Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 14


__ADS_3

"Kau, perempuan, siapa namamu? Oti? Bagus. Berikan Mundra sebanyak anak


yang bisa kau berikan. Pergi kalian pulang dengan restuku."


Mereka pergi, berjalan beriringan menuju ke tepian kali Kanta. Di bawah sebatang


pohon jambu raksasa, di situlah pondok Mundra. Seperti yang lain-lain terbuat dari


dedaunan yang dijepit dengan bambu belah, tebal sejengkal. Atapnya dari ilalang.


Tinggi tiga depa, lebar empat dan panjang lima depa.


"Kau akan senang tinggal di sini. Gusti Putra sudah benarkan kita."


"Gusti?"[gelar untuk sudra yang kaya atau berkeahlian]


"Ya, dia hanya dari kasta sudra."


Mereka masuk, duduk di atas tumpukan daun kering


"Siapa Gusti Putra?"


"Silpasastrawan Tumapel."


"Apa silpasastrawan?"


"Yang merancang dan membangun gedung-gedung suci. Kau bisa masak?"


Oti merasa tersinggung oleh pertanyaan itu.


"Kalau tidak, aku yang masak sebelum kita turun bekerja. Senang aku, kau datang


untuk jadi biniku."


"Bini?" ia angkat kepalanya dan dipandanginya si matasatu seorang lelaki yang


tiba-tiba saja jadi suaminya. Mundra tersenyum membujuk. Pikirannya melayang


ke Kutaraja. Semua mendapat gerincing giring-giring pandita pada pernikahannya,

__ADS_1


dan percikan air suci. "Pandita," bisiknya.


"Untuk budak cukup dengan anggukan seorang pembesar. Kau akan senang tinggal


di sini, dengan aku. Lihat," ia memperlihatkan lengannya yang kuat. "Tangan ini


menjamin kesetiaan-mu padaku, lebih berharga daripada mataku." "Bagaimana


menjaminnya?" "Untuk mematahkan batang leher." "Batang leherku?"


"Terserah, bisa kau bisa orang lain. Hidupku sudah cukup sesak. Seorang bini tak


perlu semakin menyesakkan. Apa kau? Buddha? Syiwa? Wisynu? Brahma?"


Dan Oti tak tahu.


"Tahu mantra Sansakerta?"


Oti menggeleng.


"Bagus."


"Apa yang bagus?"


sudah mulai tidak menggunakan lagi. Tak tahu aku mengapa para dewa itu memilih


Sansakerta sebagai bahasanya."


"Mengapa kau jadi budak?"


"Ayahku penjudi, pemain dadu, tertimbun hutang, jadi budak. Aku terseret dalam


perbudakan. Di mana orang tuamu?"


Oti tak dapat mengikuti pertanyaan-pertanyaan yang begitu cepat dan tercampur


dengan keterangan yang tidak kurang cepatnya. Ia masih sibuk mengherani betapa


mendadaknya ia mendapatkan seseorang pria, seorang saja, yang ia impikan

__ADS_1


selama ini dan ternyata dia kekurangan sebuah mata.


"Bicaralah."


Kekasaran suaminya dirasainya seperti belaian kasih sayang. Di Tumapel semua


lelaki jauh lebih halus daripada Mundra, dan semua memincingkan mata


terhadapnya. Akhirnya dewa-dewa orang Jawa itu melemparkan seorang suami di


pangkuannya. Dan ia belum juga habis heran. Berbaris sekian banyak pria yang


selama ini pernah memperlakukannya seperti sebatang pisang, tanpa perlu


mengajak bicara. Suatu anggapan, bahwa pria adalah makhluk paling menjijikkan di


dunia ini, sekaligus juga menakutkan, untuk waktu lama pernah membunuh


impiannya tentang indahnya hubungan lelaki dengan perempuan. Tapi belakangan


ini ia sungguh-sungguh merindukan seorang pria, seorang saja. Itu pun tak pernah


berwajah. Sekarang di hadapannya seorang suami, berwajah, gagah, tinggi besar,


bermata satu. Dan semua impiannya bubar. Ia merasa kosong. Boleh jadi Mundra


sendiri seorang dewa, mungkin juga menyimpan banyak kesaktian pada dirinya.


"Kau menangis sekarang. Kau sesali mataku yang satu?"


Oti merobohkan diri pada pangkuan Mundra. Dan si matasatu itu membelai


rambutnya, pipinya ah, belaian yang diimpikannya tahun-tahun belakangan ini.


Waktu tangan kasar itu mengangkat mukanya, dari sebakan mata ia lihat lelaki itu


tersenyum. Giginya kuning gading berkilat-kilat seperti terbuat daripada suasa. Dan


ia lihat sepasang gigi taring yang tajam dan kuat.

__ADS_1


"Kalau kau pernah berbenah rumah, mulailah. Aku akan rapikan alat-kerjaku."


Ia tegakkan duduk Oti, mencium pada pipinya, kemudian meninggalkan pondok.


__ADS_2