
Di sebuah Pelataran yang terbuat dari batu alam Garang tampak berdiri memandang Gugusan bukit batu yang berdiri kokoh . didepan bangunan itu terdapat sebuah lapangan yang kira - kira luasnya seukuran lapangan bola . Hari ini garang akan memulai sebuah tugas yang diberikan oleh Kaisar api . sebuah tugas yang menurutnya sangat sulit untuk dilaksanakan olehnya . yaitu bertualang menebar kebaikan untuk memperbaiki citra negeri api . tentu saja hal itu sangat bertentangan dengan sifat asli garang yang congkak dan sombong . namun apa boleh buat tugas itu harus tetap dilaksanakan nya karena hanya itu satu - satunya cara untuk menjadi lebih kuat dari sebelumnya . Dan yang lebih gilanya dalam perjalanan ini Garang harus mengikutsertakan si Puteri api alias Seruni .
" Gadis bodoh itu pasti hanya akan menyusahkan ku saja " gerutu garang
Siampa yang selalu setia disampingnya hanya tertawa kecil . mahluk gendut tak bertulang itu kemudian bicara seolah mengerjai tuan nya itu .
" Bukankah seru jika berjalan ditemani gadis cantik , tuan muda? , hitung - hitung sekalian cuci mata " ujarnya sambil tertawa
Garang yang sedang kesal langsung menjitak kepala siampa hingga ia meringis kesakitan.
" Dasar otak mesum !! " hardiknya
Siampa hanya tersenyum senyum kecil melihat tingkah garang yang seolah kekanak-kanakan itu padahal ia tahu bahwa sesungguhnya garang juga menyukai gadis manis bernama seruni itu .
" Heeeiiii !!! kalian sudah siap ya ??? "
Terlihat seruni berlari dari kejauhan sambil melambaikan tangan . Siampa langsung membalas lambaian nya sedangkan garang hanya cuek tanpa menoleh sedikitpun. setelah dekat gadis yang riang itu langsung menghampiri siampa
" Nah Siampa , kau bertugas untuk membawa kantong perbekalan kita ya , perjalanan kita pasti sangat panjang dan melelahkan "
Ujarnya sambil menyerahkan sebuah kantong kain kepada siampa .
Siampa pun menerima dan menggantungkan bekal itu di pundaknya . Seruni kemudian menoleh kepada Garang yang masih saja menatap lurus kedepan .
" Hei si tukang lamun .. kamu mau pergi atau tidak ? " ujarnya menggoda garang
Garang tetap saja diam tanpa ekspresi sedikitpun seolah tidak mendengar ucapan seruni . seruni pun pencongkan mulut tanda ia kesal . namun belum sempat ia mengeluarkan kata - kata mengumpat garang langsung bicara sambil berjalan.
" ayo kita jalan , sepertinya akan turun hujan"
Mau tidak mau gadis itu terpaksa berjalan mengikuti garang . karena diperjalanan kali ini ia yang bertugas sebagai penunjuk jalan.
" Kali ini kita akan menuju negeri kincir angin , kabarnya disana ada komplotan penyamun yang suka menindas penduduk setempat" ujar seruni
Garang hanya diam tapi ia tetap mengikuti langkah gadis itu . seruni sangat geram dengan sifat acuh garang akhirnya hanya bisa Menggeram sambil menggaruk - garuk kepala nya yang tidak gatal . sementara Siampa hanya tersenyum senyum melihat tingkah sepasang muda - mudi itu .
***
Disebuah kedai nasi Tampak Sinto dan Dewi kipas perak tengah asyik menikmati makan siang . setelah setengah hari berjalan dari desa Padang berdarah mereka akhirnya sampai disebuah desa yang tidak jauh dari sebuah gunung . gunung itu disebut Gunung tak jadi . mungkin karena ukuran gunung tersebut tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu tinggi . konon jalan menuju desa kincir angin adalah melalui gunung tersebut.
" Hmhhh , Rendang ayam ini sangat gurih ya sinto " ujar dewi kipas perak
Sinto yang sedang lahap makan hanya mengangguk angguk membenarkan ucapan dewi dengan mulut dipenuhi nasi .
" Rendang adalah masakan khas Minangkabau yang termasuk didalam daftar makanan terlezat di dunia " ulas Sinto
__ADS_1
Dewi kipas perak hanya mengangguk angguk mendengar penjelasan sinto .
" Tapi kira - kira negeri kincir angin itu masih jauh atau tidak ya ? " Tanya dewi kipas perak
" Aku juga tidak terlalu yakin , namun kata orang - orang yang tadi aku tanyai menurut mereka negeri itu berada di belakang gunung itu " Jawab sinto sambil mengunyah daging rendang
Pada saat mereka berdua asyik menikmati makanan tiba - tiba dari arah timur datang seorang penunggang kuda yang mengayuh kudanya dengan sangat kencang. sesampai didepan warung ia menarik tali kekang kuda itu sehingga kuda itu berhenti mendadak hingga dua kaki depannya terangkat hingga mengibaskan debu jalanan. kuda itu mengeluarkan suara meringkik keras .
Sinto dan Dewi kipas perak kaget dan langsung menoleh kearah si penunggang kuda tersebut . ternyata ia adalah sesosok laki-laki berbadan tegap dengan rambut panjang sebahu . ia memakai ikat kepala merah dan baju hitam pesilat . setelah sejenak menatap tajam kearah sinto ia pun kembali memacu kudanya Dengan cepat menuju kearah gunung tak jadi . Sinto dan Dewi kipas perak sangat heran dengan kelakuan aneh si penunggang kuda tadi . setelah menyelesaikan makan mereka berdua pun melanjutkan perjalanan ke arah gunung itu .
***
Di dekat sebuah air terjun yang memiliki tiga tingkat tampak seorang kakek berjubah biru yang tengah bersemedi diatas sebuah batu picak berukuran seluas meja makan . saking khidmat nya bersemedi si kakek tidak sadar jika puluhan kupu - kupu sudah hinggap di wajah dan disekujur tubuhnya . kakek sakti itu adalah Malaikat agung tak bernama guru sinto . setelah beberapa kali menarik nafas ia kemudian menatap kearah air terjun dan kemudian berteriak memanggil seseorang .
" Jane ... Ayo keluar . semedimu telah selesai !! "
Tidak lama kemudian tampak seorang gadis cantik berwajah blasteran yang tidak lain adalah Jane keluar dari balik gua yang terletak di belakang air terjun tingkat ketiga . pakaian yang digunakannya tampak basah kuyup . setelah mendekat ia langsung menghadap sambil menunduk hormat pada si kakek berjubah biru.
" Terima kasih atas bimbingan nya, Datuk "
ujar Jane
Kakek berjubah biru menarik nafas panjang dan tersenyum ke arah gadis cantik itu .
" Jane , kali ini kita telah berhasil menyegel kekuatan jahat yang telah merasukimu , mulai saat ini kau harus lebih sering bersemedi agar seluruh kekuatan jahat itu kelak bisa dimurnikan dan bisa kau gunakan untuk membela kebenaran, namun untuk saat ini kau tetap harus bisa mengontrol emosi mu , karena tidak tertutup kemungkinan segel itu akan terlepas dan membuat mu dikuasai sepenuhnya" ucap kakek berjubah biru
" Baiklah, untuk saat ini mari kita kembali ke istana, seperti nya mereka sudah menunggu karena sudah tiga hari kita meninggalkan istana Sultan Iskandar zain " ujar Malaikat agung tak bernama sambil berjalan
Jane pun mengangguk dan langsung ikut berjalan mengikuti langkah Kakek sakti itu .
***
Setelah lebih kurang setengah hari perjalanan Garang dan seruni akhirnya sampai disebuah bukit yang memiliki dinding terjal berbatu . diatas puncak bukit tampak berdiri di sebuah menara pengintai . sepertinya menara itu digunakan untuk mengintai gerak - gerik dan memperhatikan siapa saja yang datang .
Garang saat itu mengenakan baju berwarna biru dan sebuah jubah hitam bermotif api . sementara seruni memakai gaun berwarna merah . dari penampilan mereka saja sudah terlihat kalau mereka adalah orang dari negeri api .
" Gawat Anjungan .. Sepertinya dua orang tamu kita kali ini adalah penduduk dari negeri api , Dasar .. pasti mereka datang dengan maksud yang tidak baik "
Yang berbicara barusan adalah seorang lelaki paruh baya berkepala botak plontos . saat ini ia dan ketiga temannya mendapatkan tugas berjaga di menara pengintai . sementara orang yang dipanggil Anjungan atau pimpinan itu tampak agak terkejut setelah mendengar pertanyaan anak buahnya itu . dalam hati ia merasa khawatir karena orang - orang dari negeri api biasanya sangat suka bertindak seenaknya dan menyebarkan kekacauan .
" Hmmmmmhhh .. Sepertinya kita harus ber hati - hati gumarang " . ujar lelaki yang dipanggil Anjungan tadi .
" Kalian segeralah bergegas ke desa untuk menceritakan kejadian ini kepada kepala desa , sementara aku akan tetap berjaga - jaga disini " Lanjut nya
orang yang dipanggil gumarang tampak mengangguk dan memberi isyarat pada kedua temannya dan tidak lama kemudian mereka bergegas pergi meninggalkan menara itu .
__ADS_1
Sesampai di kantor kepala desa pun gumarang dan kawan - kawan menceritakan tentang kedatangan sepasang pemuda dari negeri api itu dan tentunya kondisi desa menjadi agak sedikit panik . setelah cukup lama berfikir kepala desa yang sydah cukup berumur itu langsung berbicara.
" Saya rasa tidak ada salahnya kita menerima mereka , namun kita harus segera menulis surat kepada pihak kerajaan untuk sekedar berjaga-jaga mana tau esok terjadi kekacauan di desa kita " jawab kepala desa
" Baik Angku " Jawab gumarang sambil menjura hormat .
Setelah sampai didekat menara yang terletak di pinggiran desa Garang dan seruni melihat ada sebuah pintu gerbang yang terkunci . garang kemudian melihat sekeliling namun ia tidak menemukan penjaga . namun saat tengah asyik mencari terdengar suara menyapa mereka .
" Harap sebutkan siapa kalian dan untuk apa kalian datang ke desa kami ? " ternyata yang berbicara adalah orang yang tadi dipanggil Anjungan .
Garang tampak agak sedikit terkejut karena tiba-tiba ada seorang laki-laki yang datang menegur mereka. namun ia hanya memilih diam seolah tak peduli dengan pertanyaan Anjungan. ia hanya melirik pada seruni mungkin untuk memberi isyarat agar gadis itu menjawab .
" Maaf tuan , kami hanya lah pengembara yang kebetulan lewat di negeri tuan , mohon izinkan kami masuk setelah beristirahat sejenak kami akan melanjutkan perjalanan kami " jawab seruni sambil menjura hormat
Dalam hati Anjungan sedikit agak tenang melihat cara gadis itu berbicara seolah memiliki sopan santun yang tinggi . namun ia masih tetap menaruh curiga pada garang yang terlihat acuh dan dingin . kemudian mata nya tertuju pada sosok siampa yang tengah memikul barang bawaan.
" Kalian belum sebutkan nama dan tujuan " jawab Anjungan
" Namaku seruni dan sahabat ku ini bernama garang , dan makhluk lucu ini bernama siampa , kami saat ini sedang dalam perjalanan menuju negeri kincir angin " jawab seruni seadanya
Setelah berfikir sejenak akhirnya Anjungan mempersilahkan mereka berdua masuk .
" Ingat , setelah nanti sampai di penginapan saya sarankan kalian jangan keluar di malam. hari , karena kampung ini sedang tidak aman " ujar Anjungan sambil berjalan diiringi Garang dan seruni .
" O iya , kenapa kamu tidak memperkenalkan diri ? dan kalau boleh tahu bencana apa yang sedang menimpa kampung ini ? " tanya seruni
" O iyaa maaf , Namaku rehan , namun karena aku merupakan seorang kepala keamanan kampung aku sering dipanggil Anjungan " jawabnya
" akhir-akhir ini sering terjadi kasus penculikan bayi dan gadis desa , pelakunya adalah seorang iblis tua berjubah merah . untuk itu kepala desa meminta agar penjagaan desa ini diperketat " lanjut Anjungan
" Iblis tua berjubah merah? hey garang apa kau pernah mendengar nama itu " tanya Seruni
Garang yang dari tadi hanya diam kemudian menoleh kearah gadis itu kemudian ia pun menjawab .
" Aku belum pernah mendengar nama itu , namun aku curiga dengan seseorang" ujarnya
Anjungan tampak sangat tertarik dengan jawaban garang.
" Aku yakin bayi - bayi yang diculik itu dipergunakan untuk persembahan ilmu hitam " balas Anjungan
" Apakah sudah ada yang bertemu dengan makhluk itu ? " tanya seruni
" Ya , kami dan para pemuda desa pernah mencoba mengepungnya saat hendak menculik seorang bayi namun iblis tua itu sangat sakti sehingga kami semua terkapar di hajar nya , ia memiliki senjata yaitu kuku tangannya yang tajam bagaikan pisau " lanjut Anjungan
Garang langsung terhenti sejenak mendengar ucapan anjungan barusan . Baik Anjungan maupun seruni sama - sama menoleh kearah garang . seolah menunggu apa yang akan dikatakan oleh pemuda itu .
__ADS_1
" Tidak salah lagi , itu pasti dia " ujar garang
Bersambung