
"Jangan cemarkan Hyang Parwati di hadapanku."
"Ampun. Bukan sahaya yang pernah mencemarkan."
"Berapa kali dalam hidupmu kau pernah bersumpah demi Hyang Parwati?"[Parwati
atau Durga atau Kali, syakti dari Syiwa.]
"Baru sekali ini, Yang Mulia."
"Kalau di pura ada, akan kubawa kau ke sana untak bersumpah di hadapannya."
"Sahaya bersedia, Yang Mulia. Nanti sebentar lagi kalau Hyang Surya telah
terbenam, sahaya akan iringkan Yang Mulia ke pura."
Ken Dedes berpaling padanya untuk melihat airmukanya. Ia melihat Rimang tidak
berdusta. Dan inang itu meneruskan:
"Sebaiknya pabila bulan sudah mulai muncul dari lereng Gunung Welirang."
"Apakah seorang hamba boleh masuk untuk kepentingan itu?"
"Ada di belakang dapur sahaya bangunkan pura pribadi, ya, Yang Mulia, sahaya
anyam sendiri Hyang Parwati dari rontal."
"Kau menantang murka?"
Rimang tidak menunduk, membela diri:
"Memang hanya sahaya pribadi mendirikan Dewi Parwati, juga untuk sahaya
sendiri."
"Apakah di desamu dulu orang punya patungnya sendiri untuk puranya sendiri?"
"Tidak, Yang Mulia. Di sini, ke manakah sahaya harus pergi kalau tidak
membangunkan sesembahan sendiri?"
"Kau menyalahi aturan. Mengapa kau menyembah Parwati?"
"Siapakah yang mau dengarkan seorang sahaya dari desa kalau bukan dewi
sesembahan? Yang Mulia seorang brahmani muda, katakanlah pada sahaya:
adakah kiranya seorang dewi berkenan mendengarkan suara seorang dayang?"
Hati Ken Dedes tersentuh. Sebentar ia merenung. Bertanya:
"Apakah kastamu?"
"Hanya sudra, Yang Mulia."
Sudra hanya harus memuliakan para dewa. Dan barangkali juga para dewa tidak
mempunyai sesuatu kewajiban terhadapnya.
Ia iba terhadap wanita sudra ini. Dan ia menduga nasib Rimang tidak lebih baik dari
__ADS_1
dirinya. Ia tak bertanya. Ia berjalan menuju ke Bilik Agung. Dan dayang itu
mengikutinya membawa bakul rias.
"Kau bisa membaca?"
"Bisa, Yang Mulia"
"Tak ada rontal padamu?"
"Ah, Yang Mulia, Pandita Wanita itu melarang mendekatkan rontal apa pun pada
Yang Mulia Paramesywari."
Ken Dedes mengangguk mengerti: semua harus sesuai dalam ketidaktahuan
dengan Tunggul Ametung. Dan ia merasa dirampas dari segala yang ia perlukan.
Bahkan membaca pun ia tidak diperkenankan. "Tahukah kau siapa aku
sebenarnya?" "Setidak-tidaknya bukan dari kraton, bukan dari gedung-gedung para
satria, ya, Yang Mulia." "Di mana perbedaan antara diriku dengan mereka?" "Yang
Mulia terlalu cantik, tidak berbahagia menjadi Paramesywari, sebaliknya mereka
akan berjingkrak gila karena sukacita. Sewajarnya Yang Mulia ini seorang
brahmani." "Apakah kau duga aku seorang gadis desa?" "Nampak seperti itu, Yang
Mulia. Bukankah waktu pertama kali Yang Mulia tiba belum tahu sesuatu apa
tentang pekuwuan?"
"Tak ada yang berani bicara, Yang Mulia."
Ken Dedes memejamkan mata. Saat ini ia merasa berkewajiban mengenangkan
ayahnya. Ia tak dengar lagi Rimang bicara:
"Betapa pengasih Dewi Parwati. Apa yang sahaya pohon selama ini telah menjadi
kenyataan:Yang Mulia sudi bicara dengan sahaya ini ..."
Kenangan Ken Dedes sudah melayang pulang ke desa Panawijil.
Sore hari sebelum pergi orang setengah baya itu telah berpesan padanya:
"Anakku Dedes, boleh jadi lama aku akan tinggalkan kau. Hati-hati kau menunggu
rumah," dan ayahnya itu pergi membawa semua pemuda yang belajar secara
diam-diam padanya.
Ia tinggal di rumah hanya dengan bujang-bujang wanita.
Seorang brahmana tidak pernah meninggalkan rumah kecuali karena urusan yang
sangat penting. Ia tahu kepergiannya hendak bertemu dengan brahmana lain,
entah siapa, entah di mana, dengan satu pokok pembicaraan: mencari jalan untuk
__ADS_1
menegakkan kembali cakrawarti Hyang Mahadewa Syiwa.
Sejak kecil ia diajar untuk membuang muka, membenci, terhadap siapa saja yang
tidak mengindahkan Hyang Syiwa. Kemudian dari pelajaran ayahnya ia tahu,
Tunggul Ametung adalah seorang penjahat, karena ia tidak mengindahkan Hyang
Syiwa, bahkan memusuhi. Seorang pemuja Hyang Syiwa adalah orang yang tahu
diri, karena selalu menimbang masa dan hari lewat, menghukum diri sendiri untuk
setiap kekeliruan dan kesalahan. Orang-orang seperti dia tidak ada harganya untuk dikenal, sekali pun kekayaannya menyentuh langit dan kekuasaannya disokong dan
dibenarkan semua drubiksa sepenuh Jagad Pramudita.
Dan setiap ayahnya menerima tamu seorang brahmana ia selalu disertakan dalam
pembicaraan. Sejak kecil ibunya telah meninggal. Semua kasih-sayang Mpu Parwa
tertumpah padanya sebagai anak tunggal. Antara ayah dan anak terjalin ikatan
kemesraan, yang mengharukan bagi para brahmana yang datang berkunjung. Dan
mereka tidak menolak kesertaannya dalam samadhi bersama. Tidak jarang
samadhi itu ditujukan untuk hancurnya Tunggul Ametung, agar Hyang Manakala
tidak membinasakan semua-mua karena kesesatannya.
Malam itu ia membaca seorang diri tanpa ayahnya. Seorang bujang datang
mengganggu, memberitakan: Rombongan Sang Akuwu sedang menginap di desa
tetangga. Maka besok, bila rombongannya lewat untuk meneruskan perjalanan
memeriksa negeri, semua penduduk harus hadir di sepanjang jalan raya negeri
untuk mempersembahkan hormat.
ia tak sudi menyembah seorang akuwu yang belum patut mendapat
penghormatannya, apalagi dari ayahnya seorang yang telah mendapatkan gelar
Mpu karena keterpelajarannya. Pagi hari ia turun ke pancuran untuk
menghindarkan diri. ambil menghafal sepuluh syair Sansakerta ia bermain-main
dengan air curah dari pancuran bambu itu. Kainnya basah. Air bermanik-manik
pada bahu, muka, dan buahdadanya. Seorang bujang datang berlari-lari,
memberitakan: Datang seorang penunggang kuda ke rumah, Ayu, mencari Sang
Mpu Parwa." "Tiada kau katakan sedang pergi?" Sudah Menakutkan orangnya,
Ayu. Seorang satria berge-lang, berkroncong binggal, dan berkalung serba emas."
"Bukankah rombongan Akuwu sudah lewat?" "Sudah, Ayu, mereka tidak melalui
sini." "Tapi satria itu?"
__ADS_1
Dia tidak turun dari kudanya. Mengetahui Sang Mpu tak ada, ia perintahkan sahaya
memanggil anak Sang Mpu."