
Sakura dan Ronan membuntuti kuda prajurit yang menuju arah wilayah utara yaitu jalan sebelah kanan yang mereka lewati semalam. Mereka sudah berkuda selama lebih 4 jam mengikuti prajurit tersebut.
Sakura menghentikan langkah kudanya saat merasakan ada getaran dalam tanah dari arah belakang nya.
"Ronan, sepertinya ada yang datang dengan jarak 150km di belakang kita! Lebih baik kita menyingkir dulu dan biarkan orang itu lewat sambil membuntuti mereka dari belakang! " ucap Sakura dengan nada tegas.
"Baik Nona! " jawab Ronan dengan mengangguk paham.
Mereka berdua langsung menyingkir memasuki hutan yang ada di sekitar jalan tersebut dan menunggu di balik semak-semak pohon dengan Sakura menciptakan barier perlindungan agar tidak ada yang mencium dan melihat keberadaan mereka berdua.
Cukup lama mereka berdua bersembunyi dibalik semak-semak pohon sampai akhirnya terdengar suara derap kaki kuda yang berlari dengan kencang melewati mereka berdua.
"Pria bertopeng... ! Siapa dia??? " gumam Sakura dalam hatinya.
Meskipun hanya sekelebat saja tapi Sakura yakin jika matanya tidak salah lihat. Ia melihat seorang pria bertopeng memacu kuda hitamnya dengan berlari kencang dengan di ikuti oleh beberapa orang yang juga menunggang kuda di belakang nya.
"Ayo kita cepat ikuti mereka sebelum kehilangan jejak! " perintah Sakura dengan menarik tali kekang kudanya.
Ronan mengikuti dari belakang Sakura yang memacu kuda nya agar berlari di belakang orang-orang tersebut.
Mereka akhirnya sampai di desa yang tidak ia ketahui namanya dan memilih memperlambat jalan kudanya agar tidak ketahuan. Dari kejauhan mereka melihat pria bertopeng dan rombongan nya berhenti di sebuah rumah sederhana yang mana kedatangan orang tersebut di sambut oleh seseorang yang Sakura kenal.
"Paman Fred??? " gumam Sakura lirih dengan mata terbelalak kaget.
"Ronan! Ayo kita menyingkir dan mengamati mereka dari kejauhan! Aku harus tau kenapa paman Fred ada di desa ini! Apa yang terjadi dan dimana ayahku? " perintah Sakura sambil turun dari atas kudanya dan menuntun kudanya untuk menepi.
Ronan ikut turun dan menuntun kudanya mengikuti jalan Sakura. Meskipun desa ini tidak ramai, tapi rumah-rumah disini saling berdekatan dan terlihat sangat aman dan damai. Untung saja saat ini hampir memasuki malam dan tidak membuat Sakura dan Ronan menjadi buah bibir orang-orang yang melihat mereka. Pasti mereka berdua menjadi pusat perhatian dengan penampilan mereka yang seperti ini.
🌱🌱🌱
Sementara itu Putra Mahkota Julian yang mendapatkan kabar keberadaan Duke Airos langsung pergi saat itu juga tanpa banyak tanya. Ia memacu kuda nya agar berlari kencang menuju desa tujuan nya sebelum malam.
Julian lega selama menempuh perjalanan hampir 4 jam ia akhirnya sampai di desa yang di kabarkan ada Duke Airos. Mereka hanya berhenti saat kuda mereka butuh makan dan minum, lalu melanjutkan kembali perjalanan mereka hingga akhirnya sampai ke tujuan.
"Salam hormat untuk Yang Mulia Putra Mahkota! " ucap Freddy yang keluar menyambut kedatangan Julian.
"Aku terima salam hormat mu! Dimana Duke? Apa dia baik-baik saja? " jawab Julian sembari turun dari kudanya.
Ia menyerahkan kudanya pada Henry yang juga sudah turun dari kuda.
"Tuan ku Duke ada di dalam bersama Sir Reiner Yang Mulia! Mari silahkan masuk! " ajak Freddy dengan masih membungkuk kan tubuhnya.
Julian hanya berdehem dan masuk ke dalam rumah dengan Freddy sebagai penunjuk jalan. Henry yang menyerahkan kuda mereka kepada prajurit yang ada di sana juga langsung masuk ke dalam rumah tersebut. Sakura hanya melihat dari jauh saat pria bertopeng masuk ke dalam rumah itu mengikuti Paman Fred.
"Ronan! Sebentar lagi malam, carikan tempat kita untuk menginap! Jika tidak ada carikan saja tempat menyembunyikan kuda-kuda kita agar tidak di lihat oleh mereka! Aku akan mencari tau apa yang terjadi di dalam rumah itu! " perintah Sakura dengan nada dingin.
"Baik Nona! " jawab Ronan patuh.
Putra Mahkota yang datang di sambut biasa saja oleh Duke Airos seperti pejabat lainnya. Ia hanya melirik saja setelah berbasa-basi memberikan hormat pada Matahari Kekaisaran mereka.
__ADS_1
"Apa yang terjadi Duke sehingga anda terdampar di sini dan bukan di desa Hime? " tanya Julian dengan jarak hanya beberapa meter dari Duke Airos.
"Kepala Ksatria ku terluka karena menyelamatkan aku saat kami di serang bandit hutan! Tidak ada dokter sihir yang bisa di minta pertolongan karena ini desa kecil yang nyaris penduduknya di bawah garis rata-rata! " jawab Duke sambil berjalan menuju kamar tempat Sir Nathaniel di rawat.
Julian dan Henry terbelalak kaget melihat keadaan Sir Nathaniel yang mengenaskan di atas ranjang dengan muka melepuh dan seluruh badannya juga membengkak dan berwarna merah.
"Bukannya ini wilayah kekuasaan Duke Salomon?? Kenapa ia tidak mengirimkan dokter sihirnya ke sini?? " tanya Julian dengan nada geram.
"Freddy sudah meminta bantuan ke sana tapi mereka hanya mengirim dokter kualitas sedang karena dokter sihir mereka sedang pergi ke kota sebelum kami sampai di sini! Begitu yang ia katakan kepada Fred! " jawab Duke Airos dengan nada geram dan tangan terkepal.
"Tuan Duke, apa yang terjadi dengan Niel?? " tanya Henry dengan nada khawatir.
"Tabib bilang Niel keracunan tapi ia tidak tau racun apa. Hanya saja dugaannya itu racun dari tumbuh-tumbuhan yang sulit di temukan penawarnya jika kita tidak tau tumbuhan apa yang membuatnya begitu! " jawab Duke Airos dengan nada sendu.
"Henry, kirim prajurit untuk kembali ke wilayah timur dan minta pamanku untuk meminjamkan dokter sihir mereka dan bawa ke sini sekarang juga! " perintah Julian dengan tegas pada Henry.
"Baik Yang Mulia! " jawab Henry dengan patuh.
Ia langsung bergegas keluar dari ruangan itu untuk memerintahkan Hugo kembali ke wilayah timur untuk membawa dokter sihir milik Grand Duke Leicester.
Diatas atap, seseorang tiarap sambil menahan air matanya melihat guru yang melatihnya sedang di ambang kematian.
"Aku mohon bertahanlah guru! Aku pasti akan menolong mu setelah mereka pergi dari kamar ini! " batin Sakura dengan pandangan yang sulit di artikan.
Julian melihat di sekelilingnya dengan mata yang tajam dan telinga yang sensitif terhadap gerakan apapun. Tiba-tiba saja ia merasa ada aura seseorang yang datang tapi langsung menghilang saat ia mulai waspada.
Sakura yang menyadari jika keberadaan nya terendus langsung melompat dari satu atap ke atap yang lain hingga melompat ke satu pohon ke pohon yang lain sampai benar-benar jauh dari rumah tersebut.
"Ada apa Yang Mulia? Kenapa anda bersikap waspada seperti itu? " tanya Duke Airos yang peka dengan tindak tanduk Julian yang melihat keliling kamar tersebut dengan mata yang intens.
Meskipun wajahnya tertutup topeng namun Duke Airos menyadari jika Julian tiba-tiba bersikap waspada seperti ada yang mengawasi mereka selain mereka yang ada di kamar itu.
Mendengar pertanyaan Duke Airos Julian sedikit terkesima karena Duke menyadari jika ia mengetahui sesuatu. Ia sedikit kagum dengan kepekaan Duke Airos yang tinggi terhadap sekelilingnya.
"Tidak ada, hanya saja tadi aku kira ada orang lain di sini selain kita! " jawab Julian dengan nada datar.
"Mungkin hanya perasaan anda saja Yang Mulia.. ! " sahut Duke sembari mendekati tempat tidur Sir Niel.
"Mungkin Duke benar! " jawab Julian seakan tidak perduli.
"Aku tidak pernah salah karena aku memang merasakan ada aura seseorang selain di ruangan ini! Hanya saja saat aku ingin mengetahui lebih jauh ia tiba-tiba menghilang seperti debu! Entah itu kawan atau lawan aku harus waspada! Sepertinya orang ini bukan orang biasa karena aku tidak bisa menyadari kedatangan nya lebih cepat seperti biasanya! " batin Julian dengan penuh keyakinan pada firasat nya.
Cukup lama mereka di kamar tersebut hingga akhirnya kepada desa setempat memanggil mereka untuk makan malam karena memang sudah waktunya makan malam.
"Fred, jaga kamar ini dan jangan ada biarkan seorang pun yang masuk tanpa seizin ku termasuk para dokter itu! " perintah Duke pada Freddy saat ia akan pergi bersama Putra Mahkota.
"Baik Tuanku! " jawab Freddy dengan mengangguk patuh.
Begitu Duke dan Julian pergi makan malam bersama kepala desa setempat, Sakura menyelinap masuk ke dalam kamar Sir Niel bersama Ronan. Ia langsung memasang barier perlindungan tingkat dua agar tidak ada seorangpun yang bisa memasuki ruangan ini termasuk ayahnya sekali pun.
__ADS_1
"Bertahan lah Sir, aku akan menolong mu! Ronan, tolong pegang dengan erat kedua tangan nya agar tidak memberontak karena apa yang aku lakukan lebih menyakitkan dari orang kebanyakan! Racun di tubuhnya sudah menyatu di dalam aliran darahnya dan aku membutuhkan tenaga yang banyak untuk membersihkan racun tersebut! " ucap Sakura pelan sambil memberikan perintah pada Ronan.
Ronan hanya mengangguk dan langsung memegang kedua tangan Sir Niel yang sedang terbaring lemah. Sakura langsung mengambil posisi berdiri di depan kepala Sir Niel dan memejamkan matanya dengan jempol yang menekan titik diantara kedua alis Sir Niel yang tidak melepuh.
Sebuah cahaya terang berwarna hijau kekuningan keluar dari tubuh Sakura mengalir ke tangannya hingga jempol dan masuk ke dalam tubuh Sir Niel.
"Aakkkhhh..... !!!! " teriak Sir Niel dengan kencang karena tubuhnya mengalami sakit yang hebat di sekujur badannya.
Karena Sakura memasang barier perlindungan maka teriakan Sir Niel hanya terdengar di ruangan itu saja. Tubuh Sir Niel berontak naik turun, matanya melotot ke atas hingga tanpa disadari mengeluarkan air mata di sudut matanya.
Ronan dengan kuat memegang kedua tangan Sir Niel, sedangkan Sakura masih terpejam mengeluarkan sihir penyembuhnya untuk menghilangkan semua racun yang ada di dalam tubuh Sir Niel hingga tubuhnya mengeluarkan keringat sebesar biji jagung.
Ronan menatap Sakura dengan pandangan kagum melihat Sakura berusaha menyembuhkan Sir Niel hingga berkeringat seperti itu.
"Nona benar-benar hebat! Setau ku jika orang terkena racun harus melakukan tiga sampai empat kali pengobatan dengan sihir penyembuh agar sembuh total dari racun. Beda dengan luka terkena pedang yang langsung sembuh dengan sekali sihir penyembuh! Mengobati orang yang terkena racun sama susahnya dengan mengobati orang yang terkena luka dalam karena sihir! " batin Ronan dengan mata berbinar.
Apa yang dilakukan Sakura rupanya di sadari oleh Julian, ia langsung menghentikan makannya yang keluar dari rumah kepala desa dengan mata menyorot tajam.
"Yang Mulia, apa yang terjadi?? Kenapa anda tidak menyelesaikan makan malam anda?? " teriak Duke yang ikut mengejar Julian.
"Sepertinya ada seseorang yang menyelinap masuk ke dalam kamar Ksatria anda tuan Duke! " jawab Julian dengan cepat dan ia menghilang karena ber teleportasi ke kamar tersebut.
"Apa??? " teriak Duke Airos dengan wajah kaget.
Ia juga melakukan teleportasi ke kamar Sir Niel. Namun sayang sungguh sayang ia tidak bisa langsung masuk ke kamar tersebut seperti halnya dengan Putra Mahkota Julian.
"Apa yang terjadi?? Kenapa aku tidak bisa langsung masuk ke dalam kamar Niel?? Fred.. Apa yang sebenarnya terjadi?? " tanya Duke dengan wajah penuh amarah karena ia berada di depan pintu masuk kamar Sir Niel sama seperti Putra Mahkota Julian.
"Ampun Tuanku.. ! Saya benar-benar tidak tau apa-apa! Saya terkejut dengan kedatangan Yang Mulia Putra Mahkota secara tiba-tiba di pintu ini! " jawab Freddy dengan wajah ketakutan akan kemarahan Tuannya.
Tidak hanya Duke, Julian juga memendam amarah karena tidak bisa masuk ke dalam kamar Sir Niel. Duke Airos memejamkan matanya mengeluarkan cahaya biru dengan menyentuh pintu kamar Sir Niel.
Ctas... Drrrrtttt...
Duke Airos terpental kebelakang hingga membuat Freddy kaget melihat pintu kamar Sir Niel tidak bisa di sentuh.
"Sepertinya ada seseorang di dalam kamar kepala Ksatria anda Duke hingga ia memasang barier perlindungan yang begitu kuat! " duga Julian dengan memejamkan matanya.
Ia mundur dua langkah dan mengeluarkan cahaya merah untuk menembus barier perlindungan tersebut namun bukannya masuk ia malah terpental kebelakang seperti hal nya Duke Airos.
Sakura yang sedang fokus memberikan sihir penyembuh nya menjadi terganggu dengan suara seseorang yang mencoba menembus barier perlindungan yang ia buat di kamar ini.
Wush.... Wush....
Dengan tangan kirinya ia menembakan cahaya kuning agar barier perlindungan nya semakin kuat dan tidak bisa di tembus siapa pun. Setelah itu ia kembali lagi mengobati Sir Niel dengan sihir penyembuh nya.
Mendengar suara di luar kamar membuat Ronan sedikit cemas karena takut ketahuan dan di tangkap, namun melihat apa yang dilakukan Nona nya membuat nya bisa bernapas lega.
"Ya Dewa... ! Jangan sampai mereka menangkap kami terutama Nona! Keadaan ini membuat aku takut saja! Mereka pasti mengira kami orang jahat! " batin Ronan dengan wajah pucat.
__ADS_1
Bersambung...