
Betapa ia benci pada Erlangga, raja pertama yang mulai tidak mengindahkan
ajaran, mengangkat diri dan nenek-moyangnya jadi dewa dengan nama dewadewa Hindu. Seluruh keturunannya mengikutinya, juga Akuwu Tumapel yang
bukan keturunan hanya seorang Akuwu! Itu pun ia tak dapat mempengaruhinya.
Mereka semua patut jadi isi nerakanya Wairocana. Takkan mendapatkan ampun
sebagaimana diperoleh Purnawijaya.
Ingatannya kembali melayang pada perayaan kemarin. Sejoli pengantin baru.Yang
Suci memimpin seluruh upacara. Dari cara upacara itu dilangsungkan dan mantramantra itu diucapkan ia mengambil kesimpulan: Yang Suci tidak pernah meniupkan
dalam kesedaran Tunggul Ametung rahasia hidup yang mempertautkan
atman[Atman, diri, mikrokosmos.] dengan brahman[Brahman, semesta yang suci,
makrokosmos.]. Kalau tidak mana mungkin rumah Tiwan, hanya karena atapnya
lengkung berbentuk tanduk Nandi, kendaraan Hyang Mahadewa Syiwa itu, dibakar,
dan Tiwan sendiri dengan anak bininya diikat dengan nagabanda[Nagabanda, tali
berbentuk naga, pengikat mayat sebelum dibakar.] dan dipaksa masuk ke dalam
api?
Arya Artya tak dapat menanggung cemburuan Wangsa Erlangga[Wangsa (dinasti)
Erlangga disebut juga Wangsa Isana.] bahkan juga akuwunya terhadap segala yang
berbau Syiwa.
"Kalau aku tak berhasil mendudukkan cakrawarti Hyang Syiwa di Tumapel,
terkutuklah kalian Wangsa Erlangga! Terkutuk! Juga seluruh adipati, bupati dan
akuwunya! Terkutuk!" Ia turun ke pemandian dan mulai berenang-renang dalam air hangat itu, mondarmandir beberapa kali, kembali duduk di atas batu di pinggir kolam dan menggosok
badan. Turun lagi ke air kemudian ia berendam.
Sampai ia dalam perjalanan menuju ke rumah ia masih juga tak dapat menentukan
apa harus ia perbuat selanjutnya. Sekiranya begitu bakal jadinya, ia tak bakal
bisikkan Dedes pada kuping Tunggul Ametung. Ia dapat mempersuntingkan untuk
diri sendiri.
Sampai di rumah untuk ke sekian kalinya ia bertanya pada diri sendiri: Jadi apakah
aku ini, yang bernafsu untuk jadi pandita negeri, seorang brahmana pemuja Sang
Hyang Mahadewa Syi-wa, yang gagal melaksanakan keinginan untuk jadi pandita
akuwu Wisynu? Sudah sedemikian hinakah arya Hindu di bawah Wisynu Jawa ini?
Karena tak mendapat kepuasan dari pergulatannya ia jatuhkan diri duduk di atas
tikar pandan, menyanyikan sebuah karya Baga-watgita dalam Sansakerta ....
Pancaroba yang cemerlang itu menjanjikan panen palawija gilang-gemilang sebagai
__ADS_1
restu Dewi Sri untuk pernikahan Tunggul Ametung.Yang Suci telah mengukuhkan
kenyataan ini dan mempersembahkannya pada Sang Akuwu. Ia sendiri pada pagi
itu telah mengeluarkan perintah pada semua petani untuk memuliakan Dewi Sri
dengan lebih meriah. Patung dari jerami huma harus didirikan di semua pelataran
lumbung desa dan keluarga, dan sesaji di pura desa harus dipenuhi.
Tunggul Ametung menjanjikan karunia emas lima puluh saga[ukuran berat untuk
emas, ± 1 gram] dan perak seratus lima puluh catak[ukuran berat untuk perak, ± 20
gram.] pada desa dengan panen terbaik untuk memperbaiki pura desanya.
Menyusul janji karunia seratus saga emas dan dua ratus catak perak kepada barangsiapa dapat menangkap Borang hidup atau mati. Atau Santing, atau ArihArih, atau nama apa pun yang dipergunakannya.
Pengumuman itu diserukan di panggung alun-alun. Belum lagi tersebar ke semua
desa seorang kepala pasukan telah menjatuhkan diri di hadapan Tunggul Ametung
di pendopo.
"Ampun Yang Mulia, kerusuhan terjadi di barat Kutaraja Sahaya mohon
balabantuan. Mereka terlalu kuat."
"Siapa bangkitkan kerusuhan itu? Borang? Santing?"
"Bukan, Yang Mulia."
"Arih-Arih lagi?"
"Bukankah yang dipadamkan Kidang Tandingan sebulan lalu bernama Arih-Arih?"
"Tepat, Yang Mulia." "Juga yang sekali ini orangnya muda?" "Boleh jadi, Yang
Mulia."
"Siapkan pasukan kuda, aku sendiri yang bakal tangkap bajingan muda itu."
Tunggul Ametung tak pernah marah mendapatkan laporan adanya kerusuhan.
Apalagi bila yang memimpin seorang muda. Ia sendiri meningkat ke atas melalui
cara yang demikian juga Dan ia mengerti perasaan pemuda-pemuda yang juga ingin jadi Tunggul Ametung. Soalnya bagaimana cara ia mempertahankan
kedudukannya dan bagaimana ia mengadu-domba antara gerombolan pemuda
yang satu dengan yang lain. Ia tahu Arih-Arih, Santing dan Borang, barangkali tiga
orang pemuda atau seorang dengan tiga nama, mempunyai cara-cara yang ia
belum pernah melakukan, bahkan belum pernah mengenal. Tetapi ia senang
dengan tantangan itu. Ia akan memberikan kesempatan berkelahi, dan
kemenangan hanya untuk dirinya sendiri.
ia berpaling pada Belakangka:
"Yang Suci, tambahkan pada karunia itu, sebuah patung Hyang Wisynu dari emas
__ADS_1
dan tamtama dalam pasukan pengawal pekuwuan, barangsiapa bisa menangkap
mereka bertiga atau dia dengan tiga nama itu dalam keadaan hidup."
"Tetapi Yang Mulia tidak diperkenankan meninggalkan pengantin."
"Untuk hadiah bagi Paramesywari."
"Hadiah yang dijanjikan itu semua memang akan jatuh ke tangan Yang Mulia
sendiri. Jangan lakukan.Yang Mulia. Panjang hari tidak mencukupi. Lagipula belum
dibenarkan Yang Mulia meninggalkan pengantin masih sepuluh hari lagi."
Tunggul Ametung tertawa meremehkan. Hari ini juga ia akan perlihatkan apa yang
ia bisa pada Paramesywari. Resi Talu pengurus Candi Belahan itu bukankah sudah
meramalkan diri bakal lebih besar, jauh lebih besar daripada Sri Baginda Kretajaya?
Sebelum matan tenggelam ia sudah akan mengutip karunia yang ia janjikan sendiri.
Kuda Tunggul Ametung lari mencongklang diikuti oleh dua buah pasukan. Desadesa Pangkur, Karangksetra dan Randualas telah dilewati. Bukit-bukit telah dilewati, dan di hadapan mereka membubung puncak Gunung Arjuna. Sampai di
pertigaan jalan ke Kediri dan desa Kapundungan Tunggul Ametung berhenti. Jalan
itu semakin mendaki, dan ia tahu kudanya telah lelah. Pasukan telah menyusulnya.
"Memang desa-desa sebelah barat ini agak sulit diatur," serunya, sengaja untuk
didengar juga oleh orang-orang desa. "Lihat, kotor. Lain kali semua desa dengan
jalan kotor begini bukan saja hanya malah harus diperingatkan, diperiksa."
"Diperiksa, Yang Mulia?"
"Diperiksa, mulai sekarang. Kekotoran ini sarang perusuh."
"Mulai sekarang belum mungkin, Yang Mulia, tempat kerusuhan justru sudah
dekat."
"Apa kataku? Sarang perusuh," ia memberi perintah agar sebuah pasukan berjalan
di depannya. Pasukan lainnya diperintahkannya berhenti.
Pasukan itu mencongklang seirama. Debu berkepulan di udara. Tak urung Tunggul
Ametung melecut kendaraannya dan menyusul di belakangnya. Mereka menjurus
lurus ke Gunung Arjuna.
Kepala pasukan di depan mendadak berhenti di tikungan, berpaling ke belakang
dan memekik: "Balik, Yang Mulia! Cepat!"
Tepat di bawah lereng terjal Tunggul Ametung berhenti. Ia tertawa dalam hatinya
diperingatkan untuk balik. Dari pengalaman ia tahu, pohon di belokan jalan sana itu
jatuh karena ditebang. Perusuh sedang pesta-pora di desa selanjutnya. Beberapa
kali dahulu ia sendiri telah merobohi jalanan dengan pohon untuk menghalangi
__ADS_1
pengejaran pasukan kuda Kediri.