Kesempurnaan Sistem

Kesempurnaan Sistem
Bab 35 Bertarung Dengan Keturunan Gog Magog


__ADS_3

Sabil merasa puas dengan samurai kecil ini, apalagi gengaman tangan samurai itu sangat nyaman sekali berada di tangan, cuma yang belum dia coba adalah apakah samurai kecil ini masih mengandung racun atau tidak.


" Bisa saya meminga baskom yang diisi dengan air " pinta Sabil kepada salah satu pelayan kastil, dia hanya ingin menguji samurai itu, jika dicelupkan ke dalam air dan ternyata air bening itu menghitam maka samurai kecil dipastikan mengandung racun.


Pelayan kastil datang dan memberikan baskom yang berisi air, Sabil mencelupkan samurai kecil ke dalam, tidak membutuhkan waktu lama air berubah menjadi hitam pekat, artinya samurai kecil itu memiliki racun yang sangat mematikan.


" Aku harus hati hati menyimpannya dibagian lengan " Sabil memang selalu menyembunyikan samurai kecil di bagian lengan kanan dan kirinya, setelah menguji samurai Sabil mendatangi ruang kerja Philipe.


Philipe memang ingin berbincang dengannya terutama mengenai misi membebaskan para tawanan ilmuwan, misi harus di tuntaskan oleh Sabil, tapi karena Caroline selalu berada di dekat Sabil maka dia mengundur terus membicarakan masalah misi ini.


" Keadaan ini sangat mengkhawatirkan, kita belum tahu kekuatan tersembunyi yang mengerakan tentara Viet minh, yang kedua para ilmuwan belum jelas dan diketahui keberadaan mereka, hanya kamu yang mampu menyelesaikan ini Sabil, pemerintah Perancis sangat berharap kepadamu " ujar Philipe mengungkapkan rasa khawatirnya.


Dia ingin Sabil kembali ke Hanoi, tapi melihat pria ini baru sembuh dari lukanya Philipe juga merasa tidak tega, tapi di satu sisi keadaan semakin genting dan perlu penyelesaian, raut wajahnya terlihat kusut dan suram.


" Jangan khawatir Philipe saya akan kembali ke Hanoi, saya juga penasaran dengan kekuatan asing di belakang mereka, yang saya khwatirkan sekarang cuma satu, alasan apa yang mesti saya berikan kepada Caroline supaya dia setuju saya kembali ke Hanoi " kata Sabil yang ingin menghilangkan beban pikiran Philipe.


Philipe yang semula senang mendengar jawaban Sabil segera menepuk jidatnya, ya dia lupa bahwa Caroline sudah meminta agar Sabil tidak lagi dikirim ke medan perang, Caroline ingin membentuk keluarga yang bahagia bersama Sabil, pria yang sangat dia cintai.


" Untuk Caroline saya akan mencari alasan yang tepat " jawab Philipe, kalaupun Caroline tidak mengizinkan Sabil kembali ke Hanoi maka Philipe akan menawarkan agar Caroline bisa ikut bersama dengan Sabil, dan Philipe rasa ide ini pasti akan di sambar oleh Caroline.

__ADS_1


Setelah beberapa hari memulihkan diri dan staminanya, Sabil mendapat perintah untuk kembali ke Hanoi, dia segera memberitahu Philipe dan Caroline.


Caroline marah mendengar perintah ini, Sabil baru pulih dan sekarang kembali ditugaskan, sunguh tidak berperasaan, semua ini salah kakeknya.


Sabil dan Philipe yang mendengar kemarahan Caroline hanya terdiam, mereka tidak ingin menambah luka di hati gadis itu dengan pembelaan diri, biarkan gadis itu melampiaskan kemarahannya, nanti setelah amarahnya mereda mereka akan menjelaskan dengan pelan pelan.


Wajah cantik itu memerah karena marah, dia menunjuk Sabil dan berkata " apa kamu tidak sayang dengan badanmu ? apa kamu seorang yang egois ? tidakkah kamu pikir aku di sini selalu merasa cemas menungu beritamu !! "


Sabil memberi isyarat kepada Philipe untuk meningalkan mereka berdua, Philipe yang mengerti isyarat itu segera keluar memberi mereka kesempatan untuk menyelesaikan masalah, dengan lembut Sabil memeluk Caroline dan mengusap pungungnya dengan kasih sayang.


" Jangan marah marah nanti cepat tua dan cantiknya hilang " canda Sabil, Caroline yang mendengar itu segera menyembunyikan wajahnya ke dalam pelukan Sabil.


Tapi Caroline menolak dia bukan tidak mau mengikuti Sabil, tapi tidak mungkin meningalkan semua perusahaan dan menyerahkan kendalinya ke tangan kakek, Caroline merasa kasihan dengan kakek yang sudah berumur.


" Sekali ini aku mengizinkan kamu untuk pergi tapi ingat ini misi yang terakhir " tegas Caroline yang membuat Sabil hanya bisa menganguk setuju, sementara di balik pintu seseorang mendengar percakapan tersebut tanpa mereka sadari.


Persiapan dilakukan, Sabil berangkat mengunakan pesawat militer menuju Saigon, setelah dari Saigon dia akan menyusup kembali masuk ke Hanoi, Philipe dan Caroline mengantar Sabil ke pesawat, lama sekali Caroline memeluk Sabil dan memberikan berbagai macam peringatan dan nasehat, seakan akan dia menjadi anak kecil yang sedang diperingati oleh ibunya.


Akhirnya pesawar militer lepas landas menuju Saigon, di dalam pesawat seseorang yang berpakaian militer mendekat ke tempat duduk Sabil, wajahnya tidak jelas karena terlindungi oleh topi, dia segera duduk di sebelah Sabil.

__ADS_1


" Hallo selamat pagi senang bisa berpergian bersama anda " katanya menyapa Sabil dengan lembut, Sabil yang mendengar suara ini merasa tidak asing, dia dengan cepat menoleh dan membuka topi prajurit militer tersebut dan seketika terperanjat kaget.


" Lauren..!! bagaimana anda bisa berada di atas pesawat ini ? " tanya Sabil heran dan penuh selidik.


Lauren hanya terkikik tertawa kecil melihat ekspresi wajah Sabil " saya tidak sengaja mendengar percakapan anda dengan Carol, dan saya memutuskan untuk menemani sekaligus mengawasi anda mengantikan Carol dan kakek juga sudah menyetujuinya " jawab Lauren dengan alasan yang klise.


Sebenarnya bukan demikian, setelah dia mendengar percakapan itu Lauren mendatangi Philipe dan mengutarakan keinginannya untuk pergi bersama Sabil, dia beralasan ingin kembali memulihkan mental dan psikologisnya, lagian di kastil dia tidak punya kerjaan, semua sudah dilakukan oleh Caroline dan pelayan kastil.


Philipe hanya bisa setuju, dia merasa iba dengan Lauren, dia tahu bahwa Lauren juga punya perasaan terhadap Sabil, maka Philipe memberi kesempatan, siapa tahu dalam perjalanan itu kondisi Lauren pulih seperti semula.


Sabil menatap mata Lauren dengan dalam, kemudian dia tersenyum kecil yang membuat wajahnya semakin menawan, dia tahu Lauren suka kepadanya, dan dia juga tahi Lauren tidak kerasan berada di kastil, sebagai orang yang memiliki nasib yang sama tidak lagi mempunyai orangtua Sabil memaklumi tindakan Lauren, dia berjanji akan menjaga dan melindungi gadis ini di Hanoi nanti.


" Oke syaratnya harus patuh mendengarkan perintah aku ya " kata Sabil menyetujui, Lauren terlihat senang dia memeluk lengan Sabil dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.


Aromanya tetap sama seperti waktu pria ini menolong dirinya keluar dari ruang penyekapan, sunguh dia rindu dengan aroma ini siang dan malam.


Pesawat mendarat di Saigon, Sabil dan Lauren melakukan penyamaran sebagai warga sipil yang hendak berjualan ke Hanoi, mereka masuk melalui perbatasan.


Setelah diberi izin masuk ke Hanoi, Sabil dan Lauren melakukan pengintaian di markas militer Viet minh, Sabil merasakan keberadaan makhluk asing itu, rasanya seperti dia berada di dasar goa waktu itu, perasaan itu persis sama.

__ADS_1


__ADS_2