
"Tidak, Bapa Mahaguru, orang tak patut melupakannya. Juga sahaya tidak patut
membisukan suatu hal: para brahmana siapa saja yang pernah sahaya temui, hanya
mengecam-ngecam, menyumpah dan mengutuk. Tak seorang pun pernah berniat
menghadap Sri Baginda Kretajaya untuk mempersembahkan pendapatnya. Kaum
brahmana itu sendiri yang sebenarnya tak punya keberanian, mereka ketakutan
dan justru ketakutan sebelum berbuat, ketakutan untuk berbuat itu yang
menyebabkan para brahmana telah kehilangan kedudukannya selama dua ratus
tahun ini. Apa sebabnya ketakutan. Bapak Mahaguru? Bukankah itu juga pendapat
sendiri? Dan apalah artinya mengetahui, berpendapat, kemudian takut padanya?
Lihatlah, ini murid Bapa sudah bicara."
Lohgawe menunduk dengan mata tertutup menikmati kefasihan muridnya dan
buah daripada pelajaran yang diberikannya. Kata-kata itu turun naik, sarat dan
kosong, melesit tinggi dan jauh menukik.
"Pada waktu Sang Hyang Mahadewa Bathara Guru memercikkan pengertian pada
manusia, pada waktu itu hidup manusia dihidupinya.Ya, Bapa Mahaguru, maka
pengertian adalah hidup, hidup adalah dihidupi dan menghidupi."
"Cukup," Dang Hyang Lohgawe membuka matanya. "Kau masih sangat, sangat
muda. Hatimu berani dan mulutmu lebih berani lagi. Apakah kau, sebagai akibat
dari pengetahuan dan pendapatmu sanggup bicara seperti itu juga di hadapan Sri
Baginda?"
"Dia yang terlalu tinggi di atas singgasana tidak pernah melihat telapak kakinya. Dia
tak pernah ingat, pada tubuhnya ada bagian yang bernama telapak kaki.
__ADS_1
Pendengarannya tidak untuk menangkap suara dewa, juga tidak suara segala yang
di bawah telapak kaki. ia hanya dengarkan diri sendiri. Suara murid Bapa ini takkan
sampai kepadanya. Untuknya yang paling tepat hanya dijolok."
"Dijolok?" Lohgawe tercengang. "Dan akan berdamai dia dengan telapak kakinya
sendiri."
Mahaguru itu lambat-lambat berdiri, berjalan hati-hati meng-hampiri muridnya
yang masih juga duduk di tempatnya, masih terus menghamburkan kata-katanya.
Ia letakkan tangan pada bahu pemuda itu. menutup mulutnya dengan telapak
tangan, berkata pelan:
"Jangan, jangan teruskan sekarang. Ada waktunya kau ucapkan semua itu di suatu
tempat yang lebih baik. Yang kudengar bukan lagi keluar dari mulut seorang calon
brahmana. Itu lebih patut diucapkan oleh seorang calon raja, di medan perang, di
Semua diam seakan takut bergerak. Damar itu menyala dengan api tak henti
menari-nari terkena puputan angin yang menerobosi dinding bambu.
"Medan perang, medan tikai dan singgasana," Lohgawe meneruskan. "Tidak sia-sia
kuberikan ilmu padamu. Kaulah harapan bagi semua brahmana." Ia buka tangan
dari mulut muridnya, melepas destar pemuda itu, mencium ubun-ubunnya.
"Dengan api Hyang Bathara Guru dalam dadamu, dengan ketajaman para-syu
Hyang Ganesya, dengan keperkasaan Hyang Durga Mahisa-suramardini, kaulah
Arok[pembangun.], kaulah pembangun ajaran, pembangun negeri sekaligus.
Dengarkan kalian semua, sejak detik ini, dalam kesaksian Hyang Bathara Guru, yang
berpadu dalam Brahma, Syiwa dan Wisynu dengan semua syaktinya, aku turunkan
__ADS_1
pada anak ini nama yang akan membawanya pada kenyataan sebagai bagian dari
cakrawarti. Kenyataan itu kini masih membara dalam dirimu. Arok namamu."
Semua murid mengangkat sembah.
Malam itu acara ditutup dengan samadhi. Dang Hyang Lohgawe meninggalkan
tempat belajar, memasuki malam.
Semua murid kini mengepung Arok. Sejenak ia masih belum bisa bicara. Kemudian
keluar bisikannya:
"Salah seorang di antara kalian berangkat besok pagi-pagi benar ke Kapundungan.
Dalam beberapa hari ini Bapa Mahaguru akan masih memerlukan aku. Tak dapat
aku pergi meninggalkannya. Sampaikan pada mereka untuk tetap bekerja selama
aku tidak ada. Dan hati-hati. Nah, tidurlah!"
Ia tinggal seorang diri. Diambilnya bungkusan rontal hadiah dan Lohgawe.
Dibukanya bungkus dari kain hitam itu. Tetap ia belum punya selera untuk
membacanya. Ia masih juga tak dapat merumuskan perasaan apa sedang
menggelombang dalam dadanya. Nama yang diberikan padanya adalah tanda lulus
setinggi-tingginya. Untuk mendapat pengakuan dari Dewan untuk menjadi seorang
brahmana, ia tinggal meminta pada Lohgawe untuk dihadapkan. Apa kemudian
setelah jadi brahmana? Ia terlalu muda untuk itu. Apa yang bisa dicapai seorang
brahmana? Akan seperti yang lain-lain, hanya mengecam-ngecam Erlangga sampai
Kretajaya dan tidak bisa berbuat apa-apa?
Saat lulus yang tak diduga-duga itu seakan membikinnya kehilangan mata arah.
Ia angkat rontal itu, tetapi matanya menolak membacanya. Dan masih terdengardengar bisikan pelahan gurunya:
__ADS_1