
Sabil melihat keterkejutan di mata Meiling, dia segera tangap bahwa gadis itu juga mengenalinya, suasana seketika menjadi kaku, Meiling tidak lagi bersikap mesra dengan suaminya, dia menjaga perasaan Sabil.
Banyak yang hal yang ingin dia ceritakan kepada pria yang pertama kali menaklukan hatinya, sejak kepergian Sabil, dia seringkali mendapat ganguan dari militer Jepang, perwira Jepang yang menjadi bekingannya sudah pindah kembali ke negara mereka sejak Jepang menyerah kalah dalam perang Asia timur raya.
Bahkan setelah kemerdekaan penginapan yang dia miliki juga tidak luput dari ganguan dan penindasan penjahat lokal, apalagi dia seorang gadis yang cantik dan bermata sipit.
Meiling tidak memiliki keluarga, dia sebatangkara di Batavia, tentu saja sebagai seorang gadis yang lemah dia butuh sandaran yang kuat, kedatangan Sabil memberi dia harapan yang besar, tapi harapan itu menjadi sirna ketika Sabil pergi ke Tokyo untuk membalaskan dendamnya.
Walau sempat berjanji saling menungu tapi Meiling tidak tahan dengan intimidasi yang terus menerus dia terima, akhirnya dia berkenalan dengan seorang pengusaha pribumi yang mencintainya dengan tulus dan rela melindunginya.
Dia merasa dilema apakah akan terus menungu Sabil yang tidak ada kepastian kapan kembali, atau menerima lamaran dari pengusaha pribumi ini, akhirnya dia mengambil pilihan yang kedua dan menjual penginapan miliknya, dia beralasan mau kembali ke negara asalnya yaitu Cina.
Meiling seorang gadis yang baik dan jujur, sebelum menikah dengan suaminya Farhan, dia menceritakan segalanya bahwa dia sudah tidak suci lagi dan sedang menungu kepulangan kekasihnya.
Farhan bisa mengerti dengan kondisi Meiling, memang tabu di Batavia jika memiliki istri yang sudah tidak suci lagi, tapi dia tulus mencintai Meiling sejak pertama kali melihatnya, dia tidak mendesak gadis itu dia hanya memberikan alternatif untuk Meiling dalam menjalani kehidupannya.
Farhan bahkan berjanji akan memberi ruang dan waktu bagi Meiling jika bertemu kembali dengan kekasihnya, artinyan Farhan memberi kesempatan bagi Meiling untuk berbincang serta menjelaskan semua apa yang sudah terjadi.
Meiling merasa tertekan, dia tidak suka berada dalam suasana seperti ini, segera dia berbisik kepada suaminya dan menunjuk ke arah Sabil, Farhan yang melihat Sabil kemudian menganguk kepada Meiling, memberi tanda bahwa istrinya bisa menemui pemuda untuk berbincang dan menjelaskan semuanya.
Walau hatinya berkecamuk tetapi wajah Sabil kelihatan tenang, dia melihat Meiling berbisik kepada suaminya dan menunjuk dirinya, entah apa yang mereka bincangkan tapi Sabil tidak mau tahu, dia tidak akan mau menjadi benalu dalam rumah tangga orang lain, dan akhirnya Sabil memutuskan pergi keluar dari restoran itu.
Tapi begitu dia hendak pergi sebuah suara lembut menghentikan langkahnya " mau kemana, kita sudah lama tidak bertemu, duduklah dulu kita perlu bicara satu sama lain" ya itu Meiling yang datang menghampiri mejanya dan menyuruh untuk duduk kembali.
Sabil menatap Meiling dengan pandangan yang rumit, walau dia merindukan gadis ini tapi dia juga menghormati keberadaan suami Meiling, Sabil bukan pria yang tidak bermoral dan serakah.
__ADS_1
Setelah tertegun sejenak dia memutuskan duduk kembali sambil melihat suami Meiling dan menganguk dengan sopan, Meiling mengeser salah satu kursi duduk berhadapan di depan Sabil.
" Bagaimana khabar kamu selama ini, kapan sampai dan dimana menginap sekarang ? " tanya Meiling sedikit bertubi karena penasaran, dia melihat wajah Sabil masih sama seperti dulu sangat tampan rupawan dan bermata sayu, rasanya ingin sekali memeluk pria ini.
Bibir Sabil melengkungkan senyuman yang indah mendengar pertanyaan yang bertubi dia tahu masih ada perasaan yang tersisa di hati gadis itu untuk dirinya, melihat senyuman indah itu membuat hati Meiling bergetar, dulu senyuman itu adalah milikku entah siapa wanita lain yang beruntung mendapatkannya.
" Saya baik baik saja, dendam sudah terbalaskan, sudah dua hari saya sampai dan menginap di bekas penginapan milik anda " jawab Sabil dengan tenang.
" Maafkan saya..." ujar Meiling dengan mata yang sudah berkaca kaca, dia tahu kedatangan Sabil untuk dirinya, menunaikan janji yang pernah dia ucapkan, dalam hal ini Meiling merasa kagum dengan sosok pria ini yang komit dengan janjinya.
" Tidak apa apa saya bisa mengerti, anda tidak perlu merasa berasalah, jodoh berada di tangan Tuhan kita manusia hanya bisa berusaha " kata Sabil dengan bijak, sebenarnya dia bisa merasakan situasi apa yang dialami oleh Meiling dengan melihat suami gadis itu, mungkin dia butuh perlindungan, sementara dirinya sendiri jauh dari gadis ini.
Jika di katakan bersalah maka Sabil mengangap dirinya yang bersalah, bagaimana selama ini dia tidak memikirkan keselamatan gadis itu dia sibuk dengan dendamnya, tapi jika waktu bisa diputar kembali dia pasti akan melakukan hal yang sama, menunaikan tanggung jawab membalas dendam.
" Baiklah, jika sudah tidak ada lagi yang dibicarakan saya pamit kembali ke penginapan " ujar Sabil berdiri dan melangkah keluar restoran, sebelum pergi dia masih sempat menganguk dengan sopan ke suami Meiling seakan mengatakan terima kasih atas waktu yang sudah anda berikan, farhan juga membalas angukan Sabil, dia merasa Sabil adalah pria yang terhormat dan pantas untuk dihargai.
Meiling melihat pungung Sabil yang sudah menjauh dari restoran dia menarik nafas, menghapus air matanya dan kembali ke meja suaminya, dia tidak ingin Farhan salah sangka dengan airmata di wajahnya.
Walau Sabil berjalan dengan gagah, sebenarnya hatinya remuk, dia mencintai gadis itu dengan rasa yang tulus, hujan mulai turun rintik rintik membasahi bumi seakan menangisi luka hati yang tidak berdarah.
Malam ini jadi malam yang sangat panjang bagi Sabil, dia tidak bisa tidur, walau sudah merelakan semua yang terjadi, bohong jika mengatakan merasa sakit dan tidak terluka.
Sabil sudah punya rencana untuk balik ke kampungnya besok, melihat kuburan keluarganya dan terus balik ke Paris, mungkin akan menetap di sana karena sudah punya pekerjaan dan juga ada Caroline, dia akan membut komitmen menikah dengan gadis itu.
Keesokan harinya Sabil sudah berada di Pelabuhan Tanjung priok, dia mau kembali ke kampungnya Jawa Barat, tapi selentingan dia mendapat informasi bahwa keadaan di sana cukup berbahaya karena ada gerakan perlawanan dari masyarakat pada pemerintahan yang ada di Jakarta, dan di kenal dengan pemberontakan DI/TII.
__ADS_1
Munculnya gerakan DI/TII di Jawa Barat dan Jawa tengaj diawali dengan adanya perubahan situasi politik di daerah Tegal-Brebes akibat penandatanganan Perjanjian Renville.
Dalam perjanjian tersebut disebutkan satu pasal yang berisi bahwa semua kekuatan pasukan RI yang berada di daerah pendudukan Belanda harus ditarik dan ditempatkan di daerah RI.
Wilayah karesidenan Pekalongan termasuk daerah pendudukan Belanda, sehingga pasukan RI harus meninggalkan dan mengosongkan daerah tersebut.
Namun, meskipun demikian, rupanya tidak semua pasukan meninggalkan daerah mereka, seperti di Brebes dan Tegal.
Para pejuang di dua wilayah tersebut masih tetap bertahan dan menyusun strategi untuk melakukan perlawanan.
Mereka melakukan operasi militer dengan membentuk Gerakan Antareja Republik Indonesia (GARI) dan Gerilya Republik Indonesia (GRI).
Terbentuknya dua gerakan ini memicu timbulnya gerakan-gerakan lain yang menghasilkan pemberontakan di Jawa Tengah.
Sebelum adanya pemberontakan DI/TII di bawah kepemimpinan Amir Fatah di Jawa Tengah sudah lebih dulu pernah muncul gerakan yang serupa dipimpin oleh Abas Abdullah.
Pasukan yang dipimpin Abas ini bernama Pasukan Hizbullah, di mana saat itu mereka memutuskan untuk pergi ke wilayah sengketa Indonesia-Belanda, yaitu Brebes.
Sampai di sana, pasukan ini membentuk pasukan baru bernama Mujahidin yang disebut sebagai Majelis Islam (MI).
Bukan hanya pasukan Hizbullah, Amir Fatah juga saat itu tengah mendatangi Brebes, minatnya untuk kemudian turut bergabung dalam pemberontakan ini adalah karena ia merasa memiliki cara pandang dan ideologi yang sama, khususnya dalam membentuk Negara Islam Indonesia.
Akhirnya pada 23 Agustus 1949, Amir bersama teman-temannya memutuskan bergabung dengan NII yang dipelopori oleh Kartosoewirjo.
Sejak saat itu, Amir Fatah beserta kelompoknya melakukan penyerangan terhadap TNI dan beberapa desa, seperti Desa Rokeh Djati dan Pagerbarang
__ADS_1