
Ia takkan dapat lupakan peristiwa itu pertama kali ia sadar dari pingsan. Tubuhnya
dibopong diturunkan dari kuda, dibawa masuk ke ruangan besar ini juga. Ia
digeletakkan di atas peraduan, dan orang yang menggotongnya itu, Tunggul
Ametung, berdiri mengawasinya. Ia tengkurapkan diri di atas peraduan dan
menangis. Orang itu tak juga pergi. Dan ia tidak diperkenankan meninggalkan bilik
besar ini. Gede Mirah menyediakan untuknya air, tempat membuang kotoran dan
makanan. matahari belum terbit. Lampu-lampu suram menerangi bilik besar itu.
Begitu matahari muncul masuk ke dalam seorang tua mengenakan tanda-tanda
brahmana. Ia tak mau turun dari peraduan. Tetapi Tunggul Ametung
membopongnya lagi, mendudukkannya di sebuah bangku yang diberi bertilam
permadani. Ia tutup mukanya dengan tangan. Tunggul Ametung duduk di
sampingnya. Orang dengan tanda-tanda brahmana itu telah menikahkannya.
Hanya Gede Mirah bertindak sebagai saksi. Kemudian Tunggul Ametung
meninggalkan bilik bersama brahmana itu. Sejak itu ia tidak diperkenankan keluar
dari bilik besar ini.
Semua berlangsung secara rahasia. Empat puluh hari telah lewat. Sekarang ini
Gede Mirah meriasnya. Ia telah sampai pada riasan terakhir.
ia ingin kerja rias ini tiada kan berakhir. Dalam empat puluh hari ia telah bermohon
pada Mahadewa agar melepaskannya dari kungkungan ini, mengembalikannya
pada ayahnya tercinta di desa. Semua sia-sia. Hari yang ke empat puluh adalah hari
selesainya wadad pengantin, ia menggigil membayangkan seorang lelaki sebentar
nanti akan membawanya ke peraduan. Dan ayahnya tak juga datang untuk
membenarkan perkawinan ini. ia sendiri juga tidak membenarkan.
"Perawan terayu di seluruh negeri," bisik Gede Mirah
__ADS_1
"Tanpa riasan sahaya pun tiada orang lain bisa menandingi."
Bedak telah menutupi sebagian dari kepucatannya. Sekali lagi airmata merusakkan
rias itu.
"Jangan menangis. Berterimakasihlah kepada para dewa. Tak ada seorang wanita
yang telah ditempatkan pada satu kedudukan oleh Yang Mulia Tunggul Ametung.
Tak pernah Yang Mulia melakukan wadad kecuali hanya untukmu. Pernikahan itu
takkan dapat dibatalkan. Yang Suci Belakangka adalah juga seorang brahmana
sebagai ayahmu. Mantra-mantranya sama mengikat dengan yang diucapkan oleh
ayahmu."
Dedes masih juga belum membuka mulut dalam empat puluh hari ini. Ia selalu
terkenang pada ayahnya. Tanpa pembenaran dan restunya, semua hanya akan
menuju pada bencana. Dan sebagai gadis yang terdidik untuk menjadi brahmani, ia
tahu Tunggul Ametung hanya seorang penjahat dan pendekar yang diangkat untuk
artinya penggada kayu] itu oleh Sri Kretajaya untuk menjamin arus upeti ke Kediri.
Semua brahmana, termasuk ayahnya, membencinya. Dua puluh tahun sebagai
Tunggul Ametung pekerjaan pokoknya adalah melakukan perampasan terhadap
semua terbaik milik rakyat Tumapel: kuda terbaik, burung terbaik, perawan
tercantik.
"Mari, Dara," dan ditariknya perawan itu berdiri dari duduknya.
Dedes tetap tak bicara. Bedak dan mangir itu tak dapat menyembunyikan
kepucatannya. Dada telanjangnya mulai ditutup dengan sutra terawang tenunan
Mesir tipis laksana selaput kabut menyapu gunung kembar. Peniti pada seutas tali
emas membikin sutra terawang itu menyangsang pada lehernya, sebagian
Menutup rambut. Dan tali emas itu sendiri kemudian dilibatkan tiga kali pada leher
__ADS_1
untuk kemudian jatuh pada perutnya. Selembar sutra berselang-seling benang
emas dan perak terkaitkan pada kondai dengan tusuk kondai, jatuh melalui kuping
kiri ke atas pundak.
"Mari, Dara," katanya lagi dan dipimpinnya Dedes sang cantik, sang ayu, sang
segala pujian itu hendak meninggalkan bilik.
Gedung pekuwuan itu dalam segala hal meniru istana Kediri, malahan nampak
berusaha hendak mengatasi. Juga tatacara yang berlaku. Sepuluh tahun yang lalu
Tumapel masih berupa desa sama dengan desa-desa lain. Kini gedung-gedung
bermunculan seperti dari perut bumi. Tumapel berubah menjadi kota dan beratus
desa bawahannya berubah jadi kumpulan gubuk dan pondok bobrok. Tunggul
Ametung Tumapel melambung naik jadi raja kecil, dengan kekuasaan tanpa batas,
hanya takluk pada Kediri.
Dua orang pengawal, mendengar gerincing giring-giring, membuka tabir berat dari
potongan ranting bambu petung, menghentakkan pangkal tangkai tombak sebagai
penghormatan, membungkuk tanpa memandang pada Dedes.
Gede Mirah menyerahkannya pada rombongan wanita pengiring yang langsung
menyerahkannya pada Yang Suci Belakang-ka, Pandita Negeri Tumapel.
Semua menunduk mengikatkan pandang pada lantai. Juga Dedes. Hanya Yang Suci
mengangkat muka, memimpin semua meninggalkan keputrian menuju ke pendopo
pekuwuan. Iringan itu merupakan permainan warna dalam siraman sinar matahari
sore. Di depan sendiri Dedes dalam intan baiduri gemerlapan. Rambutnya
dimahkotai dengan pita emas dengan matahari intan bertaburan pada kening. Kulit
tubuhnya yang dimangir kuning muncul dari balik terawang sutra Mesir dengan
sepasang buahdada seperti hendak bertanding dengan matahari.
__ADS_1