
"Ayoh, siapa harus menjawab aku? Mengapa kau diam saja?" kata Borang
ditujukan pada si tinggi-besar. "Hanya badanmu saja yang tinggi-besar? Kalau kau
harus menjawabkan untuk seluruh Bantar, jawablah."
Orang itu tidak menjawab. Seorang kakek maju padanya. Dalam cahaya rembang
itu nampak ia telah bongkok dan bertongkat:
"Tentara Tumapel akan antarkan anak-anak yang memikul." "Kalian penyembah
Hyang Wisynu yang kurang baik. Kesetiaan telah kalian persembahkan pada
Tunggul Ametung, bukan pada Hyang Wisynu. Yang kalian sembah bukan dewa
cinta-ka-sih, bukan Sri Dewi, bukan Hyang Wisynu, tapi gandarwa ketakutan.
Dengarkan, kalian, bila seorang brahmana bicara: tentara Tumapel akan tumpas di
Sanggarana. Juga setiap orang di antara kalian yang tidak setia pada perintah ini.
Juga setiap orang di antara kalian yang lebih takut pada Akuwu Tumapel dan
tentaranya Dan kalian takkan dapatkan sesuatu jawaban. Karena apa yang aku
katakan ini adalah juga dari para dewa."
Angin meniup keras. Borang memperketat selimut tubuhnya. Ia angkat tangan dan
mengucap:
"Dirgahayu! Pulanglah kalian," ia berjalan meninggalkan kepungan, dan orangorang meminggir memberi jalan.
"Borang!" orang tua bongkok itu menahan dengan pang-gilannya "Pemikul-pemikul
ke Kediri tidak hanya dari Bantar, juga dari dukuh lain dari desa-desa lain."
"Semua harus berlaku seperti orang-orang Bantar." "Jangan pergi dulu. brahmana
muda. Perlihatkanlah mukamu biar kami mengenal kau. Biar penduduk Bantar
menyalakan api unggun."
Borang berjalan menghampiri si tua bongkok:
"Nyalakan api, kenalilah wajah Borang."
Ranting kekayuan di sekeliling lapangan Bantar dikumpulkan cepat beramai-ramai.
Api unggun menyala setelah kawul itu menyambar api dari gesekan kayu sadang.
__ADS_1
Borang berdiri menatap api, mengangkat tangan:
"Inilah Borang. Dia tidak lari karena sinar api atau pun matahari."
Orang melihat seorang pemuda berumur mendekati dua puluh, berpakaian rapi
berwarna coklat tanah: destar, selimut badan, kain bawah. Matanya menyala
seperti menyemburkan api menandingi unggun.
"Telah kalian kenal wajah Borang. Perhatikan," ia buka selimut badannya dan
muncul kalung perak dari lempengan yang ber-taut-tautan dengan gambar dudul
hamsa[hamsa, angsa.], garuda dan nandi. Pada tangannya ia membawa trisula
pendek dari perunggu.
Melihat lambang-lambang para dewa dipersatukan di kalung dan pada tangan,
berkilat-kilat memantulkan sinar api unggun, orang pun menjatuhkan diri
bersimpuh di tanah dengan puncak hidung menyentuh bumi. Lama, menunggu
perkenan untuk mengangkat kembali kepala. Dan perkenan itu tiada juga datang.
Waktu mereka memaksa diri mengangkatnya, Borang telah tiada, juga anak
buahnya .....
tumpasnya tentara pengawal Tumapel.
Darah perawan itu telah menetes pada lembaran kapas.
Waktu Gede Mirah memasuki Bilik Agung, Akuwu dan Ken Dedes sudah tiada.
Kapas itu digulungnya setelah ditaburinya dengan daun bunga, diletakkan di atas
talam, dan dengan iringan Rimang dibawa pergi ke Bilik Larangan untuk disimpan.
Waktu Hyang Surya terbit,Yang Suci Belakangka di pendopo mengumumkan pada
sekalian pembesar pekuwuan, bahwa Ken Dedes adalah seorang perawan suci
yang mematuhi ajaran nenek moyang, para dewa dan para guru. Pengumuman itu
sebentar kemudian merembesi seluruh pekuwuan dan ibukota Tumapel. Berita
dikirimkan juga ke desa-desa dan ke biara-biara di gunung-gunung, sebagai
perintah isyarat dari Yang Suci Belakangka kepada para biarawan dan pandita, agar
__ADS_1
bersama memanjatkan terimakasih dan puja sekaligus agar pengantin yang baru
meninggalkan keremajaannya, memasuki kedewasaan penuh itu, dilimpahi karunia
lebih banyak, dan semoga seorang calon pemangku Tumapel mulai dikandung
dalam rahimnya.
Di dapur pekuwuan, seorang penanak nasi berbisik pada temannya:
"Tak mungkinkah darah itu berasal dari seratus nyamuk kenyang, misalnya, atau
Yang Mulia Paramesywari menggigit jarinya sendiri dan meneteskannya pada kapas
itu?"
"Stt. Kepalamu bisa hilang dengan darah nyamukmu," temannya memperingatkan.
"Kepercayaanku sudah hilang pada kesucian," Oti berbisik lagi.
"Tentu, karena kau sendiri tak pernah suci sejak bayi."
"Banyak benar orang merasa puas dengan kesuciannya, hanya karena tak ada yang
mengganggunya, seperti Yang Mulia Paramesywari Ken Dedes. Berapakah banyak
jumlah dan kau tak bakal tahu orang yang justru tak boleh punya kesucian?"
"Hyang Wisynu memuliakan kesucian.Tak perlu kau ikut-ikut dengan orang Syiwa
gila itu."
"Dan siapa bakal mengganti kesucian yang hilang tanpa mau sendiri? Hyang
Wisynu?" Oti membantah.
Gadis berumur dua puluh itu datang dari sebuah pulau jauh yang ia tak pernah
mau menyebut namanya. Perompak telah menyerang kampungnya waktu ia
sedang berdayung seorang diri di muara sungai untuk mengumpulkan telor penyu.
Umur be rapa ia waktu itu? Ia tak tahu. Yang teringat olehnya ia dapat
menghitungnya dengan dua kali banjir besar di kampungnya. Yang terakhir banjir
itu begitu derasnya. Rumah-rumah panggung ditumbangkan. Orang dibantingkan
oleh arus pada batang-batang kayu hutan. Dengan surutnya banjir hujan tak turun
lagi sampai seratus hari. Kali pada kering hutan di pegunungan mulai menyala
__ADS_1
terbakar, dan pagi itu ia disergap di atas biduknya oleh serombongan perahu yang
merompak kampungnya.