Kesempurnaan Sistem

Kesempurnaan Sistem
BAB Berlayar Menuju Batavia


__ADS_3

Malam itu bulan bersinar dengan terang dan ditemani bintang yang berkelap kelip, tidak pernah terpikirkan oleh Sabil dia akan meningalkan kampungnya menuju tempat yang belum dia kenal sama sekali.


Dia berteman dengan beberapa orang di atas kapal, dari teman ini dia mendapatkan berbagai macam informasi tentang keadaan kota Batavia.


Batavia saat ini juga dalam keadaan tegang karena ada khabar bahwa tentara Inggris masuk sudah masuk kesana dan berperang dengan tentara Jepang.


Dari teman kapal ini juga Sabil mengetahui tempat penginapan yang murah serta markas militer jepang.


Beberapa hari perjalanan kapal berlabuh di tanjung priok, tidak banyak barang yang dibawa oleh Sabil, tidak seperti penumpang lain yang membawa barang banyak untuk dijual ke Batavia.


Dengan naik becak Sabil menuju penginapan, walau tempatnya sederhana tapi bersih, nyaman dan luas.


" Mbak saya mau pesan kamar untuk beberapa hari " pinta Sabil ke resepsionis, sebelum resepsionis merespon permintaan Sabil seorang gadis cantik bermata sipit mendatangi meja dan melayani Sabil.


Ya dia bernama meiling seorang gadis keturunan yang sangat cantik dan merupakan bintang di penginapan tersebut dia pemilik penginapan


Setelah menyelesaikan administrasi dan pembayaran Meiling membawa Sabil menuju kamarnya.


Sabil yang berada di bawah tanga wajahnya memerah ketika melihat paha dan betis yang mulus dari dalam rok Meiling, sumpah mati dia tidak sengaja melihat pemandangan indah ino.


menundukan kepalanya dan sambil terus melangkah Sabil tidak melihat Meling sudah berhenti di depannya dan berbalik melihat dirinya.


" Maaf..maf..uhhhh " teriak Sabil ketika tidak sengaja tubuhnya terbentur berhadapan dengan Meiling bahkan bibirnya saling melekat satu sama lain.


Meiling tersenyum melihat kepanikan Sabil dia tahu pemuda tampan ini tidak bermaksud melecehkannya, hanya dia tidak sengaja dengan berjalan sambil menunduk, tapi apapun itu ciuman pertamanya sudah hilang diambil pemuda tampan tersebut.

__ADS_1


" Tidak apa apa tidak usah panik, bukankah seharusnya saya yang panik karena ciuman bibir tuan " goda Meiling mencoba berusaha menenangkan Sabil.


Membuka pintu kamar dan sedikit menjelaskan situasi penginapan meiling kembali ke bawah sambil berpesan jika Sabil memiliki kebutuhan lain bisa mencarinya di bagian resepsionis, dia turun dengan senyum melengkung indah di bibirnya.


Sebenarnya sebagai pemilik penginapan bukan tugasnya melayani tamu, tapi entah bagaimana ketika pertama melohat Sabil dia tergelitik inggin melayani secara pribadi.


Setelah mandi dan sarapan Sabil kemudian keluar dari penginapan, dia naik delman berkeliling kota Batavia tujuan sebenarnya adalah markas militer Jepang.


Dia perlu melakukan sedikit pemetaan, apakah perlu mendatangi langsung atau bertindak gerilnya sebagaimana waktu dia membantai tentara jepang di kampung halamannya.


Setelah melihat begitu besar kekuatan tentara di markas militer Jepang dia menjadi bingung, jika dia melakukan gerilya dia tidak tahu bagaimana cara untuk lari, dia tidak mengenal wilayah ini sama sekali.


Puas berkeliling Sabil kembali ke penginapan, terdengar bunyi ketukan di kamarnya, dia membuka pintu kamar dalam keadaan tidak memakai baju, Sabil melihat Meiling berdiri di depan pintu kamar.


Meiling sendiri melihat keadaan Sabil matanya terbelalak dengan lebar, badan itu terlihat putih bersih dengan delapan pax seperti roti sobek di perutnya, terawat dan maskulin sekali, hatinya begelora dan bagian bawahnya seperti digelitik.


Meiling mengatakan bahwa dia hanya menanyakan apa yang dibutuhkan oleh Sabil, sebenarnya daritadi hatinga gelisah inggin ke kamar dan melihat Sabil, cuma dia perlu alasan lain, sangat memalukan bagi seorang gadis jika bertindak sembarangan dan berani.


Baru kali ini dia merasakan hati yang berdebar debar, bukan tidak sedikit pria yang mendekati dirinya, tapi dia selalu menolak, tapi pesona dari Sabil meluluh lantakan hatinya, dan pertama kali pula dia melihat pria yang begitu tampan dan menawan seperti Sabil.


Sabil bukan pria yang tidak peka, sejak dia melihat paha dan betis Meiling pikirannya sudah kemana mana, ada hasrat inggin menyentuh dan mendekati Meiling, tapi karena pada dasarnya dia bukan pria hidung belang sabil mencoba bersikap acuh tak acuh.


Tanganya masih mengengam tangan Meiling yang sedikit gemetar dan basah, kelihatan sekali Meiling begitu gugup tapi tidak menolak, buktinya dia tidak berusaha melepaskan gengaman tangan Sabil.


Lelah berdiri Sabil mendudukan Meiling di atas kasur, dengan sedikit bercanda menghilangkan rasa kaku dia bertanya " apakah nona juga melayani semua tamu hotel seperti yang nona lakukan kepada saya "

__ADS_1


Meiling tertawa kecil menutup bibirnya dengan tangan, dia tahu Sabil bercanda dan sabil juga tertawa dengan renyah, perlahan percakapan mengalir dengan lancar bahkab waktu berlalu dengan cepat.


Dari informasi Meiling, Sabil mengetahui tentara jepang sering melakukan patroli disekitar hotel bahkan meiling juga tahu tentara jepang sering memakai penginapan mereka membawa gadis tangkapan mereka.


Sabil mengorek informasi apakah Meiling mengenal tentara jepang yang bernama Atsasuki, dia menjelaskan ciri ciri tentara secara terperinci.


Tentu saja Meiling mengenal tentara jepang itu, dia sering datang ke penginapan dan mengoda dirinya, tapi karena sekutunya juga perwira jepang di markas militer Atsasuki tidak berani berbuat macam macam.


" Kalau tidak salah dia sudah dipindahkan oleh jendral Fujiyama kembali ke Jepang, dia sangat beringas kepada penduduk sehingga membuat jendral takut masyarakat akan antipati pada tentara jepang, dan tidak mendukung perang Asia timur raya " Meiling menjelaskan secara rinci kepada Sabil.


Merasa kecewa karena tidak bisa bertemu Atsasuki dan harus pergi ke Jepang raut wajah Sabil menjadi suram dan murung.


Melihat perubahan pada wajah Sabil, Meiling tahu bahwa Sabil punya dendam yang sangat besar terhadap Atsasuki, dia memiliki insting dendam ini adalah dendam berdarah yang berkaitan dengan keluarga Sabil.


Menyentuh lengan Sabil, Meiling berkata " Selagi orangnya masih hidup masih banyak waktu mencari keberadaannya kecuali dia sudah mati tentu sudah mustahil mecari dirinya " dia dengan bijak memberi nasehat.


Sabil tersenyum mendengar nasehat ini, dia memandang dengan lekat kedua mata Meiling dan nafasnya terasa hangat di wajah gadis itu.


Terasa berdebar debar jantung Meiling melihat senyuman dan tatapan Sabil, dia menundukan wajah yang kemerahan, tapi Sabil menanangkup wajahnya dengan kedua tangan, dan mendekatkan bibirnya ke bibir Meiling.


Entah bagaimana dan siapa yang agresif kedua bibir itu sudah meyatu satu sama lain, Sabil membaringkan tubuh Meiling yang matanya terpejam dan telihat pasrah.


Dia menciumi wajah dan leher Meiling, hasratnya bergelora dia membuka pakaian Meling dan meremas kedua gunung yang terlihat montok dan sangat indah.


Meiling hanya mendesis dan merintih ketika mulut yang hangat mengulum kedua puncak gungungnya dan sesekali mengingit kecil.

__ADS_1


Rintihannya semakin kuat dia meraba dan berusaha melepaskan seluruh pakaian Sabil, ada hasrat yang menuntut untuk dipuaskan dalam rubuhnya.


__ADS_2