
Ini terjadi pada tahun 1110 Saka. Ia tidak lain daripada Sri Kreta-jaya[Kretajaya - gajah yang jaya.
Kreta, gajah.] yang memerintah Kediri sekarang.
Di istana Amisani, si anak desa, tidak disukai oleh para putri istana. Orang pun
memasang racun untuk membunuhnya. Amisani akhirnya mati termakan racun itu
....
Dedes terbangun dari renungannya. Ia kini sedang mengulangi kisah hidup
Amisani. Ia mengerti di Tumapel tersedia banyak racun untuk melenyapkannya dari
muka bumi. Aku tidak harus mati karena racun, ia yakinkan dirinya sendiri, yang
lain bisa, Dedes tidak! Ia harus hidup. Ia masih akan bersimpuh pada kaki ayahnya
untuk memohon ampunnya karena tak mampu membela diri. Ia harus telan semua
upacara penghinaan kaum Wisynu atas dirinya. Ia angkat dagu, dan:
"Ayah, sekarang ini sahaya kalah menyerah. Dengarkan sumpah sahaya, sahaya
akan keluar sebagai pemenang pada akhir kelaknya."
Harum mangir pada kulitnya bersama harum dupa-setanggi memadati ruangan
besar Bilik Agung itu. Hatinya sendiri semakin sempit terhimpit. Dara yang terasuh
dengan cinta-kasih seorang bapa ini tak punya kekuatan untuk melawan. Ilmu dan
pengetahuan, yang dituangkan padanya oleh ayahnya, tidak berdaya menghadapi
Sang Akuwu.
"Akhir kelaknya sahaya yang menang, Ayah, Agunglah kau, puncak Triwangsa,
kaum brahmana. Agunglah Hyang Mahadewa Syiwa!"
Dan Tunggul Ametung hanya seorang jantan yang tahu memaksa, merusak,
memerintah, membinasakan, merampas. Bahkan membaca ia tak pernah, karena
__ADS_1
memang tidak bisa. Menulis apa lagi.
Dedes tak tahu harus berbuat apa. Melawan ia tak mampu-Lari ia pun tak mampu.
Meraung tidak mungkin.
Dua orang wanita itu tiba-tiba bersiap-siap, mengangkat sembah padanya dan
meninggalkan Bilik Agung.Tanpa mengangkat pandang tanpa berpaling ia
mengerti, Sang Akuwu telah meninggalkan pendopo dan memasuki ruang besar
ini.
Ia tetap berlutut menghadap ke peraduan. Ia dengar langkah kaki. Juga ia dengar
suara terompah: Yang Suci Belakangka.
Langkah-langkah itu semakin mendekat, menghampirinya, ia tahu detik-detik ini
adalah upacara menaiki peraduan pengantin.
Ia menggigil.
hati-hati melepas sutra terawang Mesir dari peniti dan tali, dan menyusupkan pada
tangannya. Menurut tata-tertib yang diketahuinya, dengan sutra itu ia harus
membasuh muka Tunggul Ametung, badan dan tangan sebagai awal upacara.
Tangan Akuwu itu menariknya, dengan lembut memaksanya berdiri dan
memimpinnya ke arah jambang air bunga. Tekanan paksa dari Belakangka
menyebabkan ia mencelupkan sutra itu ke dalam jambang dan mulai membasuh
muka bopeng bekas jerawat besar, kemudian dada dan dua belah tangannya yang
berbulu Sutra itu jatuh dari tangannya yang menggigil. Ia tetap menunduk di
bawah tembusan pandang Sang Akuwu.
Yang Suci mengambil sutra itu dan menggandengkan tangan Tunggul Ametung
__ADS_1
pada pengantinnya:
"Yang Mulia, bawalah perempuan ini naik ke peraduan. Para dewa membenarkan.
Pimpinlah dalam sanggama untuk mendapatkan karunianya, mendapatkan calon
pemangku Tumapel," ia bunyikan giring-giringnya, kemudian meninggalkan Bilik
Agung.
Berdua mereka berdiri di depan peraduan, mengawasi lembaran kapas yang
tergelar di atas tilam. Sinar empat damar di setiap pojok bilik itu menerangi seluruh
ruangan. Dan bayang-bayang hampir-hampir tiada.Tunggul Ametung menoleh
pada dua orang wanita yang duduk bersimpuh di pintu. Mereka mengangkat
sembah dan pergi, hilang di balik tabir berat potongan-potongan ranting bambu
petung.
Tunggul Ametung merabai lembaran kapas itu dan menatap pengantinnya. Dan
Dedes mengerti sepenuhnya: kapas itu akan menampung darah perawan yang
sebentar lagi harus ia teteskan. Gigilannya semakin menjadi-jadi. Besok sebelum
matahari terbit, kapas dengan bercak darah itu akan diambil dengan upacara oleh
Gede Mirah.
"Mengapa tak juga aku dengar suaramu, Permata?" ia letakkan tangan pada
pundak pengantinnya, dan ia rasai gigilan itu. "Mengapa tak juga kau lepas seluruh
pakaianmu? Bukankah kapas itu telah menunggu kesediaanmu?"
Dara itu tetap membisu.
"Apakah perlu kupanggilkan Gede Mirah untuk membantumu?" Dedes menjawab
dengan tangis.
__ADS_1