
"Brahmaputra, ya, Brahmaputra!" ia sorongkan pada genggamannya lima buah
mata uang perak dari masing-masing satu catak, kemudian berjalan bergegas
pulang.
Dari saudara-saudara pungutnya ia mengerti, Ki Bango Samparan adalah seorang
pemain dadu.
Apa artinya lima catak untuknya? Ia bisa memegang dan memiliki ratusan kali
jumlah itu. Yang lima catak itu ia bagikan pada saudara-saudaranya. Dan mereka
menerimanya tidak dengan wajah gembira. Bahkan yang tertua dengan nada
protes bersungut:
"Apa sebabnya catak ini datang ke tangan kami melalui tanganmu?"
Pada waktu itu juga ia mengerti mereka cemburu pada kasih bapak mereka kepada
dirinya, seorang pendatang yang tak menentu asalnya. Dan ia berjanji pada dirinya
sendiri, tidak akan melakukannya lagi.
Bertahun-tahun ia tinggal pada keluarga itu. Setiap hari ia bekerja bersama
saudara-saudaranya. Bila Ki Bango Samparan pergi, ia pun pergi, mengumpulkan
teman-temannya di desa Karangksetra. Kembali ia memimpin mereka melakukan
gangguan di pusat-pusat pengumpulan dana negeri Tumapel, mempersenjatai
barisannya, dan membangunkan dana sendiri, dengan Tanca sebagai pengurusnya.
Bertahun-tahun? Berapa tahun? Tidak lebih dari tiga. Dan cemburu saudarasaudara meningkat jadi tiga kali. Ki Bango Samparan semakin sayang padanya,
hampir tak lagi turun ke sawah atau ladang, menjadi bandar dadu, dan selalu
membawa pulang kemenangan.
Semakin banyak yang diterimanya, dan dengan sembunyi-sembunyi diberikannya
pada Umang.
"Biar aku simpankan untuk Kakang," sambutnya selalu.
__ADS_1
"Buat apa aku? Untuk kau sendiri."
Dengan diam-diam Umang menyimpannya untuk dirinya. Dan ia semakin terpikat
pada budi bahasanya yang manis tanpa pamrih. Sayang dia tidak rupawan, sering ia
menyesali Umang.
Cemburu saudara-saudaranya kemudian pecah menjadi kebencian waktu mereka
menemukan simpanan Umang dan mulai memeriksanya. Dengan menangis gadis
itu mengadu pada Nyi Bango Samparan, mengakui itu milik Temu yang disimpankannya. Sekarang giliran datang padanya diperiksa mereka, dari mana catak
sebanyak itu.
"Kami tahu, kau datang kemari hanya badan berlapis selembar cawat. Kau curi dari
mana harta sebanyak ini?"
"Jangan katakan aku mencuri."
"Banyak orang menduga kau pencuri. Banyak pencurian terjadi. Biarpun tidak
tertangkap, kami tahu kau sering pergi malam."
"Apa yang disayangkan? Kami tak pernah menyayangi pencuri. Tak pernah kami
ceritakan pada siapa pun kau pernah merampok kereta upeti. Tak perlu kau
sayangi kami. Sekiranya kami tidak mengingat bapak kami, prajurit Tumapel akan
datang membekuk kau. Sudah sejak pertama kali kau datang!"
Ki Bango Samparan yang pulang dari dadu menengahi:
"Ada apa ini ramai-ramai?"
Anak-anaknya mengadu. Ki Bango Samparan yang menyedari, ia lebih mengasihi
Temu, tak dapat mengatakan semua itu berasal dari hadiahnya. Dan Temu dapat
mengerti sepenuhnya.
Melihat ketenangan, pembisuan hanya pandang mata tertuju padanya, dan suara
sayup dari sedan Umang, ia mengangkat sembah pada ayah angkatnya dan
__ADS_1
bermohon diri untuk pergi meninggalkan mereka
"Kau hendak ke mana, Temu?" tanya Nyi Bango Samparan.
"Ya, Mak, anakmu ini datang kemari tanpa asal. Apalah salah pergi juga ke mana
saja tanpa tujuan?"
Ki Bango Samparan tak mampu bicara. Umang menjerit dan menghampirinya:
"Kalau Kakang pergi, bawalah sahaya."
"Kau masih kecil, Umang," tegah ibunya.
"Dengarkan, Umang, jangan ikuti aku. Kau masih kecil. Simpanan itu adalah
milikmu, Umang. Tak ada yang berhak selain kau. Barang-barang itu bukan dari
curian, tapi dari pemberian seorang yang mengasihi Kakang."
Ia menyembah Ki Bango dan istrinya, kemudian meninggalkan rumah itu
sebagaimana tiga tahun yang lalu ia datang.
"Temu, jangan pergi dulu!"
Ia berbalik dan menghampiri ayah pungutnya. Dengan sopan ia berdiri
mengapurancang.
"Barangkali para dewa telah menentukan kau harus pergi dari sini. Kau seorang
anak yang cerdas, lincah, pandai dan ingatanmu sempurna. Biar aku tuliskan surat."
Ia menulis sampai tiga lembar rontal. "Pergilah kau pada Bapa Tantripala di desa
Kapun-dungan. Belajarlah kau baik-baik di sana. Kau seorang tani. Itu kau jangan
lupa. Biar kau sudah dibenarkan Bapa Tantripala untuk meninggalkan rumahnya,
kau harus selalu ingat: kau seorang tani."
Untuk terakhir kali ia dibuka destarnya dan dicium ubun-ubunnya.
Belum lagi jauh Umang telah terlepas dari pegangan dan memburunya. Ia berhenti
untuk menyambutnya. "Umang!"
__ADS_1