
Sabil melambaikan tangan agar semua tenang mendengarkannya, dia menyampaikan bahwa militer pusat menugaskannya untuk mengawal duta besar, masyarakat sipil dan pasukan keluar dari Hanoi dengan selamat, jadi mereka harus mengikuti perintah dan arahan dari Sabil, dan mulai sekarang komando berada di tangan Sabil.
Mereka yang ada di dalam ruangan terkejut, apa apaan ini bagaimana militer Perancis hanya mengirim satu orang saja untuk membantu mereka, apakah militer Perancis sudah gila dan ingin lepas tangan dengan mengorbankan mereka ?
Tapi sebagai warga negara yang taat pada aturan mereka segera menyetujui dan memberikan komando kepada Sabil.
Segera Sabil membuat pengaturan, penduduk sipil di dahulukan untuk evakuasi, setelah itu para pejabat dan terakhir tentara kedutaan, semua dokumen selain identitas di bakar saja karena merepotkan dan butuh waktu mengumpulkan dan membawanya.
Di luar gedung kedutaan terdengar keributan, ada mobil yang berusaha menerobos gerbang kedutaan dan di belakangnya tentara Viet minth terlihat mengejar dan menembaki mobil tersebut, karena gerbang ditutup oleh tentara kedutaan, mobil berhenti di depan gerbang, segera saja mobil itu menjadi sasaran tembakan tentara Viet minh, dua orang pria keluar dari mobil dan membalas tembakan, mereka mengunakan pintu mobil sebagai tameng.
Penjaga gerbang yang berada di dalam melihat bahwa yang ditembaki oleh tentara Viet minh adalah orang Perancis segera memberi bantuan dengan membalas tembakan, terjadi pertempuran sengit, kedua belah pihak sudah jatuh korban, tapi pasukan Viet minh semakin lama semakin banyak.
Sabil yang melihat penjaga gerbang terdesak segera melompat melewati gerbang, tubuhnya seringan burung, dan kemudian melesat ke kerumunan tentara Viet minh sambil mengorok leher tentara musuh, seketika keadaan di pihak tentara Viet minh jadi kalang kabut, mereka tidak bisa melihat lawan dengan jelas, hanya bayangan saja yang kelihatan berpindah pindah dengan kecepatan yang sulit dilihat oleh mata.
Duta besar dan tentara Perancis, terkejut melihat kehebatan dan keganasan komandan yang baru, sekarang mereka menyadari mengapa pihak militer Perancis hanya mengutus satu orang saja.
Tiga puluh tentara Viet minh tewas di bantai Sabil dengan samurai kecil, bajunya berlumuran darah, dia kelihatan seperti malaikat pencabut nyawa.
__ADS_1
" Bawa mayat mereka ke dalam, dan sembunyikan dalam ruangan, hapus jejak darah, pasti tentara Viet minh mencari keberadaan mereka " perintah Sabil kepada pasukan penjaga.
Penting sekali menghilangkan jejak, mereka belum keluar dari Hanoi, jika pasukan Viet minh yang lain tahu rekannya di bantai di sini maka bisa terjadi perang besar, tipis kemungkinan membawa mereka keluar dengan selamat.
" Ada masalah apa anda berdua dengan pasukan Viet minh ? tolong identitas anda " tanya Sabil pada dua orang yang diburu oleh pasukan Viet minh
Mereka mengeluarkan tanda pengenal dan menyerahkannya kepada Sabil " kami wartawan Perancis yang dikirim untuk meliputi keadaan pasca perang, secara tidak sengaja kami melihat pasukan Viet minh membantai ratusan tahanan dan mengubur mereka, kata salah satu wartawan menjelaskan kepada Sabil.
Sabil yang melihat dokumen ituq, tahu bahwa wartawan ini juga mata mata yang dikirim oleh pihak militer Perancis, karena tidak ada yang perlu disembunyikan dia bertanya,
" apakah kalian melihat ada tawanan lain yang masih selamat ? " tanya Sabil kembali, dia harus memastikan para peneliti yang ditangkap masih hidup, jika mereka juga termasuk korban yang dibantai oleh pasukan Viet minh maka tugasnya hanya membawa dubes dan warga sipil Perancis dengan selamat dari Hanoi, dan kota Saigon menjadi tujuan mereka.
" Baiklah karena situasinya semakin serius dan kita juga dikejar waktu maka kalian bergabung bersama kami, kita akan memasuki kota Saigon lalu naik kapal menuju Perancis " kata Sabil memberikan arahan.
Sepuluh mobil jeep terbuka berjalan beriringan menuju kota Saigon, sebelum memasuki Saigon mereka harus melewati pemeriksaan di perbatasan, tentara Viet minh sudah menerima dokumen tentang orang yang diperbolehkan melewati perbatasan dan yang dilarang keluar dari Hanoi.
" Siap pemimpinnya ? " tanya penjaga perbatasan kepada rombongan yang mau melewati perbatasan, dia merasa aneh kenapa anak muda dari Asia ini yang berjalan di depan sedangkan orang Perancis berada di belakangnya, apakah memang pemuda Asia ini pemimpinnya ?
__ADS_1
" Saya pemimpin mereka, dokumen mereka untuk melewati sudah di tanda tangani oleh pemimpin anda di Hanoi " jawab Sabil sambil memperlihatkan dokumen tersebut .
Setelah melihat dengan teliti, penjaga perbatasan akhirnya mengizinkan mereka untuk melewati perbatasan, tapi begitu mereka mau memasuki wilayah Saigon, pasukan berjumlah sangat besar datang menyerang, pemimpin pasukan itu menampar pasukan penjaga perbatasan dengan geram.
" Lari dan berpencar!!!!! " teriak Sabil kepada kelompoknya, segera kelompok itu berlarian dan sembunyi di tempat yang terlindung, sementara pasukan besar tadi adalah tentara Viet minh yang sudah mengetahui permasalahan di keduataan besar.
Mereka tahu begitu di hubungi pasukan yang menyerang dua wartawan Perancis tidak menyahut, curiga dengan keadaan, panglima mereka segera mengeledah kedutaan besar Perancis, hasilnya sangat mengejutkan, pasukan Viet minh tewas bergelimpangan di dalam ruangan, panglima marah besar dan menyuruh pasukannya mengejar kelompok duta besar di pintu perbatasan.
" Tembak terus dan bunuh mereka " perintah panglima memberikan instruksi, rentetatan peluru dan serangan roket tangan memborbardir kelompok duta besar, beberapa orang sudah terluka parah terkena ledakan roket tangan.
Tak ada jalan keluar, Sabil memerintahkan pasukan membalas tembakan, dia berkelebat dengan cepat mendatangi musuh, beberapa peluru menghantam tubuhnya tapi dia tidak terluka, hanya bajunya saja yang sobek dimakan peluru, tiba tiba dua roket tangan meledak menghantam tubuhnya, dia terpental jauh akibat daya ledak roket itu " terus tembakan roket tangan ke arahnya, jangan berhenti sampai dia tidak bisa bergerak lagi " intruksi panglima kepada pasukannya.
Dia terkejut bahwa peluru tidak dapat membunuh pemuda ini, makanya dia menembak mengunakan roket tangan, panglima sadar bahwa pemuda sangat berbahaya dan harus dibunuh dengan cepat, sebelum dia membunuh mereka.
Tubuh Sabil tergelatak di tanah, bajunya sudah tidak berbentuk, walau roket tidak melukai tetapi seluruh tubuhnya merah merah terluka dalam, dia marah dan emosi, apalagi sudah ada tiga korban jiwa dari pasukannya.
" Argghhhh " dengan jeritan keras dia melompat dengan kecepatan kilat, tidak peduli dengan peluru yang berhamburan mengenai tubuhnya, samurai kecil di tangan kanan dan kirinya berkerja, membunuh musuh yang bisa dia capai, musuh gentar melihat tindakan nekat, tapi panglima tidak memberi angin, kapan perlu mereka mati bersama asal pemuda ini juga ikut mati.
__ADS_1
"Jangan ada yang lari, tembak terus, kapan perlu ledakan diri kalian bersamanya " teriak panglima, pasukan menuruti perintah panglima, mereka tidak bisa menolak karena tahu keluarga mereka akan di bunuh jika menolak perintah.