Kesempatan Kedua Putri Sakura

Kesempatan Kedua Putri Sakura
Pemukiman rahasia di balik air terjun


__ADS_3

Dengan langkah tertatih-tatih Savira menyeimbangkan langkah kakinya agar tidak kesandung karena adiknya yang berjalan cepat sambil menarik tangannya.


"Rara, bisakah jalannya pelan-pelan?? Kakak lelah.. ! " pinta Savira dengan lembut dan napas ngos-ngosan.


Sakura yang menyadari tingkahnya langsung berhenti hingga membuat Savira menabrak tubuh Sakura. Untung saja tubuh Sakura tidak lemah seperti dulu hingga ia tidak oleng dan memegang kedua bahu kakak nya agar tidak terjatuh.


"Maafkan Rara kakak.. ! Rara reflek dan tidak sengaja membuat kakak seperti ini! " ucap Sakura dengan wajah menyesal.


"Tidak apa-apa! Huh... Huh... Huh... " jawab Vira dengan mengeluarkan karbondioksida dari mulut nya.


"Nona, Ayo kita masuk ke dalam kereta biar Nona istirahat dan minum! " ajak Luna dengan tanggap melihat Nona nya kecapean.


"Iya Kak, ayo kita masuk! " sahut Sakura ikut mengiyakan nya.


Savira mengangguk dan masuk kedalam kereta kuda mereka dengan di bantu Irish. Sakura juga masuk dengan di susul pelayan pribadi nya. Sesampainya di dalam kereta, Luna langsung memberikan secangkir air putih yang selalu tersedia di dalam kereta kepada Savira. Rein juga dengan sigap menuangkan air putih untuk Sakura karena ia yakin Sakura juga membutuhkan air putih untuk menyegarkan tenggorokannya.


"Terimakasih Rein, kau tau saja kalau aku butuh minum! " ucap Sakura dengan langsung meneguk air putih itu dengan cepat.


"Pelan-pelan Nona.. ! " tegur Betty mengingatkan Sakura.


Sakura hanya mengangguk dan meminum kembali air putih hingga habis.


"Adik, apa yang membuatmu bersikap tidak sopan begitu di depan Yang Mulia Pangeran dan Grand Duke? Kau tau, jika mereka tersinggung dan sakit hati kita bisa terkena masalah dan mendapatkan hukuman dari Kaisar! Kakak harap kau mengontrol emosi mu jika kau tidak menyukai mereka! " tegur Savira dengan menyentuh lembut tangan adiknya.


"Maafkan Rara kakak! Entah kenapa setiap melihat atau mendengar Pangeran ketiga bicara Rara tiba-tiba merasa kesal dan benci pada laki-laki itu! Rasanya Rara ingin merobek mulut nya agar tidak banyak bicara! Belum lagi tadi ia menatap ku dengan tatapan yang sangat menjijikkan! Rara benci laki-laki seperti itu meskipun ia seorang Pangeran! " jawab Sakura dengan blak-blakan.


Savira hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan adiknya yang memang tegas jika menyangkut sesuatu. Jika ia tidak suka ia akan mengatakan nya tanpa merasa takut karena mengutarakan isi hatinya. Terkadang ia juga ingin seperti adiknya yang dengan gampang mengeluarkan perasaan nya, baik itu kesal, marah, sedih ataupun bahagia. Tapi ia masih memikirkan sikap dan norma perilaku Nona bangsawan yang selalu terkait dengan perilaku lemah lembut yang membuat nya terkadang menahan emosinya agar tidak berimbas kepada kedua orang tuanya serta kehormatan keluarga nya.


"Seandainya Nona sulung tau mimpi Nona muda, pasti Nona sulung tidak akan berkata seperti itu lagi pada Nona muda! Biarpun masih mimpi tapi orang itu benar-benar jahat dan pantas di benci! " batin Betty dengan menatap wajah Sakura dengan sendu.


Selama perjalanan mereka semua tidak ada yang bicara, semuanya larut dalam pikiran masing-masing.


🌱🌱🌱


"Hiat.... Hiat... " teriak seorang pria yang memakai topeng menghentakkan tali kekang kudanya yang berwarna hitam agar berlari lebih kencang memasuki hutan kematian.

__ADS_1


Seseorang lagi mengikuti dari belakang dengan menunggang kuda warna coklat tua dengan agak cepat agar menyamakan lari kuda tuannya.


Pria bertopeng menghentikan kuda nya di sebuah air terjun yang terdapat di bagian dalam sebuah hutan kematian yang tidak pernah terjamah oleh manusia kecuali dirinya dan orang-orang nya.


Ia melompat turun dan menuntun kudanya berjalan menaiki tebing curam yang menuju air terjun tersebut. Pria yang satunya ikut melompat dari kuda nya dan menuntun kuda nya juga di belakang pria bertopeng.


Kedua pria dan kudanya memasuki air terjun setelah berjalan beberapa menit melalui jalan kecil yang hanya di ketahui jika di perhatikan lebih jelas artinya hanya bisa di lihat oleh orang-orang yang jeli pengamatan nya.


Ternyata di balik air terjun itu terdapat sebuah goa yang sangat besar tertutupi oleh tanaman yang menjalar dan menggantung seperti sebuah hiasan. Kedua pria itu masih menuntun kuda mereka memasuki goa tersebut.


"Yang Mulia.. ! Kenapa tadi Yang Mulia tidak bertahan di restoran saat ada Tuan Putri? Bukan kah Tuan Putri juga melihat Yang Mulia? " tanya orang itu memecahkan kesunyian.


"Belum waktu nya kami untuk bertemu Henry! Biarkan ia bergerak bebas sebelum ia masuk kedalam kehidupan ku! " jawab Julian datar.


Henry terdiam mendengar jawaban Tuannya, ia tidak berani lagi bertanya karena tidak ingin Tuannya marah.


Mereka berhenti di sebuah dinding batu besar dan Julian langsung memejamkan matanya merapal kan sesuatu di mulutnya hingga tak lama di tangan keluar cahaya dan menyentuh dinding itu. Secara ajaib dinding itu berubah menjadi sebuah pintu besar dan Julian langsung masuk sambil menuntun kudanya bersama dengan Henry yang juga cepat-cepat masuk bersama kudanya.


Setelah mereka semua masuk, pintu tadi berubah kembali menjadi dinding batu seperti sediakala. Mereka terus berjalan di dalam kegelapan hingga akhirnya jalan mereka perlahan memancarkan cahaya sedikit demi sedikit hingga lama kelamaan berubah terang karena sinar cahaya matahari dan tampak di depan mereka sebuah hamparan pemandangan indah yang memanjakan mata yang melihatnya. Sebuah permukiman yang sangat asri, sejuk dan damai dengan berbagai macam bentuk rumah pohon yang bertebaran di wilayah tersebut.


"Selamat datang kembali Yang Mulia.. ! " teriak mereka serempak dengan tersenyum lebar.


Mereka tidak membungkuk hormat seperti para bangsawan, namun mereka menundukkan kepalanya sejenak sebagai tanda hormat mereka kepada Julian.


Beberapa orang langsung mengambil kuda Julian dan Henry membawanya entah kemana. Seorang pria paruh baya menghampiri mereka dengan tersenyum lebar.


"Lama tidak berjumpa Yang Mulia Putra Mahkota! Bagaimana kabar anda? " sapa pria paruh baya itu dengan menunduk sekilas.


"Aku baik-baik saja Paman.. ! Bagaimana keadaan disini? Apakah ada yang mencoba mengusik kalian? " jawab Julian dengan nada datar seperti biasa.


"Kami semua di sini baik-baik saja Yang Mulia! Tidak ada yang bisa masuk ke pemukiman ini kecuali anda Yang Mulia, jadi kami di sini aman-aman saja! Oh ya, bagaimana kabar anda Marquess muda Martinez? " ucap pria itu sambil bertanya pada Henry.


"Saya juga baik-baik saja kepala suku Oberon! " jawab Henry dengan tersenyum ramah.


"Ayah.. ! Sudah saat nya kita makan siang! Selamat datang Yang Mulia! " ucap seorang perempuan berambut kuning keemasan dengan telinga harimau dan ekor harimau yang bergerak di bokong nya menginterupsi percakapan mereka.

__ADS_1


"Terimakasih sudah memanggil kami Kyra! Ayo Yang Mulia, Marquess Martinez kita makan siang dulu di rumah! " ajak kepala suku Oberon pada Julian dan Henry.


Perempuan bertelinga harimau dan berekor itu bergelayut manja di lengan kepala suku Oberon sambil berjalan ke rumah mereka. Para penduduk yang melihat mengangguk hormat setiap berpapasan dengan mereka. Pemukiman ini adalah pemukiman suku Oberon yang terakhir setelah pembersihan besar-besaran 15 tahun lalu. Mereka adalah suku penyihir murni yang tadinya mendiami Kekaisaran Amoland sebelum masalah datang dan membuat suku mereka di bantai habis-habisan oleh Kerajaan dan pendeta agung dari menara sihir Amoland.


Tidak hanya penyihir, pemukiman ini juga di huni elf atau manusia bertelinga runcing yang mempunyai rambut perak dengan kulit Seputih susu. Tidak hanya itu pemukiman ini juga ada bangsa dwarfs atau bangsa kurcaci, dan juga makhluk mistis seperti perempuan bertelinga harimau dan mempunyai ekor tadi.


Karena pembersihan waktu itu, bangsa mereka banyak yang mati dan mungkin saja akan punah jika tidak di selamat kan oleh kakek Julian pada masa itu yaitu Harry Constantin yang tidak lain adalah Kaisar terdahulu sebelum Kaisar Maxime.


"Yang Mulia, apa anda akan lama di sini? " tanya kepala suku Oberon saat mereka duduk santai di atas rumah pohon.


"Mungkin saja! Aku harus melihat perkembangan pelatihan prajurit ku dulu sebelum kembali ke Airones! Aku juga akan kembali berlatih meningkatkan sihir elemen ku sebelum kembali ke sana! " jawab Julian dengan pandangan lurus ke depan.


Di pemukiman ini juga ada prajurit terlatih milik Julian yang teruji kesetiaan nya pada Julian. Mereka sengaja berlatih dan tinggal disini agar tidak di temukan oleh Kaisar maupun pejabat yang lainnya karena ini prajurit rahasia milik Julian.


"Kalau begitu saya pamit dulu Yang Mulia! Saya masih banyak pekerjaan dan jika ada apa-apa silahkan panggil saya atau Lumira! " ucap kepala suku Oberon bangkit dari duduk nya.


Julian hanya mengangguk dan ikut berdiri bersama Henry karena mereka akan pergi ke barak tempat prajurit nya bermukim.


🌱🌱🌱


"Akh.... Benar-benar membuatku muak! Bagaimana bisa gadis itu tidak terpesona dengan ketampanan wajah ku? Tidak ada seorang perempuan di Kekaisaran ini yang tidak terpesona pada wajah ku! Gadis sok suci itu membuatku muak tapi wajahnya benar-benar sangat cantik! Apa lagi mata hijau emerald nya membuat aku terlena dan masuk kedalam pesona nya! Gairahku langsung bangkit saat melihat mata indahnya! Akh.. Shitt.. !! " umpat Oscar dengan melempar gelas hingga hancur di lantai.


Mata keemasan nya berubah menjadi merah darah saat membayangkan tatapan benci Sakura padanya. Ia menggeram keras dengan kedua tangan terkepal erat hingga buku-bukunya memutih dengan napas yang menderu kencang.


"Tahan emosi mu Oscar! Bukan saatnya kau untuk berubah karena purnama merah masih dua minggu lagi! Kau bisa menuntaskan hasratmu itu dengan perempuan lain hingga kau puas! " tegur seseorang yang duduk santai di tempat yang gelap dalam ruangan tersebut.


Mendengar teguran itu mata merah darah itu kembali menjadi mata keemasan seperti biasanya, napasnya juga kembali teratur dan tidak menderu kencang seperti tadi.


"Aku harus menjadikan gadis itu milik ku Paman! Tidak hanya menginginkan tubuhnya, aku juga menginginkan prajurit rahasia milik leluhur mereka untuk aku kendalikan menjadi prajurit di bawah kekuasaan ku! " ucap Oscar dengan mata berapi-api.


"Itu bagus! Taklukkan lah gadis itu hingga jatuh ke dalam pelukan mu! Aku jadi penasaran, secantik apa gadis itu hingga kau jadi gila seperti ini?? " sahut pria yang bersembunyi di kegelapan itu dengan nada penasaran.


"Cih, aku tidak akan membiarkan Paman melihat gadis itu karena ia milikku! " ucap Oscar menatap tajam pria yang ia panggil Paman.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2