Ken Arok Dan Ken Dedes

Ken Arok Dan Ken Dedes
episode 5


__ADS_3

Tunggul Ametung menangkap muka istrinya dan diciumnya pada pipi dan lehernya:


"Keayuan yang keramat ini para dewa semoga takkan merusakkannya Jangan jadi


susut keayuan ini. Dengar, Dedes, aku panggilkan keabadian untuk kecantikanmu


demi Wisynu Sang Pemelihara aku patrikan keayuanmu dalam keabadian dalam


sebutan Ken. Diam kau, sekarang, dengarkan suamimu."


Ken Dedes kehilangan keseimbangan. jatuh berlutut di hadapan peraduan.


Mendengar denting binggal yang bersintuhan tidak wajar Gede Mirah masuk lagi


ke dalam, mengangkat sembah, dan:


"Yang Mulia," ia mempersembahkan kehadirannya.


Tanpa menunggu perintah Gede Mirah membuka ikat pinggang emas Ken Dedes,


meletakkan dengan rapi pada bagian kaki peraduan, kemudian menarik tali


pinggang, dan lolos semua pakaian pengantin itu, telanjang bulat seperti boneka.


Gede Mirah mengangkatnya ke atas peraduan, tepat di atas lembaran kapas.


Ken Dedes menutup matanya dengan tangan dan menangis tersengal-sengal,


laksana boneka emas di atas lembaran perak. Bertahun ia telah mengimpikan saat


ini, waktu datang ternyata ia takut dan jijik sekaligus.


Dan Gede Mirah memindahkan tangan penutup mata itu ke samping dan


memperbaiki rias, mengeringkan airmata, berbisik:"Bila Hyang Surya besok mengirimkan restunya, tubuh dan jiwa pengantin ini


sudah jadi sepenuh wanita."


Ia tinggalkan Bilik Agung setelah mengangkat sembah.

__ADS_1


Tunggul Ametung memperhatikan tubuh istrinya yang indah tertelentang seperti


kala dilahirkan. Ia belaikan tangan pengasih pada pipi, leher, dada dan perut


pengantinnya, kemudian ia sendiri naik ke atas peraduan dan menenggelamkan


Dedes dalam pelukannya.


Kutaraja. ibukota Tumapel. tenggelam dalam dingin pancaroba. Di rumah-rumah


penjagaan, para kemit masih sibuk memperbincangkan upacara selesai


brahmacarya. Seluruh negeri baru tahu dari upacara itu, bahwa Paramesywari


Tunggul Ametung adalah anak brahmana Mpu Parwa dari desa Panawijil. Semua


orang tahu brahmana itu tidak mendapatkan pengakuan dari Yang Suci Belakangka,


maka juga tidak dibenarkan menerima pelajar. Satu-satunya murid yang resmi


adalah anak-tunggalnya: Dedes.


perkawinan itu dirahasiakan. Dan mengapa Tunggul Ametung justru hanya


mengambil gadis desa. Bukankah di Kutaraja sendiri banyak gadis cantik yang patut


dipara-mesywarikan?


Peristiwa itu mendesak berita hebat dari hampir dua bulan lalu yang menyebabkan


penjagaan istana Tumapel dan seluruh Kutaraja diperketat. Berita itu adalah


tentang Borang, seorang pemuda berperawakan kukuh, berani atau nekad, tanpa


kegemaran. Ia muncul di tanah lapangan Bantar, setengah hari perjalanan di


sebelah barat Kutaraja. Dan orang dengan diam-diam mengagungkan dan membenarkan Borang, bahkan menganggapnya sebagai titisan Hyang Wisynu


sendiri.

__ADS_1


Bantar adalah sebuah dukuh di kaki Gunung Arjuna, di pinggir jalan negeri yang


menghubungkan Tumapel dengan Kediri. Pembangun dukuh adalah Ki Bantar.


Beberapa tahun yang lalu ladang Bantar tidak tanah lapang seperti sekarang,


karena Ki Bantar setiap musim kemarau menanaminya dengan bawang merah.


Seorang narapraja dalam perjalanan ke Kediri telah mengusirnya bersama semua


keluarganya. Semua harta milik dan ladangnya dirampas oleh desa.


Di lapangan Bantar ini dua bulan yang lalu Borang muncul dalam terang cahaya


bulan. Anak buahnya telah mengerahkan seluruh penduduk untuk berkumpul dan


melingkarinya. "Akulah Borang," ia memperkenalkan diri. "Mengapa kalian diam


saja waktu Ki Bantar dan keluarganya diusir dari sini? Katakan padaku sekarang:


siapa yang bersuka hati karena ke-pergiannya?"


Penduduk yang menjadi waspada tidak menjawab. Siapa Bo-rang, orang tak tahu.


Selama ini banyak perlawanan terhadap Tunggul Ametung, dan hampir semua


telah dipatahkan. Boleh jadi Borang punggawa Tumapel, boleh jadi juga sebaliknya.


"Mengapa kalian diam saja tidak menjawab? Sekarang tidak, waktu Ki Bantar diusir


juga tidak. Apakah kalian kurang menyembah dan berkorban pada Hyang Wisynu,


maka kurang keberanian dalam hati kalian?"


"Bukankah kami tidak bersalah memuja dan mengkorbaninya, ya, Borang?"


seseorang bertanya.


"Pemujaan dan korban kalian tiada arti bila kalian tak dapatkan keberanian itu dari

__ADS_1


Hyang Wisynu."


__ADS_2