Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 24


__ADS_3

"Dengar, Tanca, boleh jadi Bapa Mahaguru akan membutuhkan aku dalam


beberapa hari ini. Pergilah kau ke Karangksetra. Barangkali impianmu benar. Suruh


pemuda-pemuda itu lindungi Ki Bango. Tak boleh dia diseret ke dalam perbudakan.


Dan jangan lupa katakan pada si Umang, aku akan datang dalam beberapa minggu


atau bulan ini."


Mereka berangkat ke huma. Ia tinggal seorang diri. Ia tahu masa belajarnya pada


Dang Hyang Lohgawe telah selesai. Ia bukan pelajar lagi. Ia telah seorang


Wasi.[Wasi, tingkat 6]


Sekarang ia mulai memusatkan pikirannya untuk memasuki haridepan. Sebagai


seorang yang terdidik untuk jadi pandita ia telah terlatih untuk melakukan sesuatu


dengan perencanaan dan pertimbangan.


Ia merasa telah mempunyai kekuatan cukup, ilmu dan pengetahuan memadai. Ia


akan gulingkan Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel. Ia dapat kerahkan semua


temannya di desa-desa sebelah barat Tumapel. Tetapi jumlah dan peralatan


mereka belum mencukupi. Orang-orang yang disembunyikannya di hutan


Sanggarana bukanlah prajurit, belum bisa dipergunakan.


Dan bila Tunggul Ametung tidak digulingkan oleh dirinya, siapa yang berani


melakukan? Dua puluh tahun, seumur hidupnya, Akuwu itu telah merajalela


perampok besar yang diberi penggada oleh Sri Baginda Kretajaya.


Kalau Tunggul Ametung dapat digulingkan, balatentara Kediri akan datang.


Sampai di situ ia berhenti berpikir. Ia belum tahu jalan. Ia harus mempelajari


kemungkinan itu.


Dan kala matahari mulai memancarkan sinarnya dari balik puncak gunung, ia


bangun dan menyusul pergi ke huma. Didapatinya Tanca sudah tiada. Ia ambil


alatnya dan mulai bekerja.


Pagar yang mengelilingi taman larangan, tepat di belakang Bilik Agung, dilingkari


pagar tanah liat bakar. Dunia selebihnya terpisah dari taman ini. Dedes senang


pada semua yang bersifat seni. Dan gambar-gambar timbul sepanjang pagar itu tak


pernah diperhatikannya. Dari pandang sekilas ia sudah dapat menangkap


ceritanya. Pada penghujung sana adalah permulaan dari cerita itu sebatang pohon


dengan Anoman di antara cabang dan ranting. Pada gambar kemudian satria


monyet, Anoman itu, turun di taman untuk menemui Sinta .... Ia tak tertarik untuk


memperhatikan karya besar itu. Ia tetap sibuk dengan hatinya sendiri.

__ADS_1


Ia tak hitung sudah berapa siang ia lewatkan hidupnya dalam Taman Larangan ini.


Bahkan dayang pun tak jarang diusirnya.


Kesukaannya adalah duduk bermenung di bawah sebatang mlinjo yang dipangkas


indah. Di sekitarnya berserakan guguran bunganya yang putih kecil-kecil. Juga


sekarang ini. Hamba yang duduk pada kakinya terus-menerus menyanyikan


berbagai lagu berahi nyanyian yang pernah dinyanyikan oleh setiap orang.


Tiba-tiba wanita itu berhenti, mengusap-usap betis Dedes. Diangkat kepalanya


untuk melihat wajah pengantin baru itu Dan pandang Ken Dedes masih juga


menjangkau jauh.


Ia meneruskan lagunya. Mengetahui tak mendapat perhatian ia kemudian berdiri


mohon ampun dari sang Paramesywari, dan mulai membetulkan rambut


majikannya yang hampir-hampir kacau digalau angin pancaroba.


Bahkan kepala pengantin baru dengan hiasan mahkota pita bertaburan permata


itu segan bergerak.


"Yang Mulia masih juga belum pernah nampak tersenyum," ia mencoba-coba


memancing percakapan.


Hanya hembusan keluh terdengar.


"Berapa berbahagia Yang Mulia muda, cantik-rupawan, berilmu, wanita pertama


Mulia seorang. Apa lagikah yang patut disedihkan? Semua wanita mengharap


mendapatkan kasih sebanyak itu. Sangat, sangat banyak yang bahkan


mendapatkan satu macam pun tidak pernah untuk sepanjang hidupnya."


Ken Dedes menyentuh tangan wanita itu untuk menghentikan perawatannya. Ia


berdiri dan berjalan lambat-lambat meninggalkan tempat duduk. Ia mengikuti di


belakangnya.


"Yang Mulia pun lebih berbahagia daripada Dewi Sinta itu," ia meneruskan lagi,


kemudian menyanyikan satu bait dari kisah Dewi Sinta yang terculik oleh Rahwana


dan dikurung dalam taman Argasoka.


"Bukankah Dewi Sinta itu kemudian tidak berbahagia seumur hidup, Yang Mulia?"


hamba itu tertawa.


Dedes merasa malu. Ia merasa tersindir. Sinta tidak pernah memberikan diri dan


hatinya pada Rahwana. Ia telah berikan dirinya pada Tunggul Ametung. Bukankah


Akuwu Tumapel tidak lebih baik daripada raksasa Rahwana? seorang yang tak jauh


dari ajaran, hidup dalam ketidaktahuan dan penghinaan terhadap Sang Yama?

__ADS_1


Mungkinkah karena ia memberikan dirinya ia harus mengulangi nasib Dewi


Amisani, mati termakan racun?


Ia tak dapat berdamai dengan hatinya sendiri, mengetahui benih raksasa Tumapel


itu telah memasuki dirinya.


"Apakah Yang Mulia pikirkan selama ini?"


Ken Dedes menjatuhkan pandang. Dayang itu melihat butiran jatuh dari pasang


matanya.


"Ah, Yang Mulia, Yang Mulia, betapa Yang Mulia menganiaya diri seperti ini,"


dengan setangan ia keringkan airmata majikannya dengan hati-hati. "Segala


kemewahan, kekuasaan dan cinta Yang Mulia Akuwu rupanya tak mengurangi


beban di hati Yang Mulia Paramesywari."


Mendengar kata-kata bersimpati itu Dedes tersedan, membungkuk. Dari balik


kedua tangannya terdengar tangis yang ditekan.


Dan hamba itu juga menangis. Dikuat-kuatkan hatinya. "Tak tahan sahaya melihat


begini setiap hari, Yang Mulia. Selama dalam pekuwuan begini terus. Jangan, Yang


Mulia, jangan hancurkan diri sendiri. Masih ada banyak hari disediakan oleh para


dewa, mengapa hari-hari ini saja Yang Mulia indahkan? Demi Hyang Parwati,


katakanlah apa yang sahaya bisa lakukan untuk meringankan dukacita Yang Mulia."


Ken Dedes melangkah lambat-lambat mendekati pagar tanah liat bakar. Ia purapura memperhatikan Sinta yang sedang dihadap oleh Anoman. Di atas mereka


bulan purnama memancar tepat di atas pohon Nagasari itu. Ia raba muka Sinta


dengan jarinya yang bercincin susun. Karya seni itu tetap tidak menarik hatinya. Ia


agak terhibur mendengarkan nada simpati itu. Hanya: adakah sumpahnya pada


Hyang Parwati hanya pemanis bibir?


"Yang Mulia," Rimang berbisik di belakang kupingnya.


Ia tak berpaling.


"Tak ada seorang pun di pekuwuan ini dapat dipercaya, Yang Mulia. Hati-hati,


waspadalah."


Ken Dedes tahu, Yama tak diindahkan di mana-mana, kecuali di desa-desa dalam


lindungan gunung. Juga ia tak percaya pada hamba yang seorang ini.


"Demi Hyang Dewi Parwati. Tidakkah cukup sumpah sahaya?"


Ken Dedes melangkah dan melangkah lambat. Dan Rimang berbisik lagi:


"Seluruh isi pekuwuan tidaklah parut mendapatkan karunia kepercayaan dari Yang


Mulia. Tapi Rimang ini tidak sama dengan yang selebihnya."

__ADS_1


Ken Dedes berhenti, berpaling:


__ADS_2