mereka begitu bahagia melihat para inti anggota black diamond. Pasalnya memang telah lama mereka tidak mengunjungi panti mereka


"Hay anak anak, " Sapa bunga


"Hay kakak cantik. Kenapa kalian tidak pernah datang kemari lagi! " Ucap anak kecil yang bernama nada


"Maafin kita semua ya. Kakak lagi sibuk sekolah karena sebentar lagi akan ada ujian kelulusan, itu sebabnya kita semua jarang kesini" Ucap bunga mengelus lembut rambut nada


"Oh iya nada, kenalin ini namanya kak bulan dan yang disebelah nya itu pacarnya. Namanya kak devano" Terang Gita


Seluruh anak panti menoleh dan mendongak menatap bulan dan juga devano bergantian. Devano dan bulan pun berjongkok guna mensejajarkan tubuhnya pada nada dan juga yang lainnya


"Hay kak bulan, hay kak devano, " Sapa mereka semua kompak


"Hai juga adik adik! Salam kenal ya semuanya" Ucap bulan sedangkan devano tersenyum kecil


"Iya kak salam kenal juga, kenalin nama aku langit, " Ucap seorang anak kecil


"Oh Hai langit, nama yang bagus. Kamu juga terlihat tampan, " Ucap bulan


"Makasih kak, " Jawab langit tersenyum malu karna dipuji oleh wanita cantik


"Oh iya adik adik, bu ayu nya ada? " Tanya Gita


"Ada kak ayuk masuk! " Ajak mereka semua. "Gita dan yang lainnya pun masuk kepanti tersebut


" Assalamu'alaikum "ucap mereka semua


" Waalaikumsalam, eh nak Gita dan yang lainnya. Udah lama dateng? "Tanya bu ayu


" Ah, nggak kok bu. Kita baru aja dateng, "jawab Gita


" Oh gitu, mari silahkan duduk, "ucap bu ayu


" Oh iya ada keperluan apa kalian dateng kemari, "


"Kedatangan kami kemari, ingin memberikan beberapa sembako dan juga kebutuhan yang lainnya juga bu. Maaf ya kami semua jarang kesini karna kami ada ujian akhir, " Ucap Gita


"Ya allah! Pake repot repot segala, makasi ya nak, iya nggak papa karma mau bagaimana pun sekolah juga penting" Ucap bu ayu


"Yaudah, kalian tunggu disini ya. Ibu mau kebelakang bikinin air. Ibu sam0e lupa sangking senengnya kalian dateng kesini, " Ucap bu ayu

__ADS_1


Yang lain hanya tersenyum sebagai jawaban. Kemudian bu ayu pun pergi menuju dapur guna membuatkan minuman, dan para inti black diamond tengah asik bermain bersama anak anak panti yang lainnya


__ADS_2