Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 15


__ADS_3

AROK


matahari SUDAH HAMPIR TENGGELAM WAKTU IA SAMPAI Di kebun buah Dang


Hyang Lohgawe. Dihindarinya mahagurunya dan berjalan menepis mencari tempat


air. Adalah tidak patut ditemukan dalam keadaan begini kotor. Setelah


membenihkan diri ia berganti pakaian dan masuk ke pemondokan temantemannya seperguruan.


Tujuh orang itu sedang sibuk menghadapi rontal menghafal paramasastra


Sansakerta, ketahuan dari dengung ucapan mereka yang pelahan. "Tiada Bapa menanyakan aku?" ia bertanya. Semua mengangkat kepala. Dang Hyang Lohgawe


tidak menanyakan. Mereka menyingkirkan rontalnya dan dengan pandang


bertanya menatapnya.


"Dari mana saja kau? Mukamu sudah hitam biru begitu. Sudah lama kau tak


belajar."


"Kau bisa diusir," seseorang memperingatkan, "biarpun ingatanmu mendapatkan


pancaran dari Hyang Ganesya[dewa ilmu pengetahuan; berkepala gajah.]." Arok


tak pernah belajar paramasastra Sansakerta. Untuknya setiap mata pelajaran


terlalu mudah untuk disimpannya dalam ingatannya.


Dan malam itu bukan paramasastra yang keluar.


Dang Hyang Lohgawe agak lama duduk termenung di atas tikar pandan berwarnawarni. Para pelajar menunduk menanti. Dan waktu ia angkat pandangnya, matanya


tertuju padanya:


"Sudah lama aku timbang-timbang. Kau seorang muda yang cerdas, giat, gesit,


ingatanmu sangat baik, berani, tabah menghadapi segalanya. Aku tidak tahu


apakah yang kau perbuat selama ini tumbuh dari hatimu yang suci dan


pertimbanganmu yang masak," ia buka sebuah bungkusan dan mengeluarkan dari

__ADS_1


dalamnya seikatan tebal rontal. "Kau kenal tulisan ini?"


"Kenal, ya, Bapa mahaguru."


"Bukankah ini tulisan gurumu yang lama?"


"Benar, ya, Bapa mahaguru, Bapa Tantripala."


"Tahu kau apa yang ditulisnya di sini?"


"Tahu, ya, mahaguru, catatan tentang pribadi sahaya."


"Benar. Adakah waktu kau serahkan padaku pada hari pertama kau datang ke sini


telah kau baca lebih dahulu?"


"Ampun, ya Bapa, adalah bukan menjadi hak sahaya untuk membacanya, maka tak


pernah sahaya lakukan."


Dang Hyang Lohgawe menghembuskan nafas. Sinar lampu damar itu menyoroti


lehernya yang dihiasi dengan keriputan usia.


luar pengetahuanku selama ini keluar dari hati yang sakit ataukah hati yang dapat


menampung karunia para dewa, biarlah malam ini kita selesaikan dengan baik.


Setelah ini, kau bebas tanpa ikatan padaku. Kalau benar tulisan Tantripala ini kau


seorang pemuda yang bisa merusakkan kehidupan dan aturan, itu pun terserah


padamu. Setelah ini aku tidak lagi mengharapkan kedatanganmu, sekalipun kau


bebas datang dan pergi. Kau mengerti maksudku?"


"Ya, Bapa mahaguru, sahaya telah menimbulkan prihatin Bapa mahaguru Lohgawe


sesuatu yang semestinya tidak terjadi, dan tidak perlu terjadi."


"Baik. Tentu kau belum pernah melihat laut."


"Belum, ya, Bapa."

__ADS_1


"Apakah yang lain-lain belum pernah ke Gresik?" Ternyata seorang pun belum


pernah meninggalkan Tumapel. "Baik. Mari aku ceritai. Ada sebuah daerah luas di


selatan Gresik. Seluas pandang ditebarkan, hanya sawah, sawah dan sawah - sawah


hanya untuk musim kering seperti sekarang ini. Dan kau, kau dengarkan saja,"


Lohgawe memperingatkan padanya. "Coba, seorang di antara kalian sekarang


terangkan duduk perkaranya," ia menuding dengan lidi enau.


"Ya, Bapa mahaguru," yang tertuding memulai, "Pada mulanya sawah-sawah itu


adalah rawa genangan Kali Brantas pada setiap penghujan. Sri Baginda Erlangga


telah titahkan untuk membuka sebuah porong sampai ke laut. Tanah galian itu


kemudian dibikin menjadi tanggul pada kiri dan kanan. Kemudian porong itu


dipergunakan untuk mengurangi beban muara Brantas, menjadi jalanan kapal


perang bila pulang mudik." Seorang pelajar yang mendapat tudingan giliran


meneruskan: "Panjang porong itu melebihi garis tengah negeri Janggala,


diselesaikan selama tiga kali tiga puluh hari." "Dilaksanakan pada tahun Saka Seribu


..." Dang Hyang Lohgawe mendeham. Ia memindahkan perhatian kepadanya tanpa


bicara. Dan ia memulai:


"Ya, Bapa Mahaguru, sahaya belum pernah melihat Gresik, porong, pengedukan


dan penanggulan Brantas pada bagian-bagian yang diperlukan. Semua untuk


kesejahteraan kawula dan negeri, mengurangi penyakit dan bencana tahunan,


meningkatkan perdagangan dan pertahanan negeri"


Dang Hyang Lohgawe untuk kedua kali mendeham.


"Katakan apa yang kau ketahui, bukan pendapatmu tentangnya. Ayoh."

__ADS_1


__ADS_2