Kesatria Dua Dimensi Episode 1 " PRAHARA Di RANAH MINANG

Kesatria Dua Dimensi Episode 1 " PRAHARA Di RANAH MINANG
Chapter 23 " Benteng Piramida "


__ADS_3

Panggung Utama saat ini terlihat semakin mencekam . Ditengah arena tampak Rimbun yang sedang bertarung melawan Makhluk berkepala tikus sementara dipinggir lapangan Sinto dan kawan - kawan memperhatikan dengan mata tak berkesip . Disudut lain Tampak Tuanku Rajo Nan Hitam beserta dua orang pembantunya yaitu dubalang rambut api dan juga bocah bernama Garang juga asyik menyaksikan jalannya pertarungan Itu . Baik Rimbun maupun makhluk berkepala tikus itu terlihat masih aktif saling menyerang dan belum tampak tanda - tanda siapa yang akan menang . Rimbun terlihat sangat gesit menghindari setiap serangan yang diberikan makhluk jelek itu dan sesekali terlihat melepaskan serangan balasan .


Disudut sana Garang terlihat sangat marah dan menatap sinto dengan mata tajam . Apalagi dilihatnya saat ini Sinto sedang memegang tangan Hamidah gadis yang dicintainya . ia sangat berniat melanjutkan pertarungan dengan sinto karena ia merasa ia belum kalah dan masih banyak ilmu kesaktian yang belum dikeluarkannya .


" Hamidah , jika kau ingin selamat cepat kau tinggalkan pemuda celaka itu dan berpindah ke sisiku " Garang berteriak


Tuanku Rajo nan hitam tampak tertawa mendengar amukan garang .


" Tidak , lebih baik aku mati daripada bergabung dengan orang berwatak jahat sepertimu !!! " Jawab Hamidah


" Kalau begitu malam ini adalah malam kematian untukmu dan kekasihmu itu !! " Jawab garang makin panas


Sinto tampak mulai jengkel dengan mulut kasar Garang terhadap Hamidah . Ia mempererat genggaman tangannya dan berpaling kepada Hamidah


" Sudahlah , jangan diladeni anak itu dan jangan takut dengan gertakannya " ujar Sinto


Hamidah menatap sinto sejenak dan menganggukkan kepala .


Satu bayangan hitam tampak melayang dan berkelebat kearah sinto dan kawan- kawannya . Ternyata yang datang adalah Pandeka Sahar guru sinto . Ditangannya tampak menggenggam sebilah pedang yang mirip pedang arab karena memang pedang itu berasal dari tanah arab . pedang itu bernama pedang al Mulkan yang merupakan senjata pusaka milik Pandeka Sahar . Pandeka sahar kemudian tampak ikut memperhatikan Pertarungan Rimbun melawan makhluk berkepala tikus .


Saat ini Rimbun tampak mulai menguasai pertarungan karena sudah beberapa kali makhluk berkepala tikus itu terkena serangan balasan darinya . Makhluk itu kini nampak mulai menyerang dengan membabi buta . Dalam beberapa jurus kemudian satu gigitan makhluk itu akhirnya mampu melukai lengan Rimbun tetapi nampaknya serangan itupun harus dibayar mahal oleh makhluk itu karena tendangan rimbunpun tepat mengenai Rusuk nya yang sebelah kiri . makhluk itu tampak terpekik karena dua tulang rusuknya patah akibat tendangan rimbun . setelah beberapa kali menggelepar dilantai panggung makhluk itupun tampak diam tak bergerak . melihat kekalahan prajuritnya Tuanku Rajo Nan Hitam tampak sangat marah . Ia tampak sekilas memberi isyarat kepada Garang untuk maju bertarung . garang pun melompat beberapa meter kedepan sehingga kini ia berada tepat di tengah arena .

__ADS_1


" Mari kita lanjutkan pertarungan tadi bocah keparat " Hardik garang sambil menunjuk kearah Sinto .


Sinto yang ditantangpun tampak hanya tersenyum . Ia sekilas melirik Hamidah dan melepaskan genggaman tangannya .


" Tunggu disini sebentar , " Hamidah tampak mengangguk cemas dan sinto pun berpesan kepada Jane dan Rimbun untuk menjaga hamidah setelah itu ia segera melesat ketengah lapangan .


Kedua pendekar muda itu kembali saling berhadapan diatas panggung utama . Sinto sekilas melihat keris ditangan Garang dan ia berfikir kalau keris itu bukanlah senjata biasa . Perlahan ia kerahkan tenaga dalamnya keseluruh tubuh . Hawa sedingin es pun seakan menyelimuti lokasi tersebut . Garang yang merasa tenaga dalamnya ikut tertekan oleh hawa dingin itu kemudian langsung melipatgandakan tenaga dalamnya . Kemudian kedua pendekar muda itupun nampak saling menerjang dan sama - sama mengirimkan sebuah Tinju bertenaga dalam tinggi .


" Ddahhakkk " Dua tinju itu tampak bertemu dan mereka berdua tampak sama - sama terpental kebelakang . Sinto merasa pergelangan tangannya seperti disengat aliran listrik . Ia segera mengalirkan tenaga dalam untuk mengobati tangannya yang cedera . Ia kemudian menyadari Ternyata dalam hal tenaga dalam Garang lebih tinggi darinya . Dan ia kemudian berfikir untuk menghindari adu tenaga dalam secara langsung . Garang yang merasa diatas angin langsung menerjang sinto dengan Jurus Dewa api menghantam Bumi . Telapak tangannya tampak membesar hampir sebesar Daun pintu dan Siap menggebuk gepeng Kepala Sinto . Sinto langsung berguling ke kanan sehingga telapak tangan besar itu tepat menghantam lantai panggung dan terlihat lantai papan itu pecah berlubang dan terbakar . Sinto nampak sedikit pucat melihat ganasnya serangan garang barusan . Para teman - teman sintopun termasuk pandeka sahar tampak sangat khawatir Namun mereka percaya Sinto pasti bisa mengatasinya . Tangan garang yang tadi membesar kini tampak berubah menjadi normal kembali . Kali ini garang maju menerjang kedepan mencoba menikamkan keris api kearah lambung sinto . Sinto mundur satu langkah sehingga tusukan garang hanya mengenai udara kosong . Garang maju satu langkah dan menyabetkan kerisnya keleher Sinto namun dengan Sigap Sinto jatuhkan badan dan kirimkan tendangan kepinggang garang yang sebelah kanan .


" Bukkk " Tendangan Sinto membuat garang terlempar dan bergulingan tiga kali dilantai . garang merasa nafasnya sesak akibat tendangan Sinto dan Ia segera mengalirkan tenaga dalam dan sesaat kemudian ia mulai siap untuk menyerang kembali . Kali ini ia mencoba lagi Jurus Raja api menebar wabah karena tadi sewaktu dikalahkan sinto ia baru menggunakan jurus ini dengan seperempat tenaga dalam . Saat ini seluruh tenaga dalam ia kerahkan dan terlihat gelombang api besar meliuk - liuk seolah ingin ******* tubuh Sinto . Sinto segera kerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi tubuhnya sehingga Tubuhnya saat itu juga berubah menjadi sedingin batu es dan membuat Gelombang api itu seolah tak bisa membakar tubuhnya . Sinto segera menghantamkan tangannya kearah Garang dan tampak sebuah balok es menyerupai Tombak keluar dari tapak tangan Sinto dan menerjang Garang dengan cepat . garang terpaksa menunduk dan menarik kembali jurus Raja api menebar wabahnya . Kedua pemuda itu tampak terdiam sejenak seolah ingin mengambil nafas .


Hamidah yang melihat kedua pendekar muda itu bertarung tampak agak cemas . Ia saat ini sangat mengkhawatirkan keselamatan Sinto . Pandeka Sahar tampak tenang memperhatikan pertarungan berbahaya itu . Karena ia yakin tidak mudah bagi Garang mengalahkan Sinto karena elemen jurus yang mereka gunakan sangat bertolak belakang . Es atau air adalah lawan dari api dan sangat susah bagi api untuk mengalahkan air apalagi salju . Jadi Betapapun tingginya ilmu kanuragan Garang ia pasti akan sangat kewalahan jika ada serangan balasan dari Sinto . karena sekali ia terkena serangan telak dari sinto ia pasti akan tumbang lagi seperti tadi .


Dubalang Rambut Api yang melihat pertarungan Muridnya melawan Sinto tampak sangat tidak sabar . Ia ingin bocah yang menjadi wadah kekuatan Datuk Siraja dewa itu segera dilenyapkan bagaimanapun caranya . secara diam - diam ia menyiapkan ilmu jari api untuk menyerang sinto saat bocah itu lengah . jari - jari tangannya tampak memercikkan bunga api yang sangat panas . Pandeka Sahar ternyata melihat gelagat mencurigakan orang tua jahat itu . Ia langsung berteriak menghardik Dubalang Rambut Api .


" Wahai Orang tua jahat , apa yang sedang kau fikirkan ? aku harap kau tidak bertindak sebagai pengecut yang menghalalkan segala cara " pandeka sahar berteriak lantang .


Dubalang rambut api tampak sangat marah mendengar bentakan Pandeka Sahar . Ia sejenak berpaling ke arah Tuanku Rajo Nan hitam yang tampak sangat menikmati pertarungan Kedua pendekar muda itu . tanpa menoleh pun Tuanku Rajo nan hitam seolah tahu apa yang dimaksud oleh Dubalang Rambut Api .


" Jika kau ingin bersenang - senang silahkan saja kau habisi mereka semua sementara aku ingin bersantai sejenak sambil melihat pertarungan dua pendekar muda ini " ujar Tuanku Rajo Nan hitam .

__ADS_1


Dubalang Rambut Api yang telah mendapatkan Lampu Hijau segera berlari menerjang ke arah pandeka sahar dan anggota tim yang lain . Pandeka sahar tampak tenang melihat kedatangan Kaki tangan Tuanku Rajo Nan hitam itu . Pedang ditangan kanannya ia sabetkan satu kali tanda ia telah siap bertarung .


" Kalian cepat mundur dan lindungi gadis itu " Pandeka sahar bicara sambil membentuk kuda - kuda bertahan dan kemudian Tenaga dalam ia alirkan keseluruh tubuh .


Rimbun Ihsan dan Jane yang mendengar perintah Pandeka Sahar membawa Hamidah mundur ke bawah panggung utama . Mereka memilih berlindung didalam tenda tempat para undangan karena dari situ mereka bisa dengan bebas menyaksikan jalannya pertarungan . Jane tampak mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku celananya dan dari dalam kotak itu ia mengambil tiga buah bola kristal sebesar kelereng . Ia kemudian memasukkan bola itu kedalam tanah sekeliling mereka membentuk titik segitiga dan tidak berapa lama tiga bola itu memancarkan cahaya dan membentuk sebuah cahaya mirip piramida yang melindungi mereka semua .


" Ini adalah Benteng Piramida , selama kita berada didalam sini kekuatan gaib yang bersifat negatif tidak akan bisa menyentuh kita , semoga saja kita semua aman didalam sini " ujar Jane


Ihsan Rimbun dan juga Hamidah tampak takjub dengan alat - alat canggih yang dimiliki Jane . Hamidah tampak sedikit tenang dan sepertinya iapun sudah mulai terbiasa dengan situasi yang mereka hadapi . Ia pun berkenalan dan mulai bersahabat dengan Jane gadis kota puteri Profesor Duke .


Dubalang Rambut api yang sudah sangat marah menerjang Pandeka Sahar dengan jurus yang bernama Cakar api . Kuku tangan iblis itu tampak memanjang dan berwarna merah menyala seolah siap mencabik - cabik tubuh pandeka Sahar . Pandeka sahar yang melihat keganasan jurus lawan tampak tak mau berbuat gegabah . Ia terus menghindar dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang .


" Bretttt " cakar dubalang Rambut api berhasil mengoyak baju hitam pandeka sahar tepat dibagian lambung kanannya . Jika saja dia terlambat mundur satu langkah saja niscaya lambungnya akan terbusai keluar akibat keganasan serangan dubalang Rambut api .


Pandeka Sahar tampak sedikit pucat karena serangan tadi . Ia tampak tidak mau mengulur waktu lagi . Langsung saja dia mengeluarkan sebuah pukulan yang bernama pukulan Kutukan Angin Senja . Serangkum angin hitam tampak menghembus kencang keluar dari kedua telapak tangan pandeka Sahar . Dubalang Rambut Api tidak menyangka akan mendapat serangan balasan seperti itu karena dari tadi lawannya hanya mencoba bertahan dan menghindar. Saat tubuhnya menerjang kedepan saat itulah angin pukulan Pandeka Sahar menghantam tubuhnya telak . Orang tua iblis itu tampak terjungkal sekitar delapan meter kebelakang . Tubuhnya tampak bergetar hebat dan dari sudut bibirnya tampak keluar darah segar . Jubah hitam kusamnya tampak robek dibeberapa bagian . ia tampak memejamkan mata untuk mengatur jalan nafasnya sebelum ia pingsan oleh racun pukulan andalan pandeka sahar itu . Namun belum sempat ia mengatur jakan nafasnya pandeka sahar yang tidak mau memberikan kesempatan langsung mengirimkan tendangan kearah dada Dubalang Rambut Api . Tokoh jahat itu tampak terpental kebelakang dan jatuh terjerembab ditanah . mulutnya tampak memuntahkan darah hitam pertanda tendangan tadi mengandung racun yang sangat ganas . jika saja didalam tubuh Dubalang Rambut api tidak terdapat sebuah mustika bernama Mustika batu api pemberian gurunya Panglima api laknat niscaya tubuh orang tua itu saat itu juga akan hancur remuk akibat ganasnya serangan Pandeka Sahar . Setelah memuntahkan darah hitam Dubalang Rambut api yang terluka parah menyumpah - nyumpah dalam hati


" Brengsek .. Siapa sebenarnya orang ini , tenaga dalamnya sepertinya tidak bisa dipandang remeh " Dubalang Rambut Api menyumpah sambil mengernyit kesakitan . Ia perlahan mengumpulkan sisa tenaga dalam yang tersisa dan berniat untuk kabur dari tempat itu karena takut dengan Murka Tuanku Rajo Nan Hitam . Sementara Pandeka sahar karena melihat Orang tua itu sudah terluka parah tidak lagi melanjutkan serangannya . Kondisi ini dimanfaatkan oleh dubalang Rambut api yang sangat licik itu untuk melesat kabur meninggalkan tempat itu .


Tuanku Rajo Nan hitam melihat Dubalang Rambut api yang telah kalah dan kabur melarikan diri menjadi sangat marah dan murka .


" Dubalang !!!! Dasar tua bangka pengecut , jika kau kelak bertemu aku lagi , aku sendiri yang akan merobek - robek tubuhmu " Tuanku Rajo Nan Hitam nampak sangat marah hingga teriakannya menggetarkan seluruh area lapangan kubu gadang .

__ADS_1


Tuanku Rajo Nan Hitam tampak sangat marah dengan kelakuan pengecut Dubalang Rambut Api . Kali ini Ia merasa skenario yang dijalankan orang tua berambut merah itu sudah gagal dan hancur berantakan . Sutan permata putih yang menjadi target utama sudah kabur menyelamatkan diri dan ia kemudian merasa saat ini bukan saat yang tepat untuk melaksanakan rencananya . Namun sesaat kemudian ia tampak kembali memperhatikan pertarungan Sinto dan garang yang semakin sengit .


Bersambung ke chapter selanjutnya


__ADS_2