
"Tak ada alat padaku."
"Kau masih muda. Carilah lelaki muda. Dia akan suka membantumu."
Oti meninggalkan kali! menuju ke tempat para pembelah batu. Jantungnya
berdebaran. Ia akan mencari seorang lelaki muda menurut pilihannya sendiri. Di
pekuwuan tiada seorang lelaki sudi didekati oleh budak. Di sini semua budak Dan
betapa lama ia mengharapkan seorang lelaki yang menaruh perhatian atas dirinya,
menghiburnya, menyayanginya dan merayunya.
Memasuki daerah penggarapan batu ia melihat seorang kakek sedang memahat
sebuah relief Banaspati. Orang itu tak mengangkat pandang padanya. Matanya
yang lemah harus selalu terpusat untuk tidak membikin salah pahat. Oti berhenti
sebentar dan memperhatikan kakek itu selalu menggerayangi tempat yang habis
dipahatnya.
ia berjalan lagi barang sepuluh depa dan melihat seorang setengah baya sedang
memahat bagian dalam sikara[bagian atap candi.] kuil. Pahatan itu hanya berupa
garis-garis lurus. Ia ragu. Tak adakah yang lebih muda, yang memiliki keperkasaan
berkasih sayang? Ia berhenti di hadapannya dan menimbang-nimbang.
"Aku hendak membikin pondok. Siapa mau membantu aku?"
Orang itu meletakkan baji baja dan penohok, memandanginya dengan mata
berapi-api seperti hendak menelan seluruh kehadirannya:
"Orang baru?"
"Baru datang."
"Sayang. Sebenarnya aku juga suka. Coba pergi ke ujung sana, dia belum punya
perempuan. Sana, di bawah pohon jamblang sana. Kalau dia tidak suka, kau boleh
kembali padaku."
Oti mengucapkan terimakasih dan berjalan cepat ke arah itu. Ia tak perhatikan lagi
__ADS_1
pemahat dan pembelah batu lainnya. Ia pun tak perhatikan pedih telapak kakinya
terkena runcingan gum-pilan batu.
Di bawah jamblang ia dapatkan seorang pemuda, berbadan kukuh, hampir
telanjang bulat. Hanya selembar cawat kecil menutup kawatnya[garis lipat pada
dasar badan manusia, dari bawah ******** melalui *****, naik ke atas.]. Tapas
kelapa pada kepala itu menutupi rambutnya. Dan rambut itu sendiri jatuh terurai
pada punggungnya yang lebar. Sekaligus ia tertarik pada bahunya yang bidang dan
tubuhnya yang tinggi-besar seperti raksasa.
ia letakkan tangannya pada bahu pemuda itu dan tidak menegurnya, hanya untuk
dapat meraba kulit dan otot-ototnya yang nampak terbuat dari tembaga itu.
Dan pemuda itu meneruskan pekerjaannya tanpa memperhatikan rabaannya
sedang memahat sebuah cakra di tangan seorang bathara yang belum sempurna
wajahnya. Ia tak menoleh.
semacam ini dunia pun dapat dipanggulnya untuk hidupnya, dibawa pulang ke
pondok untuk dinikmati.
"Mau kau menolong aku?"
Pemuda itu menoleh, memandanginya. Matanya hanya satu. Ia lemparkan pahat
dan penohok. Berdiri. Matanya mengerjap.
"Baru datang?" ia lemparkan pandang ke seluruh ladang batu yang
membubungkan suara pikuk itu. Ia mengangguk membenarkan sikap semua
pemahat dan pembelah batu. Kemudian menatap Oti, yang masih terkejut karena
kematasatuannya.
"Bikin pondok?"
Oti menunduk.
"Para dewa pun tak mampu beri aku pengganti mata. Kau pandangi kakimu seperti
__ADS_1
kakimu berubah jadi biji mata untukku. Dari mana kau?"
"Kutaraja."
"Apa kesalahanmu?"
"Tolong aku dibantu membikin pondok."
"Hanya karena mataku satu kau mau punya pondok sendiri?"
Betapa tidak adilnya para dewa orang Tumapel: tubuh seindah itu dan maunya
dikurangi satu.
"Kau menyesal datang padaku? Pergi!"
Oti membuang muka.Tak dapat ia membendung air matanya, menyesali tubuh
sesempurna itu dicacatkan oleh dewa-dewanya sendiri.
"Mengapa tak pergi? Tak usah punya dan bikin pondok sendiri. Di pondokku masih
ada tempat untuk tubuhmu." Ia cari muka Oti. "Mari."
Dan tubuh Oti gemetar mendengar suaranya, dan nadanya, dan keteguhannya,
dan kekerasan hatinya. Seperti bayang-bayang ia iringkan si matasatu. Ke mana, ia
tak tahu.
Melewati padang batu yang hiruk mereka berjalan dan berjalan sampai ke tepi
hutan. Mereka menuju ke satu-satunya rumah panggung dari kayu. Seorang
berpakaian serba indah, dada berbulu, sedang berdiri di bawah geladak rumah.
Si matasatu mengangkat sembah setelah menjatuhkan lutut ke tanah. Dan Oti
mengikuti perbuatannya.
"Mundra, aku lihat akhirnya kau dapatkan juga seorang perempuan. Aku lihat dia
kuat, kokoh. Seimbang denganmu. Perempuan itu memang sepadan untukmu.
Tunggu!"
Ia naik ke atas dan turun lagi membawa dua lembar kain, memberikannya pada
Mundra. Yang selembar pada Oti.
__ADS_1