Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 8


__ADS_3

Setelah itu ia dijual sebagai budak, dari pulau satu ke yang lain. Dari sebanyak itu


lelaki yang menggunakan dirinya ia tak mendapatkan seorang bayi pun. Para dewa


tak membenarkan lahirnya bocah dengan terlalu banyak bapak, pernah seorang


wanita senasib sependeritaan mengatakan padanya, juga para leluhur tidak; kalau


tidak, anak dengan terlalu banyak bapak akan lahir seperti lipan, dengan kaki


seratus.


Terakhir kali dijual ialah sewaktu kapal besar itu membawanya ke pelabuhan


Gresik. Ia dibeli oleh seorang pedagang ikan kering. Pekerjaannya mempesiangi


ikan dan menjemurnya, sampai pada suatu kali ia terbujuk oleh seorang


pengangkut garam ke pedalaman. Orang itu setiap bulan dua kali dengan


perahunya hilir dan mudik di kali Brantas. Seorang narapraja telah merampasnya


dari tangan lelaki itu, karena perahu garam dan ikan asin itu tenggelam, dan orang


itu tak mampu mengganti harganya. Dan istana Kediri ia dihadiahkan pada Tunggul


Ametung karena mempunyai keahlian istimewa: membuat sambel jeruk yang


menimbulkan gairah makan.


"Kau perlu pengampunan, Oti, demi Hyang Wisynu," bisik temannya.


Dengan Jawa yang kaku dan selalu salah tekanan ia membantah, juga dalam


bisikan:


"Justru mereka yang memperlakukan aku sekehendak hatinya yang memerlukan


pengampunan."

__ADS_1


"Boleh jadi dahulu kau orang Buddha atau Syiwa."


"Semua yang tak kau sukai kau anggap orang Buddha atau Syiwa."


"Semua yang jahat berasal dari orang-orang Syiwa yang memuliakan kama[Kama,


nafsu.] tanpa batas itu" "Stt. Lurah dapur datang."


"Nyi Lurah, berilah ijin pada kami untuk sekali ini bisa ikut mengagumi Yang Mulia


Paramesywari."


Wanita tua itu tersenyum senang, dan:


"Tak ada yang lebih ayu daripada Ken Dedes. Kalian perlu lihat. Sebentar lagi Yang


Mulia Akuwu dan Paramesywari akan keluar dari pura. Semua rakyat pekuwuan


akan mengelu-elukan sepanjang jalan. Mengapa tidak?"


Oti membuang muka. Ia hanya seorang budak, tak mungkin bisa bercampur


Lambat-lambat ia melangkah keluar dari dapur.


"Oti!" lurah dapur, Sina, memanggilnya. Dan waktu budak itu berdiri di


hadapannya, dengan kepala menunduk, ia meneruskan, "lepas tapasmu, sekali ini


mari ikut."


"Tanpa tapas penutup kepala, mereka akan tangkap dan aniaya sahaya ini."


Lurah Sina memberinya kain penutup kepala:


"Berjalan kalian berdua di belakangku. Semua ingin melihat Yang Mulia Paramesywari." Juga budak yang lain itu, Unggok, melepas tapas


penutup kepala sebagai tanda budak, dan menggantinya dengan selendang.


Semua pekerja dapur keluar, bermandi sinar matan pagi yang sedang mengusir

__ADS_1


kabut. Puncak pegunungan di kejauhan pun mulai berjengukan berebut dulu untuk


melihat pengantin yang baru keluar dari pura. Dingin pagi telah berkurang. Dan


jalan pendek dari batu, penghubung antara pura pekuwuan dengan gerbang


belakang gedung itu, telah tertutup oleh penghuni pekuwuan, terjaga oleh


pasukan pengawal.


Akuwu yang mendekati lima puluh itu berjalan seiring dengan pengantinnya yang


berumur enam belas. Mereka berjalan lambat seakan takut membangunkan


cengkerik tidur. Di belakangnya mengiringkan beberapa orang abdidalam


membawa jam-bang-jambang kuningan berisikan air bunga.


Para penonton bersimpuh dan mengangkat sembah.


Dari bawah keningnya Oti dapat melihat kesuraman yang meliputi wajah Ken


Dedes dan kebahagiaan yang terpancar pada mata Sang Akuwu. Dedes berwajah


bulat, berhidung bangir-tipis, pertanda berdarah Hindu mengalir dalam tubuhnya.


Tunggul Ametung berwajah bulat, berhidung pesek, berpipi tebal, tak ubahnya


dengan petani Tumapel lainnya. Mata mereka sama besar dan bulat. Dedes


menunduk sedang Tunggul Ametung mengangkat dagu seperti sedang memimpin


perang.


Begitu muda dan suci Oti menjatuhkan pandang pada tanah di antara dua kaki


Lurah Sina. Barangkali lima atau enam musim lebih muda daripadaku, cantik gilanggemilang, semua bakal berada di bawah perintahnya semua, pria dan wanita.


Sungguh seorang dewi di atas bumi.

__ADS_1


__ADS_2