Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 12


__ADS_3

"Pada dadanya terpasang lembaran perak panjang, selebar satu setengah jengkal,


dengan gambar Hyang Durga Mahisasuramar-dini,"Tunggul Ametung mengadu.


"Patut disobek-sobek kulitnya diumpankan pada anjing hutan, penipu itu," Arya


Artya membenarkan. "Tiadakah Yang Mulia salah lihat?" Belakangka menguji.


"Jagad Pramudita! Apakah aku sudah dianggap rabun?" "Di manakah Yang Mulia


pernah lihat Hyang Durga seperti itu?" Belakangka mendesak menyisihkan Arya


Artya.


Tunggul Ametung menyedari, Belakangka sedang menyelidiki kepercayaannya. Dia


bisa mengadu pada Yang Tersuci di Kediri, dan nasibnya akan terjerembab. Ia


perintahkan dua orang itu pergi.


Sebelum meninggalkan jenjang Yang Suci Belakangka berbisik padanya:


"Hanya Lohgawe yang harus dituntut tanggungjawabnya. Yang Mulia, biar


Belakangka ini mengurusnya."


Ken Dedes dari dinding Bilik Agung mendengar semua pembicaraan itu. Untuk


pertama kali ia tersenyum, membayangkan brahmana muda dengan Sang Hyang


Durga Mahisasuramardini pada dadanya. Cepat-cepat ia tinggalkan Bilik Agung dan


turun di Taman Larangan di sebelahnya.


Begitu meninggalkan pendopo Yang Suci Belakangka mengirimkan utusan kilat


berkuda untuk melaporkan peristiwa genting itu pada Yang Tersuci Tanakung di


Kediri.


Sementara itu jatuhnya tapas penutup kepala menyebabkan Oti digiring


meninggalkan dapur pekuwuan, meninggalkan Kutaraja, ibukota Tumapel. Ia

__ADS_1


berjalan dan berjalan memunggungi Gunung Arjuna. Welirang dan Hanung.


Menengok ke kiri pandangnya tertatap pada puncak Gunung Semeru. Menengok


ke kanan pada puncak Gunung Kawi dan puncak Gunung Ke-lud di belakangnya


lagi.


Ke mana pun mata memandang - memandang dengan mencuri, karena budak


harus selalu menundukkan kepala - hutan, rimba belantara yang memagari. Pada


apa pun pendengaran dipusatkan, yang terdengar hanya desing margasatwa, dan


dengung bersahut-sahutan mengagungkan kebesaran hidup. Bahkan langkah


kakinya sendiri di atas jalanan baru itu tiada didengarnya. Langkah pengawalnya


pun tidak.


Jalan negeri telah ditinggalkan, membelok ke kanan, memasuki jalanan hutan lebar


sedepa hampir seluruhnya telah tertutup oleh rumput aneka jenis, berebut hijau.


Hanya bagian yang sering terinjak kaki nampak merana.


jembatan kecil, dua titian. Jalanan itu kemudian terputus oleh kali Kanta. Di tepian


sungai, di antara batu-batu gunung, hitam kelabu dalam segala bentuk dan besar,


seperti cendawan, tersebar gubuk-gubuk dedaunan. Dari cerita yang pernah


didengarnya, itulah perkampungan budak. Dari kejauhan telah terdengar bunyi


orang membelah dan memahat batu. Hanya bunyi saja. Belum lagi ia melihat


orangnya.


Pengawalnya menyuruh ia makan. Dari gendongannya ia keluarkan ketupat dan


kalabasa labu kerdil tempat air minum - air gula merah; tulang punggung babi yang


berdaging dan seikat kacang panjang mentah. Juga pengawalnya mengambil

__ADS_1


perbekalan dan mulai makan di tempat yang agak jauh.


Gercik dan desir air yang menerjangi batu terdengar menyanyi memanggilmanggil.


Oti ternyata tidak ngeri, juga tidak takut, pada hukuman ini. Ia sebaliknya merasa


senang dapat meninggalkan dapur pekuwuan, memasuki alam bebas seperti dulu


di kampungnya sendiri dan gercik air itu terdengar Jebih indah daripada deburan


laut, daripada suara gamelan. Dan betapa pepohonan raksasa di sekitar itu


memberinya kesejukan!


Sehabis makan ia digiring menuruni tepian. Ribuan wanita sedang melimbang emas


dari pasir kali sumber upeti sebanyak sepuluh ribu saga setiap tahun ke Kediri. Ia


tahu pekerjaannya kini adalah mendulang emas. Matanya tidak melihat pada emas


itu, tapi pada gemerlap air yang bermain-main dengan matahari.


Pengawal itu menyerahkannya pada lurah pendulangan, seorang perempuan tua


yang telah kisut, dengan buahdada seperti kantong kempes tergeong-geong


hampir sampai pada pusat. Dan hampir seluruh pendulang itu berhenti bekerja


untuk menyambut teman baru dengan matanya. Seorang budak dengan bayi


dalam selendang sambil meneteki naik ke darat dengan dulangnya, kemudian


duduk di tanah, menyanyi sebentar, mengumpulkan dedaunan dan menidurkan


anaknya di atasnya, di bawah sebatang pokok kayu. Ia turun lagi dan meneruskan


pekerjaannya.


Juga anak-anak kecil banyak bermain-main di air menemani ibunya. Yang agak


lebih besar ikut juga mendulang, karena bocah anak budak dianggap sebagai budak


perempuan.

__ADS_1


"Ya, mulai besok ikut mendulang. Oti namamu, bukan? Sore ini usahakan olehmu


sendiri membikin pondok," kata Lurah Moleng.


__ADS_2