Kesempurnaan Sistem

Kesempurnaan Sistem
Bab 15 Namaku Caroline


__ADS_3

Sabil akhirnya kembali ke penginapan sambil mengendong wanita berambut pirang itu, dia membaringkannya dan memeriksa bagian yang terluka, syukurnya tidak ada luka yang membahayakan.


Sambil menungu gadis itu sadar, Sabil segera mandi membersihkan diri. Setelah mandi dan berganti pakaian Sabil merasa sangat lelah, lelah badan dan batin, beberapa kali dia meguap dan menahan kantuk, tapi karena gadis itu tak kunjung sadar dia segera tertidur dengan lelap.


Diantara mimpi dan sadar Sabil merasakan ada kaki yang menghimpit badannya, tapi karena terlalu lelah dia tidak menangapinya.


Caroline sebenarnya sudah sadar saat Sabil memeriksa lukanya, tapi dia sengaja berpura pura pingsan karena mau melihat siapa sebenarnya pemuda ini, orang baik atau orang jahat, dia krisis kepercayaan kepada orang lain sejak di kejar kejar anggota sindikat Yakuza dan Triad.


Sebenarnya dia merupakan anggota organisasi kemanusiaan internasional yang sedang di tempatkan di Jepang, secara kebetulan ketika waktu menolong beberapa anak Jepang yang sedang terluka dia melihat transaksi opium yang dilakukan oleh triad cina dan pejabat dari negaranya Perancis.


Pejabat tersebut mengenali Caroline sebagai anak duta besar, tentu sangat berbahaya sekali jika Caroline sampai mengadukan hal ini kepada ayahnya karena dia punya bukti foto transaksi, pejabat dari Perancis itu meminta anggota triad untuk menghabisi Caroline, dan triad meminta bantuan kepada yakuza Jepang yang tentu saja mengenal seluk beluk daerah itu.


Caroline memandang wajah tampan yang sedang tertidur dengan lelap, jarang sekali dia melihat pemuda dengan figur wajah yang halus dan putih bersih serta alis yang tebal berbentuk golok, sangat menawan, dia mencowel cowel hidung mancung Sabil yang membuat pemuda itu tanpa sadar menangkap tangan Caroline dan menarik tubuhnya kepelukan.


" Kelihatannya dia sedang bermimpi" gumam Caroline dalam hati, dia membiarkan tubuhnya berada dalam pelukan Sabil, pelukan itu terasa nyaman dan hangat, apalagi bau tubuh Sabil yang wangi membuat hati merasa tentram.


Sabil yang merasa memeluk benda yang kenyal segera tersadar dari tidurnya, dia melihat Caroline yang berada dalam pelukannya, dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi sebagai seorang pria yang baik dia dengan segera melepaskan dan meminta maaf.


" Maaf..maaf saya tidak tahu " kata Sabil dengan gagap, Caroline hanya tersenyum dan menganguk pelan.

__ADS_1


" Tidak apa, anda tidak sadar melakukannya tadi saya sudah mencoba melepaskan diri, tapi anda memeluk dengan kuat " jawab Caroline dengan sedikit berdusta.


" Caroline anda bisa pangil nama saya Caroline" ujarnya dengan mengulurkan tangan.


" Sabil... "


Dia juga menjabat tangan Caroline yang lembut dan mulus, dari keterangan gadis itu Sabil mengetahui kenapa dia sampai meminta pertolongan, ternyata dia dikejar oleh anggota triad dan Yakuza.


" Lantas bagaimana sekarang, apa yang kamu ingginkan " tanya Sabil, dia juga sebenarnya sudah mau pulang ke tanah Java, tidak ada lagi yang mau dia kerjakan di Tokyo, dendamnya sudah terbalas.


" Apakah anda mau mengantarkan saya ke Hongkong, ayah saya kerja di sana, tidak aman bagi saya untuk pergi sendiri " jawabnya dengan mata penuh permohonan dan pengharapan.


Caroline merasa sangat senang ketika Sabil setuju, walaupun dia tidak tahu latar belakang pria ini tapi instingnya mengatakan pria ini orang baik dan dapat dipercaya, lagian dia suka dengan pemuda tampan ini.


Pelabuhan Tokyo 19.30


Kapal rute ke Hongkong segera berangkat meningalkan pelabuhan Tokyo, kapal ini jenis kapal pesiar yang cukup besar, bisa menampung hampir 2500 penumpang.


Penumpang kapal tujuan Hongkong cukup padat, selain para pengusaha juga banyak para pencari kerja yang berada di kapal, Hongkong menjadi tujuan karena sejak Inggris memgang kekuasaan di sana daerah itu menjadi sangat maju, baik dari segi industri dan tekhnologi.

__ADS_1


Orang Jepang terkenal dengan kecerdasannya, hal ini bermula ketika kekuasaan di Jepang dikembalikan kepada kekaisaran pada tahun 1868 yang disebut dengan Restorasi Meiji.


Dengan kembalinya kekuasaan ke kaisar, Jepang membuka pintu bagi pihak asing untuk saling berkerjasama dan bertukar ilmu baik di bidang pendidikan dan tekhnologi, bahkan pada tahun 1914 Jepang mecapai puncak dibidang tekhnologi dan persenjataan, mereka mampu membuat banyak kapal dan banyak senjata demi menaklukan negara negara lain.


Selain cerdas orang Jepang juga disukai karena disiplin, tentu saja tenga kerja Jepang menjadi primadona di negara Hongkong, kebanyakan mereka di tempatkan di perusahaan pembuatan kapal dan perakitan mobil.


Sabil dan Caroline mendapat tempat di cabin utama, sangat mahal sebenarnya harga tiket ditempat ni, mungkin hanya kalangan pengusaha dan pejabat yang kaya raya biss membeli tiket tsb


Tapi bagi Caroline yang sangat kaya tidak menjadi masalah bagi dirinya, bahkan dia membeli dua tiket dan satunya untuk Sabil. Latar belakang keluarga Caroline di Perancis adalah bangsawan dari keturunan Comte blois yang menguasai ladang anggur yang luas, bahkan wine Lafite yang terkenal bahan agurnya berasal dari keluarga Comte Blois ini.


Dua pria bermata sipit memandang ke arah Sabil dan Caroline, sebenarnya sudah dari tadi mereka mau menangkap gadis itu, mereka mendapat informasi dari Yakuza di pelabuhan bahwa gadis itu menaiki kapal tujuan Hongkong, mana tahu mereka ada seorang pria yang menemaninya, mereka perlu cara memisahkan gadis dan pria itu demi memuluskan rencana dan tentu saja bisa dilakukan ketika kapal sudah sampai di pelabuhan Hongkong.


Selama beberapa hari berdua dengan Caroline di atas kapal, Sabil sudah mengetahui banyak tentang gadis itu demikian juga sebaliknya dengan Caroline, dia tahu tujuan Sabil ke Jepang dalam rangka menuntut balas, dan setelah dendamnya terbalas tujuan Sabil mau ke Java siapa sangka nasib mempertemukan mereka sehingga perjalanan Sabil sampai ke Hongkong.


Caroline berencan begitu sampai di Hongkong dan menceritakan semua kepada ayahnya dia mau membawa Sabil ke Perancis, memperkenalkan Sabil dengan keluarga besarnya, hatinya sudah terpaut dengan pemuda tampan ini tapi dia belum mau mengakuinya.


Pelabuhan Victoria harbour begitu sibuk di siang hari ini, semua penumpang tergesa gesa untuk turun terlebih dahulu, Sabil mengengam tangan Caroline dengan erat, takut terjadi masalah, Caroline wajahnya merah karena malu tapi senang dan bahagia dengan perlindungan Sabil.


Dua pemuda bermata sipit merapat menekankan tubuhnya ke Caroline, kelihatan sekali hal itu disengaja, walau berdesakan untuk turun masih ada ruang jarak agar tidak saling menyentuh satu sama lain.

__ADS_1


seorang dari mereka mengeluarkan pisau secara diam diam dan mau menusukannya ke tubuh Caroline, tapi insting Sabil yang dari tadi tidak merasa nyaman segera menarik Caroline dan menyuruh berdiri di depannya.


__ADS_2