Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 7


__ADS_3

"Ayoh, siapa harus menjawab aku? Mengapa kau diam saja?" kata Borang


ditujukan pada si tinggi-besar. "Hanya badanmu saja yang tinggi-besar? Kalau kau


harus menjawabkan untuk seluruh Bantar, jawablah."


Orang itu tidak menjawab. Seorang kakek maju padanya. Dalam cahaya rembang


itu nampak ia telah bongkok dan bertongkat:


"Tentara Tumapel akan antarkan anak-anak yang memikul." "Kalian penyembah


Hyang Wisynu yang kurang baik. Kesetiaan telah kalian persembahkan pada


Tunggul Ametung, bukan pada Hyang Wisynu. Yang kalian sembah bukan dewa


cinta-ka-sih, bukan Sri Dewi, bukan Hyang Wisynu, tapi gandarwa ketakutan.


Dengarkan, kalian, bila seorang brahmana bicara: tentara Tumapel akan tumpas di


Sanggarana. Juga setiap orang di antara kalian yang tidak setia pada perintah ini.


Juga setiap orang di antara kalian yang lebih takut pada Akuwu Tumapel dan


tentaranya Dan kalian takkan dapatkan sesuatu jawaban. Karena apa yang aku


katakan ini adalah juga dari para dewa."


Angin meniup keras. Borang memperketat selimut tubuhnya. Ia angkat tangan dan


mengucap:


"Dirgahayu! Pulanglah kalian," ia berjalan meninggalkan kepungan, dan orangorang meminggir memberi jalan.


"Borang!" orang tua bongkok itu menahan dengan pang-gilannya "Pemikul-pemikul


ke Kediri tidak hanya dari Bantar, juga dari dukuh lain dari desa-desa lain."


"Semua harus berlaku seperti orang-orang Bantar." "Jangan pergi dulu. brahmana


muda. Perlihatkanlah mukamu biar kami mengenal kau. Biar penduduk Bantar


menyalakan api unggun."


Borang berjalan menghampiri si tua bongkok:


"Nyalakan api, kenalilah wajah Borang."


Ranting kekayuan di sekeliling lapangan Bantar dikumpulkan cepat beramai-ramai.


Api unggun menyala setelah kawul itu menyambar api dari gesekan kayu sadang.

__ADS_1


Borang berdiri menatap api, mengangkat tangan:


"Inilah Borang. Dia tidak lari karena sinar api atau pun matahari."


Orang melihat seorang pemuda berumur mendekati dua puluh, berpakaian rapi


berwarna coklat tanah: destar, selimut badan, kain bawah. Matanya menyala


seperti menyemburkan api menandingi unggun.


"Telah kalian kenal wajah Borang. Perhatikan," ia buka selimut badannya dan


muncul kalung perak dari lempengan yang ber-taut-tautan dengan gambar dudul


hamsa[hamsa, angsa.], garuda dan nandi. Pada tangannya ia membawa trisula


pendek dari perunggu.


Melihat lambang-lambang para dewa dipersatukan di kalung dan pada tangan,


berkilat-kilat memantulkan sinar api unggun, orang pun menjatuhkan diri


bersimpuh di tanah dengan puncak hidung menyentuh bumi. Lama, menunggu


perkenan untuk mengangkat kembali kepala. Dan perkenan itu tiada juga datang.


Waktu mereka memaksa diri mengangkatnya, Borang telah tiada, juga anak


buahnya .....


tumpasnya tentara pengawal Tumapel.


Darah perawan itu telah menetes pada lembaran kapas.


Waktu Gede Mirah memasuki Bilik Agung, Akuwu dan Ken Dedes sudah tiada.


Kapas itu digulungnya setelah ditaburinya dengan daun bunga, diletakkan di atas


talam, dan dengan iringan Rimang dibawa pergi ke Bilik Larangan untuk disimpan.


Waktu Hyang Surya terbit,Yang Suci Belakangka di pendopo mengumumkan pada


sekalian pembesar pekuwuan, bahwa Ken Dedes adalah seorang perawan suci


yang mematuhi ajaran nenek moyang, para dewa dan para guru. Pengumuman itu


sebentar kemudian merembesi seluruh pekuwuan dan ibukota Tumapel. Berita


dikirimkan juga ke desa-desa dan ke biara-biara di gunung-gunung, sebagai


perintah isyarat dari Yang Suci Belakangka kepada para biarawan dan pandita, agar

__ADS_1


bersama memanjatkan terimakasih dan puja sekaligus agar pengantin yang baru


meninggalkan keremajaannya, memasuki kedewasaan penuh itu, dilimpahi karunia


lebih banyak, dan semoga seorang calon pemangku Tumapel mulai dikandung


dalam rahimnya.


Di dapur pekuwuan, seorang penanak nasi berbisik pada temannya:


"Tak mungkinkah darah itu berasal dari seratus nyamuk kenyang, misalnya, atau


Yang Mulia Paramesywari menggigit jarinya sendiri dan meneteskannya pada kapas


itu?"


"Stt. Kepalamu bisa hilang dengan darah nyamukmu," temannya memperingatkan.


"Kepercayaanku sudah hilang pada kesucian," Oti berbisik lagi.


"Tentu, karena kau sendiri tak pernah suci sejak bayi."


"Banyak benar orang merasa puas dengan kesuciannya, hanya karena tak ada yang


mengganggunya, seperti Yang Mulia Paramesywari Ken Dedes. Berapakah banyak


jumlah dan kau tak bakal tahu orang yang justru tak boleh punya kesucian?"


"Hyang Wisynu memuliakan kesucian.Tak perlu kau ikut-ikut dengan orang Syiwa


gila itu."


"Dan siapa bakal mengganti kesucian yang hilang tanpa mau sendiri? Hyang


Wisynu?" Oti membantah.


Gadis berumur dua puluh itu datang dari sebuah pulau jauh yang ia tak pernah


mau menyebut namanya. Perompak telah menyerang kampungnya waktu ia


sedang berdayung seorang diri di muara sungai untuk mengumpulkan telor penyu.


Umur be rapa ia waktu itu? Ia tak tahu. Yang teringat olehnya ia dapat


menghitungnya dengan dua kali banjir besar di kampungnya. Yang terakhir banjir


itu begitu derasnya. Rumah-rumah panggung ditumbangkan. Orang dibantingkan


oleh arus pada batang-batang kayu hutan. Dengan surutnya banjir hujan tak turun


lagi sampai seratus hari. Kali pada kering hutan di pegunungan mulai menyala

__ADS_1


terbakar, dan pagi itu ia disergap di atas biduknya oleh serombongan perahu yang


merompak kampungnya.


__ADS_2