Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 20


__ADS_3

"Brahmaputra, ya, Brahmaputra!" ia sorongkan pada genggamannya lima buah


mata uang perak dari masing-masing satu catak, kemudian berjalan bergegas


pulang.


Dari saudara-saudara pungutnya ia mengerti, Ki Bango Samparan adalah seorang


pemain dadu.


Apa artinya lima catak untuknya? Ia bisa memegang dan memiliki ratusan kali


jumlah itu. Yang lima catak itu ia bagikan pada saudara-saudaranya. Dan mereka


menerimanya tidak dengan wajah gembira. Bahkan yang tertua dengan nada


protes bersungut:


"Apa sebabnya catak ini datang ke tangan kami melalui tanganmu?"


Pada waktu itu juga ia mengerti mereka cemburu pada kasih bapak mereka kepada


dirinya, seorang pendatang yang tak menentu asalnya. Dan ia berjanji pada dirinya


sendiri, tidak akan melakukannya lagi.


Bertahun-tahun ia tinggal pada keluarga itu. Setiap hari ia bekerja bersama


saudara-saudaranya. Bila Ki Bango Samparan pergi, ia pun pergi, mengumpulkan


teman-temannya di desa Karangksetra. Kembali ia memimpin mereka melakukan


gangguan di pusat-pusat pengumpulan dana negeri Tumapel, mempersenjatai


barisannya, dan membangunkan dana sendiri, dengan Tanca sebagai pengurusnya.


Bertahun-tahun? Berapa tahun? Tidak lebih dari tiga. Dan cemburu saudarasaudara meningkat jadi tiga kali. Ki Bango Samparan semakin sayang padanya,


hampir tak lagi turun ke sawah atau ladang, menjadi bandar dadu, dan selalu


membawa pulang kemenangan.


Semakin banyak yang diterimanya, dan dengan sembunyi-sembunyi diberikannya


pada Umang.


"Biar aku simpankan untuk Kakang," sambutnya selalu.

__ADS_1


"Buat apa aku? Untuk kau sendiri."


Dengan diam-diam Umang menyimpannya untuk dirinya. Dan ia semakin terpikat


pada budi bahasanya yang manis tanpa pamrih. Sayang dia tidak rupawan, sering ia


menyesali Umang.


Cemburu saudara-saudaranya kemudian pecah menjadi kebencian waktu mereka


menemukan simpanan Umang dan mulai memeriksanya. Dengan menangis gadis


itu mengadu pada Nyi Bango Samparan, mengakui itu milik Temu yang disimpankannya. Sekarang giliran datang padanya diperiksa mereka, dari mana catak


sebanyak itu.


"Kami tahu, kau datang kemari hanya badan berlapis selembar cawat. Kau curi dari


mana harta sebanyak ini?"


"Jangan katakan aku mencuri."


"Banyak orang menduga kau pencuri. Banyak pencurian terjadi. Biarpun tidak


tertangkap, kami tahu kau sering pergi malam."


"Apa yang disayangkan? Kami tak pernah menyayangi pencuri. Tak pernah kami


ceritakan pada siapa pun kau pernah merampok kereta upeti. Tak perlu kau


sayangi kami. Sekiranya kami tidak mengingat bapak kami, prajurit Tumapel akan


datang membekuk kau. Sudah sejak pertama kali kau datang!"


Ki Bango Samparan yang pulang dari dadu menengahi:


"Ada apa ini ramai-ramai?"


Anak-anaknya mengadu. Ki Bango Samparan yang menyedari, ia lebih mengasihi


Temu, tak dapat mengatakan semua itu berasal dari hadiahnya. Dan Temu dapat


mengerti sepenuhnya.


Melihat ketenangan, pembisuan hanya pandang mata tertuju padanya, dan suara


sayup dari sedan Umang, ia mengangkat sembah pada ayah angkatnya dan

__ADS_1


bermohon diri untuk pergi meninggalkan mereka


"Kau hendak ke mana, Temu?" tanya Nyi Bango Samparan.


"Ya, Mak, anakmu ini datang kemari tanpa asal. Apalah salah pergi juga ke mana


saja tanpa tujuan?"


Ki Bango Samparan tak mampu bicara. Umang menjerit dan menghampirinya:


"Kalau Kakang pergi, bawalah sahaya."


"Kau masih kecil, Umang," tegah ibunya.


"Dengarkan, Umang, jangan ikuti aku. Kau masih kecil. Simpanan itu adalah


milikmu, Umang. Tak ada yang berhak selain kau. Barang-barang itu bukan dari


curian, tapi dari pemberian seorang yang mengasihi Kakang."


Ia menyembah Ki Bango dan istrinya, kemudian meninggalkan rumah itu


sebagaimana tiga tahun yang lalu ia datang.


"Temu, jangan pergi dulu!"


Ia berbalik dan menghampiri ayah pungutnya. Dengan sopan ia berdiri


mengapurancang.


"Barangkali para dewa telah menentukan kau harus pergi dari sini. Kau seorang


anak yang cerdas, lincah, pandai dan ingatanmu sempurna. Biar aku tuliskan surat."


Ia menulis sampai tiga lembar rontal. "Pergilah kau pada Bapa Tantripala di desa


Kapun-dungan. Belajarlah kau baik-baik di sana. Kau seorang tani. Itu kau jangan


lupa. Biar kau sudah dibenarkan Bapa Tantripala untuk meninggalkan rumahnya,


kau harus selalu ingat: kau seorang tani."


Untuk terakhir kali ia dibuka destarnya dan dicium ubun-ubunnya.


Belum lagi jauh Umang telah terlepas dari pegangan dan memburunya. Ia berhenti


untuk menyambutnya. "Umang!"

__ADS_1


__ADS_2