Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 1


__ADS_3

Ia takkan dapat lupakan peristiwa itu pertama kali ia sadar dari pingsan. Tubuhnya


dibopong diturunkan dari kuda, dibawa masuk ke ruangan besar ini juga. Ia


digeletakkan di atas peraduan, dan orang yang menggotongnya itu, Tunggul


Ametung, berdiri mengawasinya. Ia tengkurapkan diri di atas peraduan dan


menangis. Orang itu tak juga pergi. Dan ia tidak diperkenankan meninggalkan bilik


besar ini. Gede Mirah menyediakan untuknya air, tempat membuang kotoran dan


makanan. matahari belum terbit. Lampu-lampu suram menerangi bilik besar itu.


Begitu matahari muncul masuk ke dalam seorang tua mengenakan tanda-tanda


brahmana. Ia tak mau turun dari peraduan. Tetapi Tunggul Ametung


membopongnya lagi, mendudukkannya di sebuah bangku yang diberi bertilam


permadani. Ia tutup mukanya dengan tangan. Tunggul Ametung duduk di


sampingnya. Orang dengan tanda-tanda brahmana itu telah menikahkannya.


Hanya Gede Mirah bertindak sebagai saksi. Kemudian Tunggul Ametung


meninggalkan bilik bersama brahmana itu. Sejak itu ia tidak diperkenankan keluar


dari bilik besar ini.


Semua berlangsung secara rahasia. Empat puluh hari telah lewat. Sekarang ini


Gede Mirah meriasnya. Ia telah sampai pada riasan terakhir.


ia ingin kerja rias ini tiada kan berakhir. Dalam empat puluh hari ia telah bermohon


pada Mahadewa agar melepaskannya dari kungkungan ini, mengembalikannya


pada ayahnya tercinta di desa. Semua sia-sia. Hari yang ke empat puluh adalah hari


selesainya wadad pengantin, ia menggigil membayangkan seorang lelaki sebentar


nanti akan membawanya ke peraduan. Dan ayahnya tak juga datang untuk


membenarkan perkawinan ini. ia sendiri juga tidak membenarkan.


"Perawan terayu di seluruh negeri," bisik Gede Mirah

__ADS_1


"Tanpa riasan sahaya pun tiada orang lain bisa menandingi."


Bedak telah menutupi sebagian dari kepucatannya. Sekali lagi airmata merusakkan


rias itu.


"Jangan menangis. Berterimakasihlah kepada para dewa. Tak ada seorang wanita


yang telah ditempatkan pada satu kedudukan oleh Yang Mulia Tunggul Ametung.


Tak pernah Yang Mulia melakukan wadad kecuali hanya untukmu. Pernikahan itu


takkan dapat dibatalkan. Yang Suci Belakangka adalah juga seorang brahmana


sebagai ayahmu. Mantra-mantranya sama mengikat dengan yang diucapkan oleh


ayahmu."


Dedes masih juga belum membuka mulut dalam empat puluh hari ini. Ia selalu


terkenang pada ayahnya. Tanpa pembenaran dan restunya, semua hanya akan


menuju pada bencana. Dan sebagai gadis yang terdidik untuk menjadi brahmani, ia


tahu Tunggul Ametung hanya seorang penjahat dan pendekar yang diangkat untuk


artinya penggada kayu] itu oleh Sri Kretajaya untuk menjamin arus upeti ke Kediri.


Semua brahmana, termasuk ayahnya, membencinya. Dua puluh tahun sebagai


Tunggul Ametung pekerjaan pokoknya adalah melakukan perampasan terhadap


semua terbaik milik rakyat Tumapel: kuda terbaik, burung terbaik, perawan


tercantik.


"Mari, Dara," dan ditariknya perawan itu berdiri dari duduknya.


Dedes tetap tak bicara. Bedak dan mangir itu tak dapat menyembunyikan


kepucatannya. Dada telanjangnya mulai ditutup dengan sutra terawang tenunan


Mesir tipis laksana selaput kabut menyapu gunung kembar. Peniti pada seutas tali


emas membikin sutra terawang itu menyangsang pada lehernya, sebagian


Menutup rambut. Dan tali emas itu sendiri kemudian dilibatkan tiga kali pada leher

__ADS_1


untuk kemudian jatuh pada perutnya. Selembar sutra berselang-seling benang


emas dan perak terkaitkan pada kondai dengan tusuk kondai, jatuh melalui kuping


kiri ke atas pundak.


"Mari, Dara," katanya lagi dan dipimpinnya Dedes sang cantik, sang ayu, sang


segala pujian itu hendak meninggalkan bilik.


Gedung pekuwuan itu dalam segala hal meniru istana Kediri, malahan nampak


berusaha hendak mengatasi. Juga tatacara yang berlaku. Sepuluh tahun yang lalu


Tumapel masih berupa desa sama dengan desa-desa lain. Kini gedung-gedung


bermunculan seperti dari perut bumi. Tumapel berubah menjadi kota dan beratus


desa bawahannya berubah jadi kumpulan gubuk dan pondok bobrok. Tunggul


Ametung Tumapel melambung naik jadi raja kecil, dengan kekuasaan tanpa batas,


hanya takluk pada Kediri.


Dua orang pengawal, mendengar gerincing giring-giring, membuka tabir berat dari


potongan ranting bambu petung, menghentakkan pangkal tangkai tombak sebagai


penghormatan, membungkuk tanpa memandang pada Dedes.


Gede Mirah menyerahkannya pada rombongan wanita pengiring yang langsung


menyerahkannya pada Yang Suci Belakang-ka, Pandita Negeri Tumapel.


Semua menunduk mengikatkan pandang pada lantai. Juga Dedes. Hanya Yang Suci


mengangkat muka, memimpin semua meninggalkan keputrian menuju ke pendopo


pekuwuan. Iringan itu merupakan permainan warna dalam siraman sinar matahari


sore. Di depan sendiri Dedes dalam intan baiduri gemerlapan. Rambutnya


dimahkotai dengan pita emas dengan matahari intan bertaburan pada kening. Kulit


tubuhnya yang dimangir kuning muncul dari balik terawang sutra Mesir dengan


sepasang buahdada seperti hendak bertanding dengan matahari.

__ADS_1


__ADS_2