Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 28


__ADS_3

Ia dengar Sang Akuwu mendengus. Ia tunggu kata-katanya. Tapi tak lagi keluar


suara dari mulutnya. Ia tahu ia mulai menyerah.


Waktu airmatanya jatuh menetesi lengan yang memeluknya baru ia dengar


suaranya lagi:


"Jangan menangis, Permataku. Para dewa telah berikan dirimu padaku. Kau hanya


menjalani sebagaimana juga aku. Tak pernah ada wanita menantang, melawan dan


menolak Tunggul Ametung. Hanya kau! Karena itu kau dipilih lebih daripada putriputri Tumapel, Kediri dan seluruh buana, satu-satunya perawan yang berani


menggigit dan mencakar Tunggul Ametung sungguh-sungguh perawan pilihan.


Yang berani meludahinya betul-betul manusia dewi. Tumpahkan airmatamu,


Permata, karena setelah ini takkan dia titik lagi, seluruh kebahagiaan makhluk di


atas bumi hanya milikmu."


Tunggul Ametung bicara terus. Dan ia makin dapat mengerti. sama sekali dia tak


dapat dikatakan dungu. Kata-katanya teratur dan bersumber pada kepercayaannya


pada HyangWisynu "Dedes, kaulah permata di antara semua jenis wanita. Tak ada


perawan dari triwangsa dan di luarnya lebih terpilih daripada kau Daripadamu akan


lahir raja-raja besar di bumi Jawa. Ah, Dedes, apakah Mpu Parwa pernah tahu


semua ini?" Airmata Dedes semakin deras.


"Dedes, Dedesku, dalam hatimu saja terdapat api sang Mun-cukunda[seorang


tokoh yang dengan pandang matanya telah membinasakan raksasa Kalayawana


dalam peperangannya melawan Kresna.]. Di luar kau semua hanya sampah di


hadapan matamu. Permataku! Permataku!"


Perawan itu menjadi ragu apakah orang yang memeluknya ini benar menjalankan


petunjuk dewa ataukah memang hanya drubiksa meminjam suara para dewa.


Segala apa tentangnya yang didengarnya dari ayahnya dan para brahmana tidak cocok. Ia bukan seorang yang dungu, tahu berlemah lembut. Ataukah memang


demikian semua penjahat dalam usahanya? Dan mengapa para brahmana, yang


menganggap dirinya benar karena sejalan dengan ajaran tunduk takluk pada Hyang


Yama, tidak mampu berbuat Sesuatu terhadapnya? Adakah Akuwu Tumapel yang


memeluknya benar-benar lebih kuat dari semua dewa sekaligus? Dia telah bicara


tentang Muncukunda, cerita dan tafsiran yang diberikan hanya kepada siswa-siswa


tingkat cikil dan wasi. Benarkah dia butahuruf, dan mengetahui segala hanya dari


tangan kedua?


Suatu kemestian bagi brahmana adalah berpikir dahulu sebelum bertindak. Dan


nampaknya Tunggul Ametung melakukan ini setelah masak berpikir. Maka dia tahu


ke mana ia pasti akan lari menghindarinya, dan menunggu di sana sampai ia


datang.

__ADS_1


Kembali ia diserang kekacauan. Semua yang diajarkan oleh ayahnya terancam akan


runtuh dalam tangan orang yang dapat menggagahi segala-galanya ini.


Di sela-sela derap kaki kuda itu terdengar dalam ingatannya suara ayahnya: Kaum


satria adalah pemukul segala dosa; dunia akan binasa karena mereka; dan hanya


kaum brahmana bisa selamatkan manusia dan dunia; maka semua usaha kaum


brahmana harus dipusatkan pada kembalinya tatatertib Jagad Pramudita.


Sekarang ia dalam pelukan seorang sudra yang disamakan oleh Kediri. Dan ia tak


dapat membela diri. Dewa-dewa juga tidak menolongnya. Hyang Laksmi juga tidak


membantunya. Hyang Mahadewa yang setiap hari dipujanya dalam samadhi juga


tidak melepaskan trisulanya untuk menolong dirinya.


"Permataku!" ia rasai wajah Tunggul Ametung itu menciumnya. Dan ia dengar


suara itu tidak mengandung kama, tapi kasih sayang. "Segalanya akan


dipersembahkan pada Dedes dan kesuciannya, dan kemuliaannya. Apakah kurang aku menghormatimu? Apakah aku kurang halus terhadapmu? Kau, perawan


dengan hati memeram api Muncukunda! Kau, ibu dari raja-raja besar yang bakal


dilahirkan. Singgasana Tumapel adalah milikmu. Tidak percuma para dewa bisikkan


padaku setiap kali ber-samadhi."


Dedes tak rasai lagi dingin angin pancaroba menjelang pagi. "Bahkan rambutmu


kurasai seperti belaian sorga." "Lepaskan aku, Tunggul Ametung," ia mulai meronta


lagi. "Kulepaskan kau setelah sampai di keputrian pekuwuan." "Terkutuk kau!"


sama beraninya dengan waktu di medan perang. Tapi jangan kutuki anak-anakmu


sendiri."


"Penipu! Pembohong! Penculik!" Dedes memberontak, juga ajaran yang telah


diterimanya menggugatnya mengapa ia tidak melawan.


Kembali ia pingsan.


Menjelang terbit Hyang Surya, kuda itu memasuki pekuwuan, tanpa mengindahkan


para pengawal yang sedang lalai dalam kantuknya. ia turun dari kuda membopong


Dedes, masuk ke dalam keputrian, dan membawanya masuk ke dalam Bilik


Paramesywari.


Dedes sadar kembali. Ia dapat melihat Tunggul Ametung membangunkan seorang


wanita yang tidur di lantai di atas tikar dengan kakinya. Dan ia dengar:


"Rimang! Aku serahkan padamu putrimu Sang Paramesywari. Lehermu jadi


petaruh."


Ia lihat Rimang mengangkat sembah, dan sepasang matanya bersinar-sinar.


Sang Akuwu meletakkannya di atas ranjang bertilam sutra. Ia tahu pria itu berlutut


padanya, berbisik:

__ADS_1


"Permataku, semua ada di bawah perintahmu. Jangan tinggalkan tempat ini," ia


pergi entah ke mana.


Rimang sekarang yang berlutut padanya:


"Yang Mulia, Yang Mulia ..."


Dedes menangis sejadi-jadinya.


Di mana ayahnya kini, ia tak tahu. Sejak peristiwa penculikan dalam hutan di semak


lamtara muda itu, ia tak pernah dengar sesuatu dari desanya, Panawijil. Antara


dirinya dengan masalalu-nya seakan telah tergunting putus. Tak ada orang yang


mengenalnya di pekuwuan. Ia diserahkan pada segala yang asing, dan pedandi itu


memata-matainya tanpa jera, membanjirinya dengan nasihat tetekbengek. Pada


suatu kali, tanpa bicara ia telah usir pedandi itu dengan gerak tangan. Ia tak


perlukan nasihat bagaimana harusnya seorang istri terhadap suami, yang oleh para


dewa dititahkan jadi satria untuk menduduki tempatnya mempertahankan


keseimbangan jagad pramudita.


Ia tak perlukan nasihat dari siapa pun yang tak punya persinggungan hidup dengan


dirinya.


Pada mulanya ia dengarkan semua, seperti ia dengarkan setiap pelajaran dari


ayahnya. Ia hafalkan dalam hatinya yang pengap karena dukacita. Keinginan untuk


tahu segala dan jiwanya yang sedang kembang dengan sarwacita, memang terbuka


terhadap semua penjelasan tenung kedudukan manusia di tengah-tengah


jagadnya, di tengah-tengah hubungan antar manusia dan dengan para dewa.


Akhirnya pintu harinya terkunci erat begitu ia menye-dari setiap nasihat bertujuan


menuntut dari dirinya kesetiaan mutlak kepada Sang Akuwu.


Ia muak. ia tak mempunyai perasaan bersetia pada suaminya. Pernikahannya yang


tanpa saksi, bahkan tidak menyebut namanya dan nama ayahnya, mantra-mantra


dalam Sansakerta yang banyak salahnya semua itu ia rasakan tak punya dasar yang


kuat untuk menuntut kesetiaan daripada dirinya. Tak ada yang lebih menyakitkan


mengetahui, ayahnya samasekali tidak dimasukkan dalam hitungan.


Bahkan sampai empat puluh hari pun orang tak tahu siapa nama dirinya, apalagi


nama ayahnya. Apalagi penculikan itu dilakukan oleh Tunggul Ametung seorang.


Tanpa saksi.


Dan siang itu Tunggul Ametung tidak menjenguknya. Sore hari juga tidak.


Kemudian ia mengetahui: suaminya telah meninggalkan Tumapel langsung menuju


ke Kediri dalam iringan pasukan kuda.


"Bahkan minta diri dari aku pun ia merasa tidak perlu."

__ADS_1


Itu juga menjadi petunjuk baginya: ia tidak terikat pada suatu kesetiaan pada Sang


Akuwu.


__ADS_2