
Kemudian ia lihat kaki Dedes yang berhartal itu melangkah lambat-lambat,
kemudian pada buahdada yang menggeletar dari balik sutra terawang itu pada
setiap langkah. Ia rasai setiap ayunan kakinya menginjak-injak pada kepala dan
tengkuknya.
Dia memiliki segala. Dia dewi di atas bumi itu. Dan aku? Diriku sendiri pun tidak,
dan selama ini tak pernah jadi milikku sendiri.
Di pulaunya tak ada orang pernah didewikan atau didewakan. Orang berperang
dan mati, mengaduk hutan dan laut tanpa pernah jadi budak. Orang berladang,
menangkap ikan, mencari telor penyu untuk seluruh kampung. Orang bersesaji
hanya untuk para leluhur. Di sini semua untuk dua orang itu saja .... Dan semua
kebesaran hanya milik para dewa. Ia tahu betul, di kampungnya dewa tak pernah
berkuasa.
Kembali ke dapur ia kenakan lagi tapas kelapa penutup kepaia Ia menjadi terdiam.
Ia menyesal telah ikut melihat kebesaran yang terlampau besar tergelar di
hadapannya: manusia dan perhiasannya.
Beberapa tahun yang lalu ia belajar membaca dari temannya yang bukan budak, si
Polang. Dari temannya itu juga ia dapat membaca rontal lepas dari Arjuna Wiwaha
salinan dari karya Mpu Kanwa. Ia mengherani adanya raksasa dan ia tak dapat
membayangkannya. Ia mengherani adanya satria yang mendapatkan kelebihankelebihan dari para dewa. Dan betapa banyak dewa, raksasa dan satria dalam
pikiran orang Tumapel. Juga di Jawa ini ia banyak dengar orang menyebutkan
kebesaran para dewa dan satria, dan dengan diam-diam ia mencoba pahami
kehinaan dirinya sendiri sebagai budak.
Ah, hanya budak. Jangankan para dewa dan satria, seorang lelaki biasa pun tak ada
datang untuk merayunya apalagi mela-marnya. Wanita budak paling baik hanya untuk pria budak. Dan di istana Tumapel ini dia tak ada. Setidak-tidaknya ia belum
pernah menemui. Mereka ditempatkan jauh dari Kutaraja. Ia tak tahu di mana.
Setidak-tidaknya tak diperkenankan menginjak bumi mulia yang terjamah oleh kaki
Sang Akuwu. Ia pernah dengar budak lelaki dipekerjakan di pembakaran batu bata
dan di pembelahan batu. Ia merindukan tempat yang tak diketahui namanya itu. Ia
merindukan salah seorang di antara mereka yang bakal melamarnya. Ia
merindukan seorang bayi, yang dapat digendong dan ditimangnya. Ia akan
nyanyikan untuknya lagu-lagu dari kampungnya dulu di muara sungai. Mungkinkah
itu? Maukah dan mampukah orang itu menebusnya dari pekuwuan ini, sedang
mereka tak mampu menebus dirinya sendiri?
Apa saja yang telah dilakukan oleh para dewa itu maka ia sampai kehilangan hak
untuk menikmati apa yang patut dinikmati oleh manusia seperti halnya dengan Ken
Dedes? Samsara? Tahu apa aku tentang hidupku terdahulu sampai aku harus jadi
budak orang lain sekarang ini?
"Awas!" budak Unggok memekik.
Oti melompat. Budak-budak wanita lain yang memikul belanga tembaga berisi air
mendidih itu tergoncang-goncang karena pemikul terdepan terpeleset oleh
ceceran kuah. Badan mereka kukuh seperti lelaki, mengkilat karena panas dan
keringat.
"Tonga, tonga!" budak pemikul itu mendengus.
Tak ada orang mengerti maksudnya. Tak ada orang yang mau mengenal
bahasanya.
Hari ini hati Oti rusuh tiada menentu. Ia tak bisa berdamai dengan nasibnya. Ia
mengiri pada Ken Dedes. Ia tak dapat mengerti mengapa semua orang menganggap perkawinan agung itu sebagai sesuatu yang semestinya. Dan dirinya
__ADS_1
sendiri? Mengapa harus menjadi budak, sekedar dapat makan dan secabik pakaian
agar tetap hidup dan tetap menjadi budak? Direnggang-kannya tali tapas kelapa
penutup kepala itu. Ia sengaja hendak membikin lambang kehinaan itu jatuh dan
akan pura-pura tidak tahu. Tahun demi tahun, siang dan malam benda coklat itu
semakin berat juga menekan hatinya.
Waktu tapas itu akhirnya jatuh tepat di bawah kaki Lurah Sina, suatu pukulan rotan
telah menghantam pipinya. Jalur merah segera melintang pada mukanya, ia tak
mengerang, tidak mengaduh. Ia tahu, itulah yang bakal diterimanya. Tapi ia telah
mencoba. Dan benar-benar tanda budak itu harus tetap dikenakannya.
"Kau sendiri tahu, bukan aku yang mengizinkan." bentak Lurah Sina.
Tanpa bicara ia tutup kembali kepalanya.
Lurah Sina duduk lagi di ambin, membantu merajang bawang merah, seakan tiada
terjadi sesuatu atas diri siapa pun.
Pagi itu Arya Artya duduk termenung di tepian kolam pemandian. Memasuki
umurnya yang ke empat puluh ia nampak semakin suram. Pengesahan gelar Arya
dari Yang Suci setahun yang lalu belum juga membawa pengaruh baik atas dirinya.
Yang Suci tidak pernah membantah kebenaran silsilah, benar ia berdarah Arya,
juga mengakui ia seorang brahmana. Semua orang Kutaraja tahu, di puranya
sendiri ia mempersembahkan korban. Bahwa ia seorang yang berpengetahuan luas
tentang sifat-sifat semua dewa, syakti dan lambang-lambang serta tafsirnya.
Bahwa ia menguasai Bharatayuddha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh,
menguasai Mahabharata dan Ramayana asli, juga Ramayana dari jaman Rakai Balitung, tiga ratus tahun yang lalu, Sansakerta dan Jawa. Tetap:Yang Suci
Belakangka tak juga memberinya ijin untuk mengajar.
Tidak seperti brahmana lain, ia memilih tempat di pinggiran ibukota. Bila mengikuti
kebiasaan kaum brahmana selama dua ratus tahun belakangan ini, ilmu dan
mematahkan kebiasaan itu. Dan ia tidak berhasil. Bahkan tak ada seorang
narapraja pun pernah datang berkunjung, apalagi belajar. Betapa rendahnya harga
brahmana di mata Tumapel.
Seperti kaum brahmana lain selama dua ratus tahun belakangan ini ia pun
menyesali Erlangga, orang yang serba bisa itu, juga bisa membikin terdesaknya
kaum brahmana. Dialah pula yang melarang adanya paria, perbudakan. Dia hanya
mengakui triwangsa; biara, candi, bahkan pura negara pun kehilangan pamor
dengan hilangnya perbudakan, kaum paria hina itu, makhluk serendah hewan di
luar triwangsa.
Untuk mengambil hati kaum brahmana Sri Baginda Kreta-jaya menghidupkan
kembali perbudakan untuk merawat bangunan-bangunan suci Yang Suci
Belakangka dengan serta-merta membenarkan. Suatu telah ditemukannya untuk
men-ciptakan perbudakan. Akuwu Tumapel menyokong dan meman-faatkannya.
Dan dipergunakan budak-budak itu untuk memperkaya diri mereka berdua.
"Sekumpulan ular bermuka dua," sebut Arya Artya."Mem-perbudak orang-orang
tak berdaya, dan membikin orang tak berdaya untuk dijadikan budak."
Duduk di bawah naungan pohon beringin muda di tepi kolam pemandian ini benarbenar ia tak dapat memusatkan pikirannya. Belakangka mempunyai kedudukan
terlalu kuat. ia tak mampu untuk dapat mendesaknya. Akuwu Tumapel telah
tergenggam dalam cengkeramannya. Ia mencoba mengenangkan kembali perayaan selesai brahmacarya kemarin. Ken Dedes kini telah jadi milik Tunggul
Ametung. Dan Akuwu itu menoleh padanya pun tidak dalam upacara kemarin.
Bukankah telah dinasihatinya Akuwu itu untuk mengambil gadis itu dengan segala
cara yang mungkin. Dia telah mengambilnya, dan ia tak juga mendapatkan ucapan
__ADS_1
terimakasih, apalagi memberikan kedudukan Belakangka pada dirinya.
Ia menyesal telah menghadiri upacara kemarin. Tidak hadir pun tidak mungkin
pengkokohannya sebagai brahmana bisa dicabut oleh Tunggul Ametung. Ia akan
kehilangan bantuan negeri, dan akan terpaksa membuka perguruan di lereng
gunung juga seperti brahmana yang selebihnya.
Ia tahu, Mpu Parwa dengan diam-diam telah menerima beberapa orang pelajar.
Sampai sebegitu jauh ia tak persembahkan itu pada Sang Akuwu. Orang berilmu,
berpengetahuan dan berbakat itu tak boleh punah. Jabatan Pandita Negeri
untuknya belum lagi berarti dibandingkan dengan hancurnya brahmana itu. Ia
hanya dapat persembahkan nasihat untuk mengambil Dedes. Dan untuk jasanya
itu ia tidak mendapat apa-apa. Uh, melihat padanya pun Tunggul Ametung tidak.
Ia sudah tak punya jalan untuk dapat bercengkerama dengan penguasa Tumapel
itu. Orang sebodoh itu, tapi gesit, tangkas dan cerdik seperti tikus pada umumnya.
Seluruh ilmu dan pengetahuanku tak dapat menembus ketidaktahuannya.Tapi
sekali kau akan terjatuh dalam pengaruhku
Ia tak dapat berdamai dengan nasibnya: seorang brahmana yang dipersamakan
kedudukan dan kehormatannya dengan seorang kepala desa.
Dalam usahanya untuk memusatkan pikiran ia bangkit kemudian berjalan
mengelilingi kolam pemandian. Sebentar ia berhenti mengawasi bambu pancuran
yang tak henti-hentinya memuntahkan air, tepat seperti pancuran candi Belahan.
Ia berjalan lagi, dan kini ingatannya menggapai kembali peristiwa Belahan itu ....
Tiga bulan yang lalu ia ikut dalam rombongan pengiring Sang Akuwu berkunjung ke
candi Belahan di lereng utara Gunung Penanggungan. Tunggul Ametung hendak
meminta berkah pada Hyang Wisynu, pada arwah Sang Sri Erlangga untuk
rencananya mengambil Dedes, agar tidak memungkinkan amarah kaum brahmana.
Sebagai brahmana penganut Syiwa ia tak rela mengangkat sembah pada arwah
seorang raja, biar pun dikeramatkan sebagai titisan Hyang Wisynu. Seperti kaum
brahmana selebihnya ia juga tidak membenarkan adat baru mengangkat arwah
raja menjadi dewa yang harus disembah dan dipinta restunya. Tak pernah itu
diajarkan dalam kitab-kitab suci purba. Orang-orang Wisynu dimulai dengan
Erlangga yang membuka adat memuja arwah leluhur, perbuatan khianat pada para
dewa. Semua para dewa yang menentukan, bukan petani-petani bodoh itu.
Orang tak menegurnya waktu ia tak ikut mengangkat sembah. Mereka semua
tenggelam dalam kekhidmatan, tak memperhatikannya. Waktu rombongan
memasuki candi dengan jalan menekuk lutut, tak habis-habisnya ia menyumpah
harus berlaku seperti itu terhadap arwah seorang raja tani. Dan abu Sri Erlangga itu
ditanam di bawah lantai pemandian. Orang beringsut-ingsut mengelilingi kolam,
dengan kepala menekuri air. Kemudian semua menuju ke dinding belakang candi.
Entah berapa kali orang mengangkat sembah pada patung pada dinding itu:
Erlangga di atas garuda bertubuh manusia, dipahat dari sebuah batu kali besar.
Dan di bawah patung itu berdiri dua orang Paramesywarinya: Sri dan Laksmi, duaduanya putri Sri Teguh Dharmawangsa. Dua-duanya tidak dipahat dari batu, hanya
dari tanah liat bakar, merah kecoklatan. Tentu saja, karena Paramesywari adalah
Syiwa.
Ia tak dapat menghapus gambar Erlangga sebagai Wisynu itu dari ingatannya. Dan
patung potret itu tidak berhidung bangir seperti dirinya, bukan hidung warisan
Hindu, hanya warisan Sudra terkutuk. Kalau ia harus menyembah, ia akan tujukan
pada Sri dan Laksmi, yang nyata berhidung bangir Hindu dan Syiwa pula, bukan
__ADS_1
Wisynu.