
AROK
matahari SUDAH HAMPIR TENGGELAM WAKTU IA SAMPAI Di kebun buah Dang
Hyang Lohgawe. Dihindarinya mahagurunya dan berjalan menepis mencari tempat
air. Adalah tidak patut ditemukan dalam keadaan begini kotor. Setelah
membenihkan diri ia berganti pakaian dan masuk ke pemondokan temantemannya seperguruan.
Tujuh orang itu sedang sibuk menghadapi rontal menghafal paramasastra
Sansakerta, ketahuan dari dengung ucapan mereka yang pelahan. "Tiada Bapa menanyakan aku?" ia bertanya. Semua mengangkat kepala. Dang Hyang Lohgawe
tidak menanyakan. Mereka menyingkirkan rontalnya dan dengan pandang
bertanya menatapnya.
"Dari mana saja kau? Mukamu sudah hitam biru begitu. Sudah lama kau tak
belajar."
"Kau bisa diusir," seseorang memperingatkan, "biarpun ingatanmu mendapatkan
pancaran dari Hyang Ganesya[dewa ilmu pengetahuan; berkepala gajah.]." Arok
tak pernah belajar paramasastra Sansakerta. Untuknya setiap mata pelajaran
terlalu mudah untuk disimpannya dalam ingatannya.
Dan malam itu bukan paramasastra yang keluar.
Dang Hyang Lohgawe agak lama duduk termenung di atas tikar pandan berwarnawarni. Para pelajar menunduk menanti. Dan waktu ia angkat pandangnya, matanya
tertuju padanya:
"Sudah lama aku timbang-timbang. Kau seorang muda yang cerdas, giat, gesit,
ingatanmu sangat baik, berani, tabah menghadapi segalanya. Aku tidak tahu
apakah yang kau perbuat selama ini tumbuh dari hatimu yang suci dan
pertimbanganmu yang masak," ia buka sebuah bungkusan dan mengeluarkan dari
__ADS_1
dalamnya seikatan tebal rontal. "Kau kenal tulisan ini?"
"Kenal, ya, Bapa mahaguru."
"Bukankah ini tulisan gurumu yang lama?"
"Benar, ya, Bapa mahaguru, Bapa Tantripala."
"Tahu kau apa yang ditulisnya di sini?"
"Tahu, ya, mahaguru, catatan tentang pribadi sahaya."
"Benar. Adakah waktu kau serahkan padaku pada hari pertama kau datang ke sini
telah kau baca lebih dahulu?"
"Ampun, ya Bapa, adalah bukan menjadi hak sahaya untuk membacanya, maka tak
pernah sahaya lakukan."
Dang Hyang Lohgawe menghembuskan nafas. Sinar lampu damar itu menyoroti
lehernya yang dihiasi dengan keriputan usia.
luar pengetahuanku selama ini keluar dari hati yang sakit ataukah hati yang dapat
menampung karunia para dewa, biarlah malam ini kita selesaikan dengan baik.
Setelah ini, kau bebas tanpa ikatan padaku. Kalau benar tulisan Tantripala ini kau
seorang pemuda yang bisa merusakkan kehidupan dan aturan, itu pun terserah
padamu. Setelah ini aku tidak lagi mengharapkan kedatanganmu, sekalipun kau
bebas datang dan pergi. Kau mengerti maksudku?"
"Ya, Bapa mahaguru, sahaya telah menimbulkan prihatin Bapa mahaguru Lohgawe
sesuatu yang semestinya tidak terjadi, dan tidak perlu terjadi."
"Baik. Tentu kau belum pernah melihat laut."
"Belum, ya, Bapa."
__ADS_1
"Apakah yang lain-lain belum pernah ke Gresik?" Ternyata seorang pun belum
pernah meninggalkan Tumapel. "Baik. Mari aku ceritai. Ada sebuah daerah luas di
selatan Gresik. Seluas pandang ditebarkan, hanya sawah, sawah dan sawah - sawah
hanya untuk musim kering seperti sekarang ini. Dan kau, kau dengarkan saja,"
Lohgawe memperingatkan padanya. "Coba, seorang di antara kalian sekarang
terangkan duduk perkaranya," ia menuding dengan lidi enau.
"Ya, Bapa mahaguru," yang tertuding memulai, "Pada mulanya sawah-sawah itu
adalah rawa genangan Kali Brantas pada setiap penghujan. Sri Baginda Erlangga
telah titahkan untuk membuka sebuah porong sampai ke laut. Tanah galian itu
kemudian dibikin menjadi tanggul pada kiri dan kanan. Kemudian porong itu
dipergunakan untuk mengurangi beban muara Brantas, menjadi jalanan kapal
perang bila pulang mudik." Seorang pelajar yang mendapat tudingan giliran
meneruskan: "Panjang porong itu melebihi garis tengah negeri Janggala,
diselesaikan selama tiga kali tiga puluh hari." "Dilaksanakan pada tahun Saka Seribu
..." Dang Hyang Lohgawe mendeham. Ia memindahkan perhatian kepadanya tanpa
bicara. Dan ia memulai:
"Ya, Bapa Mahaguru, sahaya belum pernah melihat Gresik, porong, pengedukan
dan penanggulan Brantas pada bagian-bagian yang diperlukan. Semua untuk
kesejahteraan kawula dan negeri, mengurangi penyakit dan bencana tahunan,
meningkatkan perdagangan dan pertahanan negeri"
Dang Hyang Lohgawe untuk kedua kali mendeham.
"Katakan apa yang kau ketahui, bukan pendapatmu tentangnya. Ayoh."
__ADS_1