Kesatria Dua Dimensi Episode 1 " PRAHARA Di RANAH MINANG

Kesatria Dua Dimensi Episode 1 " PRAHARA Di RANAH MINANG
Chapter 36 " lonceng penghisap sukma "


__ADS_3

Suasana di lapangan Upacara terasa semakin mencekam . Jane dan para penduduk desa saat ini hanya bisa berdiri tegak mematung karena terkena sihir makhluk jahat bernama Sijundai itu . Mata mereka menatap tak berkesip kearah makhluk besar yang baru saja berhasil menghancurkan benteng piramida yang melindungi tubuh sinto . Saat ini makhluk itu tampak tengah bersiap - siap untuk mengirimkan serangan mautnya kearah kesatria dua dimensi . Jane tampak sangat pucat membayangkan hal buruk yang akan terjadi . Ia langsung berteriak sambil menangis .


" Sintooooo !!!!! " suara jeritan Jane seperti bertindihan dengan jerit ketakutan para penduduk desa .


Sinto yang sudah mengetahui betapa berbahayanya serangan makhluk sijundai itu kali ini tidak mau lagi berlaku ayal . Setelah mendapatkan petunjuk dari gurunya yaitu kakek berjubah biru dari lembah timbunan kabut bocah itu langsung saja mencium telapak tangan kanannya dan sontak saja cahaya bening perak memancar dari telapak tangannya sehingga membuat makhluk sijundai itu memejamkan mata karena silau . setelah bisa menguasai diri makhluk itu tampak ternganga melihat sebilah pedang yang berada digenggaman Sinto .


" Pedang Naga Salju ?????? Siapa kau sebenarnya bocah ? " hardik makhluk itu


Sinto hanya tersenyum santai melihat makhluk itu tampak sedikit pucat dengan senjata ditangannya . Bocah itu saat ini merasakan kekuatannya meningkat berpuluh puluh kali lipat dan ia yakin itu disebabkan pedang bening yang saat ini digenggamnya . Pedang berwarna putih bening seperti batu es yang memiliki gagang berbentuk kepala naga itu memancarkan hawa dingin yang menyengat tulang . Sinto saat ini merasa tubuhnya kembali segar bugar dan tenaganya kembali pulih maksimal .


Makhluk Sijundai itu agaknya sangat tahu jika senjata ditangan lawan itu tidak bisa dipandang sebelah mata . Ia langsung saja mengirimkan serangan dadakan mengarah ke kepala sinto . serangkum angin dahsyat mengiringi serangan makhluk itu . Sinto langsung saja bergerak merundukkan kepala dan menebaskan pedang kearah pinggang makhluk itu . Makhluk sijundai memutar tubuh dan melompat cepat kebelakang untuk menghindari tebasan pedang naga salju . Sinto langsung saja mengejar dan menyerang makhluk itu dengan kecepatan yang sangat tinggi dan membuat makhluk itu tampak mulai terdesak . Pedang bening ditangannya tampak sesekali membuat makhluk itu terpekik kesakitan . Kali ini sasaran sinto hanya satu yaitu lonceng yang menggantung dileher makhluk itu . Namun karena makhluk itu terus bergerak mundur membuat sinto kesulitan menghancurkan lonceng itu . serangan yang dikirimkan sinto semakin dahsyatbdan beragam .


Jane dan para penduduk tampak begitu asyik menyaksikan pertarungan itu . Mereka seolah mendapatkan harapan baru sejak melihat makhluk itu mulai terdesak akibat serangan sinto . Begitupun Pandeka sahar yang juga sudah tersadar dari pingsannya . Ia tampak sangat bangga melihat pesatnya perkembangan tenaga sinto muridnya itu . Sementara pak tigor yang juga sudah sadar tampak berlari kearah pandeka sahar untuk membantunya .


" Panglima , kau tidak apa - apa ? " ujar Pak tigor setelah dekat


" Sepertinya aku terluka dalam " jawab pandeka sahar


" Semoga saja kesatria muda itu berhasil , tapi tadi aku mendengar kau menyebut nama sinto , apakah bocah itu adalah siswa SMA disini ?? " tanya pak tigor penasaran


Pandeka sahar tampak sedikit kaget mendengar pertanyaan Tigor .


" Bukan , tentu saja bukan " jawab pandeka sahar


Tigor hanya diam mendengar jawaban pandeka sahar namun dalam hati ia merasa sangat curiga dan berniat melakukan penyelidikan .


Dipuncak menara tertinggi sekolah itu tampak sesosok tubuh berpakaian hitam merah . Menatap kearah pertarungan sinto dan makhluk Sijundai itu . Ia sangat kaget melihat pedang ditangan Sinto .


" Gila betul !! ternyata pedang legendaris itu selama ini berada ditangan seorang bocah ingusan " makhluk itu terus bergumam dan menatap jalannya pertarungan .


" Dan sepertinya bocah itu juga belum menguasai jurus - jurus pedang sehingga kesaktian pedang mustika itu tidak bangkit sempurna " orang berjubah hitam terus menggumam .


Makhluk Sijundai yang sudah sangat terdesak kali ini tidak mau lagi terus menghindar . Ia berniat mengadu jiwa dengan pemuda bergelar kesatria dua dimensi itu . Kedua Telapak tangan nya dikembangkan dan dada dibusungkan sehingga lonceng kecil dilehernya tampak bersinar terang . Sesungguhya lonceng itu adalah sebuah senjata mustika dari alam tingkat ketiga yang mampu menghisap dan mengembalikan segala bentuk ilmu kesaktian dan tenaga dalam lawan . Didalam rimba persilatan lonceng itu disebut juga dengan " Lonceng Penghisap Sukma " .


Namun kali ini yang akan dihadapi lonceng itu bukanlah sebuah senjata yang bisa dianggap remeh dan makhluk sijundai sangat mengetahui itu bahwa Pedang Naga salju adalah senjata maha sakti yang langsung tercipta dari sumsum tulang makhluk hidup terkuat yang bernama Naga Salju yang telah raib ribuan tahun yang lalu . Namun Kali ini makhluk sijundai tetap akan mencoba menghisap kekuatan pedang itu untuk dipergunakan kembali menyerang sinto. Lonceng dilehernya tampak bergetar hebat begitupun tubuh makhluk sijundai itu . Sinto merasakan pedang ditangannya seperti ditarik oleh semacam tenaga yang berasal dari lonceng itu namun ia berhasil menahannya dengan mengerahkan tenaga dalam ke telapak tangan .

__ADS_1


Sesaat kemudian Makhluk sijundai itu tampak bergetar hebat dan langsung menggigil kesakitan .


Agaknya tenaga yang terhisap itu sudah melebihi kemampuan lonceng penghisap sukma sehingga lonceng itu menjadi kelebihan muatan dan membuat makhluk bernama sijundai itu bergetar hebat kedinginan .


Sinto akhirnya menyadari situasi yang terjadi dan ia langsung saja menambah aliran tenaga dalam ke gagang pedang mustika tersebut sehingga akhirnya membuat makhluk itu berdiri mematung karena membeku .


Melihat makhluk itu telah berdiri membeku maka sinto langsung saja memotong tali dan mengambil lonceng sakti itu dan menyimpannya kedalam saku celana gombrangnya . Saat lonceng itu diambil langsung saja semua orang yang ada ditempat itu menjadi bisa leluasa bergerak kembali dan Sinto langsung saja melangkah santai kearah pandeka sahar meninggalkan makhluk sijundai yang sudah membeku bagai patung itu .


" Sinto , Tusuk jantungnya menggunakan pedang itu jika tidak ia pasti akan bangkit kembali "


Sinto menoleh ke sumber suara ternyata laksamana kumbang yang berbicara . Harimau hitam itu tampak tergeletak kesakitan dipinggir lapangan . Langkah Sinto agak tertahan mendengar seruan laksamana kumbang dan ia kemudian menatap kearah pandeka sahar . Setelah sesaat terdiam kemudian pandeka sahar menganggukkan kepala seolah setuju dengan seruan laksamana kumbang .


Sinto langsung saja berhenti dan menarik nafas panjang . Sesaat kemudian ia tampak memutar pedang ditangan dan melesat cepat kearah belakang dan tidak beberapa kedipan mata pedang ditangan Sinto sudah menusuk tembus dada makhluk Sijundai tepat di area jantung dan sesaat kemudian tubuh makhluk itu tampak menghitam dan langsung hancur berantakan diiringi teriakan panjang yang mengerikan . Makhluk yang sudah berusia ribuan tahun itu akhirnya menemui ajal ditangan seorang bocah yang masih berusia tujuh belas tahun . Orang - orang kampung yang ada ditempat itu langsung saja menyoraki pendekar muda itu .


" Hidup Kesatria dua dimensi !!!! "


" Terima kasih kesatria !!! "


" Selamat datang pahlawan baru !!! "


Sinto langsung saja menghentikan aliran tenaga dalam dan pedang ditangannya langsung tersedot masuk kembali seolah menyatu dengan tulang lengannya . ia langsung saja tersenyum melihat kearah Jane .


" Sebaiknya kalian segera kembali kemarkas " ujar Pandeka sahar


Pandeka sahar melihat sebagian dari penduduk desa mulai berjalan kearah mereka . Mungkin mereka penasaran dengan wajah dibalik topeng kesatria dua dimensi .


Sinto dan Jane langsung mengerti maksud pandeka sahar tampak mengangguk setuju .


" Baiklah guru , jaga diri dan kesehatanmu guru , Sewaktu - waktu jangan lupa berkunjung " jawab sinto karena ia sudah sangat rindu dengan pandeka sahar .


" Aku pasti akan datang secepatnya " ujar Pandeka sahar


" Baiklah , kami pergi guru " ujar Sinto sambil melesat terbang membawa Jane dan juga laksamana kumbang .


Para penduduk sebagiannya adalah kaum emak - emak tampak kecewa melihat kesatria dua dimensi telah melesat pergi .

__ADS_1


akhirnya mereka langsung mendatangi pandeka sahar guna mendapatkan informasi terbaru terkait peristiwa yang menggemparkan desa itu .


Pandeka sahar mencoba menjelaskan kalau permasalahan makhluk itu sudah selesai dan proses belajar mengajar disekolah boleh dilanjutkan kembali .


***


Diatas puncak menara sosok berjubah hitam merah tampak tersenyum ganas


" Rimba persilatan pasti akan dibikin heboh lagi dengan kemunculan pedang itu , Tapi siapa sebenarnya bocah itu dan apa hubungannya dengan Malaikat agung tak bernama " gumam orang itu .


***


Sesampai dimarkas mereka tampak membaringkan laksamana kumbang disofa dan Jane langsung memberikan perawatan pertama dan setelah semua selesai mereka berniat untuk segera beristirahat . Sebelum pulang kerumahnya Sinto tampak memanggil Jane sementara laksamana kumbang dan rimbun tampak sudah tergolek pulas di sofa .


" Jane , sesuai petunjuk laksamana kumbang tadinya aku berniat untuk menghancurkan benda ini , namun sekilas aku jadi berfikir jika alangkah bagusnya benda ini aku berikan padamu mengingat tugas kita semakin - hari semakin berat "


ujar sinto sambil mengembangkan telapak tangannya dan disana terlihat sebuah lonceng kecil yang terbuat dari emas yang tidak lain adalah lonceng penghisap sukma .


Jane tampak sangat senang dan terharu dengan kebaikan Sinto . Matanya tampak berseri - seri dan perlahan pipinya yang putih bersih menjadi kemerah merahan . Entah kenapa ia jadi salah tingkah dengan kebaikan sinto . Namun dengan cepat ia segera menindihnya dengan berseloroh .


" Aduh jadi malu , jadi lhu mau ngelamar gue ? " ujarnya sambil tertawa ngakak


Sinto yang tidak paham langsung saja menyumpah - nyumpah tak karuan


" Dasar gadis gila !! " ujarnya sambil menyerahkan lonceng itu .


Namun karena jarak mereka yang begitu dekat membuat sinto akhirnya juga menyadari ternyata Jane juga berwajah sangat cantik . Sinto juga mulai agak salah tingkah dan ia memutuskan untuk langsung pergi .


" Jangan sampai benda ini hilang " ujarnya sambil pergi


Jane hanya tersenyum melihat muka sinto yang juga bersemu merah dan sambil menyimpan lonceng itu disaku jaketnya ia berteriak kearah sinto yang sudah melangkah pergi .


" Sinto .. terimakasih banyak !!! " ujar jane


Sinto terus berjalan dan tanpa menoleh kebelakang ia mengangkat tangan dan melambaikannya santai .

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2