Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 6


__ADS_3

"Barangkali kau seorang pemuja Hyang Syiwa, Borang. Kalau demikian janganlah


disinggung dengan ucapanmu apa yang kami cintai, sembah dan korbani."


"Apakah kekurangan Hyang Wisynu maka Ki Bantar sampai terusir dari desa dan


kalian diam saja? Apakah dia kurang memuja dan mengkorbani?"


"Tidak, Borang, jangan salahkan juga kami. Tumapel terus-menerus menyalahkan


kami. Kalau kau pun demikian, apalah gunanya menggiring kami ke tengah tanah


lapang ini?"


"Kalian memuja Hyang Wisynu hanya karena Akuwu Tumapel juga melakukannya?"


Angin pancaroba yang dingin itu meniup tanpa mengindahkan puncak pepohonan


yang membangkang. Dan yang berselimut kain biru dalam temaram cahaya bulan


itu tiada menjawab.


"Kekuasaan Akuwu Tumapel yang diberkahi oleh Hyang Wisynu telah membikin


kalian mengidap kemiskinan tidak terkira. Dengan segala yang diambil dari kalian


Akuwu Tumapel mendapat biaya untuk bercumbu dengan perawan-perawan kalian


sampai lupa pada Hyang Wisynu. Dengan apa yang diambil dari kalian itu juga Sri


Baginda Kretajaya di Kediri sana tak lebih baik perbuatannya. Sama sekali tak ada


artinya dibandingkan dengan kemuliaan Hyang Wisynu," ia diam untuk memberi


kesempatan pada penduduk Bantar untuk mengerti, ia bukan seorang narapraja,


juga bukan penyokong Akuwu Tumapel, bahkan menempatkan diri sebagai


lawannya.


"Nah, jawab sekarang. Adakah kalian setuju Ki Bantar dan keluarganya diusir?" Seorang bertubuh tinggi-besar juga berselimut gelap, menghampiri Borang,


menelakkan tanya: "Siapa kau sesunggahnya?"


"Jangan perhatikan siapa aku, dengarkan kata-kataku. Jangan kau kira Borang


gentar karena yang datang padaku berperawakan tinggi dan besar. Kau sudah tidak

__ADS_1


berdaya selama ini. Borang masih berdaya."


"Siapa kau?" desak orang itu.


"Kalau kau narapraja dari Tumapel, kebetulan, biar semua orang lihat dan tahu


siapa Borang. Apa maumu?"


Orang-orang dukuh Bantar, laki dan perempuan, mulai mendesak mendekati.


"Katakan berdepan-depan pada semua orang ini," si tinggi besar meneruskan, "Kau


musuh Tumapel."


"Aku bukan musuh Tumapel Aku musuh Akuwu Tunggul Ametung. Apa perlu


kuulangi?"


"Katakan kau musuh Sri Baginda Kretajaya."


"Musuh dari semua yang membenarkan Tunggul Ametung, juga musuh dari


ketidaktahuan, kebodohan. Maka itu, dengar, hanya mereka yang tidak mengenal


Hyang Mahadewa Syiwa selalu dalam cengkeraman kebodohan dan ketidaktahuan.


Hyang Bathara Guru tahu segalanya. Hyang Mahadewa, juga Hyang Bathara Guru,


Jadi kau memusuhi kami penyembah Wisynu?"


"Tidak, Kalian membutuhkan pancaran Hyang Mahadewa untuk dapat mengerti,


bahwa tinggal jadi petani pemelihara sawah, ladang dan ternak saja, membikin


kalian tidak tahu untuk siapa kalian bekerja. Sewaktu kalian tekun bekerja


memelihara apa saja, elang berdatangan menggondol segala yang kalian usahakan.


Apakah Hyang Wisynu menitahkan agar kalian memelihara elang itu dengan tekun


juga?"


"Kau menghujat, Borang."


"Aku, Borang, menghujat ketidaktahuan kalian."


"Suaramu masih kekanak-kanakan, belum mantap. Berapa umurmu maka berani

__ADS_1


bicara urusan para dewa?"


"Dilahirkan boleh jadi pada waktu kau mendapatkan restu perkawinan."


"Masih bocah tahu apa kau tentang urusan dewa?"


"Setidak-tidaknya dari Hyang Bathara Guru aku tahu, dua hari lagi kalian akan


mendapat perintah untuk mengangkut upeti ke Kediri. Dari Hyang Wisynu aku


tahu, kalian akan lakukan itu dengan patuh."


"Penghujat!"


Orang-orang yang melingkari mereka berdua diam mendengarkan pertengkaran


dalam malam dingin menggigit itu.


"Para pandita, malahan Yang Suci sendiri tak pernah terdengar bicara selancang


kau."


"Maka Borang yang memulai."


"Berani mati, kau, bocah kemarin."


"Yang lebih muda belum tentu lebih tidak tahu, belum tentu lebih pengecut


daripada kau. Dengarkan bisikan Hyang Syiwa." "Bisikan kepadamu?"


"Dengarkan kau, si-lebih-tua-daripadaku, bergabung kalian semua yang malam ini


di Bantar. Demi Hyang Wisynu, angkut semua upeti ke Kediri. Sampai ke


Sanggarana, lihat kalian ke sebelah kiri ...jangan hampiri aku, demi Hyang Durga,


hancur kau bila tak mundur lima langkah ... hancur kalian, bukan karena narapraja


Tumapel, tapi demi Hyang Durga sendiri."


Orang itu mundur tiga langkah dengan ragu-ragu.


"Dua langkah lagi.'" orang itu mengikuti perintahnya. "Dan hancur kau dan kalian di


Sanggarana sana, bila tidak berhenti di bawah pohon beringin sebelah kiri jalan,


dengan tanduk Nan-di, karena kalian tidak boleh terus, kalian harus membelok ke

__ADS_1


kiri. tunggu di bekas pertapaan Bonardana."


Anak buah Borang bertugal mengepung penduduk Bantar tanpa membuka mulut.


__ADS_2