
Ia dengar Sang Akuwu mendengus. Ia tunggu kata-katanya. Tapi tak lagi keluar
suara dari mulutnya. Ia tahu ia mulai menyerah.
Waktu airmatanya jatuh menetesi lengan yang memeluknya baru ia dengar
suaranya lagi:
"Jangan menangis, Permataku. Para dewa telah berikan dirimu padaku. Kau hanya
menjalani sebagaimana juga aku. Tak pernah ada wanita menantang, melawan dan
menolak Tunggul Ametung. Hanya kau! Karena itu kau dipilih lebih daripada putriputri Tumapel, Kediri dan seluruh buana, satu-satunya perawan yang berani
menggigit dan mencakar Tunggul Ametung sungguh-sungguh perawan pilihan.
Yang berani meludahinya betul-betul manusia dewi. Tumpahkan airmatamu,
Permata, karena setelah ini takkan dia titik lagi, seluruh kebahagiaan makhluk di
atas bumi hanya milikmu."
Tunggul Ametung bicara terus. Dan ia makin dapat mengerti. sama sekali dia tak
dapat dikatakan dungu. Kata-katanya teratur dan bersumber pada kepercayaannya
pada HyangWisynu "Dedes, kaulah permata di antara semua jenis wanita. Tak ada
perawan dari triwangsa dan di luarnya lebih terpilih daripada kau Daripadamu akan
lahir raja-raja besar di bumi Jawa. Ah, Dedes, apakah Mpu Parwa pernah tahu
semua ini?" Airmata Dedes semakin deras.
"Dedes, Dedesku, dalam hatimu saja terdapat api sang Mun-cukunda[seorang
tokoh yang dengan pandang matanya telah membinasakan raksasa Kalayawana
dalam peperangannya melawan Kresna.]. Di luar kau semua hanya sampah di
hadapan matamu. Permataku! Permataku!"
Perawan itu menjadi ragu apakah orang yang memeluknya ini benar menjalankan
petunjuk dewa ataukah memang hanya drubiksa meminjam suara para dewa.
Segala apa tentangnya yang didengarnya dari ayahnya dan para brahmana tidak cocok. Ia bukan seorang yang dungu, tahu berlemah lembut. Ataukah memang
demikian semua penjahat dalam usahanya? Dan mengapa para brahmana, yang
menganggap dirinya benar karena sejalan dengan ajaran tunduk takluk pada Hyang
Yama, tidak mampu berbuat Sesuatu terhadapnya? Adakah Akuwu Tumapel yang
memeluknya benar-benar lebih kuat dari semua dewa sekaligus? Dia telah bicara
tentang Muncukunda, cerita dan tafsiran yang diberikan hanya kepada siswa-siswa
tingkat cikil dan wasi. Benarkah dia butahuruf, dan mengetahui segala hanya dari
tangan kedua?
Suatu kemestian bagi brahmana adalah berpikir dahulu sebelum bertindak. Dan
nampaknya Tunggul Ametung melakukan ini setelah masak berpikir. Maka dia tahu
ke mana ia pasti akan lari menghindarinya, dan menunggu di sana sampai ia
datang.
__ADS_1
Kembali ia diserang kekacauan. Semua yang diajarkan oleh ayahnya terancam akan
runtuh dalam tangan orang yang dapat menggagahi segala-galanya ini.
Di sela-sela derap kaki kuda itu terdengar dalam ingatannya suara ayahnya: Kaum
satria adalah pemukul segala dosa; dunia akan binasa karena mereka; dan hanya
kaum brahmana bisa selamatkan manusia dan dunia; maka semua usaha kaum
brahmana harus dipusatkan pada kembalinya tatatertib Jagad Pramudita.
Sekarang ia dalam pelukan seorang sudra yang disamakan oleh Kediri. Dan ia tak
dapat membela diri. Dewa-dewa juga tidak menolongnya. Hyang Laksmi juga tidak
membantunya. Hyang Mahadewa yang setiap hari dipujanya dalam samadhi juga
tidak melepaskan trisulanya untuk menolong dirinya.
"Permataku!" ia rasai wajah Tunggul Ametung itu menciumnya. Dan ia dengar
suara itu tidak mengandung kama, tapi kasih sayang. "Segalanya akan
dipersembahkan pada Dedes dan kesuciannya, dan kemuliaannya. Apakah kurang aku menghormatimu? Apakah aku kurang halus terhadapmu? Kau, perawan
dengan hati memeram api Muncukunda! Kau, ibu dari raja-raja besar yang bakal
dilahirkan. Singgasana Tumapel adalah milikmu. Tidak percuma para dewa bisikkan
padaku setiap kali ber-samadhi."
Dedes tak rasai lagi dingin angin pancaroba menjelang pagi. "Bahkan rambutmu
kurasai seperti belaian sorga." "Lepaskan aku, Tunggul Ametung," ia mulai meronta
lagi. "Kulepaskan kau setelah sampai di keputrian pekuwuan." "Terkutuk kau!"
sama beraninya dengan waktu di medan perang. Tapi jangan kutuki anak-anakmu
sendiri."
"Penipu! Pembohong! Penculik!" Dedes memberontak, juga ajaran yang telah
diterimanya menggugatnya mengapa ia tidak melawan.
Kembali ia pingsan.
Menjelang terbit Hyang Surya, kuda itu memasuki pekuwuan, tanpa mengindahkan
para pengawal yang sedang lalai dalam kantuknya. ia turun dari kuda membopong
Dedes, masuk ke dalam keputrian, dan membawanya masuk ke dalam Bilik
Paramesywari.
Dedes sadar kembali. Ia dapat melihat Tunggul Ametung membangunkan seorang
wanita yang tidur di lantai di atas tikar dengan kakinya. Dan ia dengar:
"Rimang! Aku serahkan padamu putrimu Sang Paramesywari. Lehermu jadi
petaruh."
Ia lihat Rimang mengangkat sembah, dan sepasang matanya bersinar-sinar.
Sang Akuwu meletakkannya di atas ranjang bertilam sutra. Ia tahu pria itu berlutut
padanya, berbisik:
__ADS_1
"Permataku, semua ada di bawah perintahmu. Jangan tinggalkan tempat ini," ia
pergi entah ke mana.
Rimang sekarang yang berlutut padanya:
"Yang Mulia, Yang Mulia ..."
Dedes menangis sejadi-jadinya.
Di mana ayahnya kini, ia tak tahu. Sejak peristiwa penculikan dalam hutan di semak
lamtara muda itu, ia tak pernah dengar sesuatu dari desanya, Panawijil. Antara
dirinya dengan masalalu-nya seakan telah tergunting putus. Tak ada orang yang
mengenalnya di pekuwuan. Ia diserahkan pada segala yang asing, dan pedandi itu
memata-matainya tanpa jera, membanjirinya dengan nasihat tetekbengek. Pada
suatu kali, tanpa bicara ia telah usir pedandi itu dengan gerak tangan. Ia tak
perlukan nasihat bagaimana harusnya seorang istri terhadap suami, yang oleh para
dewa dititahkan jadi satria untuk menduduki tempatnya mempertahankan
keseimbangan jagad pramudita.
Ia tak perlukan nasihat dari siapa pun yang tak punya persinggungan hidup dengan
dirinya.
Pada mulanya ia dengarkan semua, seperti ia dengarkan setiap pelajaran dari
ayahnya. Ia hafalkan dalam hatinya yang pengap karena dukacita. Keinginan untuk
tahu segala dan jiwanya yang sedang kembang dengan sarwacita, memang terbuka
terhadap semua penjelasan tenung kedudukan manusia di tengah-tengah
jagadnya, di tengah-tengah hubungan antar manusia dan dengan para dewa.
Akhirnya pintu harinya terkunci erat begitu ia menye-dari setiap nasihat bertujuan
menuntut dari dirinya kesetiaan mutlak kepada Sang Akuwu.
Ia muak. ia tak mempunyai perasaan bersetia pada suaminya. Pernikahannya yang
tanpa saksi, bahkan tidak menyebut namanya dan nama ayahnya, mantra-mantra
dalam Sansakerta yang banyak salahnya semua itu ia rasakan tak punya dasar yang
kuat untuk menuntut kesetiaan daripada dirinya. Tak ada yang lebih menyakitkan
mengetahui, ayahnya samasekali tidak dimasukkan dalam hitungan.
Bahkan sampai empat puluh hari pun orang tak tahu siapa nama dirinya, apalagi
nama ayahnya. Apalagi penculikan itu dilakukan oleh Tunggul Ametung seorang.
Tanpa saksi.
Dan siang itu Tunggul Ametung tidak menjenguknya. Sore hari juga tidak.
Kemudian ia mengetahui: suaminya telah meninggalkan Tumapel langsung menuju
ke Kediri dalam iringan pasukan kuda.
"Bahkan minta diri dari aku pun ia merasa tidak perlu."
__ADS_1
Itu juga menjadi petunjuk baginya: ia tidak terikat pada suatu kesetiaan pada Sang
Akuwu.