Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 10


__ADS_3

Betapa ia benci pada Erlangga, raja pertama yang mulai tidak mengindahkan


ajaran, mengangkat diri dan nenek-moyangnya jadi dewa dengan nama dewadewa Hindu. Seluruh keturunannya mengikutinya, juga Akuwu Tumapel yang


bukan keturunan hanya seorang Akuwu! Itu pun ia tak dapat mempengaruhinya.


Mereka semua patut jadi isi nerakanya Wairocana. Takkan mendapatkan ampun


sebagaimana diperoleh Purnawijaya.


Ingatannya kembali melayang pada perayaan kemarin. Sejoli pengantin baru.Yang


Suci memimpin seluruh upacara. Dari cara upacara itu dilangsungkan dan mantramantra itu diucapkan ia mengambil kesimpulan: Yang Suci tidak pernah meniupkan


dalam kesedaran Tunggul Ametung rahasia hidup yang mempertautkan


atman[Atman, diri, mikrokosmos.] dengan brahman[Brahman, semesta yang suci,


makrokosmos.]. Kalau tidak mana mungkin rumah Tiwan, hanya karena atapnya


lengkung berbentuk tanduk Nandi, kendaraan Hyang Mahadewa Syiwa itu, dibakar,


dan Tiwan sendiri dengan anak bininya diikat dengan nagabanda[Nagabanda, tali


berbentuk naga, pengikat mayat sebelum dibakar.] dan dipaksa masuk ke dalam


api?


Arya Artya tak dapat menanggung cemburuan Wangsa Erlangga[Wangsa (dinasti)


Erlangga disebut juga Wangsa Isana.] bahkan juga akuwunya terhadap segala yang


berbau Syiwa.


"Kalau aku tak berhasil mendudukkan cakrawarti Hyang Syiwa di Tumapel,


terkutuklah kalian Wangsa Erlangga! Terkutuk! Juga seluruh adipati, bupati dan


akuwunya! Terkutuk!" Ia turun ke pemandian dan mulai berenang-renang dalam air hangat itu, mondarmandir beberapa kali, kembali duduk di atas batu di pinggir kolam dan menggosok


badan. Turun lagi ke air kemudian ia berendam.


Sampai ia dalam perjalanan menuju ke rumah ia masih juga tak dapat menentukan


apa harus ia perbuat selanjutnya. Sekiranya begitu bakal jadinya, ia tak bakal


bisikkan Dedes pada kuping Tunggul Ametung. Ia dapat mempersuntingkan untuk


diri sendiri.


Sampai di rumah untuk ke sekian kalinya ia bertanya pada diri sendiri: Jadi apakah


aku ini, yang bernafsu untuk jadi pandita negeri, seorang brahmana pemuja Sang


Hyang Mahadewa Syi-wa, yang gagal melaksanakan keinginan untuk jadi pandita


akuwu Wisynu? Sudah sedemikian hinakah arya Hindu di bawah Wisynu Jawa ini?


Karena tak mendapat kepuasan dari pergulatannya ia jatuhkan diri duduk di atas


tikar pandan, menyanyikan sebuah karya Baga-watgita dalam Sansakerta ....


Pancaroba yang cemerlang itu menjanjikan panen palawija gilang-gemilang sebagai

__ADS_1


restu Dewi Sri untuk pernikahan Tunggul Ametung.Yang Suci telah mengukuhkan


kenyataan ini dan mempersembahkannya pada Sang Akuwu. Ia sendiri pada pagi


itu telah mengeluarkan perintah pada semua petani untuk memuliakan Dewi Sri


dengan lebih meriah. Patung dari jerami huma harus didirikan di semua pelataran


lumbung desa dan keluarga, dan sesaji di pura desa harus dipenuhi.


Tunggul Ametung menjanjikan karunia emas lima puluh saga[ukuran berat untuk


emas, ± 1 gram] dan perak seratus lima puluh catak[ukuran berat untuk perak, ± 20


gram.] pada desa dengan panen terbaik untuk memperbaiki pura desanya.


Menyusul janji karunia seratus saga emas dan dua ratus catak perak kepada barangsiapa dapat menangkap Borang hidup atau mati. Atau Santing, atau ArihArih, atau nama apa pun yang dipergunakannya.


Pengumuman itu diserukan di panggung alun-alun. Belum lagi tersebar ke semua


desa seorang kepala pasukan telah menjatuhkan diri di hadapan Tunggul Ametung


di pendopo.


"Ampun Yang Mulia, kerusuhan terjadi di barat Kutaraja Sahaya mohon


balabantuan. Mereka terlalu kuat."


"Siapa bangkitkan kerusuhan itu? Borang? Santing?"


"Bukan, Yang Mulia."


"Arih-Arih lagi?"


"Bukankah yang dipadamkan Kidang Tandingan sebulan lalu bernama Arih-Arih?"


"Tepat, Yang Mulia." "Juga yang sekali ini orangnya muda?" "Boleh jadi, Yang


Mulia."


"Siapkan pasukan kuda, aku sendiri yang bakal tangkap bajingan muda itu."


Tunggul Ametung tak pernah marah mendapatkan laporan adanya kerusuhan.


Apalagi bila yang memimpin seorang muda. Ia sendiri meningkat ke atas melalui


cara yang demikian juga Dan ia mengerti perasaan pemuda-pemuda yang juga ingin jadi Tunggul Ametung. Soalnya bagaimana cara ia mempertahankan


kedudukannya dan bagaimana ia mengadu-domba antara gerombolan pemuda


yang satu dengan yang lain. Ia tahu Arih-Arih, Santing dan Borang, barangkali tiga


orang pemuda atau seorang dengan tiga nama, mempunyai cara-cara yang ia


belum pernah melakukan, bahkan belum pernah mengenal. Tetapi ia senang


dengan tantangan itu. Ia akan memberikan kesempatan berkelahi, dan


kemenangan hanya untuk dirinya sendiri.


ia berpaling pada Belakangka:


"Yang Suci, tambahkan pada karunia itu, sebuah patung Hyang Wisynu dari emas

__ADS_1


dan tamtama dalam pasukan pengawal pekuwuan, barangsiapa bisa menangkap


mereka bertiga atau dia dengan tiga nama itu dalam keadaan hidup."


"Tetapi Yang Mulia tidak diperkenankan meninggalkan pengantin."


"Untuk hadiah bagi Paramesywari."


"Hadiah yang dijanjikan itu semua memang akan jatuh ke tangan Yang Mulia


sendiri. Jangan lakukan.Yang Mulia. Panjang hari tidak mencukupi. Lagipula belum


dibenarkan Yang Mulia meninggalkan pengantin masih sepuluh hari lagi."


Tunggul Ametung tertawa meremehkan. Hari ini juga ia akan perlihatkan apa yang


ia bisa pada Paramesywari. Resi Talu pengurus Candi Belahan itu bukankah sudah


meramalkan diri bakal lebih besar, jauh lebih besar daripada Sri Baginda Kretajaya?


Sebelum matan tenggelam ia sudah akan mengutip karunia yang ia janjikan sendiri.


Kuda Tunggul Ametung lari mencongklang diikuti oleh dua buah pasukan. Desadesa Pangkur, Karangksetra dan Randualas telah dilewati. Bukit-bukit telah dilewati, dan di hadapan mereka membubung puncak Gunung Arjuna. Sampai di


pertigaan jalan ke Kediri dan desa Kapundungan Tunggul Ametung berhenti. Jalan


itu semakin mendaki, dan ia tahu kudanya telah lelah. Pasukan telah menyusulnya.


"Memang desa-desa sebelah barat ini agak sulit diatur," serunya, sengaja untuk


didengar juga oleh orang-orang desa. "Lihat, kotor. Lain kali semua desa dengan


jalan kotor begini bukan saja hanya malah harus diperingatkan, diperiksa."


"Diperiksa, Yang Mulia?"


"Diperiksa, mulai sekarang. Kekotoran ini sarang perusuh."


"Mulai sekarang belum mungkin, Yang Mulia, tempat kerusuhan justru sudah


dekat."


"Apa kataku? Sarang perusuh," ia memberi perintah agar sebuah pasukan berjalan


di depannya. Pasukan lainnya diperintahkannya berhenti.


Pasukan itu mencongklang seirama. Debu berkepulan di udara. Tak urung Tunggul


Ametung melecut kendaraannya dan menyusul di belakangnya. Mereka menjurus


lurus ke Gunung Arjuna.


Kepala pasukan di depan mendadak berhenti di tikungan, berpaling ke belakang


dan memekik: "Balik, Yang Mulia! Cepat!"


Tepat di bawah lereng terjal Tunggul Ametung berhenti. Ia tertawa dalam hatinya


diperingatkan untuk balik. Dari pengalaman ia tahu, pohon di belokan jalan sana itu


jatuh karena ditebang. Perusuh sedang pesta-pora di desa selanjutnya. Beberapa


kali dahulu ia sendiri telah merobohi jalanan dengan pohon untuk menghalangi

__ADS_1


pengejaran pasukan kuda Kediri.


__ADS_2