
Diceritakan dalam episode sebelumnya bahwasanya saat bulan purnama muncul Batu berbentuk sepasang Tanduk kerbau yang terdapat dipuncak bukit batu patah mengeluarkan itu mengeluarkan sinar terang dan saat sinar itu pecah orang - orang yang berada ditempat itu langsung tersedot masuk kedalam celah diantara dua tanduk yang mirip seperti sebuah gerbang .
Setelah suasana ditempat itu menjadi hening dan tenang terdengar suara seretan langkah kaki yang bergerak menuju tempat itu . Setelah dekat Sosok yang ternyata adalah seorang kakek tua berjubah merah mendekati mayat Ratu mesum dan berbicara setengah berbisik .
" Istri Ku , ternyata beginilah akhir dari petualangan mu di rimba persilatan , sebagai suami aku sudah beberapa kali mengingatkanmu agar tidak terlalu mengumbar hawa nafsu dan akhirnya beginilah jadinya " Ujar Sang kakek sedih
Setelah menangis beberapa saat si kakek tampak menggali sebuah lubang dan kemudian menguburkan jasad si Ratu mesum tidak jauh dari batu picak yang terletak ditempat itu .
" Isteri ku , betapapun besarnya dosa yang telah kau lakukan namun hatiku tetap tidak bisa menerima cara kematianmu yang sekeji ini , aku akan mencari siapa pembunuhmu dan membalaskan kematianmu , sekarang beristirahatlah dengan tenang " ujar si kakek
Ia kemudian mendekat ke dekat tubuh si pemakan jenazah yang terkapar dan berlumuran darah , kakek itu merasakan denyut nadi yang sangat lemah dan setelah memastikan orang itu masih hidup ia segera memanggul tubuh itu dan membawanya pergi dari tempat itu . Kakek berjubah merah itu didalam Rimba persilatan dipanggil dengan julukan Datuk Lembah neraka itu adalah tokoh yang sangat disegani karena ketinggian ilmunya . Namun ia juga dicap sebagai manusia munafik yang berbahaya karena ucapannya yang selalu manis dan halus sangat berbeda dengan kelakuan nya bahkan lebih parah jika dibandingkan dengan isterinya si Ratu mesum .
***
Disebuah padang rumput yang sangat luas dan ditumbuhi oleh bunga - bunga yang indah tampak seorang bocah laki - laki yang tengah menggembalakan kerbau . Ia tampak duduk santai diatas punggung seekor kerbau jantan besar sambil meniup sebuah alat musik tiup yang terbuat dari potongan bambu yang dilubangi beberapa buah . Alat musik itu oleh masyarakat setempat disebut juga Bansi . Bunyi bansi yang ditiup oleh bocah bernama Ranum itu sangat menyayat hati dan memberikan kesejukan tersendiri bagi orang - orang yang mendengar . Dan anehnya bocah yang kira - kira masih berusia tujuh tahun itu hanya seorang diri menggembalakan puluhan kerbau yang ada ditempat itu . namun para kerbau itu tampak sangat jinak dan patuh seolah ikut menikmati permainan bansi bocah itu .
Saat bocah bernama Ranum itu tengah asyik meniup bansi tiba - tiba matanya yang tengah menengadah ke langit senja melihat sebuah sinar putih yang berputar - putar pelan .
Bocah itu tampak heran bercampur takut karena baru kali ini ia melihat fenomena alam seperti itu . Dari lobang yang terdapat ditengah - tengah sinar itu tampak empat sosok tubuh yang keluar dan tiga diantaranya jatuh bergedebukan di padang rumput sementara satu lagi mampu mendarat dengan tenang dan santai .
Orang yang mendarat dengan tenang itu adalah kakek gagah berjubah biru dan tiga orang lain yang jatuh bergedebukan adalah Sinto , Jane dan Dewi kipas perak .
Setelah melihat si kakek Bocah bernama Ranum itu tampak sangat senang dan kemudian melompat dari punggung kerbau sambil mengejar kakek berjubah biru itu dan memberikan pelukan erat .
" Kakek , aku sangat senang akhirnya kau kembali ? " ujar si bocah sambil memeluk erat si kakek
Sinto dan para sahabatnya yang baru saja bangkit berdiri tampak kaget melihat tingkah si bocah . Sambil mengurut - urut pinggangnya yang ngilu sinto langsung bertanya .
" Datuk , Siapa bocah ini ? " tanyanya
Si Kakek langsung tersenyum dan menoleh kearah Sinto .
__ADS_1
" Namanya Ranum , dan sepertinya kau salah telah memanggilnya bocah , kau tahu berapa umurnya ? " si kakek balik bertanya
Sinto hanya menggeleng sementara Jane dan dewi kipas perak hanya diam saja sambil memperhatikan .
Kondisi Jane pun saat ini sepertinya sudah kembali normal karena sesaat sebelum mereka tersedot ke dalam portal si kakek berjubah biru mengusap tengkuk nya satu kali dan Jane merasakan hawa dingin menusuk jantungnya dan iapun menjadi tenang kembali .
" Ranum saat ini sudah berumur seratus delapan puluh tahun " ujar si kakek sambil melepaskan pelukan bocah itu
Baik sinto maupun dua gadis lainnya sama - sama melongo kaget mendengar omongan si kakek barusan . Sinto jadi tak habis pikir , bocah yang seharusnya masih berumur tujuh tahun itu bisa setua itu .
" Sinto , kau masih ingat ceritaku tentang perbedaan waktu antara duniaku dan duniamu ? " si kakek kembali bertanya
" Iya Datuk , satu hari di dunia ku sama dengan Satu minggu di duniamu " ujar sinto
Si Kakek tampak senang sinto masih mengingatnya .
" Saat itu kita berada di lembah timbunan kabut tepatnya di alam tingkat kedua , namun kali ini kita berada di alam tingkat ketiga , satu hari di dunia mu sama dengan satu bulan ditempat ini " sambung si kakek .
" Tempat ini sangat luas Sinto , Mereka bisa saja terpental ke belahan pulau yang lain , aku sengaja membuat kita berempat jatuh ditempat ini , saat ini kita berada disebuah negeri indah bernama negeri seribu bunga " ucap si kakek
Bocah Bernama Ranum itu tampak senyam - senyum melihat sinto yang sangat bingung dengan kondisi saat itu .
" Tidak apa - apa kok , toh aku memang masih kecil kok , kamu panggil saja aku Ranum " ujar si bocah sambil mengulurkan salam sambil tersenyum lucu . Sinto membalas salam itu dan kemudian secara bergantian Jane dan dewi kipas perak ikut bersalaman dengan Ranum .
" Kalau begitu mari kita pergi ke desa , sang Sultan pasti sangat senang dengan kedatangan kakek dan para sahabat " lanjut Ranum .
Sesaat Kemudian bocah yang hanya mengenakan celana panjang hitam dan ikat kepala dari kain batik itu tampak berjalan dan kembali meniup bansi nya . Saat ia berjalan didepan kawanan kerbau itu seolah patuh dan berjalan berbaris mengikutinya . Sinto dan yang lainnya kemudian ikut berjalan mengikuti dari belakang .
Setelah sampai di desa para penduduk tampak memberikan senyum dan sapaan Ramah kepada kakek berjubah biru . Sepertinya sang kakek adalah orang yang sangat disegani ditempat itu . dari cara mereka menyapa dan cara si kakek menjawab sapaan mereka jelas kalau si kakek itu adalah orang yang sangat terhormat .
Setelah cukup jauh berjalan mereka sampai disebuah bangunan besar mirip sebuah istana . Setelah menggiring semua kerbau ke kandang bocah itu pamit untuk mandi dan mempersilahkan Sinto beserta rombongan untuk langsung masuk kedalam bangunan besar itu . Didepan pintu tampak dua orang prajurit kekar berpakaian lengkap sambil memegang tombak dan perisai . Setelah melihat siapa yang datang prajurit itu langsung saja membungkuk hormat dan segera mempersilahkan mereka masuk .
__ADS_1
Ruangan yang sangat megah namun tidak memiliki satupun kursi dan meja itu terlihat sangat bersih . Karpet beludru tebal berwarna biru tua dan putih tampak membentang menutupi seluruh lantai ruangan .
Tidak lama setelah mereka duduk bersila diatas karpet hangat itu keluarlah seorang Pria paruh baya diikuti dengan isteri dan seorang anak perempuannya yang kira - kira seumuran dengan Sinto dan Jane . Pria paruh baya itu adalah Sutan Iskandar zain pemimpin tertinggi di negeri seribu bunga . Sang sultan tampak sangat senang menerima kedatangan kakek berjubah biru itu .
" Alangkah girang hati saya dan seisi negeri ini menerima kunjungan Datuk setelah sekian lama " ujarnya sambil mendekat menyalami kakek berjubah biru
" Hamba juga sudah sangat rindu dengan negeri ini yang mulia " jawab si kakek hormat
Setelah cukup lama bercengkrama mereka kemudian menyantap hidangan yang telah disiapkan oleh pelayan istana dan setelah itu obrolan pun berlanjut hingga menjelang tengah malam .
***
Disebuah jurang gelap dan gersang Garang tampak berdiri gagah dengan memegang pusaka keris api ditangan kanannya . Sekitar dua puluh meter dihadapannya terlihat sebuah mulut goa yang dikenal dengan goa dasar neraka . Itu adalah tempat yang ingin dituju oleh bocah itu . namun sebelum ia sempat masuk di mulut goa tampak ratusan mata merah menyala yang memandang angker seolah ingin melahap dirinya . Bocah itu tampak tenang dan mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh .
Tidak berapa lama kemudian diiringi dengan satu teriakan membahana garang maju menerjang ke depan dan langsung saja disongsong oleh ratusan makhluk mirip kelelawar namun berukuran sebesar bayi manusia . Garang dengan sigap menebas dan menendang kearah makhluk buas pemakan daging itu . Dalam satu kali gebrakan puluhan makhluk itu tampak hancur dan tergeletak di tanah . Namun jumlah mereka yang sangat banyak dan terus menerus menyerang membuat garang cukup kesulitan .
Setelah melewati beberapa jurus tampak beberapa bagian tubuh bocah itu terkena luka goresan di sana - sini dan luka itu terlihat membiru pertanda cakaran dan gigitan makhluk itu mengandung racun .
Garang yang sudah mulai marah langsung saja berteriak kearah pembantu setianya .
" Siampa !!! " teriaknya
Makhluk gemuk besar itupun tampak merespon cepat dan tubuhnya yang gemuk besar itu mendadak berubah menjadi sebuah bola raksasa . Bulunya yang hitam kasar seolah berubah menjadi besi runcing yang sangat tajam . Dengan satu kali gerakan menggelinding tubuh bola itu telah sampai didekat kaki kanan garang . Garang segera mengalirkan tenaga dalam penuh ke kaki kanannya dan menendang tubuh Siampa itu sekuat tenaga sehingga tubuh itu melesat cepat ke depan menjadi sebuah bola api raksasa yang berduri tajam . Bola api itu melesat dan menghantam makhluk - makhluk mirip kelelawar itu sehingga makhluk itu hancur berserakan . Bola api itu terus memantul dan menghajar para makhluk dan saat tenaga pantulan itu mulai melemah ia akan melesat kembali kearah kaki garang untuk kembali menerima tendangan bertenaga dalam tinggi .
Namun kali ini hanya dalam satu kali lesatan saja bola api itu telah mampu menghabisi para makhluk itu dan saat ini tidak ada lagi penghalang antara mereka dan mulut Goa . Setelah itu bola api itu kembali berubah wujud menjadi makhluk gemuk besar yang berjalan menjalar di tanah . Garang langsung saja mengatur pernafasan untuk mengusir pengaruh racun yang dideritanya . Dan dalam waktu singkat tubuhnya telah segar kembali .
Namun belum sempat ia berbuat apa - apa terdengar suara keras membahana dari dalam Goa .
" Pemuda berjuluk Pangeran api , kau telah lulus ujian pertama dan saat ini kau diperkenankan masuk kedalam Goa Dasar Neraka untuk bertemu langsung dengan yang mulia sang Kaisar Api "
Garang tampak tersenyum puas dan kemudian ia mulai berjalan memasuki mulut goa dengan diiringi oleh Pembantu setianya Siampa gadang .
__ADS_1
Bersambung