
"Kalian kaum brahmana lebih pongah dalam pikiran, tapi menunduk-nunduk
merangkak-rangkak di hadapanku. Itu tidak jujur, Dedes. Juga kau tidak jujur, kau
menantang-nantang di hadapanku begini, tapi kau sudah ada dalam tanganku, dan
kau tahu, kau tak dapat menolak Tunggul Ametung. Tidak dapat, demi
HyangWisynu!"
Ia lepaskan Dedes, dan seperti ditiupkan kekuatan pada dirinya ia lari.
"Akuwu Tumapel belum ijinkan kau pergi. Brenti!"
Dedes lari dan lari. Dan tak antara lama di hadapannya telah menghadang Tunggul
Ametung di atas kuda. Dan ia disambar dari atas. Ia meronta dan menggigit
lengannya, namun pegangan itu tak dapat lepas. Mengetahui Akuwu tak juga sakit
atau pun mengaduh, ia hendak tikam hatinya dengan kata-kata tajam, tapi semua
ajaran telah menjadi batu dalam ingatannya.
"Belum jera-jera kau menggigit, Dedes. Kau tahu sendiri, lengan yang seindah ini
takkan kulepaskan lagi."
"Lepas, demi Hyang Mahadewa, terkutuklah kau."
Tunggul Ametung tertawa:
"Mari naik, Permata. Dewa-dewamu tak berdaya menghadapi aku."
Dan Tunggul Ametung mengangkatnya dengan dua tangan. Ia meronta, kembali
mencakar-cakar, sekarang menyasar wajah sang Akuwu.
"Ayah!" pekik Dedes. Suara itu kemudian padam dalam ciuman Tunggul Ametung.
Ia pukuli wajah Akuwu. Dan lelaki itu tidak menjadi kesakitan karena pukulannya.
Bahkan tetap tersenyum, menarik tali kendali, dan kuda itu mulai berpacu cepat.
Pada waktu itu Dedes mengerti: ia kalah, semua usahanya sia-sia, ayahnya pun tak
berdaya, juga sekiranya ia melihat kejadian ini.
Duduk di atas kuda dalam pelukan di depan Tunggul Ametung ia dapat dengarkan
langkah kuda, dapat rasakan nafasnya yang keluar masuk dari perutnya. Ia tak
__ADS_1
berani menggigit tangan yang memeganginya, ia pun takut jatuh dari kuda yang
sedang mencongklang lari itu.Terdiam dalam ketidakdayaan akhirnya ia hanya bisa
menangis kelelahan.
"Dedes," bisik Tunggul Ametung, dan ia rasai kumisnya menyentuh pipinya,
"teruskan cakaran dan gigitanmu. Tidak mau? Baik, teruskan umpatanmu
terhadapku pada suatu kali kau akan tahu semua itu akan jadi tak ternilai indahnya
dalam kenangan setiap kali kau mengingatnya kembali, dan kau akan bertambah
berbahagia. Hyang Wisynu telah tentukan aku jadi suamimu. Nasib tidak bisa kau
elakkan. Aku pun lakukan ini bukan atas kehendak sendiri hanya karena
petunjuknya juga."
Kekacauan hati membikin Dedes jadi sesak, dan ia sadari dirinya mulai memasuki
kepingsanan. Pengelihatannya telah berayun-ayun, dan gemuruh hati dan derap
kuda mulai samar. Waktu ia sadar lagi, yang terdengar mula-mula adalah bunyi
telapak kuda itu juga. Tak ada sesuatu yang dapat dilihatnya, gelap-gelita. Waktu
sesuatu yang teraba. Dan waktu tangannya jatuh, ia rasai kehalusan sesuatu.
Jarinya mulai merabai kehalusan itu bulu, bulu kuda! Ia sadar masih berada di atas
punggung kuda.
Hari itu memang gelap pekat. Kuda itu tidak lagi lari. Ia angkat tangannya lagi, dan
dirasainya sebuah tangan, yang bukan tangannya sendiri. Dan tangan itu
merangkul pinggangnya.
"Kau sudah bangun, Permata?" ia dengar suara, tepat pada kuping kanannya. Suara
lelaki, bukan suara Mpu Parwa.
Ia meronta, tapi pelukan itu semakin ketat sampai-sampai ia merasa tersekat.
Ia mengingat dan berpikir, berpikir dan mengingat, dan tahulah ia, seseorang telah
menculiknya dari Panawijil.
Waktu bulan tua itu mulai muncul, kuda itu mulai lari lagi, langkahnya menderap
__ADS_1
berirama. Hutan di kiri kanan jalan ber-larian menghilang seperti malu menjadi
saksi.
Dan teringadah ia pada Akuwu Tumapel di belakangnya.
"Berani kau bawa aku tanpa ijin ayahku?"
"Tak tepat kau di desa."
"Kutukan semoga jatuh ke atas kepalamu."
"Tidakkah kau akan menyesal, Dedes? mengutuki seorang yang akan jadi ayah dari
anak-anakmu?"
"Anak-anakku tidak berayahkan kau!" dan Dedes kembali menjadi kacau. Ia tahu
anak bukan urusan manusia, tapi urusan para dewa.
"Takkan lama lagi, dan kau akan tahu, akulah bakal ayah dari anak-anakmu.
Tumapel menunggu seorang Paramesywari dan seorang anak calon penguasa
penggantiku. Hyang Wisynu menunjuk kau sebagai ibu yang terpilih itu."
Juga sekali ini Dedes tak mampu menandingi Tunggul Ametung dengan Hyang
Wisynunya.
"Kau akan menyesal menguruki calon suami, yang akan membawa kau ke
singgasana. Jangan remehkan satria. Tanpa satria brahmana tak bisa berbuat
sesuatu. Tanpa brahmana satria bisa bikin segala-galanya. Dunia menghormati
satria, raja-raja, juga akuwu. Setidak-tidaknya hari ini telah kudapatkan anak
perawan brahmani, seorang brahmani yang masyhur akan kesuciannya, untuk jadi
permata bagi hidupku dan bagi Tumapel."
Dedes pingsan lagi karena kekacauannya. Waktu ia sadar lagi dirasainya tubuhnya
telah tertutup dengan kain. Angin malam itu tak lagi menggigit kulit dan
membekukan darahnya. Barangkali Tunggul Ametung telah menyelimutinya
dengan destar atau kain penutup celana. Ia merasa dihinakan dan tetap tak dapat
berbuat sesuatu.
__ADS_1
Ditutupnya matanya, kini memohon perlidungan dari Hyang Dewi Laksmi.