
Suatu gerak mencurigakan membikin ia memegangi hulu senjatanya. Ia angkat
pandangnya ke tebing di samping kanannya. Di atas sebuah batu berdiri seorang
berkumis sekepal, ber-destar hitam dan berpenutup dada hitam pula. Pada
tangannya ia membawa trisula. Ia tahu benar itu bukan trisula untuk berkelahi, tapi
untuk upacara keagamaan orang-orang Syiwa. Cawatnya berwarna coklat dan
nampak sudah tua. Terompah tapas dikenakan pada kakinya.
"Siapa yang kau cari, Akuwu Tumapel?" tegur orang berkumis sekepal itu.
"Siapa kau?" bentak kepala pasukan yang segera datang untuk melindungi Akuwu.
"Diam kau, prajurit. Tidakkah kau tahu aku sedang bicara dengan Akuwu Tumapel?
Jangan terlalu dekat. Daging kalian bisa buyar di bawah seratus lima puluh mata
tombak. Siapa kau cari Akuwu? Aku?"
Dari atas kudanya Tunggul Ametung menggerang:
"Kau! Borang, Arih-Arih, Santing. Melihat dari kekurang-ajaranmu, kaulah Borang."
"Tak aku kenal nama Borang."
"Arih-Arih?"
"Tidak" "Santing?"
"Kalau seorang berani menghadapi Tunggul Ametung seorang diri begini, dia tak
perlu berbohong." "Siapa kau?" "Brahmana dari utara."
"Tak ada tempat untuk brahmana di Tumapel."
Kepala pasukan itu mengangkat tombak untuk dilemparkan.
"Apakah kau anggap prajurit Tumapel saja yang bisa lemparkan tombak? Lihat
trisula ini. Sekali aku angkat kilat Sang Mahakala akan sambar kalian dengan
seratus limapuluh mata tombak."
"Jadi cantrik Arya Artya pun kau belum patut," Tunggul Ametung mengejek orang
__ADS_1
berkumis sekepal itu.
"Di pekuwuan kau bebas bicara seperti itu. Tunggul Ametung. Dalam apitan
gunung dan jurang begini aku lebih kuasa daripada kau, dan seribu orang seperti
kau." "Siapa kau?"
"Ingat-ingat wajahku ini, dan kembali kau segera pada pengantinmu. Apa kau
relakan dia jadi janda?"
"Tidak percuma pasukan kuda ada di depan dan belakangku."
"Apa artinya pasukan kudamu dalam apitan gunung dan jurang? Tak mengerti kau
tentang perang? Kembali! Dengarkan nasihatku sebelum murka Hyang Mahadewa
jatuh di atas kepalamu."
Orang berkumis sekepal itu membuka kain penutup dada. Muncullah perak
bergambar dudul Durga Mahisasuramardini [Durga Sang Pembunuh Yaksa
Banteng].
pun ia sudah tak tahan terhadap ketajaman pandang mata orang itu. Sebagai orang
yang berpengalaman dalam adu kekuatan dan adu senjata ia tahu, barangsiapa
kalah pandang, dialah pula yang bakal kalah berlawan.
Ia turunkan lengannya, memalingkan muka, menarik kendali kuda dan berjalan
lambat-lambat meninggalkan tempat itu Kepala pasukan itu memburunya dan
memprotes: "Ijinkanlah kami menumpasnya."
"Kembali! bukan lawanmu. Bukan lawan kita. Seorang brahmana yang akan
menyelesaikannya."
Sampai pada pasukan kedua ia gerakkan tangan memberi isyarat untuk pulang.
Di pekuwuan ia perintahkan pada Yang Suci untuk memanggil Arya Artya. Dan
karena orang yang merasa diri brahmana dari kadar puncak itu tak punya dan tak
__ADS_1
dapat menunggang kuda, baru di malam hari ia tiba.
"Apa yang Bapa ketahui tentang seorang brahmana muda di Tumapel ini?"
"Tak ada brahmana muda di Tumapel ini. Semua sudah tercatat dalam ronta! Yang
Suci. Yang Mulia.Yang diijinkan mengajar dan yang tidak. Bapa termasuk yang tidak
diijinkan."
"Maksudku seorang brahmana muda."
"Sekiranya ada, dia akan sowan pada Bapa ini untuk mendapatkan restu. Bila
demikian Bapa akan segera menyampaikan pada Yang Suci. Lagi pula, tak mungkin
seorang muda bisa jadi brahmana. Untuk dapat menguasai Sansakerta paling tidak
dia membutuhkan sepuluh tahun. Tanpa itu bagaimana seorang muda dapat
mengenal Atharwaweda dan menjadi brahmana? Berapa umur orang yang
mengaku brahmana muda itu. Yang Mulia?"
"Dari kumisnya yang setebal kepalan, kiranya tiga puluh."
"Dengan umur tiga puluh orang baru bisa menghafal mantra-mantra
pentahbisan,"Arya Artya mengangguk. "Belum pernah terdengar ada brahmana
berkumis sekepal. Di mana Yang Mulia jumpai dia?"
Tunggul Ametung tak menjawab. Pada waktu itu Belakangka datang. Menghormat
kedua-duanya dan memulai:
"Yang Mulia, mendengar dari para prajurit tentang brahmana muda itu ..."
"Tak ada brahmana muda berkumis sekepal, Yang Mulia, percayalah," sumbar Arya
Artya.
"Serahkan persoalan ini pada sahaya,Yang Mulia. Bukan suatu perkara yang sulit."
"Tak ada brahmana seperti itu. Dia hanya penipu. Yang Mulia, sepatutnya
dihancurkan badannya dengan garukan kerang."
__ADS_1