Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 2


__ADS_3

Yang Suci Belakangka mengenakan jubah hitam berkalung lempengan emas


dengan hiasan dudul bergambar lambang serba Wisynu: cakra dan sangkakala.


Kalung jabatan itu diberati dengan patung garuda, juga dari emas. Semua berkilatkilat memuntahkan pantulan api dari dalamnya.


Di belakang barisan dara pengiring, berselendang aneka warna dengan buahdada


penuh menggagahi pemandangan, dengan gelang dan binggal perak dan suasa


mengangakan mulut naga.


Iringan itu berjalan selangkah dan selangkah seperti takut bumi jadi rengkah


terinjak. Tetap tinggal Yang Suci yang tiada menunduk dengan jubah gemersik pada


setiap langkah.


Delapan puluh langkah keluar dari keputrian iringan sampai di pendopo istana sang


Akuwu. Empat orang prajurit berbareng meniup sangkakala. Dan keluarlah Tunggul


Ametung dengan pakaian kebesaran, menandingi pakaian Sri Kretajaya. Ia diapit


oleh barisan narapraja, kemudian diiringkan oleh pasukan pengawal, yang


mendadak keluar dari samping-menyamping istana, menaikkan tombak dan


menghentakkan pangkalnya ke lantai.


Sangkakala berhenti berseru-seru. Akuwu Tumapel turun dari pendopo


menyambut pengantinnya, menggandengnya.


Dua orang prajurit datang membawa dua ekor kuda dengan hiasan serba perak.


Mereka mengangkat sembah kemudian mempersembahkan kuda mereka.


Tunggul Ametung menolong Dedes naik ke atas kuda yang seekor. Ia sendiri


menaiki yang lain. Dan iringan itu mengikuti di belakang berjalan kaki,


Meninggalkan pekuwuan, langsung menuju ke alun-alun. Dua orang prajurit itu

__ADS_1


menuntun kuda pengantin. Juga turun dan kuda Tunggul Ametung sendiri


menolong pengantinnya, membimbingnya mendaki tangga panggung. Janur kuning


dan daun beringin menyambut kedatangan mereka.


Dan rakyat yang menonton di seputar alun-alun itu hening tanpa sorak-sorai.


Para narapraja ikut naik ke panggung. Para pengiring berbaris bersua di bawah.


Yang Suci Belakangka berdiri di hadapan pengantin, memberi hormat, menyingkir


ke samping menghadapi rakyat. Ia angkat tongkat-sucinya. Keadaan semakin


hening. Mendadak men-derum genderang dari belakang para penonton. Dengan


tangan kanan Yang Suci mengangkat giring-giring emas dan mengge-rincingkannya


tiga kali.


Berpuluh pandita dari seluruh negeri Tumapel, yang didatangkan dari kota dan


desa dan diturunkan dari gunung-gunung Arjuna, Welirang, Kawi dan Hanung


dengan jubah aneka warna dan destar sesuai dengan warna jubahnya. Di tangan


mereka terangkat umbul-umbul kecil. Semua berjumlah empat puluh, empat puluh


pandita, empat puluh hari pengantin telah mematuhi wadad perkawinan agung


tatacara para raja dari jauh di masa silam yang sudah tak dapat diingat lagi kapan.


Di belakangnya lagi sebarisan dara belasan tahun menari dalam irama gamelan.


Pemimpinnya membawa bendera sutra merah, besar, pertanda darah perawan


pengantin diharapkan. Pakaian mereka kain batik, tanpa selembar pun baju,


dengan perhiasan dan mahkota bunga-bungaan.


Waktu sebarisan kepala desa menyusul, memikul patung dewa yang sedang duduk


di atas punggung garuda seluruhnya terbuat daripada anyaman rontal, penonton

__ADS_1


Bersorak-sorai, kemudian mengangkat sembah. Hanya para brahmana dan


brahmani, yang berada di antara para penonton dan menyembunyikan


kepercayaannya selama ini, dalam kediamannya masih dapat mengenal, patung itu


sama sekali bukan seorang dewa, hanya seorang raja yang diperdewakan:


Erlangga.


Sesampai di depan panggung semua barisan berjalan miring menjauh memasuki


tengah-tengah alun-alun. Hanya barisan patung di atas garuda itu tetap berhenti di


depan panggung.


Tunggul Ametung berdiri, menggandeng pengantinnya, dan memimpinnya


berlutut, kemudian mengangkat sembah.


Para narapraja di belakang pengantin agung juga mengangkat sembah.


Yang Suci melihat tangan Dedes gemetar dalam sembahnya. Dan ia lihat


airmatanya titik. Kemudian tangan itu jatuh lunglai di atas pangkuan. Belakangka


membantunya mengangkat tangan itu dan memperbaiki sembahnya. Berbisik


menindas:


"Dewa Sang Akuwu sekarang juga dewamu."


Tetapi tak dapat lebih lama Yang Suci menunjang sembah Dedes. Ia harus


memimpin upacara selesai wadad itu. Sembah pengantin itu jatuh lagi di


pangkuan. Belakangka berdiri, mengangkat tongkat sucinya dan giring-giringnya


pun gemerincing.


Angin pancaroba meniup keras, berpusing di tengah lapangan, membawa debu,


membubung tinggi kemudian membuyar, melarut dalam udara sore.

__ADS_1


__ADS_2