Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 9


__ADS_3

Kemudian ia lihat kaki Dedes yang berhartal itu melangkah lambat-lambat,


kemudian pada buahdada yang menggeletar dari balik sutra terawang itu pada


setiap langkah. Ia rasai setiap ayunan kakinya menginjak-injak pada kepala dan


tengkuknya.


Dia memiliki segala. Dia dewi di atas bumi itu. Dan aku? Diriku sendiri pun tidak,


dan selama ini tak pernah jadi milikku sendiri.


Di pulaunya tak ada orang pernah didewikan atau didewakan. Orang berperang


dan mati, mengaduk hutan dan laut tanpa pernah jadi budak. Orang berladang,


menangkap ikan, mencari telor penyu untuk seluruh kampung. Orang bersesaji


hanya untuk para leluhur. Di sini semua untuk dua orang itu saja .... Dan semua


kebesaran hanya milik para dewa. Ia tahu betul, di kampungnya dewa tak pernah


berkuasa.


Kembali ke dapur ia kenakan lagi tapas kelapa penutup kepaia Ia menjadi terdiam.


Ia menyesal telah ikut melihat kebesaran yang terlampau besar tergelar di


hadapannya: manusia dan perhiasannya.


Beberapa tahun yang lalu ia belajar membaca dari temannya yang bukan budak, si


Polang. Dari temannya itu juga ia dapat membaca rontal lepas dari Arjuna Wiwaha


salinan dari karya Mpu Kanwa. Ia mengherani adanya raksasa dan ia tak dapat


membayangkannya. Ia mengherani adanya satria yang mendapatkan kelebihankelebihan dari para dewa. Dan betapa banyak dewa, raksasa dan satria dalam


pikiran orang Tumapel. Juga di Jawa ini ia banyak dengar orang menyebutkan


kebesaran para dewa dan satria, dan dengan diam-diam ia mencoba pahami


kehinaan dirinya sendiri sebagai budak.


Ah, hanya budak. Jangankan para dewa dan satria, seorang lelaki biasa pun tak ada


datang untuk merayunya apalagi mela-marnya. Wanita budak paling baik hanya untuk pria budak. Dan di istana Tumapel ini dia tak ada. Setidak-tidaknya ia belum


pernah menemui. Mereka ditempatkan jauh dari Kutaraja. Ia tak tahu di mana.


Setidak-tidaknya tak diperkenankan menginjak bumi mulia yang terjamah oleh kaki


Sang Akuwu. Ia pernah dengar budak lelaki dipekerjakan di pembakaran batu bata


dan di pembelahan batu. Ia merindukan tempat yang tak diketahui namanya itu. Ia


merindukan salah seorang di antara mereka yang bakal melamarnya. Ia


merindukan seorang bayi, yang dapat digendong dan ditimangnya. Ia akan


nyanyikan untuknya lagu-lagu dari kampungnya dulu di muara sungai. Mungkinkah


itu? Maukah dan mampukah orang itu menebusnya dari pekuwuan ini, sedang


mereka tak mampu menebus dirinya sendiri?


Apa saja yang telah dilakukan oleh para dewa itu maka ia sampai kehilangan hak


untuk menikmati apa yang patut dinikmati oleh manusia seperti halnya dengan Ken


Dedes? Samsara? Tahu apa aku tentang hidupku terdahulu sampai aku harus jadi


budak orang lain sekarang ini?


"Awas!" budak Unggok memekik.


Oti melompat. Budak-budak wanita lain yang memikul belanga tembaga berisi air


mendidih itu tergoncang-goncang karena pemikul terdepan terpeleset oleh


ceceran kuah. Badan mereka kukuh seperti lelaki, mengkilat karena panas dan


keringat.


"Tonga, tonga!" budak pemikul itu mendengus.


Tak ada orang mengerti maksudnya. Tak ada orang yang mau mengenal


bahasanya.


Hari ini hati Oti rusuh tiada menentu. Ia tak bisa berdamai dengan nasibnya. Ia


mengiri pada Ken Dedes. Ia tak dapat mengerti mengapa semua orang menganggap perkawinan agung itu sebagai sesuatu yang semestinya. Dan dirinya

__ADS_1


sendiri? Mengapa harus menjadi budak, sekedar dapat makan dan secabik pakaian


agar tetap hidup dan tetap menjadi budak? Direnggang-kannya tali tapas kelapa


penutup kepala itu. Ia sengaja hendak membikin lambang kehinaan itu jatuh dan


akan pura-pura tidak tahu. Tahun demi tahun, siang dan malam benda coklat itu


semakin berat juga menekan hatinya.


Waktu tapas itu akhirnya jatuh tepat di bawah kaki Lurah Sina, suatu pukulan rotan


telah menghantam pipinya. Jalur merah segera melintang pada mukanya, ia tak


mengerang, tidak mengaduh. Ia tahu, itulah yang bakal diterimanya. Tapi ia telah


mencoba. Dan benar-benar tanda budak itu harus tetap dikenakannya.


"Kau sendiri tahu, bukan aku yang mengizinkan." bentak Lurah Sina.


Tanpa bicara ia tutup kembali kepalanya.


Lurah Sina duduk lagi di ambin, membantu merajang bawang merah, seakan tiada


terjadi sesuatu atas diri siapa pun.


Pagi itu Arya Artya duduk termenung di tepian kolam pemandian. Memasuki


umurnya yang ke empat puluh ia nampak semakin suram. Pengesahan gelar Arya


dari Yang Suci setahun yang lalu belum juga membawa pengaruh baik atas dirinya.


Yang Suci tidak pernah membantah kebenaran silsilah, benar ia berdarah Arya,


juga mengakui ia seorang brahmana. Semua orang Kutaraja tahu, di puranya


sendiri ia mempersembahkan korban. Bahwa ia seorang yang berpengetahuan luas


tentang sifat-sifat semua dewa, syakti dan lambang-lambang serta tafsirnya.


Bahwa ia menguasai Bharatayuddha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh,


menguasai Mahabharata dan Ramayana asli, juga Ramayana dari jaman Rakai Balitung, tiga ratus tahun yang lalu, Sansakerta dan Jawa. Tetap:Yang Suci


Belakangka tak juga memberinya ijin untuk mengajar.


Tidak seperti brahmana lain, ia memilih tempat di pinggiran ibukota. Bila mengikuti


kebiasaan kaum brahmana selama dua ratus tahun belakangan ini, ilmu dan


mematahkan kebiasaan itu. Dan ia tidak berhasil. Bahkan tak ada seorang


narapraja pun pernah datang berkunjung, apalagi belajar. Betapa rendahnya harga


brahmana di mata Tumapel.


Seperti kaum brahmana lain selama dua ratus tahun belakangan ini ia pun


menyesali Erlangga, orang yang serba bisa itu, juga bisa membikin terdesaknya


kaum brahmana. Dialah pula yang melarang adanya paria, perbudakan. Dia hanya


mengakui triwangsa; biara, candi, bahkan pura negara pun kehilangan pamor


dengan hilangnya perbudakan, kaum paria hina itu, makhluk serendah hewan di


luar triwangsa.


Untuk mengambil hati kaum brahmana Sri Baginda Kreta-jaya menghidupkan


kembali perbudakan untuk merawat bangunan-bangunan suci Yang Suci


Belakangka dengan serta-merta membenarkan. Suatu telah ditemukannya untuk


men-ciptakan perbudakan. Akuwu Tumapel menyokong dan meman-faatkannya.


Dan dipergunakan budak-budak itu untuk memperkaya diri mereka berdua.


"Sekumpulan ular bermuka dua," sebut Arya Artya."Mem-perbudak orang-orang


tak berdaya, dan membikin orang tak berdaya untuk dijadikan budak."


Duduk di bawah naungan pohon beringin muda di tepi kolam pemandian ini benarbenar ia tak dapat memusatkan pikirannya. Belakangka mempunyai kedudukan


terlalu kuat. ia tak mampu untuk dapat mendesaknya. Akuwu Tumapel telah


tergenggam dalam cengkeramannya. Ia mencoba mengenangkan kembali perayaan selesai brahmacarya kemarin. Ken Dedes kini telah jadi milik Tunggul


Ametung. Dan Akuwu itu menoleh padanya pun tidak dalam upacara kemarin.


Bukankah telah dinasihatinya Akuwu itu untuk mengambil gadis itu dengan segala


cara yang mungkin. Dia telah mengambilnya, dan ia tak juga mendapatkan ucapan

__ADS_1


terimakasih, apalagi memberikan kedudukan Belakangka pada dirinya.


Ia menyesal telah menghadiri upacara kemarin. Tidak hadir pun tidak mungkin


pengkokohannya sebagai brahmana bisa dicabut oleh Tunggul Ametung. Ia akan


kehilangan bantuan negeri, dan akan terpaksa membuka perguruan di lereng


gunung juga seperti brahmana yang selebihnya.


Ia tahu, Mpu Parwa dengan diam-diam telah menerima beberapa orang pelajar.


Sampai sebegitu jauh ia tak persembahkan itu pada Sang Akuwu. Orang berilmu,


berpengetahuan dan berbakat itu tak boleh punah. Jabatan Pandita Negeri


untuknya belum lagi berarti dibandingkan dengan hancurnya brahmana itu. Ia


hanya dapat persembahkan nasihat untuk mengambil Dedes. Dan untuk jasanya


itu ia tidak mendapat apa-apa. Uh, melihat padanya pun Tunggul Ametung tidak.


Ia sudah tak punya jalan untuk dapat bercengkerama dengan penguasa Tumapel


itu. Orang sebodoh itu, tapi gesit, tangkas dan cerdik seperti tikus pada umumnya.


Seluruh ilmu dan pengetahuanku tak dapat menembus ketidaktahuannya.Tapi


sekali kau akan terjatuh dalam pengaruhku


Ia tak dapat berdamai dengan nasibnya: seorang brahmana yang dipersamakan


kedudukan dan kehormatannya dengan seorang kepala desa.


Dalam usahanya untuk memusatkan pikiran ia bangkit kemudian berjalan


mengelilingi kolam pemandian. Sebentar ia berhenti mengawasi bambu pancuran


yang tak henti-hentinya memuntahkan air, tepat seperti pancuran candi Belahan.


Ia berjalan lagi, dan kini ingatannya menggapai kembali peristiwa Belahan itu ....


Tiga bulan yang lalu ia ikut dalam rombongan pengiring Sang Akuwu berkunjung ke


candi Belahan di lereng utara Gunung Penanggungan. Tunggul Ametung hendak


meminta berkah pada Hyang Wisynu, pada arwah Sang Sri Erlangga untuk


rencananya mengambil Dedes, agar tidak memungkinkan amarah kaum brahmana.


Sebagai brahmana penganut Syiwa ia tak rela mengangkat sembah pada arwah


seorang raja, biar pun dikeramatkan sebagai titisan Hyang Wisynu. Seperti kaum


brahmana selebihnya ia juga tidak membenarkan adat baru mengangkat arwah


raja menjadi dewa yang harus disembah dan dipinta restunya. Tak pernah itu


diajarkan dalam kitab-kitab suci purba. Orang-orang Wisynu dimulai dengan


Erlangga yang membuka adat memuja arwah leluhur, perbuatan khianat pada para


dewa. Semua para dewa yang menentukan, bukan petani-petani bodoh itu.


Orang tak menegurnya waktu ia tak ikut mengangkat sembah. Mereka semua


tenggelam dalam kekhidmatan, tak memperhatikannya. Waktu rombongan


memasuki candi dengan jalan menekuk lutut, tak habis-habisnya ia menyumpah


harus berlaku seperti itu terhadap arwah seorang raja tani. Dan abu Sri Erlangga itu


ditanam di bawah lantai pemandian. Orang beringsut-ingsut mengelilingi kolam,


dengan kepala menekuri air. Kemudian semua menuju ke dinding belakang candi.


Entah berapa kali orang mengangkat sembah pada patung pada dinding itu:


Erlangga di atas garuda bertubuh manusia, dipahat dari sebuah batu kali besar.


Dan di bawah patung itu berdiri dua orang Paramesywarinya: Sri dan Laksmi, duaduanya putri Sri Teguh Dharmawangsa. Dua-duanya tidak dipahat dari batu, hanya


dari tanah liat bakar, merah kecoklatan. Tentu saja, karena Paramesywari adalah


Syiwa.


Ia tak dapat menghapus gambar Erlangga sebagai Wisynu itu dari ingatannya. Dan


patung potret itu tidak berhidung bangir seperti dirinya, bukan hidung warisan


Hindu, hanya warisan Sudra terkutuk. Kalau ia harus menyembah, ia akan tujukan


pada Sri dan Laksmi, yang nyata berhidung bangir Hindu dan Syiwa pula, bukan

__ADS_1


Wisynu.


__ADS_2