Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 17


__ADS_3

"Tidak, Bapa Mahaguru, orang tak patut melupakannya. Juga sahaya tidak patut


membisukan suatu hal: para brahmana siapa saja yang pernah sahaya temui, hanya


mengecam-ngecam, menyumpah dan mengutuk. Tak seorang pun pernah berniat


menghadap Sri Baginda Kretajaya untuk mempersembahkan pendapatnya. Kaum


brahmana itu sendiri yang sebenarnya tak punya keberanian, mereka ketakutan


dan justru ketakutan sebelum berbuat, ketakutan untuk berbuat itu yang


menyebabkan para brahmana telah kehilangan kedudukannya selama dua ratus


tahun ini. Apa sebabnya ketakutan. Bapak Mahaguru? Bukankah itu juga pendapat


sendiri? Dan apalah artinya mengetahui, berpendapat, kemudian takut padanya?


Lihatlah, ini murid Bapa sudah bicara."


Lohgawe menunduk dengan mata tertutup menikmati kefasihan muridnya dan


buah daripada pelajaran yang diberikannya. Kata-kata itu turun naik, sarat dan


kosong, melesit tinggi dan jauh menukik.


"Pada waktu Sang Hyang Mahadewa Bathara Guru memercikkan pengertian pada


manusia, pada waktu itu hidup manusia dihidupinya.Ya, Bapa Mahaguru, maka


pengertian adalah hidup, hidup adalah dihidupi dan menghidupi."


"Cukup," Dang Hyang Lohgawe membuka matanya. "Kau masih sangat, sangat


muda. Hatimu berani dan mulutmu lebih berani lagi. Apakah kau, sebagai akibat


dari pengetahuan dan pendapatmu sanggup bicara seperti itu juga di hadapan Sri


Baginda?"


"Dia yang terlalu tinggi di atas singgasana tidak pernah melihat telapak kakinya. Dia


tak pernah ingat, pada tubuhnya ada bagian yang bernama telapak kaki.

__ADS_1


Pendengarannya tidak untuk menangkap suara dewa, juga tidak suara segala yang


di bawah telapak kaki. ia hanya dengarkan diri sendiri. Suara murid Bapa ini takkan


sampai kepadanya. Untuknya yang paling tepat hanya dijolok."


"Dijolok?" Lohgawe tercengang. "Dan akan berdamai dia dengan telapak kakinya


sendiri."


Mahaguru itu lambat-lambat berdiri, berjalan hati-hati meng-hampiri muridnya


yang masih juga duduk di tempatnya, masih terus menghamburkan kata-katanya.


Ia letakkan tangan pada bahu pemuda itu. menutup mulutnya dengan telapak


tangan, berkata pelan:


"Jangan, jangan teruskan sekarang. Ada waktunya kau ucapkan semua itu di suatu


tempat yang lebih baik. Yang kudengar bukan lagi keluar dari mulut seorang calon


brahmana. Itu lebih patut diucapkan oleh seorang calon raja, di medan perang, di


Semua diam seakan takut bergerak. Damar itu menyala dengan api tak henti


menari-nari terkena puputan angin yang menerobosi dinding bambu.


"Medan perang, medan tikai dan singgasana," Lohgawe meneruskan. "Tidak sia-sia


kuberikan ilmu padamu. Kaulah harapan bagi semua brahmana." Ia buka tangan


dari mulut muridnya, melepas destar pemuda itu, mencium ubun-ubunnya.


"Dengan api Hyang Bathara Guru dalam dadamu, dengan ketajaman para-syu


Hyang Ganesya, dengan keperkasaan Hyang Durga Mahisa-suramardini, kaulah


Arok[pembangun.], kaulah pembangun ajaran, pembangun negeri sekaligus.


Dengarkan kalian semua, sejak detik ini, dalam kesaksian Hyang Bathara Guru, yang


berpadu dalam Brahma, Syiwa dan Wisynu dengan semua syaktinya, aku turunkan

__ADS_1


pada anak ini nama yang akan membawanya pada kenyataan sebagai bagian dari


cakrawarti. Kenyataan itu kini masih membara dalam dirimu. Arok namamu."


Semua murid mengangkat sembah.


Malam itu acara ditutup dengan samadhi. Dang Hyang Lohgawe meninggalkan


tempat belajar, memasuki malam.


Semua murid kini mengepung Arok. Sejenak ia masih belum bisa bicara. Kemudian


keluar bisikannya:


"Salah seorang di antara kalian berangkat besok pagi-pagi benar ke Kapundungan.


Dalam beberapa hari ini Bapa Mahaguru akan masih memerlukan aku. Tak dapat


aku pergi meninggalkannya. Sampaikan pada mereka untuk tetap bekerja selama


aku tidak ada. Dan hati-hati. Nah, tidurlah!"


Ia tinggal seorang diri. Diambilnya bungkusan rontal hadiah dan Lohgawe.


Dibukanya bungkus dari kain hitam itu. Tetap ia belum punya selera untuk


membacanya. Ia masih juga tak dapat merumuskan perasaan apa sedang


menggelombang dalam dadanya. Nama yang diberikan padanya adalah tanda lulus


setinggi-tingginya. Untuk mendapat pengakuan dari Dewan untuk menjadi seorang


brahmana, ia tinggal meminta pada Lohgawe untuk dihadapkan. Apa kemudian


setelah jadi brahmana? Ia terlalu muda untuk itu. Apa yang bisa dicapai seorang


brahmana? Akan seperti yang lain-lain, hanya mengecam-ngecam Erlangga sampai


Kretajaya dan tidak bisa berbuat apa-apa?


Saat lulus yang tak diduga-duga itu seakan membikinnya kehilangan mata arah.


Ia angkat rontal itu, tetapi matanya menolak membacanya. Dan masih terdengardengar bisikan pelahan gurunya:

__ADS_1


__ADS_2