
"Dengar, Tanca, boleh jadi Bapa Mahaguru akan membutuhkan aku dalam
beberapa hari ini. Pergilah kau ke Karangksetra. Barangkali impianmu benar. Suruh
pemuda-pemuda itu lindungi Ki Bango. Tak boleh dia diseret ke dalam perbudakan.
Dan jangan lupa katakan pada si Umang, aku akan datang dalam beberapa minggu
atau bulan ini."
Mereka berangkat ke huma. Ia tinggal seorang diri. Ia tahu masa belajarnya pada
Dang Hyang Lohgawe telah selesai. Ia bukan pelajar lagi. Ia telah seorang
Wasi.[Wasi, tingkat 6]
Sekarang ia mulai memusatkan pikirannya untuk memasuki haridepan. Sebagai
seorang yang terdidik untuk jadi pandita ia telah terlatih untuk melakukan sesuatu
dengan perencanaan dan pertimbangan.
Ia merasa telah mempunyai kekuatan cukup, ilmu dan pengetahuan memadai. Ia
akan gulingkan Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel. Ia dapat kerahkan semua
temannya di desa-desa sebelah barat Tumapel. Tetapi jumlah dan peralatan
mereka belum mencukupi. Orang-orang yang disembunyikannya di hutan
Sanggarana bukanlah prajurit, belum bisa dipergunakan.
Dan bila Tunggul Ametung tidak digulingkan oleh dirinya, siapa yang berani
melakukan? Dua puluh tahun, seumur hidupnya, Akuwu itu telah merajalela
perampok besar yang diberi penggada oleh Sri Baginda Kretajaya.
Kalau Tunggul Ametung dapat digulingkan, balatentara Kediri akan datang.
Sampai di situ ia berhenti berpikir. Ia belum tahu jalan. Ia harus mempelajari
kemungkinan itu.
Dan kala matahari mulai memancarkan sinarnya dari balik puncak gunung, ia
bangun dan menyusul pergi ke huma. Didapatinya Tanca sudah tiada. Ia ambil
alatnya dan mulai bekerja.
Pagar yang mengelilingi taman larangan, tepat di belakang Bilik Agung, dilingkari
pagar tanah liat bakar. Dunia selebihnya terpisah dari taman ini. Dedes senang
pada semua yang bersifat seni. Dan gambar-gambar timbul sepanjang pagar itu tak
pernah diperhatikannya. Dari pandang sekilas ia sudah dapat menangkap
ceritanya. Pada penghujung sana adalah permulaan dari cerita itu sebatang pohon
dengan Anoman di antara cabang dan ranting. Pada gambar kemudian satria
monyet, Anoman itu, turun di taman untuk menemui Sinta .... Ia tak tertarik untuk
memperhatikan karya besar itu. Ia tetap sibuk dengan hatinya sendiri.
__ADS_1
Ia tak hitung sudah berapa siang ia lewatkan hidupnya dalam Taman Larangan ini.
Bahkan dayang pun tak jarang diusirnya.
Kesukaannya adalah duduk bermenung di bawah sebatang mlinjo yang dipangkas
indah. Di sekitarnya berserakan guguran bunganya yang putih kecil-kecil. Juga
sekarang ini. Hamba yang duduk pada kakinya terus-menerus menyanyikan
berbagai lagu berahi nyanyian yang pernah dinyanyikan oleh setiap orang.
Tiba-tiba wanita itu berhenti, mengusap-usap betis Dedes. Diangkat kepalanya
untuk melihat wajah pengantin baru itu Dan pandang Ken Dedes masih juga
menjangkau jauh.
Ia meneruskan lagunya. Mengetahui tak mendapat perhatian ia kemudian berdiri
mohon ampun dari sang Paramesywari, dan mulai membetulkan rambut
majikannya yang hampir-hampir kacau digalau angin pancaroba.
Bahkan kepala pengantin baru dengan hiasan mahkota pita bertaburan permata
itu segan bergerak.
"Yang Mulia masih juga belum pernah nampak tersenyum," ia mencoba-coba
memancing percakapan.
Hanya hembusan keluh terdengar.
"Berapa berbahagia Yang Mulia muda, cantik-rupawan, berilmu, wanita pertama
Mulia seorang. Apa lagikah yang patut disedihkan? Semua wanita mengharap
mendapatkan kasih sebanyak itu. Sangat, sangat banyak yang bahkan
mendapatkan satu macam pun tidak pernah untuk sepanjang hidupnya."
Ken Dedes menyentuh tangan wanita itu untuk menghentikan perawatannya. Ia
berdiri dan berjalan lambat-lambat meninggalkan tempat duduk. Ia mengikuti di
belakangnya.
"Yang Mulia pun lebih berbahagia daripada Dewi Sinta itu," ia meneruskan lagi,
kemudian menyanyikan satu bait dari kisah Dewi Sinta yang terculik oleh Rahwana
dan dikurung dalam taman Argasoka.
"Bukankah Dewi Sinta itu kemudian tidak berbahagia seumur hidup, Yang Mulia?"
hamba itu tertawa.
Dedes merasa malu. Ia merasa tersindir. Sinta tidak pernah memberikan diri dan
hatinya pada Rahwana. Ia telah berikan dirinya pada Tunggul Ametung. Bukankah
Akuwu Tumapel tidak lebih baik daripada raksasa Rahwana? seorang yang tak jauh
dari ajaran, hidup dalam ketidaktahuan dan penghinaan terhadap Sang Yama?
__ADS_1
Mungkinkah karena ia memberikan dirinya ia harus mengulangi nasib Dewi
Amisani, mati termakan racun?
Ia tak dapat berdamai dengan hatinya sendiri, mengetahui benih raksasa Tumapel
itu telah memasuki dirinya.
"Apakah Yang Mulia pikirkan selama ini?"
Ken Dedes menjatuhkan pandang. Dayang itu melihat butiran jatuh dari pasang
matanya.
"Ah, Yang Mulia, Yang Mulia, betapa Yang Mulia menganiaya diri seperti ini,"
dengan setangan ia keringkan airmata majikannya dengan hati-hati. "Segala
kemewahan, kekuasaan dan cinta Yang Mulia Akuwu rupanya tak mengurangi
beban di hati Yang Mulia Paramesywari."
Mendengar kata-kata bersimpati itu Dedes tersedan, membungkuk. Dari balik
kedua tangannya terdengar tangis yang ditekan.
Dan hamba itu juga menangis. Dikuat-kuatkan hatinya. "Tak tahan sahaya melihat
begini setiap hari, Yang Mulia. Selama dalam pekuwuan begini terus. Jangan, Yang
Mulia, jangan hancurkan diri sendiri. Masih ada banyak hari disediakan oleh para
dewa, mengapa hari-hari ini saja Yang Mulia indahkan? Demi Hyang Parwati,
katakanlah apa yang sahaya bisa lakukan untuk meringankan dukacita Yang Mulia."
Ken Dedes melangkah lambat-lambat mendekati pagar tanah liat bakar. Ia purapura memperhatikan Sinta yang sedang dihadap oleh Anoman. Di atas mereka
bulan purnama memancar tepat di atas pohon Nagasari itu. Ia raba muka Sinta
dengan jarinya yang bercincin susun. Karya seni itu tetap tidak menarik hatinya. Ia
agak terhibur mendengarkan nada simpati itu. Hanya: adakah sumpahnya pada
Hyang Parwati hanya pemanis bibir?
"Yang Mulia," Rimang berbisik di belakang kupingnya.
Ia tak berpaling.
"Tak ada seorang pun di pekuwuan ini dapat dipercaya, Yang Mulia. Hati-hati,
waspadalah."
Ken Dedes tahu, Yama tak diindahkan di mana-mana, kecuali di desa-desa dalam
lindungan gunung. Juga ia tak percaya pada hamba yang seorang ini.
"Demi Hyang Dewi Parwati. Tidakkah cukup sumpah sahaya?"
Ken Dedes melangkah dan melangkah lambat. Dan Rimang berbisik lagi:
"Seluruh isi pekuwuan tidaklah parut mendapatkan karunia kepercayaan dari Yang
Mulia. Tapi Rimang ini tidak sama dengan yang selebihnya."
__ADS_1
Ken Dedes berhenti, berpaling: