
Yang Suci Belakangka mengenakan jubah hitam berkalung lempengan emas
dengan hiasan dudul bergambar lambang serba Wisynu: cakra dan sangkakala.
Kalung jabatan itu diberati dengan patung garuda, juga dari emas. Semua berkilatkilat memuntahkan pantulan api dari dalamnya.
Di belakang barisan dara pengiring, berselendang aneka warna dengan buahdada
penuh menggagahi pemandangan, dengan gelang dan binggal perak dan suasa
mengangakan mulut naga.
Iringan itu berjalan selangkah dan selangkah seperti takut bumi jadi rengkah
terinjak. Tetap tinggal Yang Suci yang tiada menunduk dengan jubah gemersik pada
setiap langkah.
Delapan puluh langkah keluar dari keputrian iringan sampai di pendopo istana sang
Akuwu. Empat orang prajurit berbareng meniup sangkakala. Dan keluarlah Tunggul
Ametung dengan pakaian kebesaran, menandingi pakaian Sri Kretajaya. Ia diapit
oleh barisan narapraja, kemudian diiringkan oleh pasukan pengawal, yang
mendadak keluar dari samping-menyamping istana, menaikkan tombak dan
menghentakkan pangkalnya ke lantai.
Sangkakala berhenti berseru-seru. Akuwu Tumapel turun dari pendopo
menyambut pengantinnya, menggandengnya.
Dua orang prajurit datang membawa dua ekor kuda dengan hiasan serba perak.
Mereka mengangkat sembah kemudian mempersembahkan kuda mereka.
Tunggul Ametung menolong Dedes naik ke atas kuda yang seekor. Ia sendiri
menaiki yang lain. Dan iringan itu mengikuti di belakang berjalan kaki,
Meninggalkan pekuwuan, langsung menuju ke alun-alun. Dua orang prajurit itu
__ADS_1
menuntun kuda pengantin. Juga turun dan kuda Tunggul Ametung sendiri
menolong pengantinnya, membimbingnya mendaki tangga panggung. Janur kuning
dan daun beringin menyambut kedatangan mereka.
Dan rakyat yang menonton di seputar alun-alun itu hening tanpa sorak-sorai.
Para narapraja ikut naik ke panggung. Para pengiring berbaris bersua di bawah.
Yang Suci Belakangka berdiri di hadapan pengantin, memberi hormat, menyingkir
ke samping menghadapi rakyat. Ia angkat tongkat-sucinya. Keadaan semakin
hening. Mendadak men-derum genderang dari belakang para penonton. Dengan
tangan kanan Yang Suci mengangkat giring-giring emas dan mengge-rincingkannya
tiga kali.
Berpuluh pandita dari seluruh negeri Tumapel, yang didatangkan dari kota dan
desa dan diturunkan dari gunung-gunung Arjuna, Welirang, Kawi dan Hanung
dengan jubah aneka warna dan destar sesuai dengan warna jubahnya. Di tangan
mereka terangkat umbul-umbul kecil. Semua berjumlah empat puluh, empat puluh
pandita, empat puluh hari pengantin telah mematuhi wadad perkawinan agung
tatacara para raja dari jauh di masa silam yang sudah tak dapat diingat lagi kapan.
Di belakangnya lagi sebarisan dara belasan tahun menari dalam irama gamelan.
Pemimpinnya membawa bendera sutra merah, besar, pertanda darah perawan
pengantin diharapkan. Pakaian mereka kain batik, tanpa selembar pun baju,
dengan perhiasan dan mahkota bunga-bungaan.
Waktu sebarisan kepala desa menyusul, memikul patung dewa yang sedang duduk
di atas punggung garuda seluruhnya terbuat daripada anyaman rontal, penonton
__ADS_1
Bersorak-sorai, kemudian mengangkat sembah. Hanya para brahmana dan
brahmani, yang berada di antara para penonton dan menyembunyikan
kepercayaannya selama ini, dalam kediamannya masih dapat mengenal, patung itu
sama sekali bukan seorang dewa, hanya seorang raja yang diperdewakan:
Erlangga.
Sesampai di depan panggung semua barisan berjalan miring menjauh memasuki
tengah-tengah alun-alun. Hanya barisan patung di atas garuda itu tetap berhenti di
depan panggung.
Tunggul Ametung berdiri, menggandeng pengantinnya, dan memimpinnya
berlutut, kemudian mengangkat sembah.
Para narapraja di belakang pengantin agung juga mengangkat sembah.
Yang Suci melihat tangan Dedes gemetar dalam sembahnya. Dan ia lihat
airmatanya titik. Kemudian tangan itu jatuh lunglai di atas pangkuan. Belakangka
membantunya mengangkat tangan itu dan memperbaiki sembahnya. Berbisik
menindas:
"Dewa Sang Akuwu sekarang juga dewamu."
Tetapi tak dapat lebih lama Yang Suci menunjang sembah Dedes. Ia harus
memimpin upacara selesai wadad itu. Sembah pengantin itu jatuh lagi di
pangkuan. Belakangka berdiri, mengangkat tongkat sucinya dan giring-giringnya
pun gemerincing.
Angin pancaroba meniup keras, berpusing di tengah lapangan, membawa debu,
membubung tinggi kemudian membuyar, melarut dalam udara sore.
__ADS_1