
Keterangan ayah pungutnya terasa agak berbeda daripada yang dialaminya sendiri.
Dalam catatan Tantripala itu tidak didapatkan keterangan setelah anak yang
disuruh mengambil air itu mengajak berkenalan. Ia ingat betul kata-kata Ki Bango
Sampar-an waktu itu:
"Prajurit-prajurit itu! Kerjanya hanya memburu-buru kita, mengancam kita yang
terlambat menyerahkan upeti. Mengapa kau dikejar mereka?"
Ia menceritakan duduk perkaranya.
"Betul, emas dan perak dalam kereta itu kita semua yang punya. Tidak ada
salahnya kalau kita mengambilnya kembali. Hanya tidak patut kalau dimakan
sendiri. Perbuatan itu akan menjadi sama dengan perbuatan mereka."
Ia angkat matanya dan menatap wajah Ki Bango Samparan. ia senang mendengar
seorang tua yang membenarkan tindakannya. Selama ini prajurit-prajurit Tumapel
mengejarnya, orang-orang lain mengecam, anak-anak lain menjauhi, menganggap
diri dan teman-temannya sebagai: brandalan. Orang tua yang seorang ini
membenarkan! Tentu punya alasan.
Hampir-hampir ia bertanya kalau bukan Ki Bango Samparan mendahului dengan
seruannya:
"Jagad Pramudita! Mata apakah yang sedang memandang padaku sekarang ini?" Ki
Bango Samparan mendekatinya dan memperhatikan matanya. Kemudian: "Ini
__ADS_1
bukan mata sembarang mata!"
Disuruhnya semua anaknya meneruskan pekerjaan dan ia dibawanya pulang.
"Tentunya kau lapar setelah lari-lari sejauh itu."
Istri Ki Bango Samparan. yang kemudian jadi ibu pungutnya menjamunya. Ia makan
dengan lahap, dan dua orang itu memperhatikan dengan gembira.
Setelah itu terjadi tanyajawab:
"Siapa namamu?"
"Orang memanggil sahaya si Temu.'"
"Mengapa orang memanggilmu si Temu? Bagaimana orang-tuamu memanggil?"
"Tidak pernah." "Tidak pernah?"
"Tak ada yang tahu siapa orangtua sahaya. Sahaya sendiri pun tidak tahu."
Pramudita! Para dewa telah mengirimkan anak ini kepada kita, Nyi," katanya pada
istrinya. "Siapa tahu dia putra tunggal Hyang Brahma sendiri?"
Ia masih ingat Ki Bango Samparan berdiri di hadapannya dan mengaguminya.
Pada waktu itu muncul seorang gadis kecil. Dan istri Bango Samparan mengatakan
padanya:
"Nah, ini kau mendapat abang baru. Temu namanya. Nah, Temu, ini saudaramu
yang bungsu, si Umang."
Memang semua itu tidak ditulis oleh Tantripala, ia tidak mengetahui. Mungkin juga
__ADS_1
dianggapnya tidak penting. Dalam rontal itu disebutkan bekas gurunya telah
bertahun-tahun mencari keterangan siapa sesungguhnya dirinya, dan tidak pernah
berhasil. Ia sendiri pernah ditanyai langsung, dan ia tidak memberikan sesuatu
padanya. Biarlah orang hanya tahu sampai pada anak-pungut Ki Bango Samparan.
Tulisan Tantripala itu tiba-tiba menimbulkan perasaan teri-makasih yang
mendalam pada orangtua pungut itu. Dan ia berjanji pada suatu kali akan
membalas semua kebaikannya. Juga pada semua saudara pungutnya, juga pada
Umang si gadis kecil yang suka melebihkan jatah makannya.
Ia tersenyum. Barangkali anak itu kini sudah mulai dewasa. Umang! Begitu sakitsakitan ia dulu semasa kecil.
Dan ia ingat betul hari pertama ia tinggal di rumah keluarga itu. Umang masih
menungguinya waktu Bango Samparan datang padanya dan berkata:
"Semoga kau memang putra tunggal Hyang Brahma. Sini, biar beruntung aku hari
ini," dan diciumnya ubun-ubunnya.
Keesokan harinya Ki Bango datang di tempat kerjanya di ladang, langsung
memeluknya dan mencium ubun-ubunnya, berseru:
lanjutt
episode 20 ya
jangan lupa subscribe
dan like
__ADS_1
comennya juga ya 👍😊
bay bay