
"Kembali kau. Katakan dia sedang pergi ke hutan," Dedes mengangkat kain,
mendaki lereng bukit, lari menuju ke arah hutan.
Begitu melewati lereng bukit ia sampai di bentangan padang rumput. Ia berhenti
untuk meninjau keliling. Sunyi-senyap. Baru kemudian ia menyeberangi padang itu.
Lari, lari, tanpa menoleh lagi ke belakang- Ia tahu betul takkan ada orang
menyaksikannya. Rumahnya terpencil tanpa tetangga.
Sampai di tepi hutan ia terengah-engah, berhenti sebentar untuk memeriksa
keliling. Ia merasa aman. sambil memperbaiki kain dan rambut ia melangkah
lambat-lambat masuk ke dalam. Ia kenal hutan sekeliling ini. Dan ia tak pernah
takut memasukinya.
"Dedes!" panggil seseorang.
Ia terkejut, terpakukan pada tanah. Di hadapannya, di dalam semak, dilihatnya
tubuh seekor kuda kelabu. Di atasnya seorang pria setengah baya. Celananya satu
telapak di atas lutut. Kain penutupnya jatuh di atas pelana. Dan celana itu tersulam
dengan benang emas bergambar lengkung sulur dan dedaunan. Pada kaki di atas
sanggurdi berkilau binggal dengan kepala naga, bermata intan.
Sekaligus ia mengerti: itulah Akuwu Tumapel. Tunggul Ametung si terkutuk. Ia tak
mencoba menentang mukanya.
"Betul yang dikatakan orang," kata pria itu dari atas kudanya, "lima atau sepuluh
Paramesywari Kediri masih kalah dibandingkan dengan kau seorang, Dedes. Mari,
Permata, demi Hyang Wisynu, akan kududukkan kau di singgasana mendampingi
aku. Mari, mari...."
Dedes mulai kehilangan kekagetannya. Kini ketakutan menguasai dirinya. Seluruh
persendiannya goyah dan gemetar.
"Ayah! Tolong!" pekik Dedes. Tapi suara tak keluar dari mulutnya.
"Kurangkah kemuliaan seorang akuwu, maka kau tak berbuat sesuatu! Perlukah
aku rebut Kediri untuk mendapatkan jawabanmu?" ia tetap duduk di atas
punggung kuda, dengan tangan memegangi kendali.
Demi Hyang Mahadewa, Dedes menyebut dalam hari. Ia mendapatkan
ketabahannya kembali. Hilang goyah persendian dan geletar tangan, ia tentang
mata Tunggul Ametung. Mata itu bening, dengan lingkaran kuning lebih luas, dan
tidak bersinar Hidungnya tidak bangir seperti dirinya. Bibirnya tebal dan begitu
penuh mengisi wajahnya yang nampak terlalu kecil untuk itu. Dadanya bidang
berbulu Juga tangannya, juga kakinya.
"Mata yang seindah itu ..."
Sekaligus Dedes menunduk.
"Buah dada yang sebagus itu ..."
ia berbalik dan bersiap meninggalkan hutan. Dari belakangnya ia dengar suara rayu
itu:
"Memang kau tak perlu berikan penghormatan pada seorang Akuwu, Dedes. Sri
__ADS_1
Baginda Kretajaya pun belum patut mendapatkan lirikanmu," ia turun dari kuda.
Dedes mendengar kaki Akuwu menenangi semak, menyibaki lamtara muda. ia
mencoba mempercepat jalan, tapi persendiannya menolak Dan ia rasakan tangan
Tunggul Ametung menangkap bahunya. Ia kebaskan tangan itu:
"Jangan sentuh aku!" ia merasa dirinya kotor tersentuh oleh seorang Wisynu.
"Betapa galak, seperti brahmana lain-lain dan semuanya," ia tangkap tangan
Dedes, dihadapkan padanya,"sebagai akuwu aku melarang kau menjadi pedanda.
Mari Permata, aku iringkan kau ke Kutaraja, naik kuda, ke tempat terlayak bagimu.
Mari, sayang."
Tunggul Ametung menariknya dengan hati-hati pada tubuhnya. Dedes mengangkat
muka dan meludahinya. Dan akuwu itu ternyata tidak marah, bahkan
mendekapkan tubuhnya pada dadanya yang berbulu, ia gigit dada itu, dan ia rasai
keras seperti batu. Akuwu itu tertawa.
ia meronta dan meronta. Akuwu itu tertawa lunak. Dan ia tak dapat lepas dari
tangannya ia tahu Akuwu dapat membinasakannya di hutan ini. Tak ada seorang
pun menyaksikan. Saksi pun takkan dapat mencegahnya. Sekiranya ada senjata di
tangannya ia akan tikam dia. orang Wisynu yang tak kenal Hyang Yama ini.
Ia mulai mencakar dengan tangannya yang bebas.Tunggul Ametung tertawa manis.
"Anak macan juga macan," ia tertawa. "Kau, anak desa yang belum lagi tahu:
semua brahmana telah takluk menyembah pada kaum satria. Apakah Mpu Parwa,
ayahmu, belum ajarkan itu padamu?
"Bicaralah, Permata, tak urung kau akan kuboyong ke pekuwuan. Betapa banyak
wanita mengimpikan kesempatan itu, Dedes. Kau tidak suka? Justru karena itu
lebih indah lagi, lebih berharga lagi kau di mataku, di hariku. Tidakkah kau mengerti
Mpu Parwa bisa binasa karena kau? Bukankah dia sedang pergi mencari sekutusekutunya kaum brahmana? Tidakkah kau mengerti hukuman bagi persekutuan?
Diikat dengan nagabanda, seluruh keluarga, berbaris masuk ke dalam rumahnya
yang dibakar?"
"Karena hanya itu yang kau bisa lakukan." "Hanya itu?" Akuwu Tumapel senang
mendengar Dedes mau bicara "Hanya itu? Jauh lebih banyak dari itu, Permata."
"Dan jauh lebih kejam dan hina."
"Ratusan, ribuan tahun yang lalu kaum brahmana jauh lebih kejam. Tak pernahkah
kau dengar kampung-kampung yang dipersembahkan pada Hyang Durga? Itulah
pekerjaan para brahmana. Ayahmu tidak cukup jujur kalau tak pernah ajarkan itu.
Ah, putri brahmana, seorang brahmani. Aku mengerti kau merasa terhina
tersentuh olehku. Tentunya ayahmu sudah mengajarkan padamu aku hanya
seorang sudra." ia dekapkan Dedes semakin lekat, dan berbisik:
"Mulialah Sri Erlangga Bathara Wisynu, dengan titahnya semua orang bisa jadi
satria atau brahmana demi dharmanya."
Dedes tak dapat menangkis, badan maupun jiwanya. Badannya tak berdaya dalam
pelukannya, ilmu dan pengetahuannya juga tak berdaya membantahnya. Ia hanya
__ADS_1
dapat mendesis.
"Penipu!"
Dengan tangan sebelah Tunggul Ametung mengangkat tubuh Dedes dan
diciuminya mukanya, tersenyum puas:
"Adakah brahmani diajari juga bicara mengumpat? Tiada aku sangka."
"Lepaskan aku!"
"Sekali tertangkap tangan takkan lagi kau kulepaskan." "Keji! Yang mengerti
tentang kemuliaan para dewa, mengerti tentang kehinaan manusia, yang mengerti
tentang kehinaannya tidak akan lakukan perbuatan semacam ini."
Tunggul Ametung membelai-belai rambut Dedes dengan tangannya yang bebas.
"Justru karena kegaranganmu aku tergila-gila padamu, Dedes. Umpanlah aku, gigit
dan garuk, tumpahkan semua ajaran Mpu Parwa. Untuk semua itu menjadi syahlah
aku mendapatkan kau," Mengerti bahwa Tunggul Ametung tak dapat dikatakan
tanpa pengetahuan menyebabkan ia lumpuh dalam amarahnya. Dan ia dengar lagi
yang lebih menyakitkan:
"Ayolah, kutuk aku, seperti semua brahmana mengutuk semua orang di luar
kastanya. Akan aku perlihatkan pada dunia: kaum brahmana takkan bisa bikin apaapa pada waktu seorang brahmani bernama Dedes aku dudukkan di atas
singgasana Tumapel. Dengar, Dedes, Permataku, tidak percuma Sri Erlangga
mengutuk triwangsa bikinan kaum Brahmana. Kalian tak juga sedar, hidup terus
dalam keseakanan, merasa tertinggi di atas segala kasta .... Hanya mimpi Dedes,
hanya keseakanan. Itulah kekeliruan kaum brahmana! Kalian tak pernah tahu kenyataan. Dan itulah juga kejahatan ayahmu, membikin kau buta terhadap
kenyataan." "Kenyataan harus takluk pada ajaran."
Tunggul Ametung menurunkan tubuh Dedes sambil tertawa terbahak-bahak:
"Akulah kenyataan. Aku tak takluk pada kaum brahmana dan ajarannya.
Kumpulkan semua brahmana di atas bumi ini. Mereka takkan dapat taklukkan
Tunggul Ametung."
Juga mempertahankan kemuliaan ajaran ia tidak mampu. Dan semua tamu
brahmana itu memuji kecerdasannya Begitu banyak pujian dan sanjungan selama
ini .Waktu ia jatuh ke tangan musuh pokoknya begini, ternyata ia tak berdaya. Dan
Akuwu yang mendekapnya adalah kenyataan - kenyataan yang tak perlu takluk
pada ajaranmu, memperlakukan makhluknya demikian macam?
"Barangkali kau tak mengerti ucapanku. Barangkali kau lebih tahu Sansakerta
bahasa kahyangan itu daripada bahasa orang Tumapel."
"Betapa pongahnya kau seakan pemenang di atas jagad para dewa ini."
"Bagus, Dedes, senang aku mendengar suaramu, kegarangan-mu.Tapi kulepaskan
kau tidak. Tahukah kau, orang-orang Buddha itu tak memerlukan dewa-dewamu?
Orang-orang tani juga tidak- Mereka menyembah Hyang Wisynu yang pengasih
dan pemurah. Dengarkan, Dedes, hanya kaum brahmana hidup dalam mimpi,
hidup mereka pun dari kemurahanku. Jangan dengarkan janji dewa-dewamu itu.
Mereka hanya dongengan untuk bocah-bocah yang tak pernah dewasa."
__ADS_1
"Pongah!" Dedes lebih mempertahankan ajaran daripada diri sendiri.