
"Pada dadanya terpasang lembaran perak panjang, selebar satu setengah jengkal,
dengan gambar Hyang Durga Mahisasuramar-dini,"Tunggul Ametung mengadu.
"Patut disobek-sobek kulitnya diumpankan pada anjing hutan, penipu itu," Arya
Artya membenarkan. "Tiadakah Yang Mulia salah lihat?" Belakangka menguji.
"Jagad Pramudita! Apakah aku sudah dianggap rabun?" "Di manakah Yang Mulia
pernah lihat Hyang Durga seperti itu?" Belakangka mendesak menyisihkan Arya
Artya.
Tunggul Ametung menyedari, Belakangka sedang menyelidiki kepercayaannya. Dia
bisa mengadu pada Yang Tersuci di Kediri, dan nasibnya akan terjerembab. Ia
perintahkan dua orang itu pergi.
Sebelum meninggalkan jenjang Yang Suci Belakangka berbisik padanya:
"Hanya Lohgawe yang harus dituntut tanggungjawabnya. Yang Mulia, biar
Belakangka ini mengurusnya."
Ken Dedes dari dinding Bilik Agung mendengar semua pembicaraan itu. Untuk
pertama kali ia tersenyum, membayangkan brahmana muda dengan Sang Hyang
Durga Mahisasuramardini pada dadanya. Cepat-cepat ia tinggalkan Bilik Agung dan
turun di Taman Larangan di sebelahnya.
Begitu meninggalkan pendopo Yang Suci Belakangka mengirimkan utusan kilat
berkuda untuk melaporkan peristiwa genting itu pada Yang Tersuci Tanakung di
Kediri.
Sementara itu jatuhnya tapas penutup kepala menyebabkan Oti digiring
meninggalkan dapur pekuwuan, meninggalkan Kutaraja, ibukota Tumapel. Ia
__ADS_1
berjalan dan berjalan memunggungi Gunung Arjuna. Welirang dan Hanung.
Menengok ke kiri pandangnya tertatap pada puncak Gunung Semeru. Menengok
ke kanan pada puncak Gunung Kawi dan puncak Gunung Ke-lud di belakangnya
lagi.
Ke mana pun mata memandang - memandang dengan mencuri, karena budak
harus selalu menundukkan kepala - hutan, rimba belantara yang memagari. Pada
apa pun pendengaran dipusatkan, yang terdengar hanya desing margasatwa, dan
dengung bersahut-sahutan mengagungkan kebesaran hidup. Bahkan langkah
kakinya sendiri di atas jalanan baru itu tiada didengarnya. Langkah pengawalnya
pun tidak.
Jalan negeri telah ditinggalkan, membelok ke kanan, memasuki jalanan hutan lebar
sedepa hampir seluruhnya telah tertutup oleh rumput aneka jenis, berebut hijau.
Hanya bagian yang sering terinjak kaki nampak merana.
jembatan kecil, dua titian. Jalanan itu kemudian terputus oleh kali Kanta. Di tepian
sungai, di antara batu-batu gunung, hitam kelabu dalam segala bentuk dan besar,
seperti cendawan, tersebar gubuk-gubuk dedaunan. Dari cerita yang pernah
didengarnya, itulah perkampungan budak. Dari kejauhan telah terdengar bunyi
orang membelah dan memahat batu. Hanya bunyi saja. Belum lagi ia melihat
orangnya.
Pengawalnya menyuruh ia makan. Dari gendongannya ia keluarkan ketupat dan
kalabasa labu kerdil tempat air minum - air gula merah; tulang punggung babi yang
berdaging dan seikat kacang panjang mentah. Juga pengawalnya mengambil
__ADS_1
perbekalan dan mulai makan di tempat yang agak jauh.
Gercik dan desir air yang menerjangi batu terdengar menyanyi memanggilmanggil.
Oti ternyata tidak ngeri, juga tidak takut, pada hukuman ini. Ia sebaliknya merasa
senang dapat meninggalkan dapur pekuwuan, memasuki alam bebas seperti dulu
di kampungnya sendiri dan gercik air itu terdengar Jebih indah daripada deburan
laut, daripada suara gamelan. Dan betapa pepohonan raksasa di sekitar itu
memberinya kesejukan!
Sehabis makan ia digiring menuruni tepian. Ribuan wanita sedang melimbang emas
dari pasir kali sumber upeti sebanyak sepuluh ribu saga setiap tahun ke Kediri. Ia
tahu pekerjaannya kini adalah mendulang emas. Matanya tidak melihat pada emas
itu, tapi pada gemerlap air yang bermain-main dengan matahari.
Pengawal itu menyerahkannya pada lurah pendulangan, seorang perempuan tua
yang telah kisut, dengan buahdada seperti kantong kempes tergeong-geong
hampir sampai pada pusat. Dan hampir seluruh pendulang itu berhenti bekerja
untuk menyambut teman baru dengan matanya. Seorang budak dengan bayi
dalam selendang sambil meneteki naik ke darat dengan dulangnya, kemudian
duduk di tanah, menyanyi sebentar, mengumpulkan dedaunan dan menidurkan
anaknya di atasnya, di bawah sebatang pokok kayu. Ia turun lagi dan meneruskan
pekerjaannya.
Juga anak-anak kecil banyak bermain-main di air menemani ibunya. Yang agak
lebih besar ikut juga mendulang, karena bocah anak budak dianggap sebagai budak
perempuan.
__ADS_1
"Ya, mulai besok ikut mendulang. Oti namamu, bukan? Sore ini usahakan olehmu
sendiri membikin pondok," kata Lurah Moleng.