Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 23


__ADS_3

Ki Lembung! Dialah orang pertama-tama di dunia ini yang ia kenal sebagai


pengasihnya. Menurut ceritanya, dialah juga yang menemukan dirinya sebagai


bayi, dibuang oleh orangtuanya di gerbang sebuah pura desa. Tengah malam:


"Aku dengar tangis bayi kedinginan. Gelap waktu itu. Tapi aku dapat melihat kau.


Dewa Bathara!, kau masih bayi, begitu kecil, tergolek pada selembar tikar usang.


Bayi semuda itu disuruh menjaga gerbang! Siapakah yang menaruh kau di situ?


Aku angkat kau, masuk dalam pelataran pertama pura, melalui padu-raksa[pintu


gerbang halaman kedua pura] mengintip ke halaman kedua. Sepi-sunyi. Aku


dekapkan kau pada dadaku. Tetapi kau masih juga menangis. Aku lepas destar dan


kuselimutkan padamu. Halaman kedua itu kosong, juga halaman ketiga. Kau masih


juga menangis. Aku batalkan maksudku dan kubawa kau pulang."


Ki Lembung[Lembung, arti aksarawi adalah: pencuri. Tidak jelas apakah nama


pribadi sesungguhnya atau nama ejekan.] tinggal di tengah hutan, seorang petani


yang memiliki kerbau. Bayi itu diserahkan pada istrinya:


"Para dewa telah mengirimkan pada kita bayi lelaki yang seorang ini. Peliharalah


dia sebagai anak sendiri."


Arok tidak pernah tidak merasa berterimakasih bila mengenangkan suami-istri


petani di Randualas itu. Merekalah yang membesarkannya tanpa pamrih.


Menginjak umur enam tahun ia sudah terbiasa bergaul dengan kerbau,


memandikan dan menggembalakan, menggiringnya ke sawah dengan Ki Lembung


memikul garu atau luku di belakangnya.


Memasuki umur sepuluh ia mulai membantu bertani. Dan dalam perawatannya


kerbau itu berbiak menjadi belasan. "


Nyi Lembung seorang wanita mandul. Ia tak punya teman bermain di rumah.


Tempat penggembalaan adalah medan ia bermain dengan teman-temannya.


Kegesitan, kekuatan, kecerdasan dan kekukuhan menyebabkan ia hampir selalu


keluar sebagai pemenang dalam permainan dan perkelahian. Dengan sendirinya


sebagai murid dari pengalamannya ia meningkatkan diri di atas mereka menjadi


jago dan pemimpin.


Orangtua-pungutnya bangga padanya. Dan ia tak pernah mengadu tidak perlu. Ia


selalu dapat mengatasi persoalannya sendiri.


Sering ia serahkan penggembalaan hewannya pada teman-temannya, dan dengan


beberapa orang ia mengembarai hutan dan desa-desa lain. Pengetahuannya


menjadi jauh lebih banyak daripada teman-temannya.


Tak ada sesuatu yang terlepas dari perhatian dan pengamatannya. Ia dapat

__ADS_1


bercerita tentang hewan, tanaman dan manusia yang pernah diketahuinya. Dan


jadilah ia guru bagi teman-temannya.


Dalam pengembaraannya untuk pertama kali ia melihat seorang prajurit Tumapel


memasuki rumah penduduk dan merampas kambingnya. Seorang bocah menangisi


binatang kesayangannya itu. Prajurit itu tidak peduli, dan binatang itu terus juga


diseret masuk ke dalam hutan. Hatinya berontak melihat pemandangan itu.


Dihiburnya anak itu, dan dijanjikan padanya:


"Nanti aku bawakan kambing untukmu."


Dicurinya seekor anak kambing dan diantarkannya kepada bocah itu. Ia


mendapatkan kebahagiaan dengan perbuatan itu. Dan dengan demikian mulailah


ia dan teman-temannya mencuri.


Sekali peristiwa ia melihat empat orang prajurit menyeret seorang gadis, dibawa


masuk ke dalam hutan. Ia kerahkan semua temannya dan mengikuti prajuritprajurit itu, mengganggu mereka, sehingga terpaksa melepaskan korban mereka.


Penduduk desa membiarkan perbuatan anak-anak itu, pura-pura tidak tahu.


Mulailah ia memimpin teman-temannya dalam perbuatan-perbuatan berbahaya.


Arok tersenyum senang. Ia menyimpulkan, justru karena perbuatan prajuritprajurit Tumapel sendiri ia dan teman-temannya menjadi berani dan penentang. Ia


tidak pernah menyesali perbuatannya ini. Ia justru bangga. Hatinya besar, dan


karena itu tubuhnya tumbuh dengan cepat dan kekuatan berlipatganda. ia


memasuki medan perkelahian di desa-desa lain untuk merebut keunggulan.


mendapatkan cara menangkis dan menyerang, dengan tongkat, kemudian pun


dengan senjata tajam. Betapa ia hormat padanya. Ki Lembung adalah juga gurunya


yang pertama.


Kemudian datanglah bencana itu - bencana yang berisi karunia para dewa. Sekali


waktu ia pulang dari pengembaraannya langsung mendapatkan gembalaannya,


tempat itu sepi. Teman-temannya lari mendapatkannya. Tak ada nampak seekor


kerbau pun.


"Kami semua lari, Temu. Juga binatang-binatang kita. Seekor macan telah


menyeret seekor dari kepunyaanmu." "Jagad Pramudita!" serunya.


Bersama dengan teman-temannya ia pergi ke tempat binatang-binatang itu


dikumpulkan. Dan pulang mereka ke tempat masing-masing.


Ia menggiring kerbaunya yang berpuluh-puluh itu. Ayah-pungutnya seperti biasa


menunggu di depan kandang, ia menghitungnya seekor demi seekor, dan:


"Kurang satu," katanya. Ki Lembung masuk ke dalam kandang dan menghitungnya


sekali lagi. "Kurang satu," katanya lebih keras, ia menghitung lagi. "Kurang satu!"


pekiknya. "Sini, kau hitung sendiri!"

__ADS_1


"Memang kurang satu, diterkam macan!"


"Ke mana saja kau sampai kerbau diterkam macan?"


Itulah untuk pertama kali Ki Lembung yang mengasihinya marah luarbiasa. Ia tahu


marahnya bukan karena hilangnya kerbau, karena ia tidak setia pada tugasnya.


Sekejap ia dapat melihat wajah Ki Lembung yang marah membara. Ia tak dengar


lagi apa yang disemburkan padanya. Ia malu pada dirinya sendiri, berbalik dan lari.


Sampai di luar Randu Alas ia baru berhenti lari, kemudian berjalan pelan-pelan


menyusun pikiran. Ia timbang kembali tindakannya. Ia mengakui tidak setia pada


tugasnya menggembala kerbau itu. Tapi apakah dengan demikian ia harus selalu


jadi penggembala dalam kesetiaannya? Ada hal-hal lebih berharga dan lebih


penting daripada kerbau. Dan dengan demikian ia memutuskan tidak akan kembali


ke rumah orangtua-pungut yang mengasihi itu.


Dan bermulalah kehidupan yang membusa-busa: perkelahian, penyerbuan,


pencurian, perampokan, pencegatan sendiri atau dengan teman-temannya yang


mengikutinya. Melukai dan dilukai, kalah dan menang. Ia keluar-masuk desa-desa baru, bergabung dengan penjahat besar dan tanggung untuk kemudian


menaklukkan dan ditaklukkan, dan meninggalkannya.


Arok menilai masa petualangannya ini banyak mengandung kekeliruan dan


pengawuran. Ada beberapa kejadian yang ia sesali dan lebih banyak lagi yang


membikin ia bangga pada perbuatannya. Yang keliru dan mengawur itu ia takkan


ulangi lagi. Yang benar ia akan kembangkan.


Dan ia merasa bersalah tak pernah lagi mengunjungi Ki Lembung dan istrinya lebih


enam tahun. Ia putuskan untuk sekali waktu datang ke sana, sebagai anak yang


tahu membalas budi. Ia harus datang....


Ayam telah berkeruyuk untuk kedua kali. Teman-temannya sepengajaran bangun.


Juga Arok bangun dari pengembaraannya pada masalalunya. Tubuhnya tetap


tergeletak.


"Temu, Arok," Tanca membangunkannya.


"Ceritakan tentang impianmu, Tanca."


"Ya, aku bermimpi kau suruh aku pulang ke Karangksetra. Aku pergi, Arok. Tahukah


kau bagaimana aku impikan mereka? Lima anak lelaki Ki Bango Samparan telah


meninggalkan orang-tuanya. Semua turun ke Gresik. Boleh jadi belayar. Mereka


pergi karena Ki Bango jatuh miskin. Tiada suatu binggal padanya. Catak yang kau


berikan pada Umang telah habis pula di medan judi. Ia sudah tak mau membayar


semua hutangnya. Boleh jadi sebentar lagi akan diseret dalam perbudakan. Betapa


buruk mimpi itu, Arok."

__ADS_1


"Tiada kau impikan si Umang?"


"Aku impikan dia kurus kering. Emaknya telah meninggal."


__ADS_2