
Setelah itu ia dijual sebagai budak, dari pulau satu ke yang lain. Dari sebanyak itu
lelaki yang menggunakan dirinya ia tak mendapatkan seorang bayi pun. Para dewa
tak membenarkan lahirnya bocah dengan terlalu banyak bapak, pernah seorang
wanita senasib sependeritaan mengatakan padanya, juga para leluhur tidak; kalau
tidak, anak dengan terlalu banyak bapak akan lahir seperti lipan, dengan kaki
seratus.
Terakhir kali dijual ialah sewaktu kapal besar itu membawanya ke pelabuhan
Gresik. Ia dibeli oleh seorang pedagang ikan kering. Pekerjaannya mempesiangi
ikan dan menjemurnya, sampai pada suatu kali ia terbujuk oleh seorang
pengangkut garam ke pedalaman. Orang itu setiap bulan dua kali dengan
perahunya hilir dan mudik di kali Brantas. Seorang narapraja telah merampasnya
dari tangan lelaki itu, karena perahu garam dan ikan asin itu tenggelam, dan orang
itu tak mampu mengganti harganya. Dan istana Kediri ia dihadiahkan pada Tunggul
Ametung karena mempunyai keahlian istimewa: membuat sambel jeruk yang
menimbulkan gairah makan.
"Kau perlu pengampunan, Oti, demi Hyang Wisynu," bisik temannya.
Dengan Jawa yang kaku dan selalu salah tekanan ia membantah, juga dalam
bisikan:
"Justru mereka yang memperlakukan aku sekehendak hatinya yang memerlukan
pengampunan."
__ADS_1
"Boleh jadi dahulu kau orang Buddha atau Syiwa."
"Semua yang tak kau sukai kau anggap orang Buddha atau Syiwa."
"Semua yang jahat berasal dari orang-orang Syiwa yang memuliakan kama[Kama,
nafsu.] tanpa batas itu" "Stt. Lurah dapur datang."
"Nyi Lurah, berilah ijin pada kami untuk sekali ini bisa ikut mengagumi Yang Mulia
Paramesywari."
Wanita tua itu tersenyum senang, dan:
"Tak ada yang lebih ayu daripada Ken Dedes. Kalian perlu lihat. Sebentar lagi Yang
Mulia Akuwu dan Paramesywari akan keluar dari pura. Semua rakyat pekuwuan
akan mengelu-elukan sepanjang jalan. Mengapa tidak?"
Oti membuang muka. Ia hanya seorang budak, tak mungkin bisa bercampur
Lambat-lambat ia melangkah keluar dari dapur.
"Oti!" lurah dapur, Sina, memanggilnya. Dan waktu budak itu berdiri di
hadapannya, dengan kepala menunduk, ia meneruskan, "lepas tapasmu, sekali ini
mari ikut."
"Tanpa tapas penutup kepala, mereka akan tangkap dan aniaya sahaya ini."
Lurah Sina memberinya kain penutup kepala:
"Berjalan kalian berdua di belakangku. Semua ingin melihat Yang Mulia Paramesywari." Juga budak yang lain itu, Unggok, melepas tapas
penutup kepala sebagai tanda budak, dan menggantinya dengan selendang.
Semua pekerja dapur keluar, bermandi sinar matan pagi yang sedang mengusir
__ADS_1
kabut. Puncak pegunungan di kejauhan pun mulai berjengukan berebut dulu untuk
melihat pengantin yang baru keluar dari pura. Dingin pagi telah berkurang. Dan
jalan pendek dari batu, penghubung antara pura pekuwuan dengan gerbang
belakang gedung itu, telah tertutup oleh penghuni pekuwuan, terjaga oleh
pasukan pengawal.
Akuwu yang mendekati lima puluh itu berjalan seiring dengan pengantinnya yang
berumur enam belas. Mereka berjalan lambat seakan takut membangunkan
cengkerik tidur. Di belakangnya mengiringkan beberapa orang abdidalam
membawa jam-bang-jambang kuningan berisikan air bunga.
Para penonton bersimpuh dan mengangkat sembah.
Dari bawah keningnya Oti dapat melihat kesuraman yang meliputi wajah Ken
Dedes dan kebahagiaan yang terpancar pada mata Sang Akuwu. Dedes berwajah
bulat, berhidung bangir-tipis, pertanda berdarah Hindu mengalir dalam tubuhnya.
Tunggul Ametung berwajah bulat, berhidung pesek, berpipi tebal, tak ubahnya
dengan petani Tumapel lainnya. Mata mereka sama besar dan bulat. Dedes
menunduk sedang Tunggul Ametung mengangkat dagu seperti sedang memimpin
perang.
Begitu muda dan suci Oti menjatuhkan pandang pada tanah di antara dua kaki
Lurah Sina. Barangkali lima atau enam musim lebih muda daripadaku, cantik gilanggemilang, semua bakal berada di bawah perintahnya semua, pria dan wanita.
Sungguh seorang dewi di atas bumi.
__ADS_1