
Tuanku Rajo Nan Hitam tampak sangat asyik menyaksikan pertarungan Sinto melawan Garang . Karena sejak delapan Ratus tahun terakhir baru kali ini ia kembali menyaksikan pertarungan dua anak manusia yang sama - sama menggunakan ilmu kanuragan tingkat tinggi . Dua anak manusia itu tampak secara bergantian mengirimkan serangan - serangan berbahaya .
Saat ini kedua pendekar muda itu bertarung diketinggian sepuluh meter dari permukaan tanah . Setiap kali tinju Garang dan kulit Sinto bersentuhan terdengar bunyi berdesir seperti api yang tersiram air . Kondisi ini membuat stamina mereka berdua cepat sekali terkuras namun kondisi itu cukup menguntungkan bagi Sinto . Karena elemen Es yang digunakannya seolah menjadi pantangan bagi setiap ilmu kanuragan yang dimiliki garang . Meskipun dari segi tenaga dalam garang lebih tinggi dari sinto . Setelah lebih dari dua puluh jurus akhirnya serangan mereka sama - sama dapat menemui sasaran . Tinju garang tepat mendarat dipipi kiri Sinto sedangkan telapak tangan sinto pun menyusup kedada garang . Kedua bocah itu sama - sama terpental jatuh dan bergulingan di Tanah . Orang - orang yang menyaksikan pertarungan itu tampak ikut tegang .
Kedua pendekar muda itu tampak kembali berdiri dan bersiap - siap untuk melanjutkan pertarungan mereka . Garang tampak merapalkan sebuah mantra untuk mengeluarkan sebuah jurus pamungkasnya yang bernama Amarah sang Raja Api . Jurus ini adalah jurus pamungkas yang ia pelajari dari kitab kuno yang ia dapatkan dari gurunya Panglima api laknat . Saat ini sekujur tubuh garang tampak dilumuri nyala api yang merah membara . Kedua matanya tampak bersinar seperti dua bola api . Semua orang tampak mendelik pucat melihat perubahan fisik garang . Sepertinya bocah itu saat ini ingin segera menyelesaikan pertarungan dan menghabisi sinto .
Sinto yang melihat perubahan fisik dan energi pada garang tampak sedikit pucat . Sepertinya adu tenaga dalam yang dari tadi dia hindari tak bisa lagi dihindarkan . Sinto tampak merapatkan kaki dan merapal sebuah mantra yang ia dapat dari Datuk Harimau Salju saat berlatih dipuncak gunung Es . Perlahan sekujur tubuh Sinto tampak memancarkan cahaya biru lembut dan dibelakangnya saat ini terlihat bayangan Harimau putih besar setinggi Delapan Meter seolah siap menerkam Garang . Suasana dilapangan kubu gadang tampak menjadi semakin mencekam .
Tuanku Rajo Nan Hitam tampak menatap tak bergeming melihat kekuatan kedua pemuda ini . Saat ini timbul niat licik dan keji dari hati Raja Jin Hitam yang jahat itu . Ia saat ini berfikiran untuk menunda saja penyerangan terhadap kerajaan Sutan permata putih dan berniat untuk mempersiapkan Perang Besar seperti yang terjadi delapan ratus tahun yang lalu . Dengan tokoh utama kedua pemuda yaitu Sinto dan Garang . ia langsung membayangkan kehancuran besar yang akan tercipta jika perang besar itu terjadi dan disela bibirnya kini tampak ia tersenyum puas .
Garang tampak bersiap untuk segera melepaskan jurus pamungkasnya yang bernama Amarah si Raja Api sementara disisi lain Sinto juga sudah siap dengan pukulan tak bernamanya . Lapangan kubu gadang saat ini seolah didera oleh angin badai yang dahsyat . Terpal - terpal yang berada disekitar lapangan tampak meliuk liuk dihembus angin . Garang tampak memukulkan kedua tinju kedepan dan terlihat Serangkum api besar berkekuatan dahsyat menderu cepat kearah Sinto . Disisi lain Sinto pun tampak mengibaskan dua telapak tangannya kedepan sambil berteriak keras dan langsung saja Bayangan Harimau putih besar yang berada dibelakangnya itu melompat menerjang cepat disertai angin dingin sedingin Es menderu menyongsong pukulan Garang . Sosok harimau putih itu tampak mencabik - cabik api pukulan Garang sehingga separoh dari api besar itu tampak pecah dan berhamburan kesekeliling lapangan menghantam apa saja yang ditemuinya namun separoh api itu masih menderu dahsyat menerjang kearah Sinto sebagaimana bayangan harimau itu terus menerjang kearah garang .
" SRRETTT " Cakar harimau putih itu tepat mengenai dada Garang dan bocah itu tampak terpental sejauh sepuluh meter dengan luka gores berbentuk Cakar hatimau didadanya namun sebelum tubuhnya jatuh ambruk dilantai Tuanku Rajo Nan Hitam Tampak melesat menyambar tubuh garang . Sementara didepan sana Api pukulan Garang telak menghantam tubuh Sinto sehingga bocah itu terlempar sejauh delapan meter namun langsung disambut oleh pandeka sahar . Pakaian yang dikenakan Sinto Tampak terbakar dibeberapa titik dan dari mulutnya tampak mengalir darah segar pertanda racun dari pukulan garang telah masuk ketubuhnya . Namun sebelum sempat Pandeka sahar menolong terdengar suara gelak membahana diseluruh lapangan . Ternyata Tuanku Rajo Nan Hitam yang Tertawa . Dan tawanya membuat tempat itu bergetar hebat .
__ADS_1
" HAHAHAHA , Saat ini sesungguhnya sangat mudah bagiku Tuanku Rajo Nan Hitam untuk menghabisi kalian semua dan menghancurkan negeri ini , tapi aku akan memilih cara lain yang lebih menarik , Siapapun kalian!!!! sampaikan pesanku pada bocah bernama Sinto itu , harap ia segera persiapkan diri , karena perang yang sesungguhnya baru saja dimulai ,, HAHAHAHA " setelah berucap demikian Tuanku Rajo Nan Hitam melesat pergi membawa tubuh Garang yang terluka parah .
Setelah merasa kondisi mulai aman benteng piramida pun tampak terbuka . Jane dan kawan - kawan tampak berlari kearah Sinto yang terkapar tak berdaya .
" Sepertinya ia terluka parah " ujar pandeka Sahar .
" kita harus segera menyelamatkan Sinto " Jane yang bicara
Kemudian Jane tampak mengeluarkan sebuah pil penawar racun dari kantong kulit yang terikat dipinggangnya . Lalu memasukkan pil itu kedalam mulut sinto dengan dibantu oleh teman - teman yang lain .
Mereka semua tentu saja tidak mengetahui kalau tubuh sinto itu sesungguhnya kebal terhadap Racun karena didalam tangan kanan Sinto terdapat sebuah pedang mustika yang disimpan oleh orang tua berjubah biru yang ia temui di lembah timbunan kabut .
Hamidah yang mulai bisa menerima semua keanehan ini tampak kasihan melihat kondisi Sinto . sementara Pandeka Sahar dan Rimbun tampak mengalirkan tenaga dalam untuk mengusir keluar racun dalam tubuh sinto . Sesaat kemudian tubuh sinto tampak bergerak dan terbatuk batuk .
__ADS_1
Sinto ternyata sadar dari pingsannya dan melihat sekelilingnya . Ia tampak ingin bicara namun Pandeka sahar memberi isyarat agar dia tetap diam sampai kondisinya benar - benar pulih .
" Semua baik - baik saja " ujar pandeka Sahar
Sinto tampak tenang mendengar ucapan pandeka sahar dan sesaat kemudian mereka semua tampak bergerak meninggalkan tempat tersebut . Mereka memutuskan malam ini beristirahat dirumah Pandeka Sahar .
\*\*\*
Tersebut pula disebuah negeri yang terletak diseberang lautan yaitu disebuah pulau bernama kepulauan Mentawai . Seorang Ratu jahat bernama Dewi Lembah Tengkorak yang memiliki kerajaan Jin hitam yang sangat besar . Konon kabarnya Lebih besar dari kerajaan bukit mendinding alam yang dipimpin Tuanku Rajo Nan Hitam .
Istana besar mirip kastil bewarna hitam kelam itu tampak sangat angker . Para penjaga tampak memakai jubah hitam dan memegang senjata mirip sebuah tombak namun memiliki tiga mata pisau . para penjaga itu tampak sibuk berlalu lalang untuk menjaga istana tua itu . Malam itu hujan turun sangat deras disertai petir yang menyambar dahsyat . Diluar istana tampak sesosok pria tua berlari ditengah hujan seperti tergesa - gesa . Setelah dekat orang itu langsung menghadap kepada pengawal yang berdiri didepan pintu . Orang tua itu ternyata adalah pria jahat berambut merah bernama dubalang rambut api . Saat itu ia sengaja melarikan diri dari Ranah minangkabau karena takut dibunuh oleh Tuanku Rajo Nan Hitam . Orang tua itu berniat mencari perlindungan kepada dewi lembah tengkorak yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya . Setelah terlihat berbicara beberapa saat akhirnya Dubalang Rambut api dipersilahkan masuk kedalam istana besar itu .
Orang tua berjubah hitam dan berambut merah itu tampak dibawa masuk menelusuri sebuah lorong panjang . Diatap lorong tampak lampu lentera besar yang disusun rapi sebagai alat penerangan . Setelah berjalan cukup jauh akhirnya mereka sampai disebuah ruangan yang cukup luas . Didalam ruangan tersebut tampak beberapa penjaga yang tengah bersantai menikmati buah buahan dan minuman berwarna merah darah . Ditengah ruangan terdapat sebuah tangga kayu yang dijaga oleh dua algojo berbadan besar . Mereka berkepala botak dan tidak memakai baju . Hanya selempang kain berwarna hitam yang dipergunakan untuk menutupi alat kelamin mereka . Ditangan mereka tampak melekat sebuah palu besar . Tangga tersebut adalah tangga untuk menuju ke ruangan sang dewi yang bernama dewi lembah tengkorak . Setelah meminta izin kepada kedua algojo tersebut Dubalang rambut api dipersilahkan untuk naik ke lantai atas menemui Ratu iblis jahat dari kepulauan mentawai itu . Ratu yang terkenal kejam dan bengis yang namanya menjadi momok menakutkan bagi lawan maupun kawan .
__ADS_1
Bersambung ke chapter berikutnya