Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 11


__ADS_3

Suatu gerak mencurigakan membikin ia memegangi hulu senjatanya. Ia angkat


pandangnya ke tebing di samping kanannya. Di atas sebuah batu berdiri seorang


berkumis sekepal, ber-destar hitam dan berpenutup dada hitam pula. Pada


tangannya ia membawa trisula. Ia tahu benar itu bukan trisula untuk berkelahi, tapi


untuk upacara keagamaan orang-orang Syiwa. Cawatnya berwarna coklat dan


nampak sudah tua. Terompah tapas dikenakan pada kakinya.


"Siapa yang kau cari, Akuwu Tumapel?" tegur orang berkumis sekepal itu.


"Siapa kau?" bentak kepala pasukan yang segera datang untuk melindungi Akuwu.


"Diam kau, prajurit. Tidakkah kau tahu aku sedang bicara dengan Akuwu Tumapel?


Jangan terlalu dekat. Daging kalian bisa buyar di bawah seratus lima puluh mata


tombak. Siapa kau cari Akuwu? Aku?"


Dari atas kudanya Tunggul Ametung menggerang:


"Kau! Borang, Arih-Arih, Santing. Melihat dari kekurang-ajaranmu, kaulah Borang."


"Tak aku kenal nama Borang."


"Arih-Arih?"


"Tidak" "Santing?"


"Kalau seorang berani menghadapi Tunggul Ametung seorang diri begini, dia tak


perlu berbohong." "Siapa kau?" "Brahmana dari utara."


"Tak ada tempat untuk brahmana di Tumapel."


Kepala pasukan itu mengangkat tombak untuk dilemparkan.


"Apakah kau anggap prajurit Tumapel saja yang bisa lemparkan tombak? Lihat


trisula ini. Sekali aku angkat kilat Sang Mahakala akan sambar kalian dengan


seratus limapuluh mata tombak."


"Jadi cantrik Arya Artya pun kau belum patut," Tunggul Ametung mengejek orang

__ADS_1


berkumis sekepal itu.


"Di pekuwuan kau bebas bicara seperti itu. Tunggul Ametung. Dalam apitan


gunung dan jurang begini aku lebih kuasa daripada kau, dan seribu orang seperti


kau." "Siapa kau?"


"Ingat-ingat wajahku ini, dan kembali kau segera pada pengantinmu. Apa kau


relakan dia jadi janda?"


"Tidak percuma pasukan kuda ada di depan dan belakangku."


"Apa artinya pasukan kudamu dalam apitan gunung dan jurang? Tak mengerti kau


tentang perang? Kembali! Dengarkan nasihatku sebelum murka Hyang Mahadewa


jatuh di atas kepalamu."


Orang berkumis sekepal itu membuka kain penutup dada. Muncullah perak


bergambar dudul Durga Mahisasuramardini [Durga Sang Pembunuh Yaksa


Banteng].


pun ia sudah tak tahan terhadap ketajaman pandang mata orang itu. Sebagai orang


yang berpengalaman dalam adu kekuatan dan adu senjata ia tahu, barangsiapa


kalah pandang, dialah pula yang bakal kalah berlawan.


Ia turunkan lengannya, memalingkan muka, menarik kendali kuda dan berjalan


lambat-lambat meninggalkan tempat itu Kepala pasukan itu memburunya dan


memprotes: "Ijinkanlah kami menumpasnya."


"Kembali! bukan lawanmu. Bukan lawan kita. Seorang brahmana yang akan


menyelesaikannya."


Sampai pada pasukan kedua ia gerakkan tangan memberi isyarat untuk pulang.


Di pekuwuan ia perintahkan pada Yang Suci untuk memanggil Arya Artya. Dan


karena orang yang merasa diri brahmana dari kadar puncak itu tak punya dan tak

__ADS_1


dapat menunggang kuda, baru di malam hari ia tiba.


"Apa yang Bapa ketahui tentang seorang brahmana muda di Tumapel ini?"


"Tak ada brahmana muda di Tumapel ini. Semua sudah tercatat dalam ronta! Yang


Suci. Yang Mulia.Yang diijinkan mengajar dan yang tidak. Bapa termasuk yang tidak


diijinkan."


"Maksudku seorang brahmana muda."


"Sekiranya ada, dia akan sowan pada Bapa ini untuk mendapatkan restu. Bila


demikian Bapa akan segera menyampaikan pada Yang Suci. Lagi pula, tak mungkin


seorang muda bisa jadi brahmana. Untuk dapat menguasai Sansakerta paling tidak


dia membutuhkan sepuluh tahun. Tanpa itu bagaimana seorang muda dapat


mengenal Atharwaweda dan menjadi brahmana? Berapa umur orang yang


mengaku brahmana muda itu. Yang Mulia?"


"Dari kumisnya yang setebal kepalan, kiranya tiga puluh."


"Dengan umur tiga puluh orang baru bisa menghafal mantra-mantra


pentahbisan,"Arya Artya mengangguk. "Belum pernah terdengar ada brahmana


berkumis sekepal. Di mana Yang Mulia jumpai dia?"


Tunggul Ametung tak menjawab. Pada waktu itu Belakangka datang. Menghormat


kedua-duanya dan memulai:


"Yang Mulia, mendengar dari para prajurit tentang brahmana muda itu ..."


"Tak ada brahmana muda berkumis sekepal, Yang Mulia, percayalah," sumbar Arya


Artya.


"Serahkan persoalan ini pada sahaya,Yang Mulia. Bukan suatu perkara yang sulit."


"Tak ada brahmana seperti itu. Dia hanya penipu. Yang Mulia, sepatutnya


dihancurkan badannya dengan garukan kerang."

__ADS_1


__ADS_2