Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 19


__ADS_3

Keterangan ayah pungutnya terasa agak berbeda daripada yang dialaminya sendiri.


Dalam catatan Tantripala itu tidak didapatkan keterangan setelah anak yang


disuruh mengambil air itu mengajak berkenalan. Ia ingat betul kata-kata Ki Bango


Sampar-an waktu itu:


"Prajurit-prajurit itu! Kerjanya hanya memburu-buru kita, mengancam kita yang


terlambat menyerahkan upeti. Mengapa kau dikejar mereka?"


Ia menceritakan duduk perkaranya.


"Betul, emas dan perak dalam kereta itu kita semua yang punya. Tidak ada


salahnya kalau kita mengambilnya kembali. Hanya tidak patut kalau dimakan


sendiri. Perbuatan itu akan menjadi sama dengan perbuatan mereka."


Ia angkat matanya dan menatap wajah Ki Bango Samparan. ia senang mendengar


seorang tua yang membenarkan tindakannya. Selama ini prajurit-prajurit Tumapel


mengejarnya, orang-orang lain mengecam, anak-anak lain menjauhi, menganggap


diri dan teman-temannya sebagai: brandalan. Orang tua yang seorang ini


membenarkan! Tentu punya alasan.


Hampir-hampir ia bertanya kalau bukan Ki Bango Samparan mendahului dengan


seruannya:


"Jagad Pramudita! Mata apakah yang sedang memandang padaku sekarang ini?" Ki


Bango Samparan mendekatinya dan memperhatikan matanya. Kemudian: "Ini

__ADS_1


bukan mata sembarang mata!"


Disuruhnya semua anaknya meneruskan pekerjaan dan ia dibawanya pulang.


"Tentunya kau lapar setelah lari-lari sejauh itu."


Istri Ki Bango Samparan. yang kemudian jadi ibu pungutnya menjamunya. Ia makan


dengan lahap, dan dua orang itu memperhatikan dengan gembira.


Setelah itu terjadi tanyajawab:


"Siapa namamu?"


"Orang memanggil sahaya si Temu.'"


"Mengapa orang memanggilmu si Temu? Bagaimana orang-tuamu memanggil?"


"Tidak pernah." "Tidak pernah?"


"Tak ada yang tahu siapa orangtua sahaya. Sahaya sendiri pun tidak tahu."


Pramudita! Para dewa telah mengirimkan anak ini kepada kita, Nyi," katanya pada


istrinya. "Siapa tahu dia putra tunggal Hyang Brahma sendiri?"


Ia masih ingat Ki Bango Samparan berdiri di hadapannya dan mengaguminya.


Pada waktu itu muncul seorang gadis kecil. Dan istri Bango Samparan mengatakan


padanya:


"Nah, ini kau mendapat abang baru. Temu namanya. Nah, Temu, ini saudaramu


yang bungsu, si Umang."


Memang semua itu tidak ditulis oleh Tantripala, ia tidak mengetahui. Mungkin juga

__ADS_1


dianggapnya tidak penting. Dalam rontal itu disebutkan bekas gurunya telah


bertahun-tahun mencari keterangan siapa sesungguhnya dirinya, dan tidak pernah


berhasil. Ia sendiri pernah ditanyai langsung, dan ia tidak memberikan sesuatu


padanya. Biarlah orang hanya tahu sampai pada anak-pungut Ki Bango Samparan.


Tulisan Tantripala itu tiba-tiba menimbulkan perasaan teri-makasih yang


mendalam pada orangtua pungut itu. Dan ia berjanji pada suatu kali akan


membalas semua kebaikannya. Juga pada semua saudara pungutnya, juga pada


Umang si gadis kecil yang suka melebihkan jatah makannya.


Ia tersenyum. Barangkali anak itu kini sudah mulai dewasa. Umang! Begitu sakitsakitan ia dulu semasa kecil.


Dan ia ingat betul hari pertama ia tinggal di rumah keluarga itu. Umang masih


menungguinya waktu Bango Samparan datang padanya dan berkata:


"Semoga kau memang putra tunggal Hyang Brahma. Sini, biar beruntung aku hari


ini," dan diciumnya ubun-ubunnya.


Keesokan harinya Ki Bango datang di tempat kerjanya di ladang, langsung


memeluknya dan mencium ubun-ubunnya, berseru:


lanjutt


episode 20 ya


jangan lupa subscribe


dan like

__ADS_1


comennya juga ya 👍😊


bay bay


__ADS_2