
"Sejak ini kau boleh pergi dan datang, boleh meninggalkan aku untuk sementara
atau selama-lamanya. Hanya pintaku, tinggallah kau dalam beberapa hari ini
bersama denganku."
Boleh jadi ia masih hendak mendengarkan pendapatku tentang rontal ini.
Dan dengan demikian ia mulai membaca. Tulisan setumpuk itu adalah catatan
Tantripala, gurunya yang pertama, tentang dirinya.
Isi catatan itu lebih kurang sebagai berikut:
Pada suatu sore yang suram dengan gerimis tipis datang ke perguruan Tantripala
dua orang bocah, Temu dan Tanca. Guru itu bertanya:
"Siapa yang menyuruh kalian belajar kemari'" "Bapa Bango Samparan."[Bango,
bangau]
Siapa tidak mengenal nama Bango Samparan? Seorang penjudi yang lebih sering
ditemukan di tempat perjudian daripada di rumah? Seorang penjudi yang
mengirimkan bocah-bocah untuk belajar!
Dari pengelihatan sekilas ia segera tertarik pada Temu. Ia seorang yang lincah,
cerdas, matanya jernih memancar, hanya tak bisa tenang. Temannya, Tanca,
sebaliknya, seorang yang tenang, juga cerdas, hanya tidak lincah, lebih tepat dapat
dikatakan lamban.
Dalam tiga bulan dua-duanya telah bisa baca tulis dan mulai mempelajari
paramasastra Jawa.
__ADS_1
Kecerdasan mereka menyebabkan Tantripala ingin tahu tentang orangtua mereka.
Bango Samparan dipanggil. Tanca adalah anak petani biasa, yang turun-temurun
tinggal di desa Karang-ksetra. Hanya Temu yang tidak jelas siapa
orangtuanya.[Dalam beberapa cerita disebutkan orangtuanya bernama Ken Endog. Endog, berarti telor, artinya orangtuanya tidak jelas.]
Setahun kemudian Temu meninggalkan Tanca dalam pelajaran, karena Tantripala
menganggapnya telah cukup kuat untuk mempelajari Sansakerta. Ternyata anak itu
mempunyai semangat tinggi dalam belajar. Ingatan dan kecerdasannya melebihi
daripada yang diduganya. Sekali lagi ia panggil Bango Samparan, bagaimana cerita
sesungguhnya tentang asal anak itu.
Bango Samparan mengulangi ceritanya yang dulu.
"Bagaimana anak ini sampai menjadi anak-pungutmu?"
melengkapinya dengan ingatannya sendiri ....
Dengan serombongan anak-anak desa Randualas mereka melintangi jalanan
dengan batang-batang pisang. Sebuah kereta Tumapel dalam pengawalan prajurit
berkuda terhenti di depan batang-batang lintangan itu. Rombongan itu ragu-ragu
untuk menyerang, walau mereka tahu, kereta tertutup dengan pengawalan
demikian selalu membawa upeti emas dan perak ke Kediri.
Keragu-raguan mengakibatkan penyerangan itu gagal. Anak-anak itu terpaksa
buyar melarikan diri, melalui jalan-jalan yang tak dapat ditempuh oleh kuda.
Juga Temu melarikan diri, ke jurusan barat. Ia mempunyai susunan otot kuat, dan
__ADS_1
paru-paru lebih kuat lagi.
Ia masih dapat membayangkan dengan jelas saat itu. Ia lari memasuki desa
Karangksetra. Napasnya sudah hampir putus waktu ia tiba di sebuah ladang. Lima
orang bapak-beranak dilihatnya sedang mencangkul. Di belakangnya suara prajuritprajurit itu ramai bersorak menyuruh penduduk membantu menangkapnya.
Memasuki desa ini ia pasti tertangkap bila mereka dibantu beramai-ramai. Ia
melihat sebatang pacul yang berdiri tak dipergunakan. Cepat ia ambil dan mulai
ikut mencangkul. Suara sorak para prajurit itu semakin mendekat. Bapak dan
empat orang anaknya memperhatikannya, mengerti apa yang sedang terjadi, dan
meneruskan pekerjaan mereka seakan tiada terjadi sesuatu pun. "Ya, kerja saja
tenang-tenang," kata bapak itu. ia mencangkul dengan irama ayunan seperti yang
lain-lain. Para prajurit pengejar itu memasuki ladang dan memeriksa mereka
berenam, bertanya pada bapak itu: "Siapa saja semua ini?"
"Anakku semua," jawabnya, kemudian menuding ke jurusan rumah, "dan itu
rumahku."
Para prajurit pengejar itu meneruskan pemburuannya dan tak kembali lagi.
Tak lama kemudian datang seorang anak memikul air.
"Kalau dia tidak aku suruh pergi mengambil air," kata bapak itu,"tak mungkin kau
ikut mencangkul. Semestinya di sini juga kau tadi tertangkap."
"Terimakasih, Bapak."
Sejak itu ia diambil anak pungut oleh Ki Bango Samparan Ia mulai membaca lagi.
__ADS_1