
Panggung utama tampak penuh dengan kegembiraan dan sorak sorai para penonton karena Sang juara baru Festival Silek Nagari telah muncul yaitu pendekar muda berjuluk " kesatria Dua dimensi " yang identitas aslinya disamarkan .
" Akhirnya setelah tiga tahun berturut - turut Piala bergilir Festival silek Nagari berpindah dari kampung sawah hilir ke dusun tuo Taratak bungo " MC terlihat bicara dengan datar dan mimik wajah yang sepertinya kurang bersemangat . Sepertinya ia sangat terguncang dengan kekalahan garang barusan .
" Dan juga sepertinya tahun ini dusun Taratak bungo membawa pulang dua Piala sekaligus , satu untuk cabang silek dan satu lagi untuk cabang Tari , mari kita berikan tepuk tangan meriah untuk dusun taratak bungo !!! " MC kali ini mencoba tetap menyemangati para hadirin dan seluruh penonton langsung saja bertepuk tangan dan bersorak sorai diiringi suara musik gendang yang bertalu - talu
" Dan untuk Para pemenang kami persilahkan untuk naik ke atas panggung utama untuk menerima hadiah " MC menambahkan .
kemudian tampak lima orang pemenang atau yang mewakili berjalan kearah panggung utama termasuk Sinto dan Hamidah yang dipercaya mewakili group penari dari dusun taratak bungo . Sesampai dipanggung utama mereka berdiri berdekatan namun Hamidah tidak mengenal sinto karena saat ini sinto masih memakai topeng putihnya . Dada sinto terasa berdebar saat berdiri disamping gadis cantik itu . Bau wangi yang khas dari tubuhnya membuat sinto seakan terbang melayang namun ia saat ini hanya bisa diam karena takut identitasnya aslinya terbongkar .
" Untuk penyerahan hadiah lomba Tari dan lomba Memasak Rendang langsung saja kita minta kepada Puti Bayang kumalo dari kerajaan Tanjung Meranti , kepada Tuan Puteri waktu dan tempat kami persilahkan " MC kembali bicara disambut tepuk tangan penonton .
Dari deretan bangku para Raja tampak seorang wanita cantik tinggi semampai berusia kira - kira dua puluh lima Tahun berjalan anggun menuju panggung utama . Ia adalah Puti bayang kumalo seorang puteri dari kerajaan negeri tetangga . Saat ini Ia menggunakan baju kurung mewah bewarna merah tua dan Mahkota tanduk berkilau berwarna kuning keemasan . Wajahnya yang teduh namun mudah tersenyum membuat mata para lelaki yang hadir tak bisa berpaling dari menatapnya . Sesampainya dipanggung utama ia langsung saja memeluk dan menyalami Hamidah dan perempuan yang satunya lagi yaitu pemenang lomba memasak sambil mengucapkan selamat kepada mereka berdua kemudian menyerahkan piala dan hadiah uang tunai secara simbolis . Setelah memberikan hadiah ia langsung saja menatap kearah Sinto yang ia kenal sebagai kesatria dua dimensi .
" Wahai Pendekar muda , Pertarungan tadi sungguh sangat menakjubkan , aku Puti Bayang Kumalo mewakili kerajaan Tanjung Meranti mengucapkan selamat atas kemenanganmu dan sekaligus mengundangmu untuk datang berkunjung ke istana kami " ujar Puti Bayang Kumalo
Sinto yang dari tadi memandang wanita itu tak berkesip nampak agak kaget disapa begitu rupa apalagi oleh seorang puteri kerajaan langsung saja menjawab seadanya .
" Terima kasih Tuan Puteri , suatu kehormatan bagi hamba jika dapat berkunjung ke istana Tanjung Meranti " ujar Sinto sambil menjura hormat . Sang puteri tampak tersenyum mendengar jawaban sinto .
Hamidah yang berdiri disebelah sinto nampak agak kaget saat mendengar suara bocah itu dan langsung melirik kearah sinto . Sinto langsung tau kalau Hamidah mulai curiga kepadanya .
" Aduh , Busyet , kebablasan gue " ujar Sinto dalam hati Tapi sesaat kemudian hamidah tampak acuh lagi karena Ia mungkin masih belum begitu yakin kalau itu adalah Sinto .
Sekilas Sinto melihat Perubahan di Raut wajah Puti Bayang Kumalo . wajahnya yang sangat cantik itu kini terlihat menampakkan ekspresi yang sangat sedih .
Akhir - Akhir ini memang tersiar kabar Bahwa ayahnya Datuk Raja Di Awan menderita penyakit yang sangat aneh . Sejak ayahnya menderita sakit itu ia sebagai Puteri semata wayang lah yang mewakili ayahnya untuk urusan - urusan kerajaan .
sebelum melangkah turun dari panggung utama ia kembali menoleh kearah Sinto .
" Tiga Hari sebelum Bulan Purnama bulan depan aku sangat berharap kau datang ke istana Tanjung meranti , karena aku beserta seluruh rakyatku sangat membutuhkan bantuanmu . " setelah bicara demikian Puti bayang kumalo langsung berjalan kebawah dan tentu saja pembicaraan mereka tadi hanya bisa terdengar oleh mereka yang berada dipanggung saja .
Penonton kembali bersorak Dan selanjutnya dilaksanakan penyerahan hadiah lomba pidato adat dan Pasambahan Carano oleh seorang yang bergelar Raja Gumanti dari kerajaan negeri tetangga juga . Dan selanjutnya barulah dilaksanakan pengumuman Juara Final Festival Silek .
__ADS_1
" Baiklah , Inilah saat yang kita Tunggu yaitu penyerahan Hadiah Festival Silek yang langsung akan diberikan oleh Yang dipertuan Sutan Permata Putih .
Jane yang sedari tadi memperhatikan gerak - gerik MC itu melihat satu benda mirip paku berkilat seperti perak ditelapak tangan MC . Pada saat MC itu menyebut nama Sutan permata putih ia tampak mengayunkan tangan kearah sang Raja sebagai tanda penghormatan namun besi kecil bewarna perak itu ikut melesat cepat menuju kearah sutan permata putih . Orang - orang termasuk sinto tidak melihat karena besi itu sangat kecil hanya seukuran Paku kecil tetapi Jane yang sudah mengawasinya dari tadi langsung menyadari dan tampak bergerak cepat mengeluarkan sesuatu dari saku celananya .
Yang dipertuan Sutan Permata Putih saat itu tampak sedang mengambil ancang - ancang untuk berdiri dan sambil melempar senyum ia memberi salam penghormatan kearah para bangsawan di barisan tamu undangan .
Besi kecil yang dilemparkan MC tampak melesat kearah Sutan Permata Putih . Dan Perlahan besi itu membesar dan terus membesar hingga berubah menjadi sebuah Tombak bermata perak . Sesaat kemudian Semua orang termasuk sang raja tampak pucat melihat serangan yang sangat mendadak itu .
Sekitar Tiga meter lagi Tombak itu akan menembus dada Sang raja dari arah kanan tenda terlihat sebuah bintang perak terbang melesat menghantam Tombak tersebut dan mengeluarkan bunyi gesekan besi yang sangat kuat .
" Trangggg " gemericik bunga api tampak berpijar nyala dan tombak yang tadinya mengarah tepat ke sang Raja kini bergeser satu langkah kekanan dan tampak terus melesat kearah salah satu pengawal Raja . Dubalang yang tidak lain adalah Rajo ameh itu sepertinya tidak bisa menghindar lagi .
" Akhhhhh " Tombak itu akhirnya tepat mengenai dada Rajo ameh . Darah tampak menyembur keluar dari tubuhnya yang ditembus mata tombak dari dada ke punggung . Para Penonton tampak sangat ketakutan . Mereka terpekik dan lari berhamburan kesana - sini tak karuan . Suasana di lapanan langsung saja berubah menjadi kepanikan .
Mendadak Sekeliling lapangan Kubu Gadang tampak diselimuti kabut putih pekat sehingga tak tampak lagi jalan untuk keluar dari lokasi tersebut . Terdengar Suara tertawa angker bertenaga dalam tinggi yang membuat genderang telinga seakan mau pecah . Para dubalang dari masing - masing kerajaan tampak berusaha sekuat tenaga menyelamatkan majikannya masing - masing . Begitu juga dengan para dubalang yang dipertuan Sutan Permata putih .
Reza dan Pandeka Sahar langsung menjalankan strategi yang telah disusun mereka langsung saja mengarahkan para penduduk menuju Bus yang sudah menunggu diluar . Setelah mereka semua naik keatas Bus Pandeka Saharpun menyuruh Reza untuk langsung ikut pulang bersama para warga dan ia langsung kembali untuk membantu Sinto dan yang tim lain .
" SINTO .. AKU MOHON TOLONG LINDUNGI HAMIDAH !!! SAAT INI AKU DAN PARA PENDUDUK SUDAH BERADA DI TEMPAT AMAN "
Tak lama kemudian Tampak balasan dari Sinto .
" KAU JANGAN KHAWATIR .. AKU PASTI AKAN MENJAGANYA . KAU PASTIKAN SAJA PARA WARGA YANG LAIN SAMPAI DI RUMAH DENGAN SELAMAT " .
Sinto perlahan melirik ke samping dan ia melihat hamidah yang tampak sangat ketakutan . Gadis itu hanya berdiri mematung karena untuk meminta bantuan kepadanya ia mungkin segan karena mereka tidak saling kenal . Sinto merasa sangat kasihan melihat wanita yang perlahan mulai disukainya itu tampak sangat bimbang . Sinto kemudian membuka topengnya dan memegang tangan Hamidah . Gadis itu tampak kaget dan langsung menoleh kearah Sinto .
" Jadi kamu ?" Kegundahan hamidah tampak sedikit menghilang karena saat ini ada Sinto yang berada didekatnya . Gadis itu Sebenarnya sudah dari tadi curiga yaitu pada saat mendengar sinto bicara dengan Puti Bayang Kumalo .
Sintopun memberi isyarat Hamidah untuk diam .
" Nanti akan aku jelaskan semuanya , saat ini kita harus fokus menyelamatkan diri dulu , kamu jangan khawatir karena aku akan selalu menjagamu " kata Sinto
Entah kenapa Hamidah merasa sangat tentram mendengar ungkapan yang tulus dari Sinto . Ia tampak tersenyum mengangguk kearah Sinto dan membiarkan saja genggaman sinto di pergelangan tangannya . Sementara suasana di lapangan kubu gadang tampak kian mencekam . bunyi kilat disertai petir dan gemuruh angin seolah menyambar secara bergantian .
__ADS_1
Saat ini dipanggung utama hanya ada Sinto , Hamidah dan MC acara yang tampak sangat kecewa karena serangannya meleset sementara Jane Rimbun dan juga Ihsan tampak berlari kearah Sinto dan Hamidah . Mereka bertiga tampak tertatih karena angin yang berhembus sangat kuat .
" Sinto , sepertinya kita berhadapan dengan makhluk yang begitu ganas , kekuatan gaibnya terasa sangat kuat " Ujar Jane
" Ya , dia adalah Raja jin Jahat penguasa di negeri ini , ia bernama Tuanku Rajo Nan Hitam " jawab Sinto
" Ya aku tahu , karena dia jugalah yang menculik ibuku enam belas tahun yang lalu " jawab Jane
Sinto tampak agak kaget mendengar Pengakuan Jane namun suasana sekitar mendadak menjadi Hening dan sepi namun tidak mengurangi mengerikannya situasi yang mereka hadapi . Berjarak dua puluh meter dari mereka tampak tiga Sosok berdiri tegak menatap tajam kearah mereka . Dua sosok orang tua yang terlihat sangat menyeramkan dan sudah jelas mereka bukan manusia sedangkan satu lagi adalah pemuda tampan sombong yang bernama garang . Cedera yang ia alami saat bertarung dengan Sinto tadi telah pulih setelah diobati oleh Tuanku Rajo Nan Hitam . tangan kiri garang saat ini tampak diselimuti bola api sementara tangan kanannya tampak memegang sebuah senjata mustika yang memancarkan api yaitu Pusaka Keris api . Tuanku Rajo Nan Hitam yang berdiri ditengah - tengah tampak menunjuk kearah Mc dan mengangguk seolah memberi perintah .
Langsung saja wajah si MC tampak memerah dan perlahan tubuhnya mulai membesar hingga baju dan celana yang digunakan nya saat itu tampak sobek . Kini dihadapan Sinto dan kawan - kawan berdiri sesosok makhluk seperti tikus besar setinggi lebih kurang dua setengah meter menatap mereka dengan pandangan tajam dan seolah ingin mencabik mereka . Hamidah nampak sangat ketakutan namun sinto memberi isyarat agar ia tetap tenang .
Makhluk bewujud Tikus besar itu langsung melompat menerjang kearah Sinto dan kawan - kawan namun dengan tangkas Rimbun melompat kedepan melayangkan tendangan kearah pinggang makhluk itu .
" Aku yang akan menjadi lawanmu makhluk jelek " ujar Rimbun
Tendangan yang ia layangkan tepat mengenai pinggang makhluk itu sehingga makhluk itu terpental sekitar lima langkah kebelakang . makhluk berkepala tikus itu tampak menggereng marah . ia kembali bersiap siap untuk menerjang Rimbun yang sudah siap menunggu dengan kuda - kuda bertahan .
Sementara semua yang hadir termasuk Tuanku Rajo Nan hitam nampak serius menyaksikan pertarungan Rimbun dan Makhluk ganas berkepala Tikus itu .
Dilain pihak Rombongan Sutan permata putih yang hampir sampai keluar lokasi bertemu dengan beberapa pendekar termasuk pandeka Sahar . Mereka tampak membicarakan huru hara yang sedang terjadi . Yang dipertuan Sutan Permata Putih mengucapkan terimakasih banyak kepada pandeka sahar dan Seluruh tim yang telah menyelamatkan nyawanya .
" Aku selaku Raja di negeri ini mengucapkan terima kasih banyak kepada para pendekar yang telah berjuang untuk menjaga negeri ini dari marabahaya . Namun sepertinya huru - hara ini belum lagi berakhir . Untuk itu sekali lagi aku memohon bantuan para pendekar untuk melindungi rakyat dan negeri ini , berapapun biaya nya dan bagaimanapun caranya " ujar sang Raja
" Daulat Yang dipertuan , tak perlu berterimakasih karena menjaga negeri ini adalah tanggung jawab kita bersama , namun saat ini sebaiknya yang mulia segera pergi menuju istana , seluruh teman - teman seperguruan saya ini akan mengiringi yang mulia untuk berjaha - jaga , karena semenjak menghilangnya keris Palito si Rajo enda bukan mustahil istana pun akan menjadi sasaran mereka " ujar pandeka sahar
" Baiklah , Berjuanglah sekuat tenaga pandeka dan jika badai ini berlalu aku sangat berharap kalian semua untuk datang ke istana guna membahas rencana selanjutnya " ujar Sang Raja
" Daulat , Tuanku " jawab pandeka sahar .
Akhirnya para pendekar sahabat pandeka sahar ikut mengiringi Sang Sultan ke istana . Dan dilapangan kubu gadang hanya tinggal mereka yang akan bertarung menyabung nyawa .
Bersambung ke chapter selanjutnya
__ADS_1