Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 4


__ADS_3

Ini terjadi pada tahun 1110 Saka. Ia tidak lain daripada Sri Kreta-jaya[Kretajaya - gajah yang jaya.


Kreta, gajah.] yang memerintah Kediri sekarang.


Di istana Amisani, si anak desa, tidak disukai oleh para putri istana. Orang pun


memasang racun untuk membunuhnya. Amisani akhirnya mati termakan racun itu


....


Dedes terbangun dari renungannya. Ia kini sedang mengulangi kisah hidup


Amisani. Ia mengerti di Tumapel tersedia banyak racun untuk melenyapkannya dari


muka bumi. Aku tidak harus mati karena racun, ia yakinkan dirinya sendiri, yang


lain bisa, Dedes tidak! Ia harus hidup. Ia masih akan bersimpuh pada kaki ayahnya


untuk memohon ampunnya karena tak mampu membela diri. Ia harus telan semua


upacara penghinaan kaum Wisynu atas dirinya. Ia angkat dagu, dan:


"Ayah, sekarang ini sahaya kalah menyerah. Dengarkan sumpah sahaya, sahaya


akan keluar sebagai pemenang pada akhir kelaknya."


Harum mangir pada kulitnya bersama harum dupa-setanggi memadati ruangan


besar Bilik Agung itu. Hatinya sendiri semakin sempit terhimpit. Dara yang terasuh


dengan cinta-kasih seorang bapa ini tak punya kekuatan untuk melawan. Ilmu dan


pengetahuan, yang dituangkan padanya oleh ayahnya, tidak berdaya menghadapi


Sang Akuwu.


"Akhir kelaknya sahaya yang menang, Ayah, Agunglah kau, puncak Triwangsa,


kaum brahmana. Agunglah Hyang Mahadewa Syiwa!"


Dan Tunggul Ametung hanya seorang jantan yang tahu memaksa, merusak,


memerintah, membinasakan, merampas. Bahkan membaca ia tak pernah, karena

__ADS_1


memang tidak bisa. Menulis apa lagi.


Dedes tak tahu harus berbuat apa. Melawan ia tak mampu-Lari ia pun tak mampu.


Meraung tidak mungkin.


Dua orang wanita itu tiba-tiba bersiap-siap, mengangkat sembah padanya dan


meninggalkan Bilik Agung.Tanpa mengangkat pandang tanpa berpaling ia


mengerti, Sang Akuwu telah meninggalkan pendopo dan memasuki ruang besar


ini.


Ia tetap berlutut menghadap ke peraduan. Ia dengar langkah kaki. Juga ia dengar


suara terompah: Yang Suci Belakangka.


Langkah-langkah itu semakin mendekat, menghampirinya, ia tahu detik-detik ini


adalah upacara menaiki peraduan pengantin.


Ia menggigil.


hati-hati melepas sutra terawang Mesir dari peniti dan tali, dan menyusupkan pada


tangannya. Menurut tata-tertib yang diketahuinya, dengan sutra itu ia harus


membasuh muka Tunggul Ametung, badan dan tangan sebagai awal upacara.


Tangan Akuwu itu menariknya, dengan lembut memaksanya berdiri dan


memimpinnya ke arah jambang air bunga. Tekanan paksa dari Belakangka


menyebabkan ia mencelupkan sutra itu ke dalam jambang dan mulai membasuh


muka bopeng bekas jerawat besar, kemudian dada dan dua belah tangannya yang


berbulu Sutra itu jatuh dari tangannya yang menggigil. Ia tetap menunduk di


bawah tembusan pandang Sang Akuwu.


Yang Suci mengambil sutra itu dan menggandengkan tangan Tunggul Ametung

__ADS_1


pada pengantinnya:


"Yang Mulia, bawalah perempuan ini naik ke peraduan. Para dewa membenarkan.


Pimpinlah dalam sanggama untuk mendapatkan karunianya, mendapatkan calon


pemangku Tumapel," ia bunyikan giring-giringnya, kemudian meninggalkan Bilik


Agung.


Berdua mereka berdiri di depan peraduan, mengawasi lembaran kapas yang


tergelar di atas tilam. Sinar empat damar di setiap pojok bilik itu menerangi seluruh


ruangan. Dan bayang-bayang hampir-hampir tiada.Tunggul Ametung menoleh


pada dua orang wanita yang duduk bersimpuh di pintu. Mereka mengangkat


sembah dan pergi, hilang di balik tabir berat potongan-potongan ranting bambu


petung.


Tunggul Ametung merabai lembaran kapas itu dan menatap pengantinnya. Dan


Dedes mengerti sepenuhnya: kapas itu akan menampung darah perawan yang


sebentar lagi harus ia teteskan. Gigilannya semakin menjadi-jadi. Besok sebelum


matahari terbit, kapas dengan bercak darah itu akan diambil dengan upacara oleh


Gede Mirah.


"Mengapa tak juga aku dengar suaramu, Permata?" ia letakkan tangan pada


pundak pengantinnya, dan ia rasai gigilan itu. "Mengapa tak juga kau lepas seluruh


pakaianmu? Bukankah kapas itu telah menunggu kesediaanmu?"


Dara itu tetap membisu.


"Apakah perlu kupanggilkan Gede Mirah untuk membantumu?" Dedes menjawab


dengan tangis.

__ADS_1


__ADS_2