
Dewi kipas perak terbangun dari tidur pulasnya dan sepertinya hujan yang mengguyur kawasan puncak bukit batu patah telah reda . Bunyi kokok ayam hutan terdengar silih berganti pertanda hari telah hampir pagi . Dewi kipas perak mengipas ngipas pakaiannya yang terlihat sangat kotor terkena lumpur akibat hujan deras tadi malam . ia memutuskan untuk mandi dan mencuci pakaiannya disungai yang terletak tidak jauh dari puncak bukit itu . Datuk tiang panjang yang masih bertengger diatas pohon tampak terus memperhatikan gerak - gerik perempuan muda tersebut.
" Sepertinya pagi ini aku bakal dapat rezeki besar " ujar si kakek dalam hati setelah melihat perempuan cantik itu berjalan menuju ke sungai yang terlihat dengan jelas dari tempat ia bertengger .
Datuk Tiang panjang melototkan mata dan meneguk air liur melihat dewi kipas perak yang mulai melepaskan pakaiannya satu persatu hingga tak satu helaipun kain menutupi tubuh indahnya . Setelah melepaskan pakaian gadis cantik itu langsung menceburkan diri kesungai dan mulai mencuci pakaiannya hingga bersih . kemudian menjemurnya diatas batu dan melanjutkan berendam disungai untuk menyegarkan badan akibat perjalanan jauh yang telah ditempuhnya untuk sampai ditempat itu . Datuk tiang panjang terus menatap perempuan itu dengan pandangan penuh nafsu birahi . Nafsu bejatnya saat ini telah penuh dan memuncak sampai ke ubun - ubun kepalanya . Ia tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar . Setelah melihat kearah serikat empat iblis dan melihat mereka masih tertidur pulas si kakek langsung melesat dan tidak begitu lama ia sampai ke tepi sungai tanpa diketahui oleh dewi kipas perak . setelah sampai ditepi sungai ia langsung bersembunyi dibalik sebuah batu besar untuk mengintip lebih dekat . Dewi kipas perak mulai menyadari ada kehadiran orang lain disana . Ia segera menyambar pakaiannya dan bergegas memakainya kembali dan setelah itu langsung melesat keluar dari air sambil mengibaskan kipas peraknya sambil berteriak .
" Siapa disana ? Dasar mesum !!! " teriak nya sambil mengayunkan kipas kearah batu tempat Datuk tiang panjang sembunyi .
" DHHARrrrr!! " Batu besar itu tampak hancur berkeping - keping namun sebelum angin pukulan itu tepat menghantam batu besar itu sesosok tubuh berjubah hitam bercampur merah nampak berkelebat keudara sambil berputar dan mendarat santai diatas batu sungai yang lain .
" Kenapa terlalu cepat mandinya manis ?? " ujar sidatuk sambil tertawa mengekeh .
" Kurang ajar " ujar Dewi kipas perak
Dewi kipas perak yang sangat marah langsung melesat menyerang kakek tua mesum itu . Satu pukulan diarahkan tepat kekepala sikakek namun dengan satu gerakan santai pukulan itu tidak berhasil mengenai sasaran bahkan dengan sangat santai sikakek langsung berniat menotok jalan darah dewi kipas perak dileher namun gadis itu masih sempat mundur dan mengirimkan tendangan kearah perut sikakek . Datuk tiang panjang tampak agak kaget juga melihat kecepatan gadis itu . Ia terpaksa harus mundur kebelakang jika tidak ingin perutnya terkena telak tendangan keras sigadis berkipas perak . Ia langsung melayang kebelakang dan berdiri diatas batu yang lain . Kali ini serangkum angin bertenaga dalam tinggi lagi - lagi menyerangnya dengan sangat buas . Orang tua mesum itu terpaksa melompat lagi untuk menghindar namun kali ini ia juga sempat mengirimkan totokan jarak jauh yang tepat mengenai urat leher dewi berkipas perak . Tubuh gadis yang terkena totokan itu langsung saja lemas dan jatuh terkulai diatas batu . Tanpa daya dan tenaga .
Datuk tiang panjang menyeringai senang melihat lawan yang sudah terkulai lemas tak berdaya . Sontak saja pikiran kotor kembali menggerayanyi otaknya . Dengan senyum jahat ia segera mendekati tubuh gadis cantik yang tergolek lemah diatas batu . Dengan satu gerakan gadis tersebut telah berhasil diangkatnya dan ia bersiap untuk mencari tempat aman untuk melancarkan niat busuknya . Namun belum beberapa langkah ia berjalan terdengar suara datar menegurnya .
" kemanakah hendak kau bawa anak gadis orang ? kelakuanmu berbanding terbalik dengan umurmu yang sudah tua bangka "
Datuk tiang panjang menoleh dan ternyata yang menyeru adalah seorang kakek tua gagah berjubah biru yang memang sudah dari tadi mengamati gerak - gerik Datuk tiang panjang . Datuk tiang panjang yang dipanggil tampak langsung menghentikan langkah dan menggereng marah kepada si kakek berjubah biru .
" Siapa kau orang tua ? Lekas tinggalkan tempat ini jika kau tak ingin mati sia - sia " seru Datuk tiang panjang .
Kakek tua berjubah biru hanya tersenyum mendengar ancaman Datuk Tiang panjang . Sambil mengusap - usap jenggot putihnya yang panjang ia kemudian berkata .
" Tentang siapa diriku sepertinya tidaklah menjadi sesuatu yang penting , namun sebaiknya kau tinggalkan gadis yang kau culik dan segera tinggalkan tempat ini " ujar sikakek berjubah biru
__ADS_1
" Tutup mulutmu , jika kau menginginkan gadis ini sebaiknya kau langkahi dulu mayatku " ujar Datuk tiang panjang sambil meletakkan tubuh Dewi kipas perak dipinggir sungai dan kemudian dia siap untuk menyerang kakek berjubah biru .
\*\*\*
Tepat menjelang tengah hari Sinto dan Jane telah sampai dipinggir bukit batu patah . Mereka memutuskan untuk beristirahat dan makan siang disebuah padang rumput yang cukup luas . Angin berhembus sepoy - sepoy membuat hati dan jiwa mereka menjadi tentram . Sejenak sinto melayangkan pandangan kebawah dan betapa ia melihat keindahan yang tiada tara . Pemandangan Negeri tua Pagaruyung dan hamparan sawah yang menghijau sangat menakjubkan untuk dipandang . Jane tampak sedang sibuk membuka kotak perbekalan yang mereka bawa dan setelah selesai mereka langsung saja menyantap makan siang .
" Sepertinya kita akan sampai dipuncak tepat setelah magrib " kata Jane sambil mengunyah makanan
" Ya , tapi aku juga merasakan banyak sekali kekuatan jahat yang tengah bercokol dipuncak bukit sana " balas Sinto
" Kita tidak tau apa yang akan terjadi disana , namun kita tetap harus waspada dan berhati - hati " sambung Jane
" ucapanmu sangat betul Jane , apalagi kita tidak memiliki sedikitpun informasi tentang Orang berjuluk Malaikat agung tak bernama itu " ujar Sinto sambil mencuci tangan
" Sepertinya tugas kita kali ini cukup berat Sinto , namun selama ada keyakinan kita pasti berhasil " ucap Jane memberikan semangat
\*\*\*
Biksu sesat dari utara terbangun karena mendengar suara orang yang berteriak dari pinggir sungai tidak jauh dari tempat mereka beristirahat .namun karena terhalang oleh pepohonan dan semak belukar ia tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi disana . Ia langsung saja membangunkan ketiga sahabatnya yang masih tertidur pulas dan setelah semua terbangun mereka langsung saja menuju ke tepian sungai untuk melihat apa yang terjadi . Setelah sampai dilokasi Serikat empat iblis langsung saja bersembunyi dibalik semak - semak dan kali ini mereka dapat melihat kejadian itu dengan sangat jelas .
Datuk tiang panjang tampak berusaha sekeras tenaga menyerang seorang kakek berpakaian biru namun lawan yang diserang tampak sangat santai dan tenang . Orang tua berjubah biru selalu berpindah tempat saat pukulan Datuk tiang panjang hendak menyentuh tubuhnya . Pergerakan yang sangat cepat sehingga nyaris tak terlihat dengan mata telanjang itu juga sangat mengejutkan serikat empat iblis yang menyaksikan dari balik semak belukar . setelah bosan bermain - main kakek berjubah biru menjentikkan jari tangan dan langsung saja selarik sinar biru sebesar kelereng meluncur cepat dan menghantam dada Datuk tiang panjang sehingga sang datuk terpental beberapa meter kebelakang dan tergolek kesakitan diatas pasir pinggiran sungai . sementara Dewi kipas perak menatap pertarungan itu tak berkesip . Dalam hati ia sangat berterima kasih kepada orang tua berjubah biru yang telah menolongnya .
Setelah kakek berjuluk Datuk tiang panjang itu tergolek rebah menahan kesakitan si kakek berjubah biru melesat kearah dewi kipas perak dan kemudian membawanya pergi menjauh dari tempat itu . Sementara serikat empat iblis tampak melongo menyaksikan kesaktian si kakek berjubah biru .
" Seumur - umur baru kali ini aku bertemu makhluk sesakti kakek berjubah biru itu " ujar Biksu sesat dari selatan
" Ya , Siapa sangka tokoh besar selevel Datuk tiang panjang dijadikannya semacam bulan - bulanan saja " balas Ratu mesum
__ADS_1
" tetapi siapakah gerangan kakek berjubah biru itu ? " Tanya Biksu sesat
" Seandainya saja dia berada dipihak yang berseberangan dengan kita , tentu saja kita bakalan pusing dibikinnya " imbuh Si pemakan jenazah
" Tetapi kita tidak perlu begitu khawatir karena ia sudah pergi dari tempat ini , agaknya ia tidak akan ikut campur dengan urusan yang akan terjadi disini " sambung si Raja Racun
" Sebaiknya kita selamatkan Datuk Tiang Panjang dan kita ajak dia bekerja sama untuk merebut Pedang itu , aku telah tahu kelemahan Datuk itu " sambung Ratu mesum
kemudian Ratu mesum merapal sebuah mantra dan tidak berapa lama kemudian wujudnya yang semula sudah nenek - nenek itu berubah menjadi seorang perempuan cantik yang bahkan lebih cantik jika dibandingkan dengan Dewi kipas perak .
\*\*\*
Didalam sebuah Goa terlihat seorang pemuda tampan berwajah blasteran , ia tengah bersemedi untuk meningkatkan tenaga dalamnya . Beberapa pelatihan yang diberikan oleh Tuanku Rajo Nan Hitam telah meningkatkan kekuatannya sehingga saat ini bocah bernama garang itu sudah menjadi semakin kuat . Sejenak Ia tampak membuka mata dan memanggil seorang pelayan setianya .
" Siampa Gadang ,, Kemari !!!! " Teriaknya
Tidak begitu lama sesosok makhluk gemuk besar berbulu hitam tampak berjalan kearahnya . Anehnya Makhluk itu tampak berjalan ngesot karena makhluk bernama Siampa yang terkenal suka menculik perempuan muda itu tidak memiliki satupun tulang ditubuhnya . ( Untuk lebih jelasnya tentang Siampa gadang silahkan baca chapter 14 yang berjudul " peretas dimensi " )
" Ada apa angku muda memanggilku ? " tanya makhluk itu
Garang tampak tenang dan tampa menoleh sedikitpun ia kemudian berkata .
" Segera siapkan perbekalan , kita akan menempuh perjalanan kepuncak bukit batu patah di kompleks istana besar pagaruyung " ujar Garang
Makhluk Siampa itu tampak mengangguk hormat dan kemudian berkata
" Duli Angku Muda , perbekalan akan segera disiapkan " ujar Siampa sambil menjura hormat
__ADS_1
Bersambung