Kesempurnaan Sistem

Kesempurnaan Sistem
Bab 29 Kampung Halaman Yang Bergejolak


__ADS_3

Kapal sudah memasuki pelabuhan Ceribon, pelabuhan ini merupakan pintu ekonomi yang utama di wilayah Cirebon.


Pelabuhan Cirebon dibangun tahun 1865, pada masa pemerintahan kolonial Belanda dan pada tahun 1890 diperluas dengan pembangunan kolam pelabuhan dan pergudangan, tahun 1927, pelabuhan Cirebon tergabung dalam naungan pelabuhan Semarang.


Sabil turun dari kapal dia akan pergi ke kampungnya di gunung Ciremai, begitu rindu dia untuk kembali ke sana, menikmati hijaunya pemandangan alam, menghirup udara pegunungan yang segar, dan mendengarkan anak anak membaca alquran diwaktu subuh.


Dalam perjalanan menuju kampung halamannya, Sabil merasakan suasana yang cukup tegang, tentara pusat semakin banyak berdatangan untuk menumpas pemberontakan, sedangkan pasukan DI/TII juga banyak bergerilya dan mendapat dukungan dari masyarakat.


Tentara yang berasal dari pusat dikenal dengan nama Banteng Raiders, yang merupakan tentara terlatih dari perang melawan Jepang dan Belanda, sedangkan tentara Di/TII berasal dari kaum santri dan pesantren walau ada juga bekas tentara yang berasal NII tapi jumlahnya tidak banyak, mereka banyak menjadi instruktur pelatihan militer bagi tentara muda DI /TII.


Sabil tidak peduli dengan semua itu, baginya asal jangan mengangu dirinya dan masyarakat kecil maka biarlah semua terjadi sesuai keinginan alam, tapi kalau sudah menyangkut dirinya dan merugikan masyarakat kecil tentu dia akan bertindak.


Banyak sorot mata penuh curiga yang melirik dirinya, bagaimana seorang pemuda tampan rupawan dan memiliki kulit putih bersih ini bisa berada di kampung kecil itu, apakah dia seorang mata mata ?


Sekelompok tentara pusat berbisik satu sama lain, mereka akhirnya mendatangk Sabil dan menanyakan keperluannya datang ke Ciremai.


" Apa salah saya pulang ke kampung halaman saya sendiri ? " jawab Sabil yang merasa tidak senang, seakan akan dia seorang penjahat yang sedang di introgasi.


Tentara Raiders akhirnya melepaskan Sabil, mereka juga tidak bisa menolak kedatangan seseorang yang mengunjungi kampung halamannya sendiri, tugas mereka hanya untuk menumpas pemberontakan bukan membatasi kedatangan dan kepergian penduduk, apalagi seperti Sabil yang tidak membawa senjata.


Kampung Ciremai keadaanya sudah banyak berubah, kawasan yang dulu sepi sekarang sudah banyak di huni oleh warga, kerjaan utama mereka adalah bertani, Sabil melihat kuburan keluarga dan penduduknya sudah di perbaiki dengan baik, dia merasa senang dan bahagia.

__ADS_1


" Ayah, ibu, kakak dan penduduk desa, kalian sudah bisa tenang di alam sana, dendam sudah dibayar dengan tunai " gumamnya di depan kuburan masal itu.


Karena tidak satupun yang dia kenal di kampung itu, Sabil pergi ke mesjid melepaskan untuk beristirahat apalagi hari sudah mulai gelap. Dia bertemu dengan penjaga mesjid, setelah menceritakan tujuannya akhirnya pengurus mesjid mengizinkan untuk beristirahat di dalam.


" Jangan keluar jika terjadi keributan, katakan saja anda adalah keponakan saya " kata penjaga mesjid yang sudah tua itu kepada Sabil, dia sebenarnya juga mengkhwatirkan pemuda ini karena situasi sedang gawat.


Benar saja, baru terlelap sebentar Sabil mendengar bunyi tembakan silih berganti, segera dia terbangun dan mengintip apa yang sedang terjadi.


Sabil melihat terjadi pertempuran antara tentara pusat dengan tentara Di /TII, beberapa tentara santri terluka, Sabil merasa kasihan mereka masih sangat muda palingan umur mereka masih belasan tahun.


Tubuhnya bergoyang dan hanya terlihat bayangan yang bergerak sangat cepat menolang tentara santri yang terluka, dia segera membawa mereka masuk ke dalam mesjid untuk bersembunyi sambil mengobati luka luka mereka.


Pasukan santri yang diobati oleh Sabil sudah pulih kembali, mereka mengucapkan terima kasih kepada Sabil dan kemudian keluar dari mesjid dan menghilang di telan kegelapan malam.


" Bagaimana sesama anak bangsa bisa saling membunuh " gumam Sabil meras geram dan marah, mereka sama sama berjuang melepaskan diri dari penjajahan, setelah lepas dari penjajahan malah mereka berperang satu sama lain


" Nak, kamu mengambil resiko yang besar untuk mesjid dan dirimu sendiri " kata bapak penjaga mesjid yang sudah berada di hadapan Sabil.


Sabil yang sedang melamun kaget mendengar suara bapak penjaga mesjid " Maafkan saya pak, bukan maksud hati ingin ikut terlibat tapi tidak tega melihat mereka terluka, apalagi kebanyakan mereka masih remaja " jawab Sabil menjelaskan perbuatannya.


Penjaga mesjid menarik nafas dengan berat dia juga sebenarnya tidak tega, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa " Sebenarnya semua ini berawal dari kesalah pahaman " ujarnya memulai menceritakan tragedi yang terjadi, kemudian dia melanjutkan " Pihak NIL tida tahu bahwa Soekarno dan hatta sudah memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, karena ketidak tahuan mereka juga ikut mendirikan negara DI/TII dan akhirnya semuanya sudah terjadi terlalu dalam, berperang satu sama lain "

__ADS_1


Sabil termenung mendengar cerita ini, dia tidak menyangka suatu kesalah pahaman akan menimbulkan tragedi seperti ini, dia hanya bisa berharap semoga semua kembali damai dan bersatu.


Keesokannya harinya Sabil sudah meningalkan mesjid, dia kembali ke Jakarta, dan dari Jakarta dia berencana kembali ke Paris.


Di Batavia Sabil menginap di tempat yang sama yaitu penginapan Rembulan Senja, sewaktu dia cek in kamar, resepsionis mengatakan bahwa ada seorang wanita yang datang ke penginapan mencari dirinya selama beberapa hari ini, dia kemudian mengucapkan terima kasih dan masuk ke kamar.


Sabil sudah menyangka pasti wanita itu Meiling, siapa lagi wanita yang dia kenal di Jakarta ini selain Meiling " hem untuk apalagi dia mencariku bukankah semuanya sudah selesai dengan baik " gumamnya.


Tok tok..


Pintu kamar Sabil di ketuk dari luar, menyangka bahwa yang datang adalah resepsionis dia membuka pintu, Sabil tertegun begitu melihat wanita yang di depan itu adalah Meiling.


" Bolehkah saya masuk ke dalam, syaa sudah beberapa hari ini mencari anda " kata Meiling dengan lembut, Sabil akhirnya mengizinkan Meiling masuk ke kamar.


" Ada apa masalah apa kamu mencari saya, tidak kah kamu takut ketahuan sama suami kamu " tanya Sabil sambil mengingatkan Meiling.


" Saya sudah diizinkan oleh suami untuk bertemu dengan anda, saya merasa berasalah..." ujar Meiling dengan mata memerah, " saya sulit tidur setelah bertemu dengan anda beberapa hari yang lalu " isaknya.


Sabil melihat wajah Meiling dengan seksama, benar dia melihat bagian hitam di bawah mata Meiling yang pertanda wanita ini memang tidak bisa tidur dengan nyenyak, merasa kasihan Sabil mengusap airmata di wajah Meiling.


" Jangan menangis..jangan bersedih...ikhlaskan semuanya " bisik sambil yang disambut dengan pelukan oleh Meiling, sunguh aroma tubuh pemuda ini tetap sama walau tahun sudah berganti, dia sangat merindukan Sabil lebih dari apa yang pemuda ini pikirkan

__ADS_1


__ADS_2