
Matamu bukan mata satria, tapi brahmana. Kau patut mendapat kelengkapan
secukupnya."
Hari pertama itu ia diajar melakukan darana[konsentrasi.] dengan pandang
matanya, sampai pada pratyahara[bebas dan pengaruh luar diri sendiri.] berlatih
sekaligus pranayama[pengaturan nafas.] untuk mencapai ekagrata[tinggal satu titik
yang diperhatikan yang nampak.] pandang, seperti dalam cerita sewaktu Arjuna
membidik dengan anak panahnya.
Di luar dugaan Tantripala, hanya dalam tiga kali latihan Temu telah berhasil.
"Temu," serunya, "dengan kemampuan seperti ini, pandangmu akan menguasai
manusia dan benda."
Dan dimulailah ia mengajarkan memasukkan cipta dan karsa dalam ekagrata. ia
menyedari betapa dengan latihannya itu benda-benda bergerak atas cipta dan
berubah bentuk menurut karsanya.[kehendak, keinginan, yang diinginkan.]
Tantripala terpakukan pada tanah melihat itu. Tiga tahun ia baru berhasil
melaksanakan. Muridnya ini hanya dalam seminggu. Ia peluk muridnya, menyebut:
"Jagad Dewa!, pimpinlah anak ini. Dia akan mencapai segala yang diimpikannya.
Dia akan menjadi mahasiddha[orang yang memiliki siddhi, orang sakti.]. Hanya
Engkaulah yang bisa memberi petunjuk. Kalau kau biarkan dia tumbuh tanpa
petunjukMu, dia akan jadi penjahat yang memunahkan kemanusiaan."
Tantripala tak berani memimpinnya lebih lanjut untuk menjadi mahasiddha.
Tanggungjawabnya sebagai guru terlalu berat. Ia kirimkan Temu pada Dang Hyang
Lohgawe.
Dan Lohgawe tidak memimpinnya menjadi mahasiddha. Ia membawanya ke jalan
ke arah brahmana ....
Sebelum menyuruhnya pergi sekali lagi ia dibawa ke hutan, mengajar, mewejang
dan berpesan:
"Dahulu kala sebelum ada Erlangga, sebelum ada Sri Dhar-mawangsa," ia mulai
bicara tentang sejarah sebagai kesukaan kaum brahmana pada umumnya, "pada
awal abad tujuh Saka, karena tak kuat menahan serangan Sriwijaya, Sailendra
melarikan diri ke Jawa dan melindungkan diri pada Sri Baginda Sun-naha dari
Mataram. Sailendra pelarian itu mendapat dari Sri Baginda Sunnaha kekuasaan
atas bumi bagian timur Mataram. Sunnaha digantikan oleh Sanjaya, dan Sanjaya
oleh Pancapana Rakai Parangkaran. Pada waktu itu Mataram telah dikuasai oleh
Sailendra. Pancapana Rakai Panangkaran sekarang menjadi taklukan, dan oleh Sri
Baginda Indra dari wangsa Sailendra, yang beragama Buddha itu, diperintahkan
membangun candi-candi Buddha. Di antara yang dibangunkannya adalah candi
Kalasan untuk memuliakan Hyang Dewi Tara.
"Tentu kau tidak kenal siapa Hyang Dewi Tara. Kau tidak mengenal agama Buddha,
__ADS_1
Mahayana, Tantrayana dan Yoga. Dia adalah Dewi Kesaktian penganut Buddha dari
Tantrayana dan Yoga. Setiap delapan tahun sekali semua dari setiap yogin dan
yogini, para mahasiddha, datang dari segala penjuru, darat dan pulau, untuk
memuliakan. Dewi Tara adalah lambang juga bagi kemenangan Buddha atas Syiwa
Mataram. Mereka menang dengan pertolongan para mahasiddha.
"Aku tidak membenci pengikut Buddha, apalagi ajarannya, bahkan yoganya,
tantrinya, aku pelajari. Karena itu, sebelum kau pindah belajar, aku berpesan dua
hal padamu: pertama, pada suatu kali dalam hidupmu, bila kau menjadi yogin atau mahasiddha, berkunjunglah ke Kalasan untuk memuliakan Dewi Tara. Kedua,
pelajari betul Yama.[Yama, larangan; didewakan jadi Yama(dipati) dewa pencabut
nyawa (mereka yang melanggar Hyang Yama).] Dang Hyang Lohgawe akan
membantumu."
Sudah lama ia menyangsikan, kini kata-kata penutup itu meyakinkannya: Tantripala
adalah seorang Buddha yang tak memperlihatkan kebuddhaannya. Ucapan itu juga
menjelaskan padanya ia sudah melewati pendidikan cantrik, mangayu. jejang-gan,
uluguntung. Kini ia sudah sampai pada ringkat cikil, tingkat kelima dalam tata
pendidikan. Di atasnya masih ada tiga tingkat lagi: wasi, resi dan bagawan.
Meneruskan belajar pada Dang Hyang Lohgawe berani ia akan mencapai tingkat
wasi.
Juga Dang Hyang Lohgawe sudah pada hari pertama terpesona oleh matanya. Dan
semua pertanyaan Mahaguru tentang dirinya ia jawab, kecuali dua hal, yoga dari
Tantripala dan masa kecilnya. Boleh jadi Mahaguru yang tinggi peradabannya itu
Sampai di situ Arok menyimpulkan: tidak semua kebenaran dan kenyataan perlu
dikatakan pada seseorang atau pada siapa pun. Pengusiran seorang guru tidak
akan memberinya sesuatu kebaikan. Bahwa haus ilmu dirasakannya seirama
dengan haus keadilan, kasih dan sayang. Dan betapa ia haus akan kasih sayang itu!
Sebagai pelajar ia ikut menggarap ladang dan sawah untuk penghidupannya. Di
waktu senggang ia pimpin teman-temannya yang dulu di Karangksetra,
Kapundungan dan juga sekarang di Pangkur.
Bila mendapat kesempatan menyendiri ia teruskan melatih ilmu dari Tantripala. Ia
tahu, dengan ilmu itu ia dapat menguasai siapa saja, bukan sekedar
mempengaruhi. Tetapi waktu diketahuinya latihan-latihan merugikan kecerdasannya, ia terpaksa menghentikannya. Tantripala pernah mengajarkan:
karunia terbesar yang paling diinginkan manusia dari para dewa ialah kekuatan
menguasai dan mempengaruhi sesamanya; dengan karunia itu orang akan
mendapat segala dalam hidupnya. Untuk menjaga agar para dewa tidak mencabut
kembali kekuatan itu, manusia harus sujud pada Hyang Yama.
Tantripala kurang betul, ia yakinkan dirinya untuk ke sekian kali. Kekuatan yang
dimaksudkan itu masih rapuh kalau yang memiliki tidak berpengetahuan seperti
Tunggul Ametung. Dan tak ada daya yang dapat memaksa seseorang untuk
__ADS_1
bersujud kepada Yama kalau dia telah begitu besar dayanya, mungkin Yama-lah
yang kemudian ditaklukkannya.
Kesimpulannya sudah tak dapat diubahnya lagi: ia akan tetap belajar untuk tidak
terlalu banyak melakukan kekeliruan, baik terhadap para dewa maupun manusia.
Dan ia terus belajar pada Dang Hyang Lohgawe. Gurunya bukan seorang
mahasiddha, seorang yang menolak segala yang bersifat Buddha, ia
mempertimbangkan segala berdasarkan ilmu dan pengetahuan yang dikuasainya.
Mahaguru itu juga menaruh kasih padanya karena kecerdasannya. Arok mendapat
kebebasan penuh daripadanya. Kebebasan itu ia pergunakan terus untuk
memimpin para pemuda menyerbui mana saja dan apa saja yang menguntungkan
Tunggul Ametung dan teman-temannya. Tumapel tidak pernah tenang. Satu hal
yang ia belum dapat menemukan adalah: sumber emas Sang Akuwu.
Dari pengalaman-pengalamannya ia mengetahui, semua pejabat Tumapel
menaruh takut bukan hanya hormat pada lambang-lambang para dewa.
"Itu berasal dari kejahatannya yang terlalu banyak terhadap sesama manusia," ia
memutuskan.
Dan pengetahuannya itu akan dipergunakannya untuk menaklukkan para pejabat
itu sendiri.
Sampai di situ ia masih tetap berpendapat: semua yang dilakukannya selama ini
tidak menyalahi Hyang Yama. Buktinya semua temannya setia padanya. Tak ada
seorang pun yang pernah berkhianat. Bahkan dari hasil rampasan-rampasan itu,
sebuah di antaranya pernah dipersembahkan untuk dirinya pribadi: sebuah mata
uang emas yang indah dengan gambar wajah seorang yang indah pula sampai
leher, dengan tulisan aneh yang ia tak pernah dapat baca.
ia berpaling pada Tanca yang masih juga nyenyak dalam tidurnya. Banyak
petualangan telah mengikatkan dirinya pada teman yang seorang itu. Dan ia
percaya dan sayang padanya.
Ia tinggalkan Tanca dan meneruskan meneropong masalalu-nya. Sudah terlalu
sering ia melakukannya, karena pekerjaan mawas diri adalah juga syarat untuk jadi
seorang brahmana yang baik. Dan ia belum pernah mengubah penilaiannya selama
ini.
Kini untuk pertama kali ia hendak menilai masalalunya sebelum jadi anak pungut Ki
Bango Samparan.
Ia tampilkan Ki Lembung di hadapan mata-batinnya. Tubuhnya tinggi. Otot-ototnya
nampak berserat-serat tetapi mengandung kekuatan tangguh. Ia seorang yang
gesit dan bermata jeli, baik di siang maupun malam hari. Dialah juga yang
mengajarinya dapat melihat dalam kegelapan: setiap pekan, pagi-pagi sehabis
tidur, mencuci matanya dengan bagian tengah air kencing sendiri. Ia lakukan terus
__ADS_1
ajarannya itu sampai sekarang. Dengan matanya tak ada satu gerak pun dapat
lepas dari perhatiannya.