Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 27


__ADS_3

"Kalian kaum brahmana lebih pongah dalam pikiran, tapi menunduk-nunduk


merangkak-rangkak di hadapanku. Itu tidak jujur, Dedes. Juga kau tidak jujur, kau


menantang-nantang di hadapanku begini, tapi kau sudah ada dalam tanganku, dan


kau tahu, kau tak dapat menolak Tunggul Ametung. Tidak dapat, demi


HyangWisynu!"


Ia lepaskan Dedes, dan seperti ditiupkan kekuatan pada dirinya ia lari.


"Akuwu Tumapel belum ijinkan kau pergi. Brenti!"


Dedes lari dan lari. Dan tak antara lama di hadapannya telah menghadang Tunggul


Ametung di atas kuda. Dan ia disambar dari atas. Ia meronta dan menggigit


lengannya, namun pegangan itu tak dapat lepas. Mengetahui Akuwu tak juga sakit


atau pun mengaduh, ia hendak tikam hatinya dengan kata-kata tajam, tapi semua


ajaran telah menjadi batu dalam ingatannya.


"Belum jera-jera kau menggigit, Dedes. Kau tahu sendiri, lengan yang seindah ini


takkan kulepaskan lagi."


"Lepas, demi Hyang Mahadewa, terkutuklah kau."


Tunggul Ametung tertawa:


"Mari naik, Permata. Dewa-dewamu tak berdaya menghadapi aku."


Dan Tunggul Ametung mengangkatnya dengan dua tangan. Ia meronta, kembali


mencakar-cakar, sekarang menyasar wajah sang Akuwu.


"Ayah!" pekik Dedes. Suara itu kemudian padam dalam ciuman Tunggul Ametung.


Ia pukuli wajah Akuwu. Dan lelaki itu tidak menjadi kesakitan karena pukulannya.


Bahkan tetap tersenyum, menarik tali kendali, dan kuda itu mulai berpacu cepat.


Pada waktu itu Dedes mengerti: ia kalah, semua usahanya sia-sia, ayahnya pun tak


berdaya, juga sekiranya ia melihat kejadian ini.


Duduk di atas kuda dalam pelukan di depan Tunggul Ametung ia dapat dengarkan


langkah kuda, dapat rasakan nafasnya yang keluar masuk dari perutnya. Ia tak

__ADS_1


berani menggigit tangan yang memeganginya, ia pun takut jatuh dari kuda yang


sedang mencongklang lari itu.Terdiam dalam ketidakdayaan akhirnya ia hanya bisa


menangis kelelahan.


"Dedes," bisik Tunggul Ametung, dan ia rasai kumisnya menyentuh pipinya,


"teruskan cakaran dan gigitanmu. Tidak mau? Baik, teruskan umpatanmu


terhadapku pada suatu kali kau akan tahu semua itu akan jadi tak ternilai indahnya


dalam kenangan setiap kali kau mengingatnya kembali, dan kau akan bertambah


berbahagia. Hyang Wisynu telah tentukan aku jadi suamimu. Nasib tidak bisa kau


elakkan. Aku pun lakukan ini bukan atas kehendak sendiri hanya karena


petunjuknya juga."


Kekacauan hati membikin Dedes jadi sesak, dan ia sadari dirinya mulai memasuki


kepingsanan. Pengelihatannya telah berayun-ayun, dan gemuruh hati dan derap


kuda mulai samar. Waktu ia sadar lagi, yang terdengar mula-mula adalah bunyi


telapak kuda itu juga. Tak ada sesuatu yang dapat dilihatnya, gelap-gelita. Waktu


sesuatu yang teraba. Dan waktu tangannya jatuh, ia rasai kehalusan sesuatu.


Jarinya mulai merabai kehalusan itu bulu, bulu kuda! Ia sadar masih berada di atas


punggung kuda.


Hari itu memang gelap pekat. Kuda itu tidak lagi lari. Ia angkat tangannya lagi, dan


dirasainya sebuah tangan, yang bukan tangannya sendiri. Dan tangan itu


merangkul pinggangnya.


"Kau sudah bangun, Permata?" ia dengar suara, tepat pada kuping kanannya. Suara


lelaki, bukan suara Mpu Parwa.


Ia meronta, tapi pelukan itu semakin ketat sampai-sampai ia merasa tersekat.


Ia mengingat dan berpikir, berpikir dan mengingat, dan tahulah ia, seseorang telah


menculiknya dari Panawijil.


Waktu bulan tua itu mulai muncul, kuda itu mulai lari lagi, langkahnya menderap

__ADS_1


berirama. Hutan di kiri kanan jalan ber-larian menghilang seperti malu menjadi


saksi.


Dan teringadah ia pada Akuwu Tumapel di belakangnya.


"Berani kau bawa aku tanpa ijin ayahku?"


"Tak tepat kau di desa."


"Kutukan semoga jatuh ke atas kepalamu."


"Tidakkah kau akan menyesal, Dedes? mengutuki seorang yang akan jadi ayah dari


anak-anakmu?"


"Anak-anakku tidak berayahkan kau!" dan Dedes kembali menjadi kacau. Ia tahu


anak bukan urusan manusia, tapi urusan para dewa.


"Takkan lama lagi, dan kau akan tahu, akulah bakal ayah dari anak-anakmu.


Tumapel menunggu seorang Paramesywari dan seorang anak calon penguasa


penggantiku. Hyang Wisynu menunjuk kau sebagai ibu yang terpilih itu."


Juga sekali ini Dedes tak mampu menandingi Tunggul Ametung dengan Hyang


Wisynunya.


"Kau akan menyesal menguruki calon suami, yang akan membawa kau ke


singgasana. Jangan remehkan satria. Tanpa satria brahmana tak bisa berbuat


sesuatu. Tanpa brahmana satria bisa bikin segala-galanya. Dunia menghormati


satria, raja-raja, juga akuwu. Setidak-tidaknya hari ini telah kudapatkan anak


perawan brahmani, seorang brahmani yang masyhur akan kesuciannya, untuk jadi


permata bagi hidupku dan bagi Tumapel."


Dedes pingsan lagi karena kekacauannya. Waktu ia sadar lagi dirasainya tubuhnya


telah tertutup dengan kain. Angin malam itu tak lagi menggigit kulit dan


membekukan darahnya. Barangkali Tunggul Ametung telah menyelimutinya


dengan destar atau kain penutup celana. Ia merasa dihinakan dan tetap tak dapat


berbuat sesuatu.

__ADS_1


Ditutupnya matanya, kini memohon perlidungan dari Hyang Dewi Laksmi.


__ADS_2