
Di sebuah tanah lapang yang sangat tandus matahari bersinar sangat terik . Paderi tampak sibuk mengatur para penduduk yang tengah sibuk bekerja . wajahnya tampak murung karena mengingat nanti malam Batara karsa si raksasa jahat itu akan datang meminta tumbal . Tujuh ekor kerbau besar dan Tujuh bakul nasi putih tampak disusun rapi di tengah lapangan . agaknya sesajen itu akan dipergunakan sebagai tumbal demi menyelamatkan nyawa para penduduk desa . disebuah pondok bambu paderi dan beberapa orang penduduk tampak tengah memperbincangkan sesuatu yg sangat serius .
" Tepat tengah malam nanti raksasa jahat itu akan datang mengambil persembahan ini , saya berharap penduduk yang masih anak - anak dan para wanita agar segera diungsikan terlebih dahulu , karena saya takut makhluk jahat itu tidak puas dengan sesajen yang kita siapkan " Ujar Paderi .
beberapa orang yang berada di sekelilingnya tampak mengangguk - anggukkan kepala tanda setuju . jelas sekali suram di raut wajah mereka .
" Sepertinya harta kekayaan desa kita sudah habis dan untuk Minggu depan sudah tidak ada lagi yang bisa kita persembahkan untuk makhluk itu " kata salah seorang tetua kampung
Paderi tampak menghela nafas panjang untuk meredakan kegundahan yang melanda jiwanya.
" Ya , sepertinya sudah tidak ada lagi yg bisa kita lakukan selain pasrah menunggu pertolongan dari yang Maha kuasa " jawab paderi .
Suasana di meja perjamuan tampak sangat ceria dikarenakan sang Kaisar api telah pulang dari perjalanan panjangnya. makanan dan minuman silih berganti dihidangkan mengisi meja makan yang cukup besar itu . setelah meneguk segelas Tuak sang kaisar api tampak hendak berbicara . dan seluruh hadirin yang berada didalam ruangan tersebut tampak hening dan siap menyimak apa yang hendak disampaikan oleh sang Kaisar. begitu juga dengan garang yang saat itu tengah duduk berdekatan dengan gadis cantik bernama seruni yang merupakan cucu dari sang kaisar api.
" Para kerabatku sekalian . telah puluhan tahun sejak perang besar terjadi , saat ini negeri kita masih dikucilkan oleh dunia luar , kita sebagai pemimpin dan pelaksana pemerintahan di kerajaan Api tentu saja tidak boleh tinggal diam . kita harus terus berusaha untuk memperbaiki citra kita dihadapan negeri - negeri lain agar kita tidak lagi dipandang sebagai bangsa yang bar bar dan haus darah " ujar sang kaisar membuka percakapan
Seluruh hadirin tampak mendengarkan dengan seksama dan tidak ada yang berani menyela pembicaraan sang kaisar karena sesuai dengan adat dan tradisi mereka bahwa mereka harus siap dan melaksanakan apapun yang menjadi keputusan kaisar . Garang tampak memandang tak berkesip pada orang tua bermahkota tanduk yang memiliki bobot berkisar delapan ratus kilogram itu . dan sesaat ia tertegun karena mata sang kaisar saat itu tertuju kepadanya .
" Bocah dari dunia manusia !! selamat datang di negeri api , apakah kau betah disini ? "
Garang yang terlihat sangat gugup kemudian menganggukkan kepala sambil berkata
" Aku sangat betah disini yang mulia" ujarnya sambil menjura hormat
Dalam hati sang kaisar api sangat memuji ketampanan dan keberanian garang tersebut karena jarang sekali ada orang yang berani bicara selugas itu kepadanya .
" Baguslah anak muda , kau pasti sedikit tersiksa dengan kelakuan cucuku yang sangat usil itu " ujar kaisar api sangat sambil tersenyum
Wajah seruni langsung saja cemberut sambil melihat kearah sang Kaisar namun sesaat kemudian ia tampak tertawa cekikikan karena ia tahu kakeknya itu hanya sekedar menggodanya .
" Perlu kau ketahui anak muda , saat ini kami di negeri api tengah menjalankan sebuah misi besar untuk memulihkan citra kerajaan kami yang selama ini dianggap jahat oleh negeri - negeri sekitar akibat kesalahan para pendahulu kami yaitu ayahku sendiri selaku kaisar api yang memerintah sebelum aku " lanjut Kaisar api .
Garang tampak agak kaget mendengar penuturan kaisar api karena ternyata fakta yang ditemukan nya ternyata berbeda dengan yang ia dengar selama ini dari gurunya Tuanku Rajo Hitam. Sang kaisar api pun tampaknya paham dengan apa yang difikirkan oleh Garang .
" Orang yang mengajarimu jurus - jurus api itu adalah murid dari salah seorang panglima perang ayahku yang bernama panglima api laknat , dan tentu saja didalam lubuk hati mereka saat ini masih menyimpan dendam akibat kekalahan mereka saat terjadi perang besar " lanjut sang kaisar
__ADS_1
***
Hari telah menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit . Paderi dan para tokoh - tokoh desa tampaknya telah siap sedia menunggu kedatangan Batara karsa yang sesaat lagi akan datang mengambil persembahan untuknya . Jantungnya terasa berdenyut kencang mengira ngira apa yang akan terjadi apabila raksasa jahat itu tidak puas dengan persembahan mereka kali ini . sekilas ia teringat kepada kedua sahabat yang baru kemarin sudah pergi meninggalkan desa yaitu Sinto dan Dewi kipas perak . ada sedikit penyesalan dalam hatinya karena ia telah menolak niat baik sinto untuk menolong mereka. namun ia memilih menolak karena ia tidak ingin membahayakan keselamatan sinto dan penduduk desa karena ia sangat tahu betapa mengerikan nya batara karsa itu .
Tepat Jam dua belas malam suasana pun berubah menjadi sangat mencekam . angin berhembus kencang ditambah dengan hujan petir yang dahsyat . Mereka semua telah paham bahwasanya itu adalah tanda-tanda kedatangan makhluk menyeramkan itu . kemudian Paderi dan para penduduk dikejutkan dengan suara yang menggelegar kuat seolah menggetarkan tanah.
" Hahaha ... Sesuai Perjanjian Aku telah datang menjemput persembahan kalian "
Sesosok makhluk setinggi pohon enam meter Tampak menyeruak keluar dari balik semak - semak dan langsung menuju ke tengah - tengah lapangan tepat di depan persembahan yang dihidangkan. Tanpa basa-basi ia langsung melahap makanan yang disediakan. tujuh ekor kerbau dan tujuh bakul nasi ia lahap dengan rakusnya . para penduduk hanya bisa melihat dengan wajah penuh ketakutan. tak selang berapa lama makhluk buas itu tampak sudah mulai kenyang dan meninggalkan sisa makanan nya terserak begitu saja di tanah . potongan potongan tubuh kerbau tampak tergeletak menggidik kan . setelah minum air satu gentong raksasa itu kemudian menoleh kepada paderi dan para tokoh desa .
" Bagus sekali , bagus , aku puas !!! Hahaha"
" Namun malam ini aku sepertinya punya kehendak lain nya , aku sangat kesepian tinggal di hutan dan aku membutuhkan seorang isteri .. segera Carikan perempuan paling cantik di desa ini untuk kubawa " kata monster itu setengah berteriak
Paderi dan para tetua kampung tampak saling pandang dan di wajah mereka tampak sekali aura ketakutan yang sangat. setelah berunding beberapa saat salah seorang tetua adat berbicara sambil membungkuk hormat kepada raksasa itu .
" Mohon ampun Datuk , kami tidak memiliki seorang gadis pun di desa ini yang pantas untuk menjadi isteri Datuk , harap datuk memaklumi " ujar tetua adat tersebut sambil menggigil ketakutan
Batara karsa tampak menarik nafas berat dan menggereng marah .
Serangkum angin kencang berhembus dari kibasan tangan Batara karsa dan melemparkan tetua adat itu se jauh sepuluh meter ke belakang. namun sebelum tubuh orang tua itu menyentuh tanah sesosok bayangan hitam datang menyambut tubuh orang tua itu .
" Hentikan kegilaan mu makhluk jelek!!!!! " teriak seorang pemuda yang tidak lain adalah Sinto .
Dewi kipas perak tampak berdiri disampingnya sambil membuat posisi menyerang. kipas perak tampak dikembang tanda ia siap untuk melancarkan pukulan sakti . Paderi tampak terkejut dengan kedatangan Sinto namun dalam hati ia sangat bersyukur Sinto kembali karena ia merasa kondisi saat itu memang sudah sangat darurat.
Sementara di depan sana Raksasa Hitam itu tampak sangat Maret mendengar makian dari mulut sinto . ia tampak mengepal tinju dan langsung saja menerjang kearah sinto . sinto yang agak kaget karena tidak mengira raksasa itu akan langsung menyerang langsung saja melempar tubuh tetua adat itu kearah paderi .
" Paderi , selamatkan orang tua ini dan bawa pergi semua orang yang ada disini " teriaknya
Paderi langsung saja melompat dengan kecepatan tinggi sambil menyambut tubuh orang tua itu dan kemudian ia langsung saja mengevakuasi warga ketempat yang aman .
Sesaat sebelum Tinju Raksasa itu meremukkan kepalanya sinto langsung berguling sambil melayangkan tinju kearah pinggang kanan raksasa itu . Tinju bertenaga dalam tinggi itu tepat mengenai pinggang dan membuat raksasa itu sedikit meringis karena sekujur tubuhnya seolah disengat aliran listrik . sebelum sempat ia menoleh kearah sinto yang kini berada dibelakang nya serangkum angin panas pun menderu menghantap wajahnya sehingga ia terjatuh terjerembab ditanah . ternyata angin itu berasal dari serangan Dewi kipas perak .
Batara karsa tampak sangat marah karena ia berhasil ditumbangkan pada serangan pertama . ia langsung berdiri dan langsung menerjang kearah dewi kipas perak . Sang dewi pun melompat kebelakang dan satu pukulan raksasa itu berhasil dielakkan . namun sebatang pohon yang berada didekat itu tampak patah akibat angin pukulan raksasa itu . Sinto yang melihat kejadian itu langsung geleng kepala .
__ADS_1
" Kalau kena di kepala bisa berabe juga tu " gumamnya
Batara karsa semakin bersemangat menyerang Dewi kipas perak dan di kejauhan terdengar suara para penduduk memberikan semangat dan dukungan kepada Sinto dan Dewi kipas perak yang tengah berjuang melindungi mereka.
Dewi kipas perak sepertinya sengaja mengulur waktu dengan selalu menghindar untuk membuat raksasa itu lelah . dan benar saja setelah beberapa saat gerakan raksasa itu mulai melambat dan sinto yang melihat kesempatan itu langsung menyiapkan sebuah pukulan tangan kosong dengan tenaga dalam penuh. Di depan sana Batara karsa tampak sangat marah dan terus menyerang Dewi kipas perak yang selalu menghindar dengan lincah . hingga pada suatu saat sang Raksasa tampak tergopoh akibat terlalu lelah Dewi kipas perak langsung berteriak.
" Sekarang Sinto !!! "
Sinto yang sedari tadi menunggu kesempatan itu langsung melesat dan menghantam dada raksasa itu dengan pukulan sakti berkekuatan penuh karena ia tak ingin main - main menghadapi makhluk yang sangat berbahaya itu .
" Krakhhhhkkk !!!!!! " Terdengar bunyi tulang yang remuk dan sesaat itu juga tubuh Batara karsa langsung terjungkal jatuh ketanah dan setelah beberapa kali mengerang ia langsung diam tak bernyawa.
Para penduduk yang melihat dari kejauhan langsung bersorak kegirangan dan berlarian kearah sinto dan dewi kipas perak .
Sesaat kemudian pun jasad raksasa itu berubah menjadi tubuh orang tua memakai blangkon dengan dada hancur berlobang dan masih mengeluarkan darah hitam . orang itu adalah dukun jahat yang telah menipu para penduduk desa dengan iming-iming akan diberikan kekayaan .
Para penduduk kemudian bersama sama menguburkan mayat dukun jahat itu .
" Sinto , kami tidak akan bisa membalas kebaikanmu" ujar paderi sambil memeluk Sinto erat .
" Sebagai manusia sudah sepatutnya kita tolong menolong , paderi " jawab Sinto
" Malam ini izinkan kami menginap disini karena besok kami akan melanjutkan perjalanan " sambung sinto
" Mulai saat ini tempat ini adalah rumah mu dan kapan saja kau bisa tinggal disini , Sinto " jawab Paderi
" Terima kasih, saudaraku " Balas Sinto
Dewi kipas perak tampak sangat senang dengan jawaban Sinto . dan entah kenapa saat itu ia merasa ada sekelumit rasa yang terselip dihatinya saat memandang wajah tampan pemuda itu . meskipun ia tahu mereka terpaut usia lebih dari sepuluh tahun. ia kemudian tersadar dan langsung menepuk keningnya . Sinto langsung menoleh dan bertanya .
" Ada apa dewi ? "
Wajah dewi kipas perak langsung memerah dan kemudian berkata dengan gugup
" Ahh bukan apa - apa, tadi ada nyamuk hinggap dikeningku , ayok kita bersiap siap tidur karena besok kita harus melanjutkan perjalanan " ujarnya sambil berlalu
__ADS_1
Bersambung