Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 16


__ADS_3

"Ya, Bapa, apalah artinya pengetahuan tanpa pendapat?'" "Baik, aku harus percaya


kau telah mengetahui semua itu, dan kemudian berpendapat. Aku harus percaya


bukan sebaliknya yang terjadi. Berpendapat tanpa berpengetahuan hukuman mati


bagi seorang calon brahmana. Dia takkan mungkin jadi brahmana yang bisa


dipercaya." "Sahaya, Bapa."


"Baik, aku anggap kau banyak tahu, lebih banyak daripada yang kau peroleh


daripadaku. Kau telah dapat membaca sendiri rontal tanpa bantuanku lagi. Ingin


aku mengetahui sampai di mana dan seberapa pengetahuanmu." ia terdiam,


menutup matanya seperti hendak memulai samadhi. Ia membuka mata dan


mengangguk tenang, "Baik, apa pendapatmu tentang Sri Baginda Kretajaya?"


"Bukankah ada larangan membicarakan nama Sri Baginda?"


"Hanya sampai di situ pengetahuanmu?"


"Bahwa kita semua, murid dan mahaguru bisa dituduh membikin persekutuan


gelap dan jahat."


"Apakah gunanya pendapat kalau hanya untuk diketahui sendiri?" tolak Lohgawe.


"Di dekat Tunggul Ametung anjing pun takut menggonggong. Barangsiapa takut


pada pendapatnya sendiri....," Lohgawe menuding pada pelajar lain.


"Ya, Bapa, dia tak perlu belajar untuk tahu dan untuk punya pendapat."


"Betul, ya, Bapa, tidak percuma Hyang Ganesya menghias tangan yang satu dengan


parasyu[ kapak, lambang Ganesya.] dan tangan lain dengan aksa-mala[tasbih, lambang Ganesya] ketajaman dan irama hidup. Tanpa keberanian hidup adalah


tanpa irama. Hidup tanpa irama adalah samadhi tanpa pusat. Ampuni sahaya,


Bapa."

__ADS_1


"Ya, sekarang katakan pendapatmu."


"Pendapat sahaya, dengan tegas sekarang ini, ialah: Bapa Mahaguru Dang Hyang


Lohgawe tidak suka pada Sri Baginda Kretajaya, apalagi pada akuwunya di


Tumapel. Tunggul Ametung. Bapa percaya pada kami, maka juga percaya,


persekutuan gelap dan jahat tiada bakal dituduhkan pada kami semua ini. Bapa


Mahaguru Dang Hyang Lohgawe menimbang kami semua sebagai telah dewasa


untuk bergabung dalam persekutuan para brahmana, mendudukkan kembali


Hyang Mahadewa Syiwa pada cakrawartinya. Ampuni sahaya, ya, Bapa Mahaguru."


Lohgawe membelalak. Lidi enau di tangannya jatuh. Ia pura-pura tidak tahu dan


meneruskan: "Bapa Mahaguru Dang Hyang Lohgawe telah bersekutu dengan kami


semua yang mendengarkan sahaya, suka atau tidak bersekutu melawan Akuwu


Tumapel Tunggul Ametung dan Sri Baginda Kretajaya."


"Tak pernah aku katakan atau nyatakan itu!" Lohgawe membantah. Dagunya


"Tidak percuma Bapa Mahaguru pernah ajarkan pada kami tenung sikap tak suka


kaum brahmana terhadap wangsa Isana, keturunan Sri Baginda Erlangga."


"Dengarkan kata-katanya, hai, kalian," Lohgawe berpaling pada para murid lainnya.


"Tidak lain dari aku sendiri yang selalu memuji-muji Sri Baginda Erlangga sebagai


raja pembangun terbesar: kali-kali ditanggul dan dikeduk untuk lalulintas dan untuk


keselamatan pertanian dan kawula, pelabuhan-pelabuhan terutama Gresik dan


Tuban, rumah-rumah suci, bendungan dan jalanan negeri di mana-mana: karunia


prasasti dan dharma pada para pembangun... .juga di mana-mana..."


"Tak ada yang bisa bantah Sri Erlangga seorang pembangun besar. Satu yang pada

__ADS_1


waktunya akan Bapa Mahaguru katakan: hanya satu yang tidak pernah


dibangunkannya kedudukan kaum brahmana. Dan yang belum lagi Bapa katakan:


Sri Baginda Erlangga melecehkan ajaran, menjungkir-balikkan para dewa Hindu yang kita semua puja, hormati dan takuti, kita semua harapkan karunianya dan


takuti murkanya. Diagungkannya Hyang Wisynu sebagai dewa tertinggi dewa kaum


petani itu, Dewa Pemelihara itu dan karena Hyang Wisynu saja menitis pada


manusia terbaik di seluruh negeri, manusia terbijaksana di jagad pramudita dan


dengan demikian ia sendiri dapat nyatakan diri titisan Hyang Wisynu.Ya, Bapa


Mahaguru, dengan demikian dia sendiri telah dapat mengangkat diri sebagai


seorang dewa dengan segala kebesarannya, dan mengangkat nenek-moyangnya


yang disukainya, raja-raja terdahulu, juga sebagai dewa dengan nama-nama


Hindu."


"Kau .... !" tegah Lohgawe.


"Bapa Mahaguru menghormati Sri Erlangga sebagai pembangun agung bagi


kemakmuran dan kesejahteraan negeri dan kawula, tapi dirugikannya kaum


brahmana. Semua teman sahaya ini masih ingat kecaman Bapa atas diri Sri


Erlangga sebagai pen-dangkal ajaran. Bukankah atas perintahnya, Mpu Kanwa


menulis Arjuna Wiwaha dalam Jawa, dan cuma saduran dari Aranyapar-wa atau


parwa ketiga dari Mahabharata? Dan karena parwa itu mirip dengan riwayat Sri


Baginda sendiri? Bukankah dengan demikian baginda telah mendangkalkan kitab


agung itu? Bahkan baginda tidak menyerahkan tugas itu pada pertimbangan kaum


brahmana yang lebih berhak! Masih ingatkah Bapa Mahaguru pada ucapan sendiri:


'Hendak menandingi Sansakerta? itu bahasa Jawa bahasa paria: Kemuliaan

__ADS_1


Mahabharata hilang, kedangkalan menggantikan?'"


Lohgawe dan teman-teman sepengajarannya tenggelam dalam pidatonya.


__ADS_2