
"Barangkali kau seorang pemuja Hyang Syiwa, Borang. Kalau demikian janganlah
disinggung dengan ucapanmu apa yang kami cintai, sembah dan korbani."
"Apakah kekurangan Hyang Wisynu maka Ki Bantar sampai terusir dari desa dan
kalian diam saja? Apakah dia kurang memuja dan mengkorbani?"
"Tidak, Borang, jangan salahkan juga kami. Tumapel terus-menerus menyalahkan
kami. Kalau kau pun demikian, apalah gunanya menggiring kami ke tengah tanah
lapang ini?"
"Kalian memuja Hyang Wisynu hanya karena Akuwu Tumapel juga melakukannya?"
Angin pancaroba yang dingin itu meniup tanpa mengindahkan puncak pepohonan
yang membangkang. Dan yang berselimut kain biru dalam temaram cahaya bulan
itu tiada menjawab.
"Kekuasaan Akuwu Tumapel yang diberkahi oleh Hyang Wisynu telah membikin
kalian mengidap kemiskinan tidak terkira. Dengan segala yang diambil dari kalian
Akuwu Tumapel mendapat biaya untuk bercumbu dengan perawan-perawan kalian
sampai lupa pada Hyang Wisynu. Dengan apa yang diambil dari kalian itu juga Sri
Baginda Kretajaya di Kediri sana tak lebih baik perbuatannya. Sama sekali tak ada
artinya dibandingkan dengan kemuliaan Hyang Wisynu," ia diam untuk memberi
kesempatan pada penduduk Bantar untuk mengerti, ia bukan seorang narapraja,
juga bukan penyokong Akuwu Tumapel, bahkan menempatkan diri sebagai
lawannya.
"Nah, jawab sekarang. Adakah kalian setuju Ki Bantar dan keluarganya diusir?" Seorang bertubuh tinggi-besar juga berselimut gelap, menghampiri Borang,
menelakkan tanya: "Siapa kau sesunggahnya?"
"Jangan perhatikan siapa aku, dengarkan kata-kataku. Jangan kau kira Borang
gentar karena yang datang padaku berperawakan tinggi dan besar. Kau sudah tidak
__ADS_1
berdaya selama ini. Borang masih berdaya."
"Siapa kau?" desak orang itu.
"Kalau kau narapraja dari Tumapel, kebetulan, biar semua orang lihat dan tahu
siapa Borang. Apa maumu?"
Orang-orang dukuh Bantar, laki dan perempuan, mulai mendesak mendekati.
"Katakan berdepan-depan pada semua orang ini," si tinggi besar meneruskan, "Kau
musuh Tumapel."
"Aku bukan musuh Tumapel Aku musuh Akuwu Tunggul Ametung. Apa perlu
kuulangi?"
"Katakan kau musuh Sri Baginda Kretajaya."
"Musuh dari semua yang membenarkan Tunggul Ametung, juga musuh dari
ketidaktahuan, kebodohan. Maka itu, dengar, hanya mereka yang tidak mengenal
Hyang Mahadewa Syiwa selalu dalam cengkeraman kebodohan dan ketidaktahuan.
Hyang Bathara Guru tahu segalanya. Hyang Mahadewa, juga Hyang Bathara Guru,
Jadi kau memusuhi kami penyembah Wisynu?"
"Tidak, Kalian membutuhkan pancaran Hyang Mahadewa untuk dapat mengerti,
bahwa tinggal jadi petani pemelihara sawah, ladang dan ternak saja, membikin
kalian tidak tahu untuk siapa kalian bekerja. Sewaktu kalian tekun bekerja
memelihara apa saja, elang berdatangan menggondol segala yang kalian usahakan.
Apakah Hyang Wisynu menitahkan agar kalian memelihara elang itu dengan tekun
juga?"
"Kau menghujat, Borang."
"Aku, Borang, menghujat ketidaktahuan kalian."
"Suaramu masih kekanak-kanakan, belum mantap. Berapa umurmu maka berani
__ADS_1
bicara urusan para dewa?"
"Dilahirkan boleh jadi pada waktu kau mendapatkan restu perkawinan."
"Masih bocah tahu apa kau tentang urusan dewa?"
"Setidak-tidaknya dari Hyang Bathara Guru aku tahu, dua hari lagi kalian akan
mendapat perintah untuk mengangkut upeti ke Kediri. Dari Hyang Wisynu aku
tahu, kalian akan lakukan itu dengan patuh."
"Penghujat!"
Orang-orang yang melingkari mereka berdua diam mendengarkan pertengkaran
dalam malam dingin menggigit itu.
"Para pandita, malahan Yang Suci sendiri tak pernah terdengar bicara selancang
kau."
"Maka Borang yang memulai."
"Berani mati, kau, bocah kemarin."
"Yang lebih muda belum tentu lebih tidak tahu, belum tentu lebih pengecut
daripada kau. Dengarkan bisikan Hyang Syiwa." "Bisikan kepadamu?"
"Dengarkan kau, si-lebih-tua-daripadaku, bergabung kalian semua yang malam ini
di Bantar. Demi Hyang Wisynu, angkut semua upeti ke Kediri. Sampai ke
Sanggarana, lihat kalian ke sebelah kiri ...jangan hampiri aku, demi Hyang Durga,
hancur kau bila tak mundur lima langkah ... hancur kalian, bukan karena narapraja
Tumapel, tapi demi Hyang Durga sendiri."
Orang itu mundur tiga langkah dengan ragu-ragu.
"Dua langkah lagi.'" orang itu mengikuti perintahnya. "Dan hancur kau dan kalian di
Sanggarana sana, bila tidak berhenti di bawah pohon beringin sebelah kiri jalan,
dengan tanduk Nan-di, karena kalian tidak boleh terus, kalian harus membelok ke
__ADS_1
kiri. tunggu di bekas pertapaan Bonardana."
Anak buah Borang bertugal mengepung penduduk Bantar tanpa membuka mulut.