
Ki Lembung! Dialah orang pertama-tama di dunia ini yang ia kenal sebagai
pengasihnya. Menurut ceritanya, dialah juga yang menemukan dirinya sebagai
bayi, dibuang oleh orangtuanya di gerbang sebuah pura desa. Tengah malam:
"Aku dengar tangis bayi kedinginan. Gelap waktu itu. Tapi aku dapat melihat kau.
Dewa Bathara!, kau masih bayi, begitu kecil, tergolek pada selembar tikar usang.
Bayi semuda itu disuruh menjaga gerbang! Siapakah yang menaruh kau di situ?
Aku angkat kau, masuk dalam pelataran pertama pura, melalui padu-raksa[pintu
gerbang halaman kedua pura] mengintip ke halaman kedua. Sepi-sunyi. Aku
dekapkan kau pada dadaku. Tetapi kau masih juga menangis. Aku lepas destar dan
kuselimutkan padamu. Halaman kedua itu kosong, juga halaman ketiga. Kau masih
juga menangis. Aku batalkan maksudku dan kubawa kau pulang."
Ki Lembung[Lembung, arti aksarawi adalah: pencuri. Tidak jelas apakah nama
pribadi sesungguhnya atau nama ejekan.] tinggal di tengah hutan, seorang petani
yang memiliki kerbau. Bayi itu diserahkan pada istrinya:
"Para dewa telah mengirimkan pada kita bayi lelaki yang seorang ini. Peliharalah
dia sebagai anak sendiri."
Arok tidak pernah tidak merasa berterimakasih bila mengenangkan suami-istri
petani di Randualas itu. Merekalah yang membesarkannya tanpa pamrih.
Menginjak umur enam tahun ia sudah terbiasa bergaul dengan kerbau,
memandikan dan menggembalakan, menggiringnya ke sawah dengan Ki Lembung
memikul garu atau luku di belakangnya.
Memasuki umur sepuluh ia mulai membantu bertani. Dan dalam perawatannya
kerbau itu berbiak menjadi belasan. "
Nyi Lembung seorang wanita mandul. Ia tak punya teman bermain di rumah.
Tempat penggembalaan adalah medan ia bermain dengan teman-temannya.
Kegesitan, kekuatan, kecerdasan dan kekukuhan menyebabkan ia hampir selalu
keluar sebagai pemenang dalam permainan dan perkelahian. Dengan sendirinya
sebagai murid dari pengalamannya ia meningkatkan diri di atas mereka menjadi
jago dan pemimpin.
Orangtua-pungutnya bangga padanya. Dan ia tak pernah mengadu tidak perlu. Ia
selalu dapat mengatasi persoalannya sendiri.
Sering ia serahkan penggembalaan hewannya pada teman-temannya, dan dengan
beberapa orang ia mengembarai hutan dan desa-desa lain. Pengetahuannya
menjadi jauh lebih banyak daripada teman-temannya.
Tak ada sesuatu yang terlepas dari perhatian dan pengamatannya. Ia dapat
__ADS_1
bercerita tentang hewan, tanaman dan manusia yang pernah diketahuinya. Dan
jadilah ia guru bagi teman-temannya.
Dalam pengembaraannya untuk pertama kali ia melihat seorang prajurit Tumapel
memasuki rumah penduduk dan merampas kambingnya. Seorang bocah menangisi
binatang kesayangannya itu. Prajurit itu tidak peduli, dan binatang itu terus juga
diseret masuk ke dalam hutan. Hatinya berontak melihat pemandangan itu.
Dihiburnya anak itu, dan dijanjikan padanya:
"Nanti aku bawakan kambing untukmu."
Dicurinya seekor anak kambing dan diantarkannya kepada bocah itu. Ia
mendapatkan kebahagiaan dengan perbuatan itu. Dan dengan demikian mulailah
ia dan teman-temannya mencuri.
Sekali peristiwa ia melihat empat orang prajurit menyeret seorang gadis, dibawa
masuk ke dalam hutan. Ia kerahkan semua temannya dan mengikuti prajuritprajurit itu, mengganggu mereka, sehingga terpaksa melepaskan korban mereka.
Penduduk desa membiarkan perbuatan anak-anak itu, pura-pura tidak tahu.
Mulailah ia memimpin teman-temannya dalam perbuatan-perbuatan berbahaya.
Arok tersenyum senang. Ia menyimpulkan, justru karena perbuatan prajuritprajurit Tumapel sendiri ia dan teman-temannya menjadi berani dan penentang. Ia
tidak pernah menyesali perbuatannya ini. Ia justru bangga. Hatinya besar, dan
karena itu tubuhnya tumbuh dengan cepat dan kekuatan berlipatganda. ia
memasuki medan perkelahian di desa-desa lain untuk merebut keunggulan.
mendapatkan cara menangkis dan menyerang, dengan tongkat, kemudian pun
dengan senjata tajam. Betapa ia hormat padanya. Ki Lembung adalah juga gurunya
yang pertama.
Kemudian datanglah bencana itu - bencana yang berisi karunia para dewa. Sekali
waktu ia pulang dari pengembaraannya langsung mendapatkan gembalaannya,
tempat itu sepi. Teman-temannya lari mendapatkannya. Tak ada nampak seekor
kerbau pun.
"Kami semua lari, Temu. Juga binatang-binatang kita. Seekor macan telah
menyeret seekor dari kepunyaanmu." "Jagad Pramudita!" serunya.
Bersama dengan teman-temannya ia pergi ke tempat binatang-binatang itu
dikumpulkan. Dan pulang mereka ke tempat masing-masing.
Ia menggiring kerbaunya yang berpuluh-puluh itu. Ayah-pungutnya seperti biasa
menunggu di depan kandang, ia menghitungnya seekor demi seekor, dan:
"Kurang satu," katanya. Ki Lembung masuk ke dalam kandang dan menghitungnya
sekali lagi. "Kurang satu," katanya lebih keras, ia menghitung lagi. "Kurang satu!"
pekiknya. "Sini, kau hitung sendiri!"
__ADS_1
"Memang kurang satu, diterkam macan!"
"Ke mana saja kau sampai kerbau diterkam macan?"
Itulah untuk pertama kali Ki Lembung yang mengasihinya marah luarbiasa. Ia tahu
marahnya bukan karena hilangnya kerbau, karena ia tidak setia pada tugasnya.
Sekejap ia dapat melihat wajah Ki Lembung yang marah membara. Ia tak dengar
lagi apa yang disemburkan padanya. Ia malu pada dirinya sendiri, berbalik dan lari.
Sampai di luar Randu Alas ia baru berhenti lari, kemudian berjalan pelan-pelan
menyusun pikiran. Ia timbang kembali tindakannya. Ia mengakui tidak setia pada
tugasnya menggembala kerbau itu. Tapi apakah dengan demikian ia harus selalu
jadi penggembala dalam kesetiaannya? Ada hal-hal lebih berharga dan lebih
penting daripada kerbau. Dan dengan demikian ia memutuskan tidak akan kembali
ke rumah orangtua-pungut yang mengasihi itu.
Dan bermulalah kehidupan yang membusa-busa: perkelahian, penyerbuan,
pencurian, perampokan, pencegatan sendiri atau dengan teman-temannya yang
mengikutinya. Melukai dan dilukai, kalah dan menang. Ia keluar-masuk desa-desa baru, bergabung dengan penjahat besar dan tanggung untuk kemudian
menaklukkan dan ditaklukkan, dan meninggalkannya.
Arok menilai masa petualangannya ini banyak mengandung kekeliruan dan
pengawuran. Ada beberapa kejadian yang ia sesali dan lebih banyak lagi yang
membikin ia bangga pada perbuatannya. Yang keliru dan mengawur itu ia takkan
ulangi lagi. Yang benar ia akan kembangkan.
Dan ia merasa bersalah tak pernah lagi mengunjungi Ki Lembung dan istrinya lebih
enam tahun. Ia putuskan untuk sekali waktu datang ke sana, sebagai anak yang
tahu membalas budi. Ia harus datang....
Ayam telah berkeruyuk untuk kedua kali. Teman-temannya sepengajaran bangun.
Juga Arok bangun dari pengembaraannya pada masalalunya. Tubuhnya tetap
tergeletak.
"Temu, Arok," Tanca membangunkannya.
"Ceritakan tentang impianmu, Tanca."
"Ya, aku bermimpi kau suruh aku pulang ke Karangksetra. Aku pergi, Arok. Tahukah
kau bagaimana aku impikan mereka? Lima anak lelaki Ki Bango Samparan telah
meninggalkan orang-tuanya. Semua turun ke Gresik. Boleh jadi belayar. Mereka
pergi karena Ki Bango jatuh miskin. Tiada suatu binggal padanya. Catak yang kau
berikan pada Umang telah habis pula di medan judi. Ia sudah tak mau membayar
semua hutangnya. Boleh jadi sebentar lagi akan diseret dalam perbudakan. Betapa
buruk mimpi itu, Arok."
__ADS_1
"Tiada kau impikan si Umang?"
"Aku impikan dia kurus kering. Emaknya telah meninggal."