
Kediaman Duke Airos..
Sakura yang baru saja selesai berlatih di barak pelatihan milik kediamannya langsung pergi ke ruang kerja milik ayahnya karena ingin menyampaikan sesuatu.
Tetapi dari luar ia mendengar suara tangis seseorang yang lambat laun ia yakini jika suara itu adalah suara kakak perempuan nya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kakak ku menangis di dalam? " tanya Sakura dengan dingin pada kedua pengawal yang berjaga tidak jauh dari pintu ruang kerja Duke.
"Kami tidak tau Nona! Hanya saja sebelum masuk kami melihat wajah Nona sulung memang sudah tidak enak di lihat! " jawab salah satu pengawal dengan jujur.
"Baiklah.. ! Betty, pergilah keluar karena mungkin saja hari ini Ronan akan datang bersama adiknya ke rumah ini! Jika mereka datang, langsung bawa mereka ke paviliun dekat kolam teratai! " ucap Sakura sembari memberikan tugas pada pelayan pribadi nya.
"Baik Nona, saya undur diri dulu! " jawab Betty dengan menunduk patuh.
Sakura hanya berdehem dan melangkahkan kaki menuju pintu ruang kerja ayahnya dan mengetuk pintu dengan keras. Ajudan sang ayah Freddy yang membukakan pintu dan menyuruhnya masuk.
"Silahkan masuk Nona muda! " ucap Freddy mempersilahkan Sakura masuk.
"Terimakasih paman.. " jawab Sakura sopan.
Ia melihat kakak perempuan nya menangis di pelukan sang Ibu, sedangkan sang ayah menatapnya dengan pandangan sendu tersirat akan suatu kesedihan yang mendalam.
"Ayah, ibu, kenapa kakak menangis seperti itu? Apa yang terjadi pada kakak? " tanya Sakura menatap ayah dan ibunya bergantian.
"Sini sayang, duduklah dekat ayah! " panggil Duke dengan melambaikan tangan nya.
Sakura berjalan mendekati sofa tempat ayah nya duduk dan mengambil tempat di sisi sang ayah.
"Ada kabar buruk sayang! Tunangan kakak perempuan mu ternyata sudah menikah diam-diam di desa Hime beberapa minggu yang lalu! " ucap Duke Airos menjawab pertanyaan Sakura tadi.
"Apa ayah bilang??? Apakah semua itu memang benar ayah? Bagaimana bisa kakak ipar Ben melakukan semua itu pada kakak?? " pekik Sakura kaget sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Itu semua memang benar sayang! Kakak mu mendapat surat dari orang kepercayaan Count Clark dan orang itu yang mengatakan langsung pada kakakmu! " ucap Duchess Sabrina dengan wajah sedih.
"Keterlaluan mereka! Lancang sekali mereka memberitahu hal sebesar ini hanya dengan melalui surat! Bahkan yang mengantarkan nya hanya orang kepercayaan nya saja, bukan perwakilan langsung dari keluarga Count itu! " teriak Vian dengan berang dari depan pintu.
Semua nya kaget dengan suara keras Vian yang tiba-tiba saja sudah berdiri di ruangan tersebut sambil mendorong pintu hingga terbuka lebar. Ia masuk dengan wajah merah karena sangat marah atas sikap Count Clark dan putranya.
"Tahan emosi mu Vian! Tutup pintunya Fred.. ! " ucap Duke Airos dengan suara bariton nya.
Vian mengambil tempat duduk di sebarang Sakura dan Duke. Freddy langsung menutup kembali pintu ruang kerja tersebut. Duke Airos mengeluarkan sihir kuning sebagai peredam suara agar pembicaraan mereka tidak bisa di dengar dari luar.
"Semua ini salah Rara, Ayah Ibu! Jika saja waktu itu Rara tidak sakit dan koma mungkin kakak dan kakak Ben sudah menikah dan menjadi suami istri! " ucap Sakura dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tidak! Itu bukan salah mu adik! Kakak tidak pernah menyalahkan mu karena pernikahan kami tertunda hingga sampai saat ini! Kakak menangis karena orang suruhan itu mengatakan jika Ben menikahi putri Baron itu karena perempuan itu sedang hamil! Itu yang membuat kakak sakit hati hingga menangis! " sanggah Vira dengan tegas sambil melepaskan pelukan nya dari sang Ibu.
"Apa???? " teriak semua orang dengan wajah terkejut dan semuanya menatap ke arah Savira tidak terkecuali Freddy.
"Apakah yang kau katakan ini benar putriku?? " tanya Duchess Sabrina dengan wajah serius.
"Benar Ibu, ayah! Aku sakit hati karena Ben yang aku percayai bisa melakukan hal sehina itu dengan menghamili perempuan lain! Sikapnya yang lembut dan sopan membuat aku seakan tidak percaya ia bisa melakukan semua ini! Aku benar-benar kecewa dengan nya Ayah, Ibu! Untung saja pernikahan kami tertunda karena sakitnya Rara! Jika saja waktu itu kami jadi menikah dan perempuan itu masuk dalam rumah tangga kami maka aku benar-benar jadi gila! Aku tidak mau berbagi suami dengan perempuan lain! Aku tidak mau Ayah, Ibu! Aku tidak mau! " jawab Vira dengan sorot mata kekecewaan.
"Kau benar! Kalau saja kalian sudah menikah dan masalah ini terjadi dalam rumah tangga kalian, maka Ayah sendiri yang akan memenggal kepala Ben itu dengan tangan Ayah sendiri! Sampai kapan pun semua keturunan Duke Airos tidak akan memiliki istri lebih dari satu dan tidak akan ada madu dalam kehidupan anak perempuan Duke Airos sampai kapanpun seperti leluhur Duke Airos selama ini! " ucap Duke Airos dengan begitu tegas.
"Tentu saja ayah! Hal ini tidak akan pernah terjadi pada keturunan keluarga kita hingga anak cucuku kelak! " sahut Vian berapi-api.
Dari zaman nenek moyang nya, keluarga Duke Airos memang menganut paham monogami terhadap pasangan nya, baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan hingga dari zaman kakek neneknya Sakura tidak ada yang mempunyai saudara tiri. Tidak seperti kebanyakan orang-orang yang mempunyai istri lebih dari satu seperti halnya seorang Raja.
Sakura meraih tangan kakak perempuan nya dan menggenggam erat tangan tersebut dengan penuh kasih sayang hingga membuat hati Savira seketika menghangat.
"Kakak harus kuat! Mungkin setelah ini akan ada rumor yang membicarakan masalah ini di luaran sana! Tutup saja telinga kakak jika mendengar suara-suara sumbang seperti itu! Rara berjanji akan mencarikan kakak seorang suami yang hebat yang selalu mencintai kakak seperti Ayah! " ucap Sakura dengan tulus.
Ucapan Sakura membuat Duke terkekeh geli sambil memegang perutnya. Tidak hanya Duke, Freddy dan Vian ikutan terkekeh hingga membuat Sakura merenggut sebel.
"Kenapa kalian tertawa?? Apa perkataan Rara ada yang salah?? " tanya Sakura dengan pipi menggembung karena kesal.
"Hahahaha... ! Perkataan Putri Ayah ini tidak salah sama sekali, tapi sangat lucu! Bagaimana bisa gadis kecil Ayah yang belum mengenal laki-laki bisa mencarikan jodoh untuk kakak perempuan nya?? " jawab Duke dengan tertawa dan mencubit gemes pipi Sakura.
"Eh.. Kenapa kakak juga ?? " tanya Vian menunjuk ke dirinya sendiri.
"Tentu saja kakak juga! Sudah waktunya ada seseorang yang membantu Ibu mengelola kediaman Duke yang sebesar ini! Kalau kakak Vira menikah otomatis ia akan pergi dari rumah ini mengikuti suaminya! Sudah pasti istri kakak lah yang akan disini membantu Ibu mengelola kediaman kita! Lagian kakak sudah waktunya untuk menikah! " jawab Sakura dengan begitu santainya.
"Benar juga ya?? Ibu setuju dengan mu sayang! Carikan lah menantu perempuan untuk kakak mu itu, karena Ibu tidak yakin jika ia akan mencarinya sendiri! " sahut Duchess Sabrina mendukung Putri bungsunya.
"Eh, apa-apaan ini! Bukannya tadi kita membahas Vira, kenapa jadi membahas aku?? " elak Vian menolaknya.
"Vira juga setuju Bu! Untuk sekarang biarkan Vira yang membantu Ibu sebelum Vian menikah! Adik, carikan kakak ipar yang baik untuk kita ya?? " sahut Vira ikut mendukung Ibu nya.
Vian menatap Ayah nya meminta pertolongan namun Duke malah mengangkat bahunya seakan-akan berkata "Maaf nak, kekuasaan perempuan itu tidak bisa di bantah sama sekali! Apalagi jika menyangkut Ibu dan adik-adikmu! ".
Vian menghela napas pasrah dan itu membuat Sakura tertawa senang dalam hatinya.
"Ini tidak ada dalam ingatan masa lalu ku! Jika dulu kakak menikah dengan sepupu Liliana dan hidup menderita di dalam keluarga itu, maka kali ini aku akan mencarikan laki-laki yang benar-benar cocok dan baik untuk kakakku! Tidak akan aku biarkan kakakku hidup menderita dengan laki-laki yang salah untuk kedua kalinya! Begitu juga dengan Kak Vian, dia akan aku nikahkan dengan Putri Baron De Black yaitu Mariana De Black.
Di ingatan ku dulu Putri Baron Maxwell De Black tidak begitu mencolok kehidupan nya karena ia menyembunyikan bakat nya yang seorang koki hebat karena di zaman ini seorang perempuan menjadi koki itu adalah sebuah aib. Pokoknya aku tidak akan membiarkan Mariana di ambil keluarga lain selain keluarga ku! " batin Sakura menyeringai dalam hati.
🌱🌱🌱
__ADS_1
Seorang pria berbaju hitam dengan menutupi seluruh tubuhnya hingga hanya terlihat matanya saja melompat dari atas balkon ke balkon yang lain hingga akhirnya menerobos masuk ke sebuah balkon yang sangat besar.
"Sembah sujud dan Hormat saya Yang Mulia! " ucap pria yang hanya terlihat matanya saja dengan bersimpuh di hadapan pria bertopeng yang sedang duduk di kursi kebesaran nya sambil mencoret sesuatu di sebuah kertas.
"Ada laporan apa Jacob?? " Tanya pria bertopeng tanpa basa basi.
"Hamba sudah menyelidiki kasus kekeringan di wilayah Timur Yang Mulia! Hasil penyelidikan saya menemukan jika hal itu ada hubungannya dengan menteri ketahanan pangan dan beberapa pejabat di bawah nya! Ini bukti yang saya temukan Yang Mulia! " jawab Jacob De Antonio dengan mengambil sesuatu di balik pakaian nya.
Sebuah gulungan yang diikat kain merah ia letakkan di atas meja pria bertopeng lalu ia kembali bersimpuh seperti biasa.
"Bagus! Apakah paman ku ikut terlibat dalam hal ini?? " tanya pria bertopeng itu lagi tanpa menoleh sedikit pun.
" Sejauh yang saya selidiki tidak sama sekali Yang Mulia! Malahan Grand Duke bingung kenapa wilayahnya yang subur tiba-tiba menjadi kering seperti ini! Beliau juga memanggil ahli pertanahan dan ahli pertanian untuk mendiskusikan masalah ini! " jawab Jacob dengan jujur.
"Ya sudah, pergilah sekarang untuk istirahat! Jika ada tugas lagi aku akan memanggil mu! " ucap pria bertopeng dengan melambaikan tangan nya menyuruh Jacob keluar.
Begitu Jacob keluar dari ruangan nya, pria bertopeng meletakkan pena tinta nya di tempatnya.
"Keluarlah Edgard! " perintah pria bertopeng pada seseorang yang tengah bersembunyi.
Wush... Seperti angin seseorang sudah berdiri di hadapan pria bertopeng dengan tubuh tertutup dan hanya memperlihatkan mata nya yang merah.
"Hamba melaporkan tentang Tuan Putri Yang Mulia! " ucap pria bernama Edgard De Clark dengan suara datar.
"Ada apa dengan calon permaisuri ku itu Edgard? Apa ia diganggu orang? Atau ada yang menyakitinya? " tanya pria bertopeng dengan memicing kan matanya.
"Tidak sama sekali Yang Mulia! Hanya saja kemarin Tuan putri menolong seseorang yang dipukuli pengawal Duke Salomon dari wilayah utara. Tuan putri membawa orang itu ke sebuah penginapan di desa Tarake. Sewaktu saya ingin menguping apa yang terjadi, saya tidak mendapatkan apa-apa karena sepertinya ruangan yang di masuki Tuan putri di lapisi sihir peredam suara! Saya sudah berusaha membobol nya tapi tidak berhasil karena sihir tersebut kuat sekali! " jawab Edgard menundukkan kepala nya.
"Apakah orang itu seorang pria?? " tanya pria bertopeng dengan aura intimidasi yang kuat.
"Benar Yang Mulia! " jawab Edgard cepat.
Brak...
Sebuah meja langsung terbelah menjadi dua karena pukulan tangan pria bertopeng yang tiba-tiba emosi mendengar jawaban Ksatria bayangan nya.
"Selidiki laki-laki itu Edgard! Jika ia kawan, awasi saja dia! Tapi jika ia lawan, bunuh dia tanpa meninggalkan jejak sedikit pun! Jangan lengah untuk mengawasi calon permaisuri negeri ini Edgard! " ucap pria bertopeng dengan sorot mata yang tidak terbaca.
"Baik Yang Mulia Putra Mahkota! " jawab Edgard menunduk patuh dan langsung pergi bagaikan angin.
Bersambung..
.
__ADS_1