Kesatria Dua Dimensi Episode 1 " PRAHARA Di RANAH MINANG

Kesatria Dua Dimensi Episode 1 " PRAHARA Di RANAH MINANG
Chapter 35 " Pedang Naga Salju "


__ADS_3

Chapter 35 " Pedang Naga Salju


Di episode sebelumnya diceritakan bahwa para gadis yang menjadi korban dari kejahatan makhluk Sijundai pada saat upacara bendera mendadak menghilang . Para penduduk langsung saja bergerak beramai - ramai untuk mencari mereka . Dan tujuan utama mereka tentu saja ke SMA N 1 Tarandam . Saat sampai dilokasi sekolah para penduduk sangat kaget dan ketakutan melihat sesosok makhluk yang berwajah sangat buruk sedang mengambil ancang - ancang untuk bertarung melawan dua orang pendekar .


" Itu Makhluk Sinjundai " Teriak mereka


Makhluk Sijundai yang melihat banyak sekali orang yang datang menjadi sangat marah dan langsung berteriak .


" Tempat ini akan menjadi kuburan kalian semua !!! " teriaknya


Makhluk itupun langsung melesat kedepan dan langsung melibaskan cakarnya kearah Pandeka Sahar . Pandeka Sahar langsung merundukkan kepala sambil menyapukan tendangan kearah perut makhluk itu . Sebelum tendangan itu menghantam perutnya dengan sigap makhluk itu memutar tubuh kebelakang sehingga tendangan pandeka sahar hanya mengenai udara kosong namun naas bagi makhluk itu karena dari samping kanan Sinto sudah mengirim tendangan keras kearah punggungnya


" DDHUKKK " makhluk itu tampak sedikit terhuyung kedepan dan segera berbalik sambil menatap sinto dengan ganas .


Dengan sangat marah makhluk itu langsung menerjang kearah kedua kesatria itu dan anehnya pada saat makhluk itu menyerang baik sinto maupun pandeka sahar merasakan kaki mereka seolah menempel ditanah sehingga tidak bisa terangkat sedikitpun . Itu adalah efek dari sihir pembunuh langkah yang dirapal oleh makhluk sijundai sesaat sebelum ia menyerang dua pendekar itu .


" Bhukkk " Satu pukulan keras tepat menghantam perut pandeka sahar sehingga mulut pandeka sahar tampak menyemburkan darah hitam pertanda ia telah terkena racun pukulan yang sangat jahat. Ia tampak terkulai lemah dalam keadaan berdiri tegak karena saat itu kakinya masih terkunci oleh sihir makhluk itu . Dan sepertinya selanjutnya giliran Sinto yang akan mendapatkan sial . Sinto sepertinya sudah pasrah dengan keadaan karena untuk menghindar ia tidak mampu karena kakinya tidak bisa digerakkan sedikitpun . Ia sudah mencoba untuk mengerahkan tenaga dalam namun ternyata tenaga dalamnya pun ikut terkunci karena sihir makhluk jahat itu . Saat ini makhluk sijundai tampak menyodorkan tangan kanan untuk mencekik leher Sinto namun sebelum tangan itu sampai terdengar satu gerengan keras dan sekilas tampak bayangan hitam melesat dan menyeret makhluk sijundai itu sejauh beberapa meter kebelakang sehingga sinto terbebas dari serangan mematikan itu .


Ditengah lapangan tampak sesosok makhluk berkepala harimau hitam tegak dan mengaum keras kearah makhluk sijundai . Tidak berapa kedipan mata makhluk berkepala harimau yang tidak lain adalah laksamana kumbang itu kembali melompat dan bertarung dengan makhluk bernama Sijundai itu . Mereka tampak mulai saling cakar dan saling gigit sehingga para penduduk yang ada disekitar tempat itu menjadi sangat ketakutan melihat pertarungan yang sangat dahsyat itu . Sinto langsung berseru kearah laksamana kumbang


" Laksamana !! berhati - hatilah karena makhluk itu sangat kuat " teriak sinto sambil terus mencoba membebaskan diri dari pengaruh sihir jahat itu .


Jane yang baru datang tampak langsung mencoba membantu Sinto dengan senjata andalannya yang berbentuk seperti sebuah senter . Saat ditekan alat itu langsung saja mengeluarkan sinar bewarna biru gelap dan sinar itu kemudian ia pancarkan ke tubuh sinto . Setelah beberapa kali terkena tembakan sinar itu akhirnya sinto bisa menggerakkan kedua tangan namun kedua kakinya masih terasa kaku tidak bisa digerakkan .


" Sihir ini terlalu kuat " ujar Jane panik sambil sesekali melihat pertarungan laksamana kumbang melawan makhluk jahat bernama Sijundai itu .


Setelah melalui puluhan jurus akhirnya laksamana kumbang tampak terdesak hebat akibat serangan makhluk sijundai yang begitu dahsyat . Beberapa bagian tubuhnya tampak terluka dan meneteskan darah segar namun ia masih saja terus berjibaku melawan makhluk tingkat tinggi itu . Hingga akhirnya Laksamana kumbang tampak menempelkan kedua telapak tangan diatas kepala pertanda ia bersiap untuk mengekuarkan jurus andalannya yaitu " Amukan harimau kumbang " . Cahaya hijau tua tampak berpijar dari kedua telapak tangannya yang digosok - gosokkan . Cahaya itu tampak semakin membesar hingga menjadi bulat penuh kira - kira sebesar bola basket . Didepan sana makhluk sijundai tampak menggereng dahsyat sambil merentangkan kedua tangan kesamping . Ditubuhnya juga tampak bekas - bekas luka akibat gigitan dan cakaran laksamana kumbang . Beberapa saat setelah ia merentangkan tangan lonceng kecil yang dikalungkan dilehernya tampak berpijar merah redup . Makhluk Sijundai itu tampak menarik nafas dan memejamkan mata seolah bersiap menunggu pukulan laksamana kumbang .


Sinto yang sudah mengetahui keganasan lonceng itu langsung saja berteriak melerai .


" Laksamana !!! Jangan serang dia dengan tenaga dalam " teriak Sinto

__ADS_1


Tetapi laksamana kumbang yang sudah terlanjur kalap dan emosi tidak menghiraukan aba - aba dari sinto . Ia tetap saja berniat untuk melancarkan pukulan andalannya kearah makhluk itu . Cahaya bulat dan berwarna hijau yang mengandung Racun sangat jahat itu melesat cepat dan menghantam tubuh Sijundai dengan telak . Makhluk itu tampak meringis menahan sakit yang teramat sangat . Tubuhnya saat itu terasa bagaikan disengat ribuan hewan berbisa . Ia meraung kesakitan dan asap hijau tampak keluar mengepul dari tubuhnya . Laksamana kumbang tampak merasa puas melihat makhluk itu merasakan kesakitan yang begitu hebat namun tidak begitu lama kemudian Laksamana kumbang merasa sekujur tubuhnya kaku tidak bisa bergerak . Lonceng kecil yang terdapat dileher makhluk Sijundai tampak berpijar terang dan bola hijau yang tadi dikirimkan laksamana kumbang tampak keluar dari dalam lonceng dan berbalik menghantam kearah laksamana kumbang yang berdiri mematung dengan wajah pucat .


" Laksamanaaaa !!!!!!!! " teriak sinto sangat panik


" Jane !!! Lekas bawa semua orang pergi dari sini " Lanjut sinto


Ia merasa sudah tidak ada harapan lagi untuk Makhluk jahat itu bisa dikalahkan .


Jane yang tampak juga begitu panik langsung saja mengangguk dan mengambil sebuah bola kecil sebesar kelereng dan meletakkan tepat dibawah kaki Sinto dan langsung saja sebuah cahaya berbentuk piramida bersinar melindungi tubuh sinto . Itu adalah benteng piramida yang konon bisa melindungi seseorang dari serangan kekuatan sihir . Kemudian jane berlari cepat kearah para penduduk untuk mengajak mereka segera pergi meninggalkan tempat itu . Makhluk sijundai itu tertawa mengekeh seolah tau apa yang hendak dilakukan Jane .


" Hikhikhikhikhik , Jangan bermimpi kalian bisa pergi dari tempat ini !!!!!! " ujar makhluk itu dengan suara kuat melengking .


Makhluk sijundai itu menghentakkan kaki kanan ketanah dan membuat seluruh tempat itu bergetar keras seolah sedang diamuk gempa . Saat gempa itu berakhir Jane yang sudah sampai didekat para penduduk mendadak merasakan tubuhnya kaku dan tidak bisa bergerak . Begitu juga dengan para penduduk yang berada disana . Suara tangis dan jeritan menyayat terdengar dari mulut para penduduk desa itu . Mereka sangat tidak rela jika harus menemui kematian ditangan makhluk yang mengerikan itu . Sementara laksamana kumbang tampak menjerit kesakitan akibat terkena pukulan andalannya sendiri yang berbalik menghantam dirinya . Setelah menjerit kesakitan ia tampak terkulai diam tak berdaya masih dalam kondisi berdiri .


" HIHIHIHIHI , Sagalonyo bisa datang jo pai tapi aku kan tetap ado dan bakuaso " Makhluk sijundai itu kembali menyanyikan dendang angkernya secara berulang - ulang membuat seluruh orang yang ada ditempat itu merinding ketakutan .


Sinto yang berada didalam benteng piramida tampak berfikir keras memutar otak karena ia tidak ingin mati sia - sia ditempat itu dan juga nasib puluhan warga desa dan para siswa yang terkena kutukan tentu saja juga menjadi beban fikiran bagi pendekar muda itu . Makhluk Sijundai yang telah selesai berdendang saat ini tampak menatap kearahnya . matanya yang merah menyala membuat sinto menjadi sedikit pucat .


Dan benar saja makhluk wanita menyeramkan itu tampak melesat dan memukul benteng Piramida dengan sekuat tenaga . Terdengar bunyi dentuman keras saat benteng itu dihantam namun satu kali hantaman hanya mampu membuat benteng itu bergetar . Sijundai tampak marah dan kembali memukul benteng itu dengan sangat kuat dan bertubi - tubi sehingga setelah terkena tujuh puluh kali pukulan dahsyat akhirnya benteng tersebut tampak mulai retak . Sinto tampak mulai agak ketakutan karena makhluk itu telah menjadi semakin buas dan marah . Sinto sangat tahu kalau benteng piramida itu tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi . Perlahan rasa pasrahpun datang karena ia merasa sudah tidak ada lagi yang bisa ia lakukan . Perlahan terbayang raut wajah ibu dan ayahnya dan seluruh keluarganya di jakarta yang pasti akan sangat sedih jika terjadi apa - apa pada dirinya . Terbayang juga olehnya wajah si cantik Hamidah yang begitu anggun dan polos dan ia berjanji jika selamat dari bahaya besar itu ia akan menyatakan perasaannya kepada gadis itu dan entah kenapa setelah itu sinto terkenang kepada Orang tua berjubah biru yang telah menggemblengnya selama seminggu di Lembah timbunan kabut . Perlahan sinto tersenyum sedih dengan mata berkaca - kaca dan bibirnya tiba - tiba meracau .


" Datuk , sepertinya ini adalah akhir dari petualanganku "


Dan keanehan pun terjadi ....


Serelah bicara demikian sinto langsung saja melihat bayangan orang tua berjubah hijau tengah berdiri dan tersenyum lembut kearahnya . Sinto tampak kaget dan langsung berteriak senang karena dalam hati ia terkadang merindukan sosok kakek berjubah biru itu .


" Datuk !!!! , Apakah ini benar - benar dirimu ? "


Sikakek berjubah biru tampak tersenyum dan mengusap kepala bocah yang sudah dia anggap cucunya sendiri


" Ini memang diriku sinto , tidaklah patut bagi seorang kesatria berputus asa , jalanmu masih sangat panjang dan jangan pernah biarkan rintangan sebesar apapun menghalangimu "

__ADS_1


Sinto merasa begitu damai setelah mendengar wejangan orang tua gagah itu . Sinto kemudian tampak ingin berbicara namun kakek itu tampak memberi tanda agar ia tetap diam .


Sejenak kakek itu menatap kepada makhluk jahat yang terus saja berusaha menghancurkan benteng piramida yang sudah mulai terlihat pecah disana sini . Setelah menggelang perlahan orang tua itu kembali menatap kearah sinto .


" Sinto , makhluk yang tengah kau hadapi itu adalah makhluk tingkat tinggi yang tersesat didunia manusia . Dan sejak ribuan tahun yang lalu selalu menjadi momok menakutkan bagi manusia , makhluk itu menyimpan sebuah pusaka yang bernama Lonceng dari neraka yang berasal dari alam tingkat ketiga "


" Betul Datuk , menurut laksamana kumbang sahabatku hanya senjata dari alam tingkat ketiga yang bisa digunakan untuk menghancurkan lonceng dan mengalahkan makhluk jahat itu " jawab Sinto memotong


Orang tua gagah itu tersenyum dan kemudian tampak menarik nafas panjang sebelum menatap tajam kearah sinto .


" Kau ingat sebilah pedang pusaka yang kutanam dilengan kananmu ? " Tanya sikakek


Sinto kembali teringat saat ia akan meninggalkan lembah timbunan kabut orang tua gagah itu telah memasukkan sebuah pedang pusaka kedalam tangan kanannya dan melarang sinto untuk sembarangan memakainya kecuali dalam kondisi sangat tedesak .


" Iya aku ingat Datuk !!! " Jawab sinto semakin heran


" Sinto dengarkan baik - baik , Pedang yang aku tanam dilengan kananmu itu bernama Pedang Naga Salju , Pedang itu adalah senjata pusaka terkuat di alam tingkat ketiga karena terbuat dari sumsum tulang Naga salju yang merupakan sosok makhluk mitologi terkuat dialam semesta yang menghilang secara gaib Ribuan tahun yang lalu " jelas sikakek


Sinto langsung laget dan sebersit harapan tampak muncul kembali dari jiwanya .


" Maafkan aku datuk karena lalai dengan petunjukmu " balas sinto sambil menjura hormat .


Kakek berjubah biru tersenyum dan mengusap kepala sinto satu kali dan tiba - tiba saja kedua kaki sinto yang tadi kaku kini bisa bergerak kembali .


" Baiklah cucuku , selanjutnya kuserahkan kepadamu " setelah berkata demikian orang tua gagah itu mendadak menghilang dari tempat itu .


" Datukkkkk !!!!!! " Teriak sinto .


" DHUUAARRR " dan akhirnya benteng Piramida hancur lebur dihantam pukulan keras yang dilancarkan makhluk sijundai itu .


Dan Kini hanya tinggal dua petarung yang siap mengadu nyawa

__ADS_1


Bersambung !!!


__ADS_2