
Yang Suci mengucapkan mantra restu, ditutup dengan suara seratus sangkakala.
Barisan wanita dari semua biara negeri Tumapel yang diakui muncul dalam pakaian
warna-warni, mengambil alih pemikul-an patung rontal, membawanya ke tengah
alun-alun, menenggelamkannya dalam luapan api. Kemudian barisan pandita
dengan abu patung dalam bokor emas mempersembahkannya pada Tunggul
Ametung yang telah duduk kembali.
Upacara penutupan brahmacarya telah selesai.
Tunggul Ametung berdiri berseru pada rakyatnya:
"Demi HyangWisynu, pada hari penutupan brahmacarya ini,
kami umumkan pada semua yang mendengar, pengantin kami ini, Dedes, kami
angkat jadi Paramesywari, untuk menurunkan anak yang kelak menggantikan
kami."
Belakangka mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Terdengar sorak bersambutsambutan.
Dengan didahului oleh abu patung dalam bokor di atas talam di tangan seorang
pandita, Akuwu Tumapel dan pengantinnya menuruni panggung, berjalan kaki
menuju ke istananya
Para narapraja tinggal di pendopo, duduk bersimpuh. Akuwu dan pengantinnya
dalam iringan Yang Suci, dan seorang pandita membawa bokor abu Erlangga
menuju ke Bilik Agung yang terletak di balik pendopo.
Mereka dapatkan Gede Mirah menyambut di dalam. Diterimanya bokor emas itu
dari tangan pandita dan menaruhnya di atas meja, kemudian menyembahnya.
Dedes berjalan tanpa kemauan. Ia dengar Yang Suci sekali lagi berbisik menindas:
"Basuhlah kaki Yang Mulia."
Dara itu masih juga tak dapat membendung airmatanya dan menangis tersedansedan. Ia memprotes entah pada siapa: seorang brahmani yang harus mencuci kaki
seorang sudra yang di-satriakan oleh Kediri.
__ADS_1
"Yang Mulia Akuwu Tumapel,"Yang Suci mulai memimpin upacara, "kaki Yang
Mulia."
Tunggul Ametung dalam berdiri itu mengangkat kaki kanan pada Dedes yang telah
dipaksa berlutut oleh Yang Suci. Air bunga dalam jambang itu bergerak-gerak kecil.
"Bukankah Yang Mulia Akuwu sudah cukup memuliakan kau, Dedes? Paramesywari
Tumapel? telah mengangkat naik kau dalam perkawinan kebesaran ini?" tindas
Yang Suci.
Melihat Dedes tak juga mencuci kaki Tunggul Ametung, ia sandarkan tongkatsucinya pada meja, menangkap tangan lembut Dedes dan memaksanya membasuh
kaki kanan suaminya, kemudian yang kiri.
Dedes tak juga bangkit dari berlutut. Kembali Yang Suci juga yang memimpinnya
berdiri, membisikkan pada ubun-ubunnya, memberkahinya dengan restu
kebahagiaan seru seorang putra calon pemangku Tumapel hendaknya segera
dilahirkannya.
Upacara selesai dan malam pun jatuh.
dalam tengah malam. Dan dingin pancaroba membikin orang lari di bawah selimut
masing-masing.
Dalam Bilik Agung Dedes berlutut menghadapi peraduan. Airmatanya telah kering.
Tapi dalam hadnya masih juga mengucur tiada henti. Gede Mirah dan Rimang tak
mampu menghiburnya.
Ia tahu pikirannya tidak kacau. Hatinya masih dapat menilai, mantra yang
diucapkan oleh Belakangka dalam Sansakerta mengandung banyak kesalahan ucap
dan bahasa. Lima tahun yang lalu pun ia berumur sebelas waktu itu ia sudah
mampu menyalahkan, apalagi sekarang. Ia tak bisa terima perkawinan semacam
ini: seorang brahmani harus membasuh kaki seorang sudra yang disatriakan. Dan
ayahnya, seorang brahmana terpelajar, merasa tidak perlu untuk menengok.
__ADS_1
Empat puluh hari ia telah membisu. Hanya itu yang ia bisa berbuat untuk melawan
Tunggul Ametung.
Menghadapi peraduan begini, dengan Gede Mirah dan Rimang terus juga mencoba
menghiburnya, ia teringat pada suatu cerita pokok tentang perkawinan antara
Wanita kasta brahmana dengan seorang pria kasta satria. Ayahnya, Mpu Parwa,
yang menceritakan padanya dalam suatu pelajaran tentang tata-tertib triwangsa.
Pada suatu kali di tahun 1107 Saka Sri Ratu Srengga javasaba dari Kediri mangkat.
Pertentangan terjadi dalam istana siapa yang harus dinobatkan. Raden Dandang
Gendis melarikan diri dari istana ke Gunung Wilis. Di sana ia jatuh cinta pada gadis
anak brahmana Resi Brahmaraja bernama Amisani.
Waktu itu Dedes menerimanya hanya sebagai pelajaran sejarah, dan sekarang ini ia
baru mengerti, semua itu peringatan pada dirinya untuk tidak menerima lamaran
dan suami seorang dari kasta satria. Ia sesali dirinya sendiri mengapa ia baru
sekarang ini mengerti makna cerita itu. Dan bagaimana cerita itu selanjutnya.
Resi Brahmaraja tidak menyetujui percintaan itu. Amisani ini, kata sang Resi, hanya
gadis desa, tidak layak mendampingi Tuan jadi Paramesywan, duduk di singgasana
di kemudian hari. Tapi cinta telah membutakan Dandang Gendis. Ia menjawab: Jika
aku disuruh memilih antara Amisani dan mahkota, sekarang juga aku dapat
katakan, aku pilih Dewi Amisani.
Resi Brahmaraja, yang mengenal betul kehidupan istana, meminta pada Dandang
Gendis untuk memikirkannya kembali, jangan sampai hati tertutup oleh nafsu.
Anakku, Tuan, aku tahu, dia lebih berbahagia hidup di Gunung Wilis ini daripada di
istana.
Dandang Gendis tak dapat dibelokkan kemauannya. Perkawinan dilangsungkan.
Tiga tahun ia tinggal di padepokan Resi Brahmaraja. Pada suatu hari datang dari
__ADS_1
Kediri ke Gunung Wilis Mpu Tanakung dan adiknya sendiri, Mahisa Walungan.
Mereka datang menjemputnya untuk dinobatkan jadi raja Kediri.