Kesempatan Kedua Putri Sakura

Kesempatan Kedua Putri Sakura
Pergi diam-diam


__ADS_3

Duke Airos selaku menteri pertanahan duduk termenung di ruang kerjanya. Kepala nya pusing memikirkan permasalahan yang tengah ia hadapi untuk memulihkan keadaan di desa Hime. Seumur hidupnya sebagai menteri pertanahan ini pertama kalinya ia mempunyai permasalahan yang sesusah ini.


Selama berabad-abad tahun wilayah Timur adalah wilayah yang paling subur terutama desa Hime yang menjadi salah satu tempat yang paling menghasilkan banyak pendapatan untuk Kekaisaran Amoland dengan penghasilan makanan pokok dan bahan pangan makanan lainnya. Saking melimpah ruah nya penghasilan di desa Hime, Kekaisaran Amoland sampai menjual hasil nya ke negara tetangga hingga ke benua luar.


Duchess Sabrina memasuki ruang kerja suaminya dengan tersenyum lembut. Ia memberikan kode pada pelayan yang di belakang nya untuk menaruh nampan yang mereka bawa di atas meja.


Mereka langsung keluar setelah melakukan tugas mereka dan di ruangan itu tinggal sepasang pasutri tersebut.


Duke Airos melambaikan tangan nya agar Duchess Sabrina mendekat dan dalam sekali tarikan Duchess Sabrina terduduk di atas pangkuan suaminya.


"Biarkan seperti ini sebentar sayang! Rasanya kepalaku mau pecah memikirkan solusi untuk masalah ini! " bisik Duke Airos dengan menenggelamkan wajahnya ke dalam ceruk leher istrinya.


Duchess Sabrina hanya terdiam dan mengusap lembut lengan kekar suaminya yang memeluk erat perutnya. Cukup lama mereka berdua di posisi ini hingga akhirnya buyar karena bunyi perut Duke yang meronta minta di isi.


"Hahahaha... ! Ya ampun sayang.. ! Kenapa suami tampan ku ini tidak bilang kalau sudah lapar?? Ayo kita makan dulu biar tenaga mu pulih! " ucap Duchess Sabrina dengan tertawa geli mendengar suara perut suaminya.


Kesal di tertawakan istrinya, Duke Airos menghujam wajah cantik istrinya dengan ciuman bertubi-tubi hingga Duchess Sabrina terkikik kegelian.


"Ampun suamiku, ampun! Ayo kita makan sekarang sebelum perut mu kembali mengeluarkan suara gemuruh! " ucap Duchess Sabrina masih dengan berontak dari rengkuhan suaminya.


"Sekali lagi kau menertawakan suamimu ini maka aku tidak segan-segan memakan mu di sini sayangku! " ancam Duke dengan tersenyum miring.


Duchess Sabrina menutup mulutnya dan tubuhnya langsung merinding mendengar ancaman suaminya. Ia bukannya takut, tapi ngeri karena jika sudah memadu kasih maka hal itu tidak bisa dilakukan hanya sekali, pasti berkali-kali sampai suaminya puas. Yang jadi masalah nya hingga saat ini suaminya tidak pernah puas jika sudah berhubungan dengan urusan ranjang meski pun sudah berumur seperti ini.


Duchess Sabrina sampai heran dan bingung, bagaimana bisa bertambah nya umur suaminya semakin kuat dan bringas di ranjang, bukannya bertambah berkurang atau pun lemah. Memikirkan semua itu membuat tubuhnya merinding disco dan ia langsung berjalan menuju sofa untuk mengambil makanan untuk sang suami sebelum suaminya melakukan ucapan nya tadi.


Ketika sedang makan, pintu ruang kerja nya di ketuk dari luar hingga Duke dan Duchess menghentikan makan mereka sejenak.


"Ayah.. ! Apa ayah di dalam?? Rara ingin bertemu dengan ayah! " panggil Sakura dari luar.


Mendengar suara Putri bungsunya, Duchess Sabrina langsung bangkit menuju pintu dan membukanya dari dalam.


"Ibu ada di sini juga?? " tanya Sakura saat melihat Ibu nya yang membukakan pintu.


"Iya sayang.. ! Ibu dan ayahmu sedang makan! Ayo masuk! " jawab Duchess Sabrina dengan menarik tangan Sakura masuk kedalam ruang kerja suaminya.


"Sini sayang duduk dekat ayah.. ! " panggil Duke dengan menepuk sisi di sebelah ia duduk.

__ADS_1


Rara tersenyum lebar dan langsung duduk di samping kanan ayahnya dengan memeluk tubuh ayahnya dari samping.


Duke tersenyum lebar sambil menciumi pucuk kepala Putri bungsu nya dengan penuh kasih sayang. Duchess Sabrina tersenyum melihat kasih sayang ayah dan anak tersebut, ia duduk kembali di samping kiri suaminya sehingga Duke di apit dua perempuan cantik beda usia.


"Jika manja seperti ini pasti ada mau nya! " tebak Duke sambil makan di suapi istrinya.


Sakura terkekeh dalam pelukan ayah nya. Ia menghirup lama-lama aroma sang ayah yang membuatnya merasa aman dan nyaman disaat bersamaan.


"Ayah, aku sudah tahu permasalahan di desa Hime dari Paman Fred! Tadi Rara tidak sengaja bertemu Paman Fred dan memaksanya untuk mengatakan semuanya! Boleh kah Rara ikut ayah ke desa Hime besok?? Rara ingin membantu ayah mengatasi masalah kekeringan di sana! " ucap Rara pelan sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah sang ayah.


Duke Airos terkejut dengan permintaan sang anak dan langsung menolak nya dengan tegas.


"Tidak! Ayah tidak mengizinkan dirimu ikut ke sana! Di sana bukan tempat yang bagus untuk perempuan kesayangan ayah! Ayah tidak akan mengizinkan nya! Lagian ayah di sana untuk bekerja dan pastinya ayah tidak terlalu bisa mengawasi mu jika kau ikut ke sana! " tolak Duke dengan tegas.


"Ayolah ayah, boleh ya.. ! Rara ingin membantu ayah! Rara bisa jaga diri selama di sana ayah! Rara janji gak akan jauh-jauh dari ayah! Boleh ya ayah.. !! " rengek Rara dengan menampilkan wajah puppy eyes nya.


"Tidak! Sekali tidak tetap tidak! Ayah tidak ingin terjadi sesuatu lagi padamu sayang! Ayah tidak mengizinkan nya! " jawab Duke lagi dengan tegas tanpa mau di bantah.


Bibir Rara mengerucut maju mendengar penolakan keras dari sang ayah. Pipinya menggembung hingga membuat Duke gemes dan mencubitnya dengan geram.


"Dengar kan ayah sayang ku... ! Meskipun kau bersama ayah di sana, ayah tidak mau kau kenapa-napa! Bisa saja saat ayah lengah ada orang yang mencelakai mu! Ayah tau kau sudah hebat dalam bela diri, tapi tetap saja kau seorang perempuan! Ayah tidak akan mengambil resiko kejadian kemarin terjadi lagi! Ayah bisa gila jika terjadi sesuatu padamu sayang ku.. ! " ucap Duke dengan suara lemah lembut pada Sakura.


"Apa yang dikatakan ayahmu benar sayang! Tidak hanya ayah, ibu bisa mati berdiri jika kau seperti kemarin! Ayahmu menolak untuk kebaikan mu sayangku.. ! Ibu harap kau mengerti! " sahut Duchess dengan membelai lembut rambut hitam Putri nya.


Sakura mengangguk pelan seakan-akan patuh pada perkataan kedua orang tuanya, padahal di benak nya sudah ada rencana untuk pergi diam-diam setelah ayahnya berangkat.


🌱🌱🌱


Hari ini Duke Airos akan pergi ke desa Hime untuk mengatasi masalah kekeringan di desa tersebut. Para pelayan sudah sibuk mempersiapkan keberangkatan Tuan mereka dengan meletakkan barang-barang yang akan di bagikan untuk para penduduk di sana.


Duchess Sabrina juga sibuk membereskan pakaian suaminya untuk di masukkan ke dalam peti. Para penduduk di zaman ini masih menggunakan peti untuk membawa pakaian mereka jika hendak bepergian jauh.


Sakura duduk dengan santai bersama kedua kakak nya Vira dan Vian ruang santai sambil menunggu ayah mereka yang sedang bersiap-siap. Ajudan sang ayah Freddy sudah siap dengan kudanya di halaman depan di samping kereta kuda yang akan membawa barang-barang Duke. Duke pergi dengan membawa Kepala ksatria nya Sir Nathaniel dan sudah memasang barier perlindungan pada kediaman nya semalam agar selain pelayan dan keluarga nya tidak ada yang bisa masuk dan keluar dari kediaman ini selama ia pergi.


Duke keluar dari kamar bersama Duchess Sabrina yang menggandeng tangan nya menuju halaman depan dengan di ikuti ketiga anak-anak mereka yang berjalan di belakang.


"Vian.. ! Ayah titip adik dan ibumu selama ayah pergi, jika ada apa-apa langsung hubungi ayah dengan sihir telepati! " pesan Duke sambil menepuk pelan bahu Putra nya.

__ADS_1


"Baik ayah.. ! " jawab Vian dengan mengangguk patuh.


"Rara sayang.. ! Ingat pesan ayah untuk tetap di rumah, jika mau keluar bawa prajurit kita untuk mengawal mu! " pesan Duke lagi dengan mengecup kening Putri bungsunya.


"Iya ayah! Ayah hati-hati di jalan dan jangan telat makan! Jaga diri ayah baik-baik! " jawab Sakura dengan memeluk tubuh ayahnya dengan erat.


Vira tidak mengatakan apa-apa, ia hanya memeluk erat tubuh ayahnya seperti Sakura dan di hadiahi kecupan hangat di keningnya oleh Duke.


Beralih ke sang istri, Duke memeluk erat tubuh sang istri dan memberikan ciuman lembut di bibir sang istri yang membuat para pelayan menunduk malu melihat adegan tersebut. Vian menutup mata Sakura hingga membuat Sakura berontak marah.


"Kakak ih.. ! Kenapa mata Rara di tutupi?? Rara gak bisa lihat nih!! " teriak Sakura berusaha berontak sambil menyingkirkan tangan lebar kakaknya yang menutupi matanya.


Vira dan para pelayan pribadi mereka terkikik geli melihat Vian menutup mata Sakura saat adegan kemesraan kedua orang tuanya sedang berlangsung.


Duke langsung menyudahi ciumannya begitu mendengar teriakan Putri bungsunya yang memekakkan telinga. Duchess Sabrina merona malu dengan kelakuan suaminya yang tidak tau tempat itu.


"Ayah pergi dulu! Ingat pesan ayah Vian! " ucap Duke sambil mengingat kan putranya lagi.


Vian mengangguk paham, Duke pun berjalan mendekati kudanya dan langsung menaikinya. Freddy dan Sir Nathaniel juga menaiki kuda mereka dan mengangguk hormat kepada Duchess Sabrina dan anak-anak nya sebelum mereka pergi.


Duke melambaikan tangan sebelum menarik tali kekang kudanya dan perlahan kudanya berjalan meninggalkan pekarangan kediaman nya menuju jalanan. Para penjaga menunduk hormat saat Duke melintasi gerbang kediaman nya dan menutup pintu gerbang begitu kereta kuda yang membawa barang-barang Duke keluar dari gerbang.


Duchess Sabrina kembali memasuki kediaman nya setelah melihat pintu gerbang depan sudah tertutup bersama anak-anak nya. Vian langsung ruang kerja sang ayah untuk menggantikan ayahnya mengurus wilayah mereka, Vira bersiap-siap untuk kelas menyulam dan menjahit, sedangkan Sakura berdiam diri di dalam kamarnya karena tidak ada kegiatan.


"Betty, Rein.. ! Kalian berdua sudah mempersiapkan apa yang aku minta kemarin? " tanya Sakura saat ia sudah di kamar nya.


"Sudah Nona.. ! " jawab mereka serempak.


"Nona, apakah Nona yakin menjalankan semua rencana Nona?? Saya takut Tuan Duke dan Duchess marah saat tau Nona kabur menyusul ke desa Hime! Apa lagi perjalanan kesana lumayan lama memakan waktu selama 4 hari jika menaiki kuda! " ucap Betty dengan nada khawatir.


"Itu tugas mu dan Rein untuk menenangkan Ibu selama aku pergi Betty! Soal ayah tenang saja, ayah memang akan marah tapi pasti tidak akan lama! Sudah lah, jangan kau provokasi aku lagi agar membatalkan rencana ini! " sahut Sakura dengan nada malas.


"Oh ya Rein! Kau sudah menyampaikan pesan ku pada kakak mu? " tanya Sakura beralih pada Rein.


"Sudah Nona! Kata kakak Nona tunggu saja di sini saat menjelang malam! Kakak bilang lebih baik pergi saat malam hari di saat orang sudah terlelap! " jawab Rein sesuai pesan kakak nya.


"Bagus! Oh ya, siapkan juga bekal untuk kami di perjalanan nanti Betty! " ucap Sakura dengan tersenyum senang.

__ADS_1


Ia sudah tidak sabar untuk pergi memulai petualangan nya untuk pertama kali meskipun pergi secara diam-diam.


Bersambung..


__ADS_2