
Meiling sadar ini pertama kali bagi dirinya, dia rela melepaskan keperawannya untuk Sabil, dia tidak tahu bahwa bagi Sabil ini juga yang pertama kalinya.
Setelah saling melepaskan nafsu mereka mandi beristirahat, selintas Sabil melihat sedardu jepang berkelompok melakukan patroli.
Bisa saja dia menghabisi tentara Jepang itu tapi dia tidak mau membawa masalah bagi penginapan, jika terjadi masalah yang susah tentunya Meiling, tak pantas dia menyusahkan orang yang dia sukai.
Melihat tatapan Sabil yang membara ke luar jendela, Meiling dengan cepat memeluk Sabil dari belakang mencoba memberikan stimulus supaya tidak gelap mata, dia takut kehilangan pria ini.
Dengan tersenyum Sabil membalikan badannya dan berhadapan dengan Meiling, dia memeluk lembut tubuh nona cantik ini dan membelai rambutnya.
" Jangan khawatir akan ada masanya nanti " bisik Sabil dengan pelan.
Sore nanti Meiling mau mengajak Sabil jalan jalan keliling Batavia dan menikmati pasar malam, dia juga ingin merasakan bagaimana berjalan berdua dengan kekasih hatinya.
Memakai gunting cina dan rok berwarna hitam Meiling kelihatan sangat menawan, bahkan Sabil sampai tidak bisa mengedipkan matanya.
Wajah mungil yang mulus, rambut panjang tergerai dan kulit putih bening kontras dengan warna hitam yang dia pakai.
Sedangkan Sabil memakai jubah hitam samapai ke kaki yang membuat ketampanan lebih terpancar di tambah lagi dia tinggi, berkulit putih, rambut panjang diikat, bibir merah darah dan mata yang sayu.
Memang sangat cocok sekali pasangan satu sama lain, dimana mereka berjalan semua mata pada memandang, terpecak rasa kagum dan rasa iri serta berhayal " seandainya dia pacarku..seandainya
.bla bla bla "
Sabil membeli setangkai mawar yang indah dan menyisipkanya ke telinga Meiling, gadis itu tersipu sipu dengan jantung yang berdebar menerima perlakuan dari Sabil.
__ADS_1
Mereka mencoba semuan jenis hiburan di pasar malam, membeli kembang gula dan memakannya berdua, setelah puas mereka melangkah menuju penginapan.
Sebenarnya di Batavia jika sudah malam hari termasuk rawan, banyak preman dan perampok, mereka tidak takut karena mendapat perlindungan dari tentara jepang.
Sabil yang berjalan sambil mengengam tangan Meling dihentikan oleh sekelompok preman, mereka meminta Sabil meningalkan perempuan cantik bermata sipit itu.
Merek tak mau uang, mereka ingin merasakan bagaimana rasanya bercinta dengan wanita cantik bermata sipit, sunguh sangat langka mereka melihat perempuan bermata sipit yang cantik dan menawan ini di Batavia.
" Bung, kami rasa kau sudah cukup puas dengan wanita sipit ini, sekarang giliran kami yang mencoba, enyahlah " bentak preman itu kepada Sabil.
Sabil menatap dengan tajam dia memindahkan Meling ke belakang tubuhnya, sebenarnya dia tidak sampai hati menjatuhkan tangan kejam kepada pribumi ini tapi tingkah dan gaya mereka tidak bisa di tolerir, pasti mereka banyak melakukan kejahatan kepada penduduk sekitar.
" Ambilah dan jemput kemari jika anda bisa " suara Sabil terdengar dingin tapi penuh dengan tantangan
" Jangan menangis kau jika bisa kami ambil " preman itu tertawa mengejek Sabil, seorang dari mereka mencoba menarik baju Meiling, tapi belum sempat tangan itu menyentuh baju selarik cahaya putih berkelebat memangkas, dan hanya terlihat potongan tangan sebatas bahu tergeletak di tanah.
Kelompok preman yang lain mengeluarkan senjata mereka, ada yang membawa golok, pisau dan pedang, mereka tidak dengan apa Sabil membelah tangan kawannya, karena yang mereka lihat Sabil hanya membawa tongkat kayu.
Tapi mereka tahu bahwa tangan itu putus oleh benda tajam, segera mereka mengepung Sabil dan menyerang bersamaan, sebelum mereka bergerak bayangan Sabil sudah melesat dengan kilatan cahaya putih yang sangat tajam, beberapa detik semua kelompok preman itu tergeletak di tanah dengan kondisi mengenaskan.
Ada yang perutnya terurai, ada kepalanya yang terpengal, ada yang putus kakinya dan ada juga yang buntung kedua tangannya. Mereka memandang Sabil dengan perasaan ngeri dan takut..
" Iblis...iblis.." jerit mereka panik, tempat itu sekarang seperti rumah jagal yang dipenuhi dengan kolam darah.
Wajah mereka mulai pucat kehabisan darah tapi tak berani bangkit, mereka takut kehilangan kepala seperti keadaan temannya, mereka menyesal mengangu Sabil dan menjadi preman, jika tahu begini lebih baik mereka menjadi petani di kampung...ya begitulah penyesalan selalu datang terlambat.
__ADS_1
Sabil tidak mau membunuh mereka yang terluka, biarlah mereka jadikan pelajaran untuk bertobat kedepannya pikir Sabil, apalagi mereka bukan tentara jepang mereka saudara sebangsa yang sedang mengalami penderitaaan yang sama dijajah oleh tentara jepang.
Meiling yang ketakutan melihat apa yang terjadi memeluk erat lengan Sabil, di samping rasa takut dia banga melihat kekasihnya mempunyai ilmu bela diri yang tiada tanding, cuma dia takut melihat potongan tubuh dan darah.
Malam ini di kamar, mereka saling bercerita, Sabil memberi Meiling dua pilihan, yang pertama menjual penginapan dan mencari tempat tingal yang aman sampai Sabil kembali, dan yang kedua tetap disini dan menungu Sabil kembali dari jepang.
Ya Sabil mengatakan niatnya untuk pergi ke jepang mencari Atsasuki, dia tidak mungkin membiarkan dendamnya hilang begitu saja, jika bukan dia siapa lagi yang membalas kematian keluarga dan penduduk kampung mereka, jika bukan dia bagaimana mungkin sistem muncul dan membantu dirinya membalas dendam.
Pada dasarnya Meiling seorang gadis yang baik dan pengertian, dia sadar bahwa dia tidak mungkin menghalangi Sabil membalas dendam, dan dia juga sadar tak mungkin ikut Sabil ke negri jepang, itu hanya akan membuat Sabil menjadi susah dan langkahnya akan terbatas kecuali Meiling juga mampu dan punya keahlian beladiri.
Meiling memilih pilihan yang kedua, dia tetap akan mengelola penginapan sambil menungu kedatangan Sabil, mau bagaimana lagi dia tinggal sebatang kara di Batavia, jika dia mau pergi kemana dia akan pergi, disini masih ada karayawannya yang sudah seperti keluarga.
Malam ini mereka bercinta dengan penuh kasih sayang, Meiling tahu waktu Sabil tidak banyak untuk dirinya, maka dia memanfaatkan waktu kebersamaan dengan kekasih hatinya, jika perlu dari hubungan ini akan muncul bayi dalam perutnya sebagai penanda dan pengingat hubungan dirinya dengan Sabil.
Meiling menolong Sabil mencarikan tiket untuk pergi ke Jepang, di Batavia ini dia punya banyak relasi bahkan sekelas jendral tentara jepang, tentu dengan mudah dia medapatkan tiket, tidak lupa dia membeli makanan kering dan beberapa buah baju untuk Sabil.
Waktu perpisahan sudah tiba di dermaga Sabil memeluk Meiling yang sedang terisak dalam pelukannya, dia mengambil tangan Meiling dan memasukan sebuah cincin berllian ke jari manis.
" Jika kamu rindu akan saya pandanglah cincin ini, disaat kamu memandang cincin ini disaat itu pula aku merindukan dirimu " bisik Sabil.
Untuk Sabil sendiri Meiling melepaskan kalungnya dan memasangkan di leher Sabil, kalung ini merupakan pusaka turun temurun yang diwariskan oleh ibunya, dan sekarang berada di leher Sabil.
Pangilan terdengar dari nahkoda kepada penumpang agar segera menaiki kapal, karen kapal bersiap untuk berlayar, dengan mencium lembut bibir Meiling.
Sabil melangkah masuk ke kapaln dan dia berdiri dengan kokoh di dek kapal sambil memandang dari jauh wajah kekasihnya.
__ADS_1
" Walaupun aku tidak berada di sisimu percayalah aku selalu merindukanmu, berbisik kepada angin bahwa aku mencintai dirimu..."
.