
"Kau, perempuan, siapa namamu? Oti? Bagus. Berikan Mundra sebanyak anak
yang bisa kau berikan. Pergi kalian pulang dengan restuku."
Mereka pergi, berjalan beriringan menuju ke tepian kali Kanta. Di bawah sebatang
pohon jambu raksasa, di situlah pondok Mundra. Seperti yang lain-lain terbuat dari
dedaunan yang dijepit dengan bambu belah, tebal sejengkal. Atapnya dari ilalang.
Tinggi tiga depa, lebar empat dan panjang lima depa.
"Kau akan senang tinggal di sini. Gusti Putra sudah benarkan kita."
"Gusti?"[gelar untuk sudra yang kaya atau berkeahlian]
"Ya, dia hanya dari kasta sudra."
Mereka masuk, duduk di atas tumpukan daun kering
"Siapa Gusti Putra?"
"Silpasastrawan Tumapel."
"Apa silpasastrawan?"
"Yang merancang dan membangun gedung-gedung suci. Kau bisa masak?"
Oti merasa tersinggung oleh pertanyaan itu.
"Kalau tidak, aku yang masak sebelum kita turun bekerja. Senang aku, kau datang
untuk jadi biniku."
"Bini?" ia angkat kepalanya dan dipandanginya si matasatu seorang lelaki yang
tiba-tiba saja jadi suaminya. Mundra tersenyum membujuk. Pikirannya melayang
ke Kutaraja. Semua mendapat gerincing giring-giring pandita pada pernikahannya,
__ADS_1
dan percikan air suci. "Pandita," bisiknya.
"Untuk budak cukup dengan anggukan seorang pembesar. Kau akan senang tinggal
di sini, dengan aku. Lihat," ia memperlihatkan lengannya yang kuat. "Tangan ini
menjamin kesetiaan-mu padaku, lebih berharga daripada mataku." "Bagaimana
menjaminnya?" "Untuk mematahkan batang leher." "Batang leherku?"
"Terserah, bisa kau bisa orang lain. Hidupku sudah cukup sesak. Seorang bini tak
perlu semakin menyesakkan. Apa kau? Buddha? Syiwa? Wisynu? Brahma?"
Dan Oti tak tahu.
"Tahu mantra Sansakerta?"
Oti menggeleng.
"Bagus."
"Apa yang bagus?"
sudah mulai tidak menggunakan lagi. Tak tahu aku mengapa para dewa itu memilih
Sansakerta sebagai bahasanya."
"Mengapa kau jadi budak?"
"Ayahku penjudi, pemain dadu, tertimbun hutang, jadi budak. Aku terseret dalam
perbudakan. Di mana orang tuamu?"
Oti tak dapat mengikuti pertanyaan-pertanyaan yang begitu cepat dan tercampur
dengan keterangan yang tidak kurang cepatnya. Ia masih sibuk mengherani betapa
mendadaknya ia mendapatkan seseorang pria, seorang saja, yang ia impikan
__ADS_1
selama ini dan ternyata dia kekurangan sebuah mata.
"Bicaralah."
Kekasaran suaminya dirasainya seperti belaian kasih sayang. Di Tumapel semua
lelaki jauh lebih halus daripada Mundra, dan semua memincingkan mata
terhadapnya. Akhirnya dewa-dewa orang Jawa itu melemparkan seorang suami di
pangkuannya. Dan ia belum juga habis heran. Berbaris sekian banyak pria yang
selama ini pernah memperlakukannya seperti sebatang pisang, tanpa perlu
mengajak bicara. Suatu anggapan, bahwa pria adalah makhluk paling menjijikkan di
dunia ini, sekaligus juga menakutkan, untuk waktu lama pernah membunuh
impiannya tentang indahnya hubungan lelaki dengan perempuan. Tapi belakangan
ini ia sungguh-sungguh merindukan seorang pria, seorang saja. Itu pun tak pernah
berwajah. Sekarang di hadapannya seorang suami, berwajah, gagah, tinggi besar,
bermata satu. Dan semua impiannya bubar. Ia merasa kosong. Boleh jadi Mundra
sendiri seorang dewa, mungkin juga menyimpan banyak kesaktian pada dirinya.
"Kau menangis sekarang. Kau sesali mataku yang satu?"
Oti merobohkan diri pada pangkuan Mundra. Dan si matasatu itu membelai
rambutnya, pipinya ah, belaian yang diimpikannya tahun-tahun belakangan ini.
Waktu tangan kasar itu mengangkat mukanya, dari sebakan mata ia lihat lelaki itu
tersenyum. Giginya kuning gading berkilat-kilat seperti terbuat daripada suasa. Dan
ia lihat sepasang gigi taring yang tajam dan kuat.
__ADS_1
"Kalau kau pernah berbenah rumah, mulailah. Aku akan rapikan alat-kerjaku."
Ia tegakkan duduk Oti, mencium pada pipinya, kemudian meninggalkan pondok.