
Ia merangkulnya, dan terus menangis, minta dibawa ikut. "Umang, mari aku
antarkan pulang. Pada suatu kali aku akan kembali mendapatkan kau. Percayalah."
"Aku ikut."
"Kakang bilang: tidak. Apakah Kakang pernah berbohong padamu? Mari pulang,
dan jangan pikirkan aku Pada suatu kali aku akan datang."
"Aku ikut"
"Kalau kau tak mau dengarkan, tidak ada gunanya aku datang lagi nanti. Kau
dengarkan atau tidak?" ia mengangguk dan masih menangis.
Temu menggandeng membawanya pulang, menyerahkannya pada orangtuanya,
kemudian ia pergi, diiringkan oleh tangis pilu gadis Umang ....
Anak itu mungkin sudah besar dan sudah melupakan aku, pikirnya. Ia pandangi
kelilingnya, berdiri, meniup mati damar, dan menyusul teman-temannya di
pondok. Ia lihat mereka telah tidur nyenyak dengan nafas bersahut-sahutan. Ia
letakkan rontal hadiah itu di atas bantal, kemudian merebahkan diri juga.
Sebagai terimakasih batin pada Dang Hyang Lohgawe sisa dari malam ini hendak
dipergunakannya untuk mengenangkan kembali masa silamnya. Tantripala tidak
mungkin dapat melengkapinya. Hanya dirinya sendiri yang mungkin, dan dengan
demikian memperbaiki yang kurang patut dan meningkatkan apa yang
dianggapnya telah tepat.
Ia tampilkan kembali Umang pada mata batinnya. Mengapa anak itu lebih
mengasihinya daripada saudara-saudaranya sendiri? Mengapa dia selalu melakukan segala yang bisa mendatangkan kesenangannya? Adakah secara
naluriah dia telah mencintainya sejak semula?
Ia tidak pernah mengenal cinta. Pada teman-temannya ia mendapat kesetiaan.
Dari orang-orang yang lebih tua tidak pernah. Ki Bango Samparan dan istri
mengasihinya. Tetapi Umang! Kasih atau cintakah yang ditaburkannya pada
dirinya?
Ia berjanji pada suatu kali untuk menemuinya dan mempertimbangkan sekali lagi
bagaimana seharusnya ia berlaku terhadap dia.
Kemudian Tanca ditampilkannya pada mata batinnya.
Setelah meninggalkan rumah Bango Samparan ia pergi ke sawah. Didapatinya
Tanca sedang mempersiapkan sawah ayahnya menjelang penghujan itu:
"Tanca, aku akan tinggalkan Karangksetra ini."
"Aku ikut denganmu."
"Kau harus membantu keluargamu."
"Terserah padamu bagaimana aku harus membantu, tetapi aku ikut denganmu. Ke
__ADS_1
mana kau hendak pergi?"
"Bapa Bango Samparan menyuruh aku belajar, pada Bapa Tantripala di
Kapundungan."
"Kalau begitu aku ikut denganmu."
"Kau punya orangtua, mintalah restunya."
Ia naik ke pematang, mengangkat pacul dan berangkat pulang.
"Kau mau ke mana sekarang?" tanyanya melihat Temu tidak menemaninya pulang.
"Menemui teman-teman. Aku susul kau nanti."
Siang itu teman-temannya di Karangksetra mengepungnya. Dan ia memberikan
nasihat agar tetap berseia-sekata seperti semula. Ia akan berikan petunjuk dari
Kapundungan, dan dimintanya semua saja membantu ayah Tanca, karena Tanca
akan dibawanya pergi belajar.
Di rumah Tanca ia dapatkan temannya telah siap dengan bawaannya. Orangtuanya
sangat gembira anaknya punya keinginan hendak belajar pada guru Tantripala. Ia
senang melihat temannya dilepas dengan rela dan restu.
Di tengah perjalanan ke desa Kapundungan Tanca memperlihatkan dua catak perak
pesangon dari orangtuanya. Ia sendiri mendapat pesangon rontal. Kemudian
dibicarakan harta benda milik bersama yang disimpan dalam sebuah gua di hutan.
"Barang-barang itu takkan mungkin pindah tempat. Kecuali bila ada yang
Kemudian mereka terdiam, membayang-bayangkan pengalaman belajar yang bakal
datang.
"Ki Bango Samparan benar, dia kirimkan aku pada Bapa Tantripala." "Aku pun
benar, mengikuti kau belajar"
"Ya, kita harus belajar, Tanca. Kalau tidak, kita akan begini-begini saja."
"Kita harus bisa tandingi mereka." "Bukan, kalahkan."
"Kalahkan? Bisakah kita kalahkan mereka?" "Bukankah kita sudah sering
mengalahkan mereka?" "Mereka tak pernah kalah, hanya kehilangan." "Kita pun
tak pernah kalah, tapi mendapat." "Tapi kita belum pernah kalahkan mereka." "Kita
sering kalahkan mereka. Hanya mereka terlalu banyak dan kita terlalu sedikit.
Kekuatan mereka tak habis-habisnya, dan kita terbatas. Maka kita akan belajar,
Tanca. Kemudian kita akan tahu lebih banyak, mengalahkan lebih gemilang." "Kalau
kau menang, kau akan jadi raja, Temu?" "Kau akan jadi patihku." "Selama ini aku
telah jadi patihmu." Temu tertawa terbahak. Juga Tanca. Kemudian: "Hanya kecilkecilan, Tanca." "Jadi kita belajar untuk bisa besar-besaran?" Sekali lagi Temu
terbahak tawa, kemudian lari mendahului. Dan Tanca lari mengikuti, seperti
tumitnya sendiri ....
__ADS_1
Ia menengok untuk melihat Tanca. Dari sinar pelita itu ia lihat pemuda itu tidur
dengan mulut dan tapuk mata setengah terbuka. Betapa jelek kau kalau tidur
seperti itu. Ia tutupkan selembar kain pada mulutnya. Nah, begitu kau kelihatan
lebih patut. Ia bisikkan pada telinganya:
"Patih Tanca. aku perintahkan padamu untuk bertemu dengan Ki Bango Samparan,
dan persembahkan padaku bagaimana keadaannya, dan Nyi Bango, dan Umang."
Ia tersenyum-senyum kembali ke ambinnya. Kemudian meneruskan tinjauannya
pada masa lalunya:
Sejak bertemu pertama kali ia tahu Bapa Tantnpala jatuh kasih padanya. Mata itu!
ia sering dengar guru itu menyebut. Juga Bango Samparan kasih padanya sejak
pandang pertama karena matanya. Untuk pertama kali pula dalam hidupnya di
Kapun-dungan ia melihat wajahnya pada cermin perak, didapatnya dari
penyerbuan pada seorang saudagar yang sedang meninjau keluarganya di desa itu.
Orang itu datang dari Tuban, pergi ke Gresik, memudiki Brantas melalui Porong
Erlangga. Ia perhatikan matanya, dan ia lihat memang berbeda dari yang lain-lain.
Telengnya besar dan bersinar-sinar.
Dalam perguruan ini ia tinggalkan semua temannya. Tantripala tak mengerti apa
harus diajarkannya lagi padanya. Pada suatu kali untuk menyatakan kasihnya, guru
itu membawanya masuk ke hutan. Di sana secara rahasia ia ajar tentang atman dan
brahman, bagaimana mencapai keadaan nirwikana[keadaan bersatu antara
brahman dan atman, jagad pra-mudita dan diri, makrokosmos dengan
mikrokosmos; pantheisme], bagaimana menjalankan yoga tantri untuk
mendapatkan siddhi[kesaktian.], diawali dengan sumpah untuk tidak akan
menyampaikan pada siapa pun, dan keterangan: "Aku adalah tantri memang
berasal dari yogin Samyanatera barang dua ratus tahun yang lalu. Kaum brahmana
dari aliran lama di Jawa pada umumnya menentang Buddha termasuk yoga dan
tantri, aku menganggapnya sebagai ilmu yang bisa dipelajari dan dipergunakan.
Tetapi aku tak mau bertikai dengan para brahmana lain, maka tak perlu diketahui
mereka. Tetapi untukmu, kau, pemuda penuh harapan, boleh jadi kau
membutuhkan untuk pesangon hidupmu. Kau lebih tepat merebut tempat dalam
kasta satria. Erlangga pernah menjatuhkan titah: triwangsa bukan hanya
ditentukan oleh para dewa, juga manusia bisa melakukan perpindahan kasta
karena dharmanya, sudra bisa jadi satria, sudra bisa jadi brahmana. Sejak itu
triwangsa sudah tidak murni lagi. Aku sendiri seorang brahmana bukan karena
keturunan, tapi karena ilmuku. Dan kau, Temu, kau bisa jadi satria karena
__ADS_1
kemampuanmu. Tingkah lakumu bukan lazim pada seorang sudra, tapi satria.