Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 18


__ADS_3

"Sejak ini kau boleh pergi dan datang, boleh meninggalkan aku untuk sementara


atau selama-lamanya. Hanya pintaku, tinggallah kau dalam beberapa hari ini


bersama denganku."


Boleh jadi ia masih hendak mendengarkan pendapatku tentang rontal ini.


Dan dengan demikian ia mulai membaca. Tulisan setumpuk itu adalah catatan


Tantripala, gurunya yang pertama, tentang dirinya.


Isi catatan itu lebih kurang sebagai berikut:


Pada suatu sore yang suram dengan gerimis tipis datang ke perguruan Tantripala


dua orang bocah, Temu dan Tanca. Guru itu bertanya:


"Siapa yang menyuruh kalian belajar kemari'" "Bapa Bango Samparan."[Bango,


bangau]


Siapa tidak mengenal nama Bango Samparan? Seorang penjudi yang lebih sering


ditemukan di tempat perjudian daripada di rumah? Seorang penjudi yang


mengirimkan bocah-bocah untuk belajar!


Dari pengelihatan sekilas ia segera tertarik pada Temu. Ia seorang yang lincah,


cerdas, matanya jernih memancar, hanya tak bisa tenang. Temannya, Tanca,


sebaliknya, seorang yang tenang, juga cerdas, hanya tidak lincah, lebih tepat dapat


dikatakan lamban.


Dalam tiga bulan dua-duanya telah bisa baca tulis dan mulai mempelajari


paramasastra Jawa.

__ADS_1


Kecerdasan mereka menyebabkan Tantripala ingin tahu tentang orangtua mereka.


Bango Samparan dipanggil. Tanca adalah anak petani biasa, yang turun-temurun


tinggal di desa Karang-ksetra. Hanya Temu yang tidak jelas siapa


orangtuanya.[Dalam beberapa cerita disebutkan orangtuanya bernama Ken Endog. Endog, berarti telor, artinya orangtuanya tidak jelas.]


Setahun kemudian Temu meninggalkan Tanca dalam pelajaran, karena Tantripala


menganggapnya telah cukup kuat untuk mempelajari Sansakerta. Ternyata anak itu


mempunyai semangat tinggi dalam belajar. Ingatan dan kecerdasannya melebihi


daripada yang diduganya. Sekali lagi ia panggil Bango Samparan, bagaimana cerita


sesungguhnya tentang asal anak itu.


Bango Samparan mengulangi ceritanya yang dulu.


"Bagaimana anak ini sampai menjadi anak-pungutmu?"


melengkapinya dengan ingatannya sendiri ....


Dengan serombongan anak-anak desa Randualas mereka melintangi jalanan


dengan batang-batang pisang. Sebuah kereta Tumapel dalam pengawalan prajurit


berkuda terhenti di depan batang-batang lintangan itu. Rombongan itu ragu-ragu


untuk menyerang, walau mereka tahu, kereta tertutup dengan pengawalan


demikian selalu membawa upeti emas dan perak ke Kediri.


Keragu-raguan mengakibatkan penyerangan itu gagal. Anak-anak itu terpaksa


buyar melarikan diri, melalui jalan-jalan yang tak dapat ditempuh oleh kuda.


Juga Temu melarikan diri, ke jurusan barat. Ia mempunyai susunan otot kuat, dan

__ADS_1


paru-paru lebih kuat lagi.


Ia masih dapat membayangkan dengan jelas saat itu. Ia lari memasuki desa


Karangksetra. Napasnya sudah hampir putus waktu ia tiba di sebuah ladang. Lima


orang bapak-beranak dilihatnya sedang mencangkul. Di belakangnya suara prajuritprajurit itu ramai bersorak menyuruh penduduk membantu menangkapnya.


Memasuki desa ini ia pasti tertangkap bila mereka dibantu beramai-ramai. Ia


melihat sebatang pacul yang berdiri tak dipergunakan. Cepat ia ambil dan mulai


ikut mencangkul. Suara sorak para prajurit itu semakin mendekat. Bapak dan


empat orang anaknya memperhatikannya, mengerti apa yang sedang terjadi, dan


meneruskan pekerjaan mereka seakan tiada terjadi sesuatu pun. "Ya, kerja saja


tenang-tenang," kata bapak itu. ia mencangkul dengan irama ayunan seperti yang


lain-lain. Para prajurit pengejar itu memasuki ladang dan memeriksa mereka


berenam, bertanya pada bapak itu: "Siapa saja semua ini?"


"Anakku semua," jawabnya, kemudian menuding ke jurusan rumah, "dan itu


rumahku."


Para prajurit pengejar itu meneruskan pemburuannya dan tak kembali lagi.


Tak lama kemudian datang seorang anak memikul air.


"Kalau dia tidak aku suruh pergi mengambil air," kata bapak itu,"tak mungkin kau


ikut mencangkul. Semestinya di sini juga kau tadi tertangkap."


"Terimakasih, Bapak."


Sejak itu ia diambil anak pungut oleh Ki Bango Samparan Ia mulai membaca lagi.

__ADS_1


__ADS_2