
"Ya, Bapa, apalah artinya pengetahuan tanpa pendapat?'" "Baik, aku harus percaya
kau telah mengetahui semua itu, dan kemudian berpendapat. Aku harus percaya
bukan sebaliknya yang terjadi. Berpendapat tanpa berpengetahuan hukuman mati
bagi seorang calon brahmana. Dia takkan mungkin jadi brahmana yang bisa
dipercaya." "Sahaya, Bapa."
"Baik, aku anggap kau banyak tahu, lebih banyak daripada yang kau peroleh
daripadaku. Kau telah dapat membaca sendiri rontal tanpa bantuanku lagi. Ingin
aku mengetahui sampai di mana dan seberapa pengetahuanmu." ia terdiam,
menutup matanya seperti hendak memulai samadhi. Ia membuka mata dan
mengangguk tenang, "Baik, apa pendapatmu tentang Sri Baginda Kretajaya?"
"Bukankah ada larangan membicarakan nama Sri Baginda?"
"Hanya sampai di situ pengetahuanmu?"
"Bahwa kita semua, murid dan mahaguru bisa dituduh membikin persekutuan
gelap dan jahat."
"Apakah gunanya pendapat kalau hanya untuk diketahui sendiri?" tolak Lohgawe.
"Di dekat Tunggul Ametung anjing pun takut menggonggong. Barangsiapa takut
pada pendapatnya sendiri....," Lohgawe menuding pada pelajar lain.
"Ya, Bapa, dia tak perlu belajar untuk tahu dan untuk punya pendapat."
"Betul, ya, Bapa, tidak percuma Hyang Ganesya menghias tangan yang satu dengan
parasyu[ kapak, lambang Ganesya.] dan tangan lain dengan aksa-mala[tasbih, lambang Ganesya] ketajaman dan irama hidup. Tanpa keberanian hidup adalah
tanpa irama. Hidup tanpa irama adalah samadhi tanpa pusat. Ampuni sahaya,
Bapa."
__ADS_1
"Ya, sekarang katakan pendapatmu."
"Pendapat sahaya, dengan tegas sekarang ini, ialah: Bapa Mahaguru Dang Hyang
Lohgawe tidak suka pada Sri Baginda Kretajaya, apalagi pada akuwunya di
Tumapel. Tunggul Ametung. Bapa percaya pada kami, maka juga percaya,
persekutuan gelap dan jahat tiada bakal dituduhkan pada kami semua ini. Bapa
Mahaguru Dang Hyang Lohgawe menimbang kami semua sebagai telah dewasa
untuk bergabung dalam persekutuan para brahmana, mendudukkan kembali
Hyang Mahadewa Syiwa pada cakrawartinya. Ampuni sahaya, ya, Bapa Mahaguru."
Lohgawe membelalak. Lidi enau di tangannya jatuh. Ia pura-pura tidak tahu dan
meneruskan: "Bapa Mahaguru Dang Hyang Lohgawe telah bersekutu dengan kami
semua yang mendengarkan sahaya, suka atau tidak bersekutu melawan Akuwu
Tumapel Tunggul Ametung dan Sri Baginda Kretajaya."
"Tak pernah aku katakan atau nyatakan itu!" Lohgawe membantah. Dagunya
"Tidak percuma Bapa Mahaguru pernah ajarkan pada kami tenung sikap tak suka
kaum brahmana terhadap wangsa Isana, keturunan Sri Baginda Erlangga."
"Dengarkan kata-katanya, hai, kalian," Lohgawe berpaling pada para murid lainnya.
"Tidak lain dari aku sendiri yang selalu memuji-muji Sri Baginda Erlangga sebagai
raja pembangun terbesar: kali-kali ditanggul dan dikeduk untuk lalulintas dan untuk
keselamatan pertanian dan kawula, pelabuhan-pelabuhan terutama Gresik dan
Tuban, rumah-rumah suci, bendungan dan jalanan negeri di mana-mana: karunia
prasasti dan dharma pada para pembangun... .juga di mana-mana..."
"Tak ada yang bisa bantah Sri Erlangga seorang pembangun besar. Satu yang pada
__ADS_1
waktunya akan Bapa Mahaguru katakan: hanya satu yang tidak pernah
dibangunkannya kedudukan kaum brahmana. Dan yang belum lagi Bapa katakan:
Sri Baginda Erlangga melecehkan ajaran, menjungkir-balikkan para dewa Hindu yang kita semua puja, hormati dan takuti, kita semua harapkan karunianya dan
takuti murkanya. Diagungkannya Hyang Wisynu sebagai dewa tertinggi dewa kaum
petani itu, Dewa Pemelihara itu dan karena Hyang Wisynu saja menitis pada
manusia terbaik di seluruh negeri, manusia terbijaksana di jagad pramudita dan
dengan demikian ia sendiri dapat nyatakan diri titisan Hyang Wisynu.Ya, Bapa
Mahaguru, dengan demikian dia sendiri telah dapat mengangkat diri sebagai
seorang dewa dengan segala kebesarannya, dan mengangkat nenek-moyangnya
yang disukainya, raja-raja terdahulu, juga sebagai dewa dengan nama-nama
Hindu."
"Kau .... !" tegah Lohgawe.
"Bapa Mahaguru menghormati Sri Erlangga sebagai pembangun agung bagi
kemakmuran dan kesejahteraan negeri dan kawula, tapi dirugikannya kaum
brahmana. Semua teman sahaya ini masih ingat kecaman Bapa atas diri Sri
Erlangga sebagai pen-dangkal ajaran. Bukankah atas perintahnya, Mpu Kanwa
menulis Arjuna Wiwaha dalam Jawa, dan cuma saduran dari Aranyapar-wa atau
parwa ketiga dari Mahabharata? Dan karena parwa itu mirip dengan riwayat Sri
Baginda sendiri? Bukankah dengan demikian baginda telah mendangkalkan kitab
agung itu? Bahkan baginda tidak menyerahkan tugas itu pada pertimbangan kaum
brahmana yang lebih berhak! Masih ingatkah Bapa Mahaguru pada ucapan sendiri:
'Hendak menandingi Sansakerta? itu bahasa Jawa bahasa paria: Kemuliaan
__ADS_1
Mahabharata hilang, kedangkalan menggantikan?'"
Lohgawe dan teman-teman sepengajarannya tenggelam dalam pidatonya.