
Di sebuah kediaman yang besar namun tidak sebesar dan semewah kediaman Duke Airos di wilayah Utara, seorang pria paruh baya sedang memukuli pengawal di kediaman nya dengan penuh emosi dan amarah.
"Kalian benar-benar membuatku marah! Gara-gara keterlambatan kalian, aku tidak bisa pergi ke perbatasan untuk bertemu pendukung penting ku! " teriak pria paruh baya itu dengan wajah sangar nya.
"Maafkan kami Tuan! Maafkan kelalaian kami kemarin! Kalau saja kami tidak terpancing emosi karena pencuri kecil dan perempuan itu, mungkin kami akan pulang tepat waktu! " jawab pria yang botak sembari menahan sakit di tubuhnya.
"Apa kau bilang?? Pencuri dan perempuan?? Jangan bilang tanaman yang aku pinta kemarin juga tidak ada?? " ucap pria paruh baya itu memicingkan matanya.
Pria botak itu menundukkan kepala tanpa menjawab pertanyaan majikannya. Ia melirik sekilas teman-temannya yang masih bersimpuh di lantai menerima hukuman mereka.
"Jawab pertanyaan ku dan jangan diam saja!! " teriak pria itu lagi dengan tangan kanan yang mulai mengeluarkan sihir angin miliknya.
"Ampun beribu ampun Tuanku! Tanaman itu sebenarnya sudah tidak ada lagi di toko yang kami datangi. Tapi pemilik toko memberitahu jika orang terakhir yang membelinya adalah seorang pemuda dengan ciri-ciri berupa luka di wajahnya! Kami mencari nya dan menemukan pemuda itu. Kami meminta nya baik-baik tapi pemuda itu menolaknya, dengan tuduhan mencuri pemuda itu kami hajar dan hampir berhasil merampas tanaman itu jika saja perempuan yang menutup mukanya tidak datang ikut campur! Perempuan itu menolong pemuda itu dengan menghajar kami semua hingga seperti ini Tuanku! Kami berkata sungguh-sungguh Tuanku! " ucap pria yang berambut merah dengan bersujud di hadapan pria paruh baya itu.
"Kalian semua di kalahkan oleh seorang perempuan??? Apa kalian pikir aku ini anak-anak yang bisa di ajak bercanda seperti itu?? " sahut pria paruh baya itu dengan remeh.
"Apa yang dikatakan si merah memang benar Tuanku! Untuk apa kami semua berbohong karena memang perempuan itu yang sudah menghajar kami saat itu hingga pingsan! " ucap kepala botak lagi dengan mengangkat kepala nya menatap majikan mereka.
Pria paruh baya itu tertegun dengan melihat kejujuran di mata pengawal pribadinya. Ia menghela napas kasar sembari menghilangkan pusaran angin di tangan nya.
"Ayah.... " tegur seorang wanita yang berdiri di belakang pria paruh baya itu.
Pria paruh baya menoleh kebelakang dan tersenyum begitu melihat wanita tersebut dengan melambaikan tangan nya agar wanita itu mendekat.
__ADS_1
"Liliana.. ! Apa yang kau lakukan di sini Nak?? " tanya Duke Lucian De Salomon dengan suara lembut.
Yah, pria paruh baya tadi adalah Duke Salomon ayah dari Liliana De Salomon yang mendiami wilayah utara kerajaan Amoland.
"Aku mencari ayah dan mendengar semuanya! Apa kau melihat siapa perempuan yang ikut campur urusan kalian itu?? " jawab lian sambil bertanya pada pengawal pribadi ayahnya.
"Tidak Nona! Perempuan itu memakai penutup wajah hingga hanya terlihat matanya yang berwarna abu-abu! Bahkan kami tidak melihat rambutnya karena di tutupi topi lebar! Suaranya terdengar begitu lembut dan manis, tapi begitu garang saat dia menghajar kami semua! " jawab pria yang berambut biru.
"Apa kalian benar-benar yakin jika perempuan itu yang sudah memukuli kalian?? " tanya Duke Salomon masih tidak percaya.
"Benar Tuanku! " jawab mereka serempak.
Duke Salomon kembali terdiam dan menatap Putri nya meminta pendapat. Liliana mengangguk pada ayahnya hingga akhir nya Duke membubarkan pengawal nya agar pergi ke dokter kediaman mereka untuk berobat.
Duke Salomon berjalan memasuki kediaman nya bersama Putri nya yang berjalan di samping kirinya. Mereka berjalan menuju ruang kerja Duke dan ternyata sudah di tunggu oleh ajudan setianya Marco Reus putra seorang Baron di wilayah utara.
"Selamat pagi juga Marco! " jawab mereka berdua juga dengan Liliana memberikan senyuman manisnya pada ajudan sang ayah.
Marco tersipu malu dan menundukkan kepala nya takut ketahuan majikannya Duke Salomon. Ia menutup pintu ruang kerja Duke begitu Duke dan Liliana memasuki ruangan tersebut. Marco segera pergi karena ia sadar diri jika ia hanya sebatas ajudan sang majikan yang tidak punya keharusan ikut masuk ke dalam ruangan itu kecuali Duke yang memintanya untuk masuk.
"Apa kau percaya dengan perkataan pengawal itu Putri ku?? Mereka semua di kalah kan oleh seorang wanita?? " tanya Duke Salomon pada putrinya.
"Lian percaya ayah! Hanya saja Lian penasaran dengan wajah perempuan yang misterius itu! Setau Lian di Kerajaan kita tidak ada perempuan yang bisa beladiri seperti seorang laki-laki!! " jawab Liliana dengan wajah serius.
__ADS_1
"Benar juga! Karena bagaimana pun juga belum pernah ada perempuan bisa bela diri karena tubuhnya yang lemah jika di berikan latihan seperti seorang laki-laki! Tapi walau bagaimana pun juga perempuan itu sudah membuat ayah kesal karena tidak bisa menemui seseorang yang penting sesuai janji ayah! " ucap Duke Salomon dengan memukul sandaran lengan kursinya.
"Tok.... Tok.... Tok... ! Tuan, ini cemilan nya! " ucap seseorang dari luar pintu.
"Bawa masuk! " jawab Duke Salomon singkat.
Pintu terbuka dengan seorang pelayan wanita datang membawakan sebuah nampan berisi teh dan beberapa camilan kering di atas piring cembung. Ia langsung meletakkan nampan tersebut di atas meja dan langsung pamit keluar.
Liliana menuangkan teh kedalam cangkir dan memberikannya kepada sang ayah.
"Bagaimana dengan pelajaran kelas wanita bangsawan mu Putri ku? Apakah ada kendala atau yang lainnya? " tanya Duke sambil meminum tehnya sedikit demi sedikit.
"Semuanya baik-baik saja ayah! Hanya saja aku bosan karena tidak mendapatkan teman yang sesuai dengan selera ku! Mereka semuanya penjilat dan licik untuk bisa aku bodoh bodohi! " " jawab Liliana dengan santai.
"Apa maksud mu Putri ku! " tanya Duke Salomon dengan wajah bingung.
"Ah ayah.. ! Aku ingin punya teman yang bisa di manfaatkan alias bisa menjadi pesuruh dan gampang di bodoh bodohi! Aku ingin punya teman yang bisa aku kendalikan untuk mencapai tujuan ku! Tapi, semua Putri bangsawan tempat aku belajar rata-rata semuanya penjilat dan licik satu sama lainnya! Aku tidak mau punya teman yang seperti itu! Aku mau semua orang tunduk padaku! " jawab Liliana dengan begitu angkuh.
"Hahahaha.... ! Ayah kira tadi apa! Ayah setuju dengan pemikiranmu Putri ku! Carilah orang yang tunduk pada perintah mu dan ayah menyetujui tindakan mu itu! Jangan biarkan kita ditindas orang lain karena yang seharusnya menindas adalah kita! Tunjukkan kuasa kita pada semua orang agar mereka tidak bisa bermain-main dengan keluarga Duke Salomon! " ucap Duke Salomon dengan tertawa bahagia.
"Iya ayah! Itulah yang akan aku lakukan! " sahut Liliana dengan wajah bahagia.
"Bagus Putri ku! Manfaat kan lah dukungan dan hubungan kekeluargaan kita dengan Yang Mulia permaisuri untuk segala tindakan mu! " ucap Duke Salomon lagi memberikan dukungan nya.
__ADS_1
Senyum Liliana bertambah lebar mendengar perkataan ayahnya. Ia mulai memikirkan langkah-langkah untuk menggaet beberapa Nona bangsawan untuk berada di pihaknya.
Bersambung..